
101
Di dalam sebuah ruangan VIP rumah sakit yang didominasi oleh warna putih. Zafier nampak duduk bersandar di sebuah sofa yang juga berwarna putih. Sementara itu Carlos tampak berdiri tepat di depan Zafier. Zafier kemudian menengadahkan kepalanya, menatap aneh pada Carlos, keningnya berkerut, tangannya bersidekap.
"Kenapa kau tidak ikut duduk Carlos? ", tanya Zafier dingin.
Carlos hanya tersenyum sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Leherku pasti pegal menengadah ke atas terus untuk berbicara denganmu", ujar Zafier lagi.
"Maaf tuan, maafkan aku jika membuat tuan tidak nyaman", jawab Carlos gugup.
Zafier tidak menjawab, ia hanya mengangguk. Menatap Carlos yang berjalan menuju sofa yang berada tepat di seberang Zafier. Carlos pun bergegas duduk.
Setelah Carlos duduk di depannya, Zafier memulai percakapan. "Carlos, ceritakan kepadaku siapa wanita itu", tanya Zafier tegas dan terkesan dingin. Matanya menyorot Carlos tajam. Benar-benar membuat Carlos merinding. Carlos meneguk salivanya. Zafier begitu berbeda dengan ketegasannya.
Kemudian Carlos pun menceritakan awal mulanya Zaki membawa Sheza ke mansionnya.
"Nona Sheza dibawa oleh orang-orang tuan Zaki karena ibunya memiliki hutang yang banyak pada tuan Zaki, tuan muda. Lebih tepatnya nona Sheza dijual oleh ibunya yang bernama Veeya pada waktu itu. Nona Sheza kemudian menyelesaikan kuliahnya sampai akhirnya ia bekerja di perusahaan tuan Zaki, tuan", cerita Carlos.
"Kenapa kau terlihat begitu dekat dengannya?", tanya Zafier. Nadanya semakin dingin. Nadanya terdengar lebih kepada seseorang yang sedang cemburu. Matanya kembali menatap tajam pada Carlos. Carlos yang ditatap sedemikian rupa, merasa tidak nyaman. Berkali-kali ia mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup menatap mata tajam Zafier.
"Saya pernah ditugaskan oleh tuan Zaki dan paman Ganial.untuk menjaga nona Sheza sebelum tugas ini diberikan kepada Karen. Saya juga pernah berada pada satu kantor dengan nona Sheza, tuan", jawab Carlos jujur.
"Daddy pernah mengatakan kepadaku bahwa ia akan menikahi seorang wanita. Untuk alasan itulah kemudian aku kembali ke Indonesia karena aku ingin menilai langsung wanita yang akan menjadi istri daddy. Aku tidak mau jika wanita itu hanya menginginkan harta daddy semata. Aku hanya ingin memastikan bahwa wanita itu akan menjaga daddy", Zafier menarik nafasnya sejenak, dan menghembuskannya perlahan. Ia metasa sedikit sesak di dadanya, entah kenapa lidahnya menjadi kelu.
__ADS_1
"Hmm...apakah wanita yang diceritakan daddy itu adalah Sheza?", tanya Zafier masih dalam mode tatapan tajamnya pada Carlos. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal. Nada pertanyaan Zafier memang terdengar biasa saja, namun jauh di lubuk hatinya ada perasaan begitu berat. Hatinya berharap bahwa jawaban Carlos adalah tidak.
Carlos terdiam, ia sendiri berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak tak beraturan.
"I-iya tuan", jawabnya gugup suaranya terdengar lirih. Sangat berat untuk mengucapkannya.
Zafier menghela nafasnya berat. "Sudah kuduga", gumamnya pelan.
"Tuan, ada yang ingin aku sampaikan..", ucapan Carlos seolah kembali menyadarkan Zafier dari lamunannya.
Tapi ia tidak menjawab, hanya menatap Carlos seolah menunggu ucapan Carlos selanjutnya.
"Semalam nona Sheza memutuskan untuk keluar dari mansion tuan Zaki. Karen sudah berusaha untuk membujuk nona Sheza tapi ia tetap bersikeras untuk segera meninggalkan mansion tuan Zaki", lapor Carlos.
