
Zafier dan Sheza menyimak setiap penjelasan dr. Niko dengan antusias. Wajah mereka sedikit lebih cerah, mereka seolah menemukan sebuah harapan yang baru.
"Lanjutkan penjelasanmu Niko", ujar Zafier.
"Sebenarnya ada banyak bukti bahwa orang dapat mendengar dan memahami instruksi lisan selama koma. Para ilmuwan sekarang percaya bahwa 15 hingga 20 persen orang dalam kondisi vegetatif mungkin sepenuhnya sadar. Kemajuan teknologi berarti bahwa kita lebih mampu memahami apa yang orang alami selama koma. Jika seseorang yang mengunjungi teman atau anggota keluarga dalam kondisi ini dapat mengajaknya berbicara seperti biasa. Misalnya, menceritakan orang yang sedang koma aktivitas sehari-hari atau sesuatu yang sedang terjadi dalam kala itu. Meskipun belum jelas seberapa besar pasien koma dapat merespons, tetapi ada kemungkinan pasien bisa mendengar dan memahaminya", jelas dr. Niko.
"Selain secara lisan, apa rangsangan secara fisik juga bisa dilakukan dokter?", tanya Sheza.
Mendengar pertanyaan Sheza, seketika Zafier menatap tajam ke arahnya. Sheza yang merasakan seseorang tengah menatapnya, reflek mengalihkan tatapan ke arah samping, tepat ke arah Zafier, seketika kedua netra itu bertemu.
Zafier dengan tatapan membunuhnya. Rangsangan apa maksud wanita ini?, yang benar saja, batinnya. Ada rasa tidak rela yang dirasakan Zafier. Entah rasa tidak rela sang daddy diperlakukan seperti itu, atau rasa tidak rela Sheza melalukan hal itu pada sang daddy bukan pada dirinya, eh.... Zafier benar-benar benci dengan pikirannya sendiri.
Sheza cukup ngeri menatap netra abu tajam yang mengarah kepadanya. Auranya seperti sebuah ancaman untuknya, ia sedikit bergidik. Apa yang dipikirkan pria ini tentang ucapanku, maksudku bukan rangsangan ***, aaah....yang benar saja. Tapi tidak salah juga kalau ia berpikir seperti itu, karena yang ia tau aku adalah calon istri ayahnya, batin Sheza. Ia segera memalingkan wajahnya, menghindari netra abu yang menatap tajam, seolah hendak menelannya hidup-hidup. Sheza berusaha fokus pada dr. Niko
Dr. Niko yang tidak memahami konflik antara kedua orang tersebut, menanggapi pertanyaan Sheza sebagai sebuah pertanyaan yang normal-normal saja, tanpa ada tendensi negatif di dalamnya.
"Anda bisa membantu memberikan rangsangan dari luar pada pasien koma, misalnya menyentuh tangan atau menyeka wajahnya. Hal tersebut juga berkontribusi untuk pemulihan pasien koma. Penelitian juga menunjukkan bahwa menstimulasi indera sentuhan, penciuman, suara dan penglihatan dapat membantu orang koma pulih. Selain itu....". Belum lagi selesai penjelasan dari dr. Niko, lagi-lagi sebuah suara bariton yang berat dan dalam, menginterupsi.
__ADS_1
"Anda tidak berniat mencium daddyku kan Nona Sheza?", tanya orang yang tak lain adalah Zafier.
Pertanyaan itu diiringi oleh pelototan Sheza. Ia melotot sebal pada Zafier yang dianggapnya terlalu memandang rendah dirinya, tapi sejurus kemudian Sheza sudah bisa menguasai dirinya kembali.
"Kalau itu bisa membuat daddy sembuh, kenapa tidak Tuan Muda", jawabnya datar.
"Bahkan jika rangsangan yang ada di otak anda itu harus dilakukan demi kesembuhan daddy, bagiku pun tidak masalah", lanjut Sheza masih dengan ekspresi datar.
Seketika suasana di tempat itu menjadi membeku. Zafier membuang nafas, ekspresi dinginnya berubah gelap. Ia menatap tajam pada Sheza, ada kilatan emosi tersendiri di matanya. Kepalan tangannya mengerat. Rahangnya mengeras dengan guratan urat nadi yang nampak menonjol. Ekspresinya membekukan ruangan.
