
Sore itu terlihat cerah, meski sinar matahari sudah mulai meredup cahayanya. Sama halnya dengan apa yang sedang dirasakan Zafier.
Hatinya meredup begitu mendengar insiden yang menimpa sang daddy. Tapi terlepas dari semua kesedihan itu, Zafier berusaha menenangkan dirinya. Ia justru menampilkan raut wajah dingin. Ia seolah berusaha mengisolasi dirinya dalam dinding baja, sehingga tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya juga tidak ada yang tahu emosi seperti apa yang dirasakannya.
Selama dalam perjalanan, suasana di dalam jet sangat mencekam. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Beberapa saat kemudian, pesawat jet yang membawa Zafier dan yang lain mendarat di bandara. kota P. Seyogyanya mereka akan mendarat langsung di mansion sang daddy, tapi karena jarak ke rumah sakit yang lebih dekat dari bandara, akhirnya mereka memutuskan untuk mendarat di bandara saja.
Di bandara telah menunggu beberapa anak buah Zaki yang lain. Mereka bertugas mengantar dan melindungi tuan muda mereka. Satu-satunya penerus Zaki. Satu-satunya tuan mereka saat ini, dikarenakan kondisi tuan besar mereka yang kritis. Carlos sendiri terlihat juga mendampingi Zafier dengan gerakan waspada. Carlos membisikkan sesuatu pada Zafier. Selanjutnya salah seorang anak buahnya memberikan bungkusan cukup besar pada Carlos.
Kemudian Zafier dan Carlos berjalan beriringan menuju ruang VIP bandara. Zafier paham, saat ini kondisi sangat genting, entah siapa yang menginginkan nyawa sang daddy, bisa jadi orang itu juga tengah mengincar nyawanya. Ia harus mengenakan rompi anti peluru demi keselamatannya, demi satu-satunya keturunan Zaki Safaraz.
Zaki menghela nafas, akhirnya saat ini tiba juga, batinnya.
Sementara itu kendaraan yang membawa rombongan Sheza telah lebih dahulu sampai di rumah sakit. Sheza tengah berdiri tepat di depan pintu ruang operasi, wajahnya diliputi kecemasan matanya terlihat sembab.
Sedari tadi Karen hanya memperhatikan Sheza. Ia merasa iba dengan Sheza. Meski tuan Zaki bukan siapa-siapa bagi Sheza, tapi kekhawatiran Sheza seperti layaknya kekhawatiran seorang anak pada ayahnya.
__ADS_1
Kemudian Karen bergegas mendekati Sheza, ia menarik tangan Sheza dengan pelan. "Duduklah nona, anda bisa lebih mudah mengawasi pintu, jika Anda duduk di kursi tunggu", Sheza menoleh sekilas, ia menatap keren kemudian menatap kursi tunggu yang terletak tidak jauh dari posisinya berdiri. Setelah lama menimbang, ia akhirnya mengangguk kecil dan berjalan bersama Karen. Sheza duduk diam seperti patung, tatapannya terus tertuju pada pintu ruang operasi tanpa berkedip. Seolah-olah jika ia berkedip, orang yang berada di dalam ruangan itu akan menghilang.
Karen terus berusaha menguatkan Sheza, "Tuan pasti akan baik-baik saja nona, anda jangan sedih nona, teruslah berdoa". Sheza mengangguk dalam tangisnya.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore, sudah hampir tiga jam. Akhirnya lampu ruang operasi berubah warna. Pintunya terbuka dan seorang dokter laki-laki berusia sekitar lima puluhan melangkah keluar. Ia merupakan kepala rumah sakit di sini yang secara khusus menangani Zaki. Begitu ia keluar, ia sudah diberondong pertanyaan oleh Ganial dan Sheza.
"Bagaimana kondisi tuan Zaki, dokter?", tanya Ganial dengan wajah penuh kekhawatiran.
Dokter itu menghela nafas kemudian menjawab, "Kami sudah mengupayakan yang terbaik Ganial dan tuan Zaki juga sudah melewati masa kritisnya, namun akibat kerusakan yang cukup serius pada organ dalamnya, juga karena kekurangan banyak darah, tuan Zaki belum bisa siuman untuk saat ini".
Sheza tak kalah terkejut mendengarnya. Kesedihannya semakin dalam.
