
Setelah sekian lama Zafier berencana mengunjungi mansion Arsen, akhirnya niat itu terlaksana juga hari ini. Setelah perjalanan lebih kurang 30 menit. Kendaraan Zafier memasuki halaman mansion Arsen. Sesampainya di mansion Arsen, Zafier dipandu seorang pelayan menuju ruang kerja dimana Arsen telah menunggu. Tak berapa lama Zafier sudah sampai di sebuah pintu besar. Begitu pintu ruangan tersebut dibuka, Arsen sudah menunggu di sofa santai. "Welkom in mijn huis (selamat datang di rumahku) Zafier", sapa Arsen ramah, senyuman menghias wajah tampannya, senang karena akhirnya sang sahabat bisa mengunjungi mansionnya.
Zafier masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa tepat di depan Arsen.
"Mooi huis (rumah yang bagus)", ujar Zafier tulus, matanya mengamati sekitar ruang kerja tersebut. "Hanya saja masih ada yang kurang... ", Zafier sengaja menjeda ucapannya sambil tersenyum jahil. Dan benar saja, kening Arsen berkerut mendengar ucapan Zafier.
"Apa ada pelayanan anggotaku yang menyinggungmu Zafier? ", tanya Arsen dengan nada serius. Siapa yang berani menyinggung sahabatnya ini, maka detik ini juga harus angkat kaki dari mansionnya. "Silahkan tunjuk saja orangnya, aku akan menyeretnya untuk minta maaf dan bersujud di kakimu Zafier", ujar Arsen lagi dengan wajah dingin.
Zafier terkejut mendengar ucapan Arsen. Ia tidak menyangka Arsen seorang bos yang galak dan menakutkan. Tiba-tiba Zafier tertawa terbahak-bahak, sejenak Arsen memperhatikan Zafier, masih dengan wajah dinginnya yang kebingungan.
"Hahaha ... ya ampun Arsen, aku tidak menyangka kau seserius itu. Ya tuhan, apa betul ini Arsen yang kukenal dulu, teman kuliahku di Belanda dulu", tukas Zafier, masih dengan senyum jahil di wajah tampannya.
Sejenak Arsen baru menyadari kalau ia sudah dikerjai Zafier. Belum sempat ia berkomentar, Zafier kembali berucap.
"Yang kumaksud, mansionmu masih kekurangan seorang nyonya", ujar Zafier tersenyum sambil mengedipkan matanya.
"Pfft ... kau sendiri apa bedanya? ", cibir Arsen lagi sambil tertawa.
"Aku bukannya tidak ingin ada nyonya disisiku, hanya saja aku belum mau terikat, aku masih ingin berkelana menikmati kebebasan dan masa mudaku dulu sepuas-puasnya. Masih lebih baik aku. Kau sendiri masih terjebak dengan masa lalumu", ejek Arsen lagi.
"Haish ... kau ini", Zafier kehabisan kata-kata, karena semuanya yang diucapkan Arsen tepat ke jantungnya.
"Hahaha, jangan diambil hati, aku hanya bercanda", tukas Arsen lagi, merasa bersalah telah menyinggung Zafier.
__ADS_1
"Aku juga ingin bisa sepertimu, tapi belum ada satupun yang mampu membuat hatiku tergerak, bahkan adik kecilku saja belum ada yang mampu membuatnya bergerak", keluh Zafier dengan wajah putus asa.
"What the hell, kau serius Zafier?", tanya Arsen dengan wajah melongo, pandangannya mengarah ke bagian bawah Zafier. "Kau sudah pernah cek ke dokter? Mau aku temani ke dokter pribadiku? ", tanya Arsen lagi dengan wajah iba.
"Simpan wajah ibamu itu, kau pikir hebat mana dokter di sini daripada di tempat tinggalku selama ini", jawab Zafier kesal. "Asal kau tau, tidak ada masalah sama sekali dengan organ seksual, hanya
masalah Obsessive-compulsive personality disorder", ujar Zafier santai.
"OCPD...?, apa bedanya dengan OCD?", kening Arsen berkerut.
"Sangat berbeda, OCD berupa masalah kesehatan mental yang membuat pengidapnya mempunyai pemikiran dan dorongan yang tidak bisa dikontrol yang sifatnya berulang (obsesi) serta munculnya perilaku (paksaan) kompulsif. Pemikiran dan perilaku tersebut tidak mampu dikendalikan oleh pengidap. Meski pengidap bisa jadi tidak memiliki pikiran maupun keinginan untuk melakukan hal tersebut, ia seperti tidak berdaya untuk menghentikannya. Artinya, OCD bisa memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan pengidapnya", jelas Zafier panjang lebar.
