
Begitu menyadari sosok yang baru saja memasuki kamarnya Zafier terkejut. Sosok yang sangat dikenalnya. Sosok yang begitu dekat dengannya sejak kecil hingga mereka berdua kembali dipertemukan di Belanda, karena sama-sama memutuskan untuk menetap di Belanda.
Awalnya Zafier memang terkejut, netranya menatap seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, namun sepersekian detik kemudian netranya berubah, Zafier menyorot datar tanpa ekspresi. Bola mata abu itu berputar malas menatap pria tampan itu. Sementara si pria tampan menatap Zafier dengan berbinar, karena mereka sudah cukup lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
Sosok pria tampan itu adalah dr. Nicolas Julianta, ia adalah putra dari dr. Eka Julianta, seorang spesialis bedah ternama di Indonesia, yang menjadi direktur di Rumah Sakit ternama sekaligus menjadi guru besar di bidang ahli bedah.
Dr. Eka Julianta sendiri adalah sahabat sang daddy. Begitu juga dengan ibu dari Nico, yang merupakan sahabat dari mommy Zafier. Itulah mengapa Zafier dan Nico sudah saling mengenal semenjak mereka kecil.
Nico kemudian mengambil spesialis bedah di Leiden University Medical Center Belanda. Hubungan pertemanan Nico dan Zafier semakin dekat setelah mereka kembali bertemu dan menetap di Belanda. Perasaan senasib, sama-sama berada di negeri orang dan sama-sama berada jauh dari keluarga, membuat mereka sudah merasa seperti saudara.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? ", tanya Zafier curiga. Ekspresinya masih sama, datar.
"Wah, wah ... kau masih saja sama seperti dulu, datar tanpa ekpresi. Ayolah Zafier, tidak bisakah kau memberikan aku pelukan selamat datang terlebih dahulu", ujar Nico sambil mengembangkan senyum ceria di wajahnya. Kedua tangannya mengembang, bersiap menerima pelukan Zafier. Zafier hanya menatap Nico datar.
Benar-benar dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Ibarat bumi dan langit. Zafier yang dingin dan cenderung datar, tanpa ekspresi dan acuh. sementara Nico seorang yang sangat ekspresif, hangat, penuh perhatian dan ceria, namun cenderung iseng dan jahil. Sangat aneh memang, meski memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang, namun mereka memiliki hubungan yang sangat dekat.
__ADS_1
"Aku tidak butuh basa-basi", jawab Zafier, netranya menatap Nico tajam, dengan aura mengintimidasi. Nico mengalihkan netranya dari netra Zafier, meski berusaha acuh tak acuh, tapi ia tetap tidak kuat menghadapi tekanan dari aura itu.
Nico berusaha untuk tidak memperdulikan ucapan Zafier. Ia terus berjalan dengan tenang ke dalam kamar Zafier, menuju ranjang dimana Sheza berada.
"Ayolah Zafier, aku hanya sedang menjalankan tugasku berbakti untuk kemanusiaan", jawab Nico santai. Ia sudah bersiap dengan segala perlengkapan medisnya.
Nico berjalan mendekati Sheza yang sedang terbaring di sana. Ia hendak duduk di samping Sheza untuk melakukan pemeriksaan ketika Zafier menarik tangan Nico dengan kasar.
"Mau apa kau?", tanyanya dingin. Netranya kembali menatap Nico tajam, dengan tatapan mengintimidasi. Namun yang ditatap justru nampak santai, sama sekali tidak ambil pusing dengan respon Zafier.
"Kau lihat sendiri kan aku mau apa? Cukup perhatikan saja, karena ini sudah menjadi profesiku", jawabnya tenang, dan sempat-sempatnya Nico balik mengajukan pertanyaan kembali pada Zafier.
"Paman Adolf yang memintaku untuk memeriksa Zafier. Kebetulan aku baru selesai mengecek kondisi daddymu, jadi aku langsung ke sini untuk memastikan kondisi pasien ini", ujar Nico berusaha menjelaskan dengan tenang. Walau hasil akhir sepertinya tidak sesuai harapan. Zafier tetap sangat sangat keberatan.
