
Malam semakin larut. Zafier dan Arsen kemudian bergegas memasuki mansion Zaki. Suasana mansion malam itu sangat sepi, karena memang para pelayan tidak diperbolehkan untuk berkeliaran di dalam mansion ketika malam tiba. Hal itu untuk menjaga privasi dan ketenangan para penghuni mansion, kecuali tuan rumah memerintahkan mereka untuk melayani para penghuni mansion.
Kehadiran Zafier dan Arsen di mansion Zaki disambut oleh kepala pelayan di mansion itu. Ia mengucapkan salam sambil membungkukkan tubuhnya.
"Selamat malam tuan muda, selamat datang!", sambut Adolf dengan sopan.
"Selamat malam paman Adolf?", jawab Zafier dan Arsen hampir bersamaan.
"Silakan masuk tuan muda, saya akan memanggil para pelayan untuk melayani tuan", ujar Adolf. Ia kemudian membungkukkan badannya untuk minta izin memanggil para pelayan.
Namun sebelum Adolf mencapai intercom, Zafier menahannya. "Tidak perlu paman Adolf, kami hanya akan minum-minum saja untuk melepas kepenatan di kantor tadi", ujar Zafier.
"Baik tuan muda", jawab Adolf hormat, namun tak urung Adolf tetap mengikuti Arsen dan Zafier.
Zafier kemudian berjalan menuju bar yang berada di lantai satu itu. Arsen mengikutinya dari belakang. Mereka berdua sampai di depan sebuah pintu. Adolf bergegas mendorong pintu besar itu dan mempersilahkan tuannya untuk masuk.
"Silakan tuan muda", ujarnya sambil membungkukkan badan.
Zafier hanya menganggukkan kepalanya, sambil melangkahkan kaki menuju ke dalam ruangan. Diikuti oleh arsen di belakangnya
Adolf ikut masuk ke dalam ruangan, tapi kemudian ia menghadap Zafier dan bertanya dengan sopan, "Apakah masih ada yang tuan muda butuhkan?".
"Tidak paman. Paman istirahat saja", jawab Zafier.
Setelah memastikan bahwa tuan mudanya tidak lagi membutuhkan sesuatu, Adolf pun pamit undur diri, karena ia merasa kedua tuan muda itu memiliki urusan yang tidak bisa ia campuri.
__ADS_1
Kedua tuan muda tampan itu melangkah menuju bar yang ada di dalam ruangan itu. Mereka berdua duduk di kursi yang menghadap ke sebuah meja marmer berbentuk bundar, menatap beberapa koleksi anggur mahal yang terdapat di sana. Zafier cukup takjub dengan koleksi anggur milik sang daddy. Koleksi itu masih nampak lengkap sepertinya sang daddy memang jarang memasuki ruangan ini untuk minum.
Zafier mengambil satu botol anggur. Ia membuka tutup botol itu, kemudian menuangkan cairan merah itu pada gelas milik Arsen dan gelasnya sendiri.
Arsen menyatukan gelas mereka hingga suara dentingan Gelas itu beradu di udara.
Mereka berdua minum dengan satu kali tegukan saja, masih sambil berbincang-bincang. Entah sudah berapa gelas mereka minum tapi belum ada tanda-tanda mereka akan berhenti.
Wajah Arsen nampak yang paling menyedihkan di antara mereka berdua. Arsen mulai berceloteh.
"Kau tahu Zafier? Kalau saja Sheza bukanlah calon istri daddymu aku pasti sudah menculiknya. Aku akan membuatnya hamil anakku sehingga ia tidak akan bisa menolak untuk aku nikahi. Aaargh....ku sangat tertarik padanya, aku sangat tergila-gila padanya. Aku bahkan bisa benar-benar gila jika terus berhubungan kerja dengannya, tanpa bisa memilikinya sama sekali. Ayolah Zafier, kau harus izinkan aku memiliki Sheza. Aku yakin daddymu masih bisa mencari wanita yang beribu-ribu kali lebih sempurna dari Sheza", ujar Arsen panjang lebar. Wajahnya nampak memelas, sepertinya absen sudah mulai mabuk.
Zafier sendiri hanya memperhatikan sahabatnya itu, netranya menatap tajam dan dingin. Walaupun di dalam hati ia cukup meradang mendengar apa yang diucapkan Arsen. Tapi ia menyadari bahwa kondisi Arsen saat ini sedang dalam kondisi tidak sadar. Arsen mulai mabuk.
"Zafier....tidak bisakah kau hanya menyimpan semua itu untuk dirimu sendiri. Kau benar-benar menghancurkan impianku Zafier", teriak Arsen frustasi.
Zafier hanya bisa menatap prihatin pada sahabatnya itu. Ia menepuk-nepuk punggung Arsen yang menelungkupkan kepalanya di meja marmer itu. "Sudahlah Arsen, aku tidak percaya seorang pemain sepertimu begitu terpukul hanya karena oleh seorang wanita", protes Zafier.