Sementara netra Sheza menatap dingin dengan ekspresi tak kalah datar.
Karen yang sedari tadi terus memperhatikan interaksi orang-orang tersebut, hanya menundukkan kepala sambil memegang kening dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa frustasi menyaksikan keberanian sang nona. Sang nona telah menciptakan permusuhan yang nyata. Karen hanya berdoa, semoga ke depannya sang nona tidak menemukan rintangan.
Kebekuan itu dicairkan oleh suara datar Sheza, "Baiklah dr. Niko, terima kasih atas informasi yang anda berikan. Ke depannya aku akan lebih sering lagi berinteraksi dengan Daddy Zaki. Aku berharap daddy bisa segera sadar dan pulih secepatnya", ujar Sheza tersenyum lembut pada dr. Niko. Diiringi tatapan terpesona dr. Niko.
Zafier memperhatikan itu semua dengan ekspresi masam. Entah kenapa ia sedikit tidak rela melihat tatapan memuja dari dr. Niko.
__ADS_1
"Anda sangat luar biasa baik Nona Sheza. meski tidak memiliki hubungan darah dengan Daddy Zaki, tapi anda sangat peduli padanya. Aku berharap Daddy Zaki dapat merespon stimulasi yang anda berikan dengan baik", ujar dr. Niko dengan tatapan yang masih menyiratkan kekaguman.
"Berbuat baik pada calon suaminya sendiri bukanlah suatu hal yang luar biasa Niko", ujar Zafier tenang.
"Bukankah begitu Nona Sheza?", tanya Zafier sambil menatap Sheza. Sudut bibirnya terangkat, menciptakan sebuah senyuman yang samar.
Zafier menatap netra hazel Sheza penuh arti. Ia menatap bola mata yang terlihat dingin itu sangat jernih dan dalam, sepertinya ia akan tenggelam jika menatapnya lebih lama. Tatapan Sheza yang tak berubah terpaku pada bola mata Zafier, seakan tersihir. Ia merasa udara menghimpit jantungnya perasaannya bergejolak cepat. Ia menyentuh dadanya dan mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Sheza tersadar dan segera memutus kontak matanya dari netra Zafier.
Zafier mengalihkan tatapannya pada dr. Niko. Ia bisa menyaksikan reaksi dr. Niko yang terkejut mendengar ucapannya, matanya terbelalak, mulutnya nyaris menganga. Ia nampak syok.
Sheza sendiri awalnya cukup terkejut dengan ucapan Zafier tersebut, namun ia berusaha mengendalikan dirinya. Ia bersikap tenang, tidak berkomentar apapun. Ia menghindari konfrontasi lebih lanjut dengan Zafier. Ia sedang tidak punya energi untuk memprovokasi Zafier.
"Nona Sheza, sebaiknya anda beristirahat. Bukankah kondisi anda baru saja sembuh dari sakit", ujar Zafier dengan tatapan yang mulai melembut. Ucapan Zafier terdengar lebih kepada sebuah perintah.
Sheza hanya menatap Zafier datar. Tanpa komentar apapun ia berdiri, kemudian meninggalkan balkon tersebut, diikuti oleh Karen yang berjalan di belakangnya. Sebelum pergi, Karen membungkukkan badan pada tuan mudanya. Diiringi anggukkan dari Zafier.
Sheza tahu itu adalah bentuk pengusiran halus dari Zafier, namun ia sendiri memang sedang tidak memiliki energi untuk berdebat ataupun menjelaskan apapun kepada siapapun.
__ADS_1
Sheza terus melangkah gontai menuju lift. Ia menekan tombol turun pada lift, lift pun terbuka, sejurus kemudian ia dan Karen sudah berada di dalam lift yang membawa mereka turun ke lantai dasar.
Zafir hanya menatap punggung rapuh yang terus menjauh itu. Kepergian Sheza sedikit menimbulkan rasa bersalah pada dirinya. Maafkan aku Sheza, aku harus membuka itu semua, karena aku tidak ingin Niko berharap lebih kepadamu, batin Zafier penuh penyesalan.