
Matahari telah tenggelam di peraduan. Malam begitu tenang. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali suara burung malam yang beterbangan. Hembusan angin malam mulai terasa menusuk tulang. Langit cerah dihiasi bintang-bintang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang bersinar terang menebar cahaya berkilauan.
Stefano nampak duduk termenung di balkon kamarnya yang menghadap ke arah taman. Ia sengaja memadamkan lampu balkon. Ia meringkuk di dalam kegelapan di tengah kesunyian. Ia berusaha menarik nafasnya yang berat seolah sedang menahan beban berat yang tak dapat diurai.
Sejak skandalnya yang tersebar luas. Ratih, sang ibu melarangnya kembali ke apartemen. Pasca kejadian itu ia tinggal bersama sang ibu dan dalam pengawasan sang ibu. Stefano pasrah, karena semua memang akibat kebodohannya.
Pria yang selalu tampan dan setiap saat selalu memperhatikan penampilannya dengan menggunakan pakaian-pakaian model terbaru dan berasal dari brand ternama itu kini berubah seratus delapan puluh derajat, ia nampak berantakan.
Fisik Stefano berubah, ia yang biasanya rapi dalam segala hal, tiba-tiba berubah. Rambutnya berantakan tak terurus, matanya yang biasanya berbinar dan mampu menghipnotis setiap wanita, kali ini nampak sayu tanpa gairah, kantong matanya menggantung akibat sulit tidur.
Sebuah rokok ia sulut, diikuti asap yang mengepul pelan dari rokok itu. Ia merenung seperti memikirkan sesuatu, detik berikutnya puntung rokok yang masih menyala itu ia remas dan perlahan padam di tangannya. Ia diam saja, tak merespon apapun seolah yang diremasnya adalah sebuah kertas belaka.
Pikirannya melayang ke beberapa waktu yang lalu. Saat ayahnya murka akibat video skandalnya yang tersebar luas. Sejak saat itu, sang ayah tidak lagi peduli padanya. Semua kartu miliknya dibekukan. Sang ayah menolak untuk bertemu dengannya. Semua usahanya untuk menghubungi via telepon pun tidak berhasil.
Helaan nafas berat terdengar sekali lagi. Apa yang harus aku lakukan, gumamnya pelan. Stefano kesal, ia berniat melempar sebuah asbak kaca ke dinding untuk mengungkapkan kekesalannya. Tapi kemudian ia ingat kalau saat ini ia sedang berada di rumah ibunya, bisa-bisa sang ibu akan lansung menerobos kamarnya, dan menginterogasinya. Stefano mengurungkan niatnya. Asbak yang sudah diangkatnya tadi, ditaruh kembali ke meja dengan hati-hati.
Stefano mengeratkan genggaman tangannya hingga urat nadi di wajahnya pun ikut terlihat. Ini adalah pertama kali baginya setelah sang ayah menerima kehadirannya dulu, ia benar-benar tidak dapat menerima kenyataan jika harus kembali ke kondisinya dahulu, sama sekali tidak punya apa-apa.
Tidak....ia tidak akan pernah bisa.
Stefano bertekad untuk menjelaskan semuanya kepada sang ayah. Ia berharap seiring waktu yang berlalu, sang ayah akan sedikit melunak.
__ADS_1
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Stefano sudah beranjak pergi. Ibu Stefano terkejut, ia berusaha menahan sang anak.
"Stefano berhenti nak. Kau mau ke mana?", teriaknya keras. Ia ikut berlari mengejar Stefano. "Ibu di sini saja. Ibu tidak usah ikut. Aku harus menjelaskan semuanya pada ayah, kalau aku dijebak, bu!", jelasnya.
"Tidak nak, ibu harus ikut. Ibu tidak ingin kamu disiksa lagi oleh ayahmu. Siapa yang akan menyelamatkanmu. Kalau terjadi sesuatu pada dirimu, ibu tidak bisa hidup tanpa dirimu nak", ibu Stefano mengiba, ia bersikeras untuk mengikuti Stefano. Stefano bingung menolak ibunya tapi di satu sisi dia membenarkan Apa yang diucapkan ibunya.