"Kau bisa saja mendapatkan seorang wanita dengan mudah, hanya dengan menjentikkan jemarimu. Ayolah....kemana Arsen yang aku kenal selama ini? ", tanya Zafier lagi mencoba menghibur sahabatnya.
Arsen menengadahkan kepalanya. Ia menatap Zafier. " Kau tidak tau Zafier, kau tidak tahu perasaanku. Kau tidak tau betapa perasaan ini berbeda terhadap Sheza. Ini tidak seperti wanita-wanita yang selama ini aku kencani. Ia berbeda, ia sangat berbeda. Aku....aku jatuh cinta padanya. Selama ini tidak ada satupun wanita yang mampu membuat jantungku bergetar sehebat ini", ujar Arsen nyaris berteriak, karena merasa putus asa.
Zafier hanya terdiam, ia tidak mampu berbicara lagi menanggapi semua pernyataan Arsen. Ia tahu betapa hancurnya perasaan Arsen sama seperti perasaannya saat ia tau posisi Sheza. Zafier menghela nafasnya, lelah.
"Apa kau sudah mabuk berat? Padahal aku belum mengeluarkan anggur termahal yang ada di bar ini", ujar Zafier berusaha mengalihkan perhatian sahabatnya.
__ADS_1
Zafier berhasil. Arsen kembali menengadahkan kepalanya. Ia menatap Zafier penasaran.
"Ayo keluarkan anggur termahal di bar ini Zafier. Aku ingin mencicipinya", ujat Arsen bersemangat.
"Apa kau yakin?", tanya Zafier memastikan. "Kau yakin masih sanggup untuk meminumnya", tanya Zafier lagi.
Arsen hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian Adolf membuka pintu ruangan itu. Ia berjalan dengan membawa sesuatu di tangannya. Javier menganggukkan kepalanya Adolf kemudian bergegas membuka tutup botol berwarna merah itu. Aromanya langsung menguar. Adolf kemudian menuangkan cairan berwatna merah yang ada di dalamnya pada gelas Zafier dan Arsen
"Kau kenal dengan anggur jenis ini Arsen?", tanya Zafier. Arsen yang masih dalam kondisi setengah mabuk, nampak berupaya fokus mengamati botol yang berada di tangan Adolf. Tiba-tiba ia tersenyum penuh arti.
"Apakah ini barang itu Zafier?", tanyanya penasaran. Zafier mengangguk dengan bangga. Wajah Arsen nampak terkejut, matanya melotot, mulutnya nyaris menganga. Ia kembali memperhatikan botol yang ada di tangan Adolf.
"Aku pikir kondisimu yang mabuk, tidak akan mengetahui jenis ini. Kau benar ini, adalah Screaming Eagle Cabernet Sauvignon, minuman ini berisi enam liter dan hanya dijual dengan harga tinggi. Daddy mendapatkannya di Lelang Napa Valley Wine", ujar Zafier.
"Siapa yang tidak tau dengan anggur
yang telah mencapai posisi puncak sebagai anggur termahal di dunia ini. Posisi ini ditempati oleh wine yang berasal dari Oakville, California ini.
Anggur seharga 7 miliar ini memang sangat luar biasa, memang ada barang ada harga", ujar Arsen sambil meneguk minumannya. Berusaha menikmati tetes demi tetesnya dengan antusias.
"Meski mabuk ternyata pengetahuanmu tidak hilang, Arsen", puji Zafier. "Kau tau, dibalik fantastisnya harga anggur yang satu ini, terdapat hal lain yang sangat luar biasa, salah satunya adalah dalam segi rasa. Dalam segi rasa, anggur yang satu ini memiliki kombinasi rasa dari aroma blackcurrant dengan aroma pohon oak dan memiliki proporsi yang pas serta terjaga kemurniannya. Menurut seorang ahli wine mengungkapkan bahwa Screaming Eagle merupakan anggur yang paling spektakuler yang pernah dicobanya", lanjut Zafier lagi, sambil menyesap anggurnya.
Arsen tersenyum menyeringainya, ia mulai mencicipi rasanya. "Benar-benar anggur dengan cita rasa yang tinggi", pujinya sungguh-sungguh. "Mungkin karena penyimpanannya yang lama sehingga kualitasnya pun semakin baik makin lama disimpan minuman ini memang akan semakin nikmat", ujar Arsen, ia kembali menegak minuman gelasnya dalam sekali tegukkan.
Zafier tersenyum tipis. Ia senang sahabatnya itu menikmati minuman yang diberikannya, paling tidak sedikit mengobati rasa sakit yang dialaminya. Selanjutnya tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut Arsen, karena kepalanya sudah terkulai di atas meja marmer itu.
__ADS_1