"Kenapa?", tanyanya pendek. Meski di hatinya, ia merasakan kecemasan yang teramat sangat. Ia kuatir. Saat ini ayahnya berada dalam kondisi yang tidak sadar, sebagai seorang anak, sudah menjadi kewajibannya untuk memastikan keselamatan calon istri ayahnya itu. Karena jika terjadi sesuatu pada wanita itu, ayahnya pasti akan sangat kecewa padanya. Ia pasti akan dianggap tidak bisa menjaga calon ibu sambungnya dengan baik. Apalagi saat ini musuh sang ayah sedang berkeliaran. Zafier sangat kuatir akan keselamatan calon ibu sambungnya itu, atau justru Zafier malah khawatir atas nama perasaannya sendiri.
Carlos tidak menjawab pertanyaan Zafier. Ia hanya mengamati setiap tingkah tuan mudanya itu. Ia melihat Zafier tengah memikirkan sesuatu.
"Maaf tuan, tapi nona Sheza tidak menjelaskan dengan detail alasan kenapa ia ingin meninggalkan mansion tuan 0", jawab Carlos lagi.
"Waktu itu saya hanya menyarankan kepada Karen untuk mengikuti saja keinginan nona sheza. Kemudian Karen saya sarankan untuk menawarkan salah satu apartemen milik tuan Zaki. Saya mengatakan kepada Karen agar mengakui apartemen itu sebagai miliknya", lanjut Carlos.
"Apartemen yang mana?", tanya Zafier.
"Apakah pengamanan di sana cukup baik? Kau tahu sendiri kan bahwa saat ini musuh daddy tengah berkeliaran. Ia adalah calon istri daddy, karena itu kau harus memastikan keamanan yang terbaik untuknya", tegas Zafier.
__ADS_1
"Siap tuan. Saya menempatkan nona Sheza di The Alexa Residence.
Pengamanan di sana adalah yang terbaik dari apartemen yang lain. Saya juga akan menambahkan jumlah pengawal biasa dan pengawal dari tim bayangan. Tapi agar nona Sheza tidak curiga, ia akan ditempatkan di apartemen dengan tipe menengah tuan", ujar Carlos
"Baiklah, pekerjaanmu sudah bagus Carlos", puji Zafier masih dalam mode dingin.
"Satu hal lagi tuan. Asisten tuan Zaki di kantor cabang kota P mengatakan bahwa ia sudah menginformasikan kepada semua direktur masing-masing departemen untuk dapat melakukan rapat sesuai permintaan tuan. Apakah tuan akan melakukan rapat Senin besok atau akan diundur beberapa hari ke depan", tanya Carlos lagi.
Zafier mengerutkan keningnya. Sejenak ia nampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Carlos.
"Jadwal selanjutnya adalah meeting dengan beberapa perusahaan yang sudah melewati berbagai seleksi dari tim ahli dari perusahaan kita. Perusahaan-perusahaan tersebut telah mengajukan proposal kerjasama untuk beberapa proyek di kota P ini tuan. Mereka menunggu investasi dan suntikan dana dari kita", jelas Carlos lagi, tanpa menunggu jawaban Zafier.
"Hmm.....baiklah. Jadwal rapat internal perusahaan tetap sesuai tersebut. Namun aku ingin dua rapat itu selesai pada hari yang sama. Aku tidak ingin membuang-buang waktu", ujar Zafier tegas.
"Siap tuan muda", jawab Charles patuh.
Merasa tidak ada lagi yang akan dibicarakan. Carlos pun mohon undur diri, meninggalkan ruang VIP tersebut.
Diikuti oleh anggukan dari Zafier.
Sepeninggal Carlos, Zafier nampak larut dengan pikirannya. Bayangan Sheza kembali hadir dalam benaknya. Silih berganti dengan bayangan Gwen kecil. Setiap kenangan demi kenangan hadir begitu saja dibenaknya seperti tayangan episode demi episode dari sebuah video dokumenter. Zafier merasa begitu lelah.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas begitu saja di otaknya. Zafier nampak tersenyum. Ia pun merasa sedikit lebih baik.
Zafier berdiri dan beranjak menjauh dari sofa itu. Perlahan ia berjalan keluar dari kamar VIP tersebut. Perlahan ia melangkahkan kaki melewati lorong demi lorong rumah sakit, menuju ke arah ruang perawatan sang daddy.
__ADS_1