Stefano berdiri tak bergerak. Ia mematung pucat. Ia berpikir sangat keras. Tidak.....kemarin semua masih baik-baik saja, bahkan pagi ini tidak ada keanehan
Namun hanya dalam hitungan jam semua menjadi sangat berantakan semua berbanding terbalik, pikirnya.
Ia mendapatkan informasi bahwa semua hal yang terjadi adalah karena seseorang dari dunia hitam yang menginginkan kehancurannya. Ia sendiri merasa tidak pernah membuat masalah dengan orang-orang dunia hitam.
Stefano akhirnya memilih mengikuti saran sang ibu. Ia pergi dengan ditemani sang ibu menuju mansion ayahnya.
"Mau apa kau kemari?", tanya Stacy kasar. Ia berdiri di depan pintu. Ia melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.
Stefano terdiam. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ratih, sang ibu tidak suka atas perlakuan Stacy pada anaknya.
"Stefano kesini untuk bertemu ayahnya, bukan untuk bertemu anda", ujar Ratih menantang.
"Sudahlah bu, kita tinggalkan saja mereka. Jika kita membuat masalah dengan mereka, bisa-bisa ayah tambah marah, apalagi saat ini mood ayah sedang tidak baik akibat dari perbuatan bocah setan itu", bisik sherly pada sang ibu.
__ADS_1
Sejenak Stacy berpikir, hati kecilnya membenarkan ucapan sang anak. Ia kemudian membuang muka, dan berjalan ke dalam mengikuti sang anak yang telah lebih dahulu masuk ke dalam mansion. Ratih menghela nafas lega karena ia tidak perlu berdebat lagi dengan Stacy. Ia kuatir jika ia melanjutkan perdebatannya dan membuat masalah dengan Stacy maka Surya akan menjadi semakin marah kepada Stefano dan dirinya.
Ratih dan Stefano nampak kebingungan berdiri di di luar. Mereka sebenarnya ingin masuk dan langsung mencari Surya, hanya saja mereka merasa tidak enak karena walau bagaimanapun yang menjadi tuan rumah dari mansion ini adalah Stacy.
Cukup lama mereka menunggu di depan mansion, anehnya lagu tidak ada satupun pelayan yang keluar dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
Sepertinya Stacy sudah memerintahkan semua pelayan untuk tidak keluar dan melayani mereka. Wajah Ratih kelihatan muram. Stefano sendiri tak kalah muram, tapi ia sadar tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin membuat keributan di sana untuk mencari perhatian sang ayah. Bisa-bisa Surya menjadi bertambah marah. Kemarahan Surya tidak akan membawa akibat baik bagi mereka. Stefano khawatir bahwa kemarahan sang ayah akan membuat sang ayah mudah diprovokasi oleh Stacy dan Sherly, hingga sang ayah bisa saja mengusirnya dan sang ibu. Stefano tidak mau kembali ke kehidupan lama. Walau bagaimanapun ia bertekad harus memenangkan kembali hati sang ayah. Ia tidak mau kembali pada kehidupan lamanya.
Beberapa saat kemudian Farid, asisten Surya nampak keluar dari dalam mansion dan berjalan ke arah mereka.
"Ada keperluan apa tuan muda dan nyonya ke sini?", tanya Farid sopan.
"Aku ingin bertemu ayah", jawab Stefano pendek.
"Maaf, tuan muda, tuan Surya tidak ingin bertemu anda", ujar Farid.
Stefano nampak kesal. Namun ia berusaha menahan emosinya.
"Paman, aku sangat ingin sekali bertemu dengan ayah", mohon Stefano. "Aku harus menjelaskan sesuatu pada ayah, aku dijebak paman".
"Saya tidak berani menjanjikan bahwa tuan besar akan mau bertemu dengan anda tuan muda, saya harus bertanya pada tuan besar terlebih dahulu", jelas Farid.
__ADS_1
"Baiklah paman, aku mohon, aku akan melakukan apapun agar ayah mau mendengarkan penjelasanku", mohon Stefano. Stefano menunggu Farid dengan emosi yang campur aduk.