My Little Gwen

My Little Gwen
Usia calon istri Daddy


__ADS_3

Zafier masih nampak sibuk dengan pekerjaannya. Namun jika diperhatikan, netranya justru tidak fokus pada laptop. Netranya secara bergantian menatap wanita cantik ini dan foto Gwen kecil dalam figura di atas meja kerjanya. Ia begitu penasaran berapa umur wanita cantik yang sedang duduk di sofa itu. Rasa penasaran yang terus menggelitik itu, membuat ia tanpa sadar bertanya, "Berapa usia anda Nona?".


"Hmm..ya?", Sheza yang tengah asyik dengan ponselnya, sedikit terkejut. Tatapannya beranjak dari ponsel, mengangkat wajah menatap pria itu, berusaha memastikan jika ia tidak salah dengar. Meski dalam hati ia menggerutu, apa urusan pria ini menanyakan usianya?


Saat Sheza merespon dengan menoleh ke arah Zafier, tanpa ia sadari bahunya sedikit terangkat yang membuat sweater oversize yang dipakainya melorot, hingga menampakkan kulit putihnya. Zafier membuang pandangan ke arah lain.


"Berapa usia anda Nona?", tanya Zafer kembali. Kali ini Zafier bertanya dengan kesadaran penuh. Meski ia sadar jika pertanyaannya sedikit sensitif. Namun rasanya untuk berkilah hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.


Kening Sheza berkerut. "Maaf, apa aku tidak salah dengar? Tuan Muda menanyakan usiaku?", Sheza balik bertanya memastikan.


"Apa aku tidak boleh tahu usia calon istri ayahku sendiri?", tanya Zafier datar.


Sheza menarik nafasnya dalam-dalam untuk menstabilkan emosinya dan bersiap menghadapi pria di depannya. Jujur, ia merasa sedikit terintimidasi oleh netra abu itu.


"Aku yakin orang dengan pendidikan tinggi seperti anda pasti tahu bahwa usia adalah sesuatu yang sangat sensitif untuk ditanyakan", jawab Sheza tak kalah datar.


"Ya aku tahu, tapi itu hanya akan sensitif jika kita menanyakannya pada orang lain, sementara kita akan menjadi keluarga, jadi menurutku itu adalah hal yang lumrah, ujar Zafier berkilah. Tanpa sadar sudut bibirnya melengkung, ia menarik tipis sudut bibirnya nyaris tidak terlihat.


Sheza benar-benar kehabisan kata-kata. Ia tidak tahu harus berkilah seperti apa lagi. Sudahlah sebaiknya ia sebutkan saja usianya, ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ia ingin bicara to the point saja, ia tidak nyaman harus berada lama-lama di ruangan ini hanya berdua saja dengan pria ini. Berdekatan dengan pria ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya juga kestabilan emosinya.

__ADS_1


"Usiaku 23 tahun", jawab Sheza pendek, ada nada kekesalan di dalamnya.


Zafier terkejut, menatap wanita di depannya. Bagaimana tidak, usia yang sama dengan Gwen saat ini. Namun sedetik kemudian, ekspresinya kembali datar.


"Ada apa?", tanyanya, saat Zafier menatapnya dengan tatapan rumit.


"Hmm... tidak ada, usia Nona mengingatkanku pada seseorang", jawab Zafier datar.


"Masih ada yang Tuan Muda ingin tanyakan, mungkin di mana aku lahir? apa hobiku? atau hal-hal lain yang menurut anda penting tentang pribadiku", tanya Sheza menyindir.


"Kalau Nona tidak keberatan untuk memberitahu, kenapa tidak?", ujar Zafier acuh tak acuh. Dengan tenang ia kembali melanjutkan ucapannya, ia bersikap mengabaikan wanita yang terlihat begitu kesal


Zafier tampak terkejut, ia tidak menyangka bahwa keinginan wanita di depannya ini untuk berbicara adalah tentang niat kepindahannya ke apartemen.