"Sementara OCPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan perfeksionisme, keteraturan, dan kerapian yang ekstrem. Orang dengan OCPD juga akan merasa sangat perlu untuk memaksakan standar mereka sendiri di lingkungan luar mereka.
Bedanya lagi orang dengan OCPD tidak tahu bahwa ada yang salah dengan cara mereka berpikir atau berperilaku. Mereka percaya bahwa cara mereka berpikir dan melakukan sesuatu adalah satu-satunya cara yang benar dan bahwa orang lain salah. Dan salah satu efeknya adalah mengalami kesulitan membentuk dan mempertahankan hubungan dekat dengan orang lain", lanjut Zafier.
"Aku turut berduka untukmu kawan", ucap Arsen dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
Sontak saja Zafier melempar bantal sofa ke wajah Arsen.
"Simpan wajah menjijikanmu Arsen, kalau tidak sofa ini yang akan melayang ke wajahmu", bentak Zafier kesal.
"Iish, kau galak sekali Zafier", ujar Arsen, namun senyum jahil tetap menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
"Kau tau Arsen, begitu ada wanita yang mampu. membuatku nyaman dekat dengannya, akan langsung kuseret ia ke penghulu", tukas Zafier lagi dengan penuh semangat.
"Bagaimana kalau ternyata wanita itu sudah berumur 70 tahun", tanya Arsen dengan wajah polos dan serius. Zafier langsung mendelik mendengar kata-kata Arsen.
"Dasar teman laknat, doamu gak ada yang lebih bagus?" tanya Zafier kesal.
"Hahahaha", tawa Arsen langsung pecah melihat wajah kesal Zafier. Zafier hanya bisa mengurut dada.
"Kau sendiri tidak bosan gonta ganti wanita seperti itu, apa tidak ada niat sedikitpun menjadikan mereka nyonyamu sekalian mengurus papimu? ", tanya Zafier lagi.
Ketika disinggung soal papinya, raut wajah Arsen berubah, ada kesedihan tergambar di sana. Ia menghela nafas lelah.
"Aku memang suka gonta ganti pasangan, tapi untuk mencari calon nyonya, aku juga sama sepertimu, aku mencari wanita yang bisa membuat hatiku tergerak dan nyaman, wanita yang tulus. Selama ini wanita yang bersamaku hanya mengincar uangku. Kalau yang seperti itu kujadikan nyonyaku, bisa-bisa mereka meracun papiku supaya tidak menjadi beban bagi mereka untuk mengurusnya", jawab Arsen sedih.
"Jadi dari sebanyak itu wanita, kau belum menemukannya?", tanya Zafier merasa aneh.
"Sebenarnya ada, tapi.... ", Arsen menjeda ucapannya, matanya menerawang, ada senyuman di sana. Tingkahnya tak lepas dari pengamatan Zafier.
"Cepat sekali moodmu berubah", ejek Zafier tertawa.
"Iish, karena kau tidak merasakan apa yang kurasakan", ujar Arsen pendek, sambil kembali melamun dengan senyum bahagia.
"Cepatlah ceritakan siapa wanita yang bisa membuat tampangmu seperti orang jatuh cinta itu, aku jadi penasaran, seorang playboy akhirnya menemukan pawangnya", tukas Zafier kembali sambil tertawa mengejek.
__ADS_1
"Hhh ... waktu itu aku mengunjungi salah satu cabang perusahaan di kota P, ketika kedatanganku,. semua karyawan melakukan penyambutan. Kau tau Zafier, semua karyawan wanita memandangku terpesona dengan tatapan penuh damba bahkan ada yang terkesan menggoda lewat matanya, tapi seorang wanita cantik dipojok sana malah menunduk, tidak mau menikmati wajah tampanku. Aku agak tersinggung sih, kemudian aku berdiri tepat didepannya, dia menengadah melihatku, aku pikir ia akan langsung terpesona melihat ketampananku, tapi dia menatapku biasa saja, malah aku yang terpesona melihat mata indah dan wajah cantiknya", keluh Arsen lagi dengan tampang sedih. Pikirannya menerawang membayangkan moment pertemuan pertamanya.
Zafier menatap Arsen, kenapa sahabatnya ini jadi narsis sekali, tapi ia juga penasaran mendengar kelanjutan cerita Arsen.