Diam-diam senyum samar tercipta di sudut bibir tipis Nico, karena tidak biasanya Zafier bertingkah seperti ini, apalagi terhadap seorang perempuan. Nico sudah sangat mengenal karakter Zafier, karena selama di Belanda mereka berteman cukup akrab. Ia tahu betul bagaimana Zafier, serta bagaimana cara Zafier berinteraksi dengan mahluk berjenis kelamin perempuan. Baru kali ini Zafier begitu peduli kepada seorang perempuan. Benar-benar sebuah pencapaian yang pertama dan luar biasa, dan mungkin memenuhi kategori untuk bisa didaftarkan dalam Guiness Book of Record. Bahkan tingkah Zafier sudah terlihat seperti seorang kekasih yang cemburu kalau wanitanya disentuh oleh laki-laki lain. Padahal Nico adalah seorang dokter.
__ADS_1
Siapa perempuan ini, apa sebegitu pentingnya ia untuk Zafier?, batinnya Nico. Ia terus memperhatikan sosok cantik di atas ranjang itu. Tiba-tiba saja terbesit keisengan di diri Nico untuk mengerjai sahabatnya yang terkenal dingin ini.
"Tapi aku tidak memintamu Nico, aku meminta Tracy yang memeriksanya pada paman Adolf", terang Zafier datar.
Tiba-tiba saja Adolf yang melihat situasi mulai tidak kondusif, mulai merasa tidak enak, ia berusaha menenangkan situasi yang sudah mulai tidak terkendali itu.
"Mohon maaf tuan muda, tapi dokter Tracy saat ini sedang ada acara seminar di luar kota. Karena saya melihat dokter Nico yang baru selesai melalukan pemeriksaan terhadap tuan besar Zaki, maka saya berinisiatif meminta bantuannya. Tuan muda mohon maafkan kelancangan saya tuan muda", jelas Adolf sambil menunduk. Ia tidak sanggup menatap netra sang tuan muda. Meski ekspresi sang tuan muda terlihat datar, namun entah mengapa aura sang tuan muda mampu membuat ia sesak, merasa tertekan dan terintimidasi secara bersamaan.
Zafier hanya mendengarkan penjelasan Adolf, sementara itu Nico nampak tersenyum menyeringai penuh kemenangan sambil menaikturunkan salah satu alisnya pada Zafier. Benar-benar ekspresi yang sangat menyebalkan buat Zafier. Lagi-lagi bola mata abu milik Zafier berputar malas menatap Nico.
"Ayolah Zafier, biarkan aku memeriksanya. Ia sudah cukup lama tidak sadarkan diri. Apa kau tidak kuatir sesuatu terjadi padanya?", ujar Nico dengan wajah khawatir yang dibuat-buat.
Zafier tidak menanggapi ocehan Nico. Meski kekhawatiran mulai menghinggapinya, namun dia berusaha untuk mengendalikan ekspresinya. Netranya menatap Adolf lekat, kemudian memerintahkan sesuatu.
"Panggil Oleta, paman", perintah Zafier tegas. Netranya menatap Nico acuh tak acuh.
__ADS_1
Oleta adalah salah seorang perawat lulusan S2 Keperawatan yang memang ditugaskan untuk bekerja di markas sebelummya. Namun karena saat ini tuan Zaki dirawat di mansion maka mansion memang dikondisikan seperti sebuah rumah sakit lengkap dengan berbagai peralatan medis serta para dokter dan perawat yang memang siap siaga dua puluh empat jam berada di mansion untuk memastikan kondisi tuan Zaki agar tetap stabil. Oleh sebab itu Zafier memerintahkan agar Oleta ditugaskan di mansion untuk sementara waktu, guna memberikan pengawasan dan perawatan bagi daddy Zaki.
Oleta, wanita setengah baya itu adalah seorang perawat senior yang sebelumnya ditugaskan di markas. Ia sudah lama bertugas di markas, hampir 20 tahun, sejak Zaki masih terlibat dengan dunia bawah. Ketika masih aktif dengan dunia bawah Zaki memang mendirikan markas beserta rumah sakit di dalamnya. Rumah sakit di dalam markas memang dilengkapi dengan berbagai peralatan medis dan dokter. Rumah Sakit tersebut digunakan untuk kepentingan orang-orang di markas itu sendiri, karena tidak mungkin membawa para anak buah yang terluka ke rumah sakit hal itu pasti akan menimbulkan tanda tanya dan bisa-bisa menarik perhatian dan keterlibatan pihak berwajib.