Dokter itu mengangguk, "Iya Ganial, dan tuan Zaki mungkin tidak akan bangun dalam beberapa hari minggu, ataupun bulan, kami juga tidak bisa memastikan Karena semua itu tergantung pada keinginan tuan Zaki untuk hidup".
Ganial terdiam, ia kehabisan kata-kata. Yang ada hanya rasa takut kehilangan yang sangat dalam. Walau bagaimanapun ia sudah mendampingi tuannya ini selama puluhan tahun
"Apakah sudah bisa dijenguk, dokter?", Sheza bertanya penuh harap.
__ADS_1
"Bisa nona, kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat khusus, anda semua bisa menjenguknya di sana. Kalau begitu saya permisi", dokter paruh baya tersebut bergegas undur diri.
Setelah beberapa saat, Zaki didorong keluar oleh para perawat. Berbagai alat medis menempel pada tubuh pria itu. Mereka yang melihat serentak menahan nafas.
Sheza memasuki ruang perawatan dimana Zaki dirawat. Karen, Ganial dan anak buah Zaki yang lain terpaksa melihat dari luar saja, dari balik dinding kaca. Mereka kuatir mengganggu kenyamanan tuan mereka yang sedang terbaring koma. Sheza menatap sendu wajah pria setengah baya yang terbaring didepannya. Wajah itu pucat, dengan mata terpejam rapat. Tanpa bisa dicegah, bulir bening mengalir deras dari mata indah itu.
Sheza tiba-tiba ingat semua hal tentang Zaki, tentang bagaimana kedekatan mereka, tentang bagaimana Zaki menyayanginya dan menganggapnya seperti anak perempuannya sendiri. Sheza pun menyayangi Zaki seperti halnya ia menyayangi ayah Arshaka yang telah merawatnya selama ini. Meski banyak rahasia yang belum diungkapkan Zaki, Sheza tidak mau ambil pusing.
Sheza pernah membaca sebuah artikel, dimana para ahli menjelaskan bahwa orang yang sedang mengalami koma, mampu mendengar secara lisan, setidaknya 15-20 persen bisa mendengar suara. Namun, mereka tidak bisa merespons karena kinerja otak tidak berfungsi akibat cedera yang terjadi.
Semakin sering si penderita mendengar suara terutama hal-hal yang pernah dialami termasuk musik maka disebut akan semakin baik bagi penderita koma. Meski begitu, hal itu tidak bisa dipastikan. Meskipun mereka tidak bisa merespons karena kinerja otak disebut berhenti. Serta tidak bisa menerima rangsangan apapun meski hal itu sangat menyakitkan. Namun menurut para ahli, para penderita koma bisa saja sembuh jika sering melakukan interaksi. Mulai dari pembukaan mata hingga berbicara kepada si penderita atau disebut respons verbal.
Atas dasar penelitian para ahli itu, Sheza bertekad akan selalu berusaha mengajak Zaki berkomunikasi dalam setiap kesempatan.
"Hai daddy Zaki, apa kabar? Aku kangen daddy. Daddy masih ingatkan daddy janji untuk bertemu denganku. Daddy tidak boleh ingkar janji. Seorang lelaki sejati selalu menepati janjinya kan dad? Meski daddy belum bisa menjawab, aku yakin daddy pasti mendengar suaraku kan? Daddy, aku menyayangi daddy seperti halnya aku menyayangi ayah Arshaka. Aku sudah menganggap daddy seperti ayahku sendiri. Dad, ingat kalau daddy utang cerita padaku. Banyak rahasia tentang diriku yang belum daddy ungkapkan. Oiya dad, ingat kalau kita masih punya skenario yang haris kita jalankan. Bagaimana caranya skenario kita bisa jalan, kalau daddy tidak bangun, ayolah daddy, jangan menyerah, bertahanlah dad, bangunlah dad". Suara Sheza bergetar. Tak terasa air matanya kembali menetes dengan deras.
Melihat Sheza kembali bersedih, Karen bergegas masuk ke ruang rawat Zaki. Ia menyentuh lembut pundak Sheza. "Sabar nona, tuan pasti akan baik-baik saja, tuan pasti akan pulih kembali", ujar Karen berusaha menghibur Sheza.
__ADS_1