Zafier menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan, kemudian melanjutkan, "Nona Sheza, bukannya aku menolak untuk menyetujui kepindahan Nona tapi Nona adalah calon istri ayahku, oleh karena Ayahku saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik maka keselamatan Nona adalah menjadi tanggung jawabku. Kalau saja Daddy Zaki dalam keadaan baik, aku pasti tidak akan ikut campur untuk menjamin keselamatan Nona. Aku harap Nona mengerti, apalagi Nona tahu sendiri bahwa situasi saat ini sangat tidak kondusif. Musuh Daddy sangat agresif, dengan melakukan berbagai macam cara untuk membalas dendam. Dan Nona tahu sendiri bahwa Nona sudah menjadi target mereka. Aku yakin Nona cukup cerdas untuk memahami semua itu. Aku tidak ingin mengambil resiko", jelas Zafier panjang lebar.


Sheza terperangah. Ia sangat paham dengan penjelasan Zafier, namun ia tidak bisa berada lebih lama di mansion ini, apalagi berada di kamar yang saat ini ia tempati. Ia merasa sangat-sangat tidak nyaman.


Sheza menarik nafas panjang, bagaimana lagi caranya untuk meyakinkan pria tampan di depannya ini agar mengizinkan dirinya kembali ke apartemen. Ia sangat yakin bisa menjaga diri.

__ADS_1


"Tuan Muda tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan saya. Saya yakin bisa menjaga diri sendiri", ujar Sheza dengan keyakinan penuh. "Lagipula saya hanya calon istri ayah anda, belum menjadi istri, jadi tuan tidak punya kewajiban untuk melindungi saya", lanjutnya.


Zafier menatap wanita di depannya lekat.


"Apa Nona yakin? Nona ikut merasakan sendiri kan bagaimana kejamnya musuh-musuh Daddy", ada keraguan di dalam ucapan Zafier.


"Aku tidak bermaksud untuk menahan Nona, tapi semua pilihan ada pada Nona. Aku tidak mungkin memaksakan kehendak kepada Nona, tapi saranku sebaiknya Nona benar-benar memikirkan sampai kepada hal terburuk sekalipun. Aku tidak mau menjadi orang yang disalahkan jika terjadi sesuatu yang membahayakan hidup Nona", lagi-lagi Zafier menekankan.


Sheza tertegun. Setiap kata yang keluar dari pria tampan ini ada benarnya. Semuanya semata-mata hanyalah untuk keselamatan dirinya. Ia mulai bimbang, tidak tahu harus membuat keputusan seperti apa. Lagi-lagi Sheza menarik nafas panjang.


"Apakah ketidaknyamanan Nona karena peristiwa semalam?", tanya Zafier penuh selidik. Sheza sedikit salah tingkah.


Zafier menarik nafas dalam berusaha menetralisir perasaannya yang mulai berkhianat. Walau bagaimanapun ia harus meluruskan kesalahpahaman ini. Ia sama sekali tidak punya niat buruk terhadap wanita di depannya itu. Semua murni hanya ketidaksengajaannya.


"Maafkan aku atas sikapku malam itu", kali ini permintaan maaf Zafier terdengar lebih tulus dan penuh penyesalan. "Nona mengingatkanku kepada seseorang ketika Nona duduk di ayunan itu", Zafier merasa ia harus jujur.


Zafier kemudian berdiri dari kursi kebesarannya. Tangannya meraih pigura foto yang berada di atas meja kerjanya. Perlahan ia berjalan menuju sofa di mana Sheza berada. Ia berdiri di samping Sheza. Ia menyerahkan figura foto itu padanya. Ia tidak duduk, melainkan hanya berdiri di samping Sheza. "Nona lihat foto ini. Gadis kecil ini bernama Gwen".


Sheza meraih figura foto yang diserahkan Zafier. Menatap lekat wajah yang ada di dalamnya. Ia sedikit terkesiap, wajah yang familiar baginya. Ya ... foto iti adalah gadis kecil yang kerap hadir di mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2