
Malam sudah menjelang kala Zafier dengan tergesa-gesa meninggalkan markas begitu menerima panggilan telepon dari Ganial tentang kondisi Zaki, sang daddy yang tiba-tiba mengalami masalah. Ia berangkat menggunakan helikopter dari markasnya ke rumah sakit. Perjalanan udara dengan James sebagai pilotnya malam itu berjalan lancar. Setelah Carlos menghubungi pihak rumah sakit, akhirnya mereka mendapatkan izin untuk melakukan pendaratan di bagian atap rumah sakit. Meski wajahnya nampak dingin namun Zafier tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia berjalan dengan sangat tergesa, bahkan nyaris berlari. Fokusnya yang terpecah karena mencari ponselnya yang berdering, membuat ia tidak menyadari ada seseorang yang juga menuju arah yang sama dengan dirinya. Sepertinya bukan hanya salah Zafier, karena orang itu juga nampak tergesa-gesa. Keduanya memang dalam kondisi tidak fokus atau mungkin karena kepanikan yang melanda mereka sehingga tabrakan pun tak dapat dihindari.
Zafier tak sempat menghindar ketika tabrakan terjadi. Tubuhnya yang tinggi besar memang tak bergerak sama sekali karena tabrakan tersebut, tapi seseorang yang bertabrakan dengannya, seorang wanita berperawakan kecil. Ia nyaris terjatuh ke lantai rumah sakit jika saja Zafier tidak menangkap tubuh itu secara reflek.
Kedua tangan Zafier memeluk pinggang si wanita kemudian tanpa sadar membawa tubuh wanita itu begitu dekat ke dadanya, seolah sedang memeluknya. Wanita yang hampir jatuh itu juga refleks memeluk leher Zafier untuk berpegangan, karena takut akan jatuh. Sehingga wajah si wanita tersembunyi di dada Zafier.
Setelah keadaan dirasa stabil, wanita itu menengadah melihat ke atas, untuk melihat orang yang telah menabrak sekaligus menyelamatkannya. Sesaat kemudian mata wanita itu menatap sepasang mata hitam dan tajam yang juga menatap ke arahnya. Ia nyaris shock begitu bertatapan. Tapi entah kenapa masih saja menatap mata elang itu, tak mampu beralih. Zafier sendiri seolah terhipnotis dengan mata hazel itu. Mata yang dirindukannya selama ini. Dunia seolah berhenti di sekitar mereka berdua.
"Shezan....", gumam Zafier, kemudian kembali menarik tubuh wanita itu ke pelukannya. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang tak karuan. Zafier seolah berharap pelukan itu setidaknya dapat meredakan debaran jantungnya.
Wanita itu terdiam, seolah tersihir, ia ikut tenggelam dalam pelukan Zafier. Ia bisa merasakan debaran jantung Zafier yang tengah memeluknya kuat, sekuat debaran yang juga dirasakannya. Sampai kemudian ia tersentak dan sadar pada situasi. Seketika ia mendorong tubuh Zafier sekuat tenaga, lalu kembali berlari di lorong rumah sakit.
Zafier pun tersadar, ketika mata hazel itu menjauh. Meski segudang tanda tanya memenuhi otaknya tentang alasan keberadaan Shezan di rumah sakit yang sama dengannya, tapi kemudian ia ingat kalau tujuan kedatangannya ke rumah sakit ini adalah karena kondisi sang daddy yang sedang bermasalah.
Ia kembali berlari menyusuri lorong. "Kemana Shezan tadi, cepat sekali ia berlari, padahal arah yang ia tuju sama denganku, tapi ia sudah tidak terlihat lagi", gumam Zafier.
Beberapa saat kemudian, ia sampai di depan ruang perawatan Zaki. Ia melihat Ganial menunggu di depan ruang rawat itu. Namun pintu ruangan nampak tertutup.
"Bagaimana keadaan daddy, paman?, tanya Zafier cemas.
__ADS_1
"Tuan sedang dalam penanganan dokter, tuan muda?", jawab Ganial.
"Apa kita tidak boleh masuk?", tanya Zafier lagi, ia nampak kesal karena tidak bisa masuk dan mendampingi sang daddy.
"Demi kenyamanan tuan Zaki cuma diperbolehkan satu orang saja untuk mendampingi, tuan muda. Kebetulan calon istri tuan Zaki sudah lebih dahulu berada di dalam", jelas Ganial.
Zafier mengutuk keterlambatannya gara-gara insiden tadi. Zafier nampak mengerutkan keningnya, ia ingin protes tapi ia sedang malas berdebat karena keadaan yang belum stabil. Dalam hati ia berpikir kenapa bukan ia anak kandung daddy Zaki yang berada di dalam sana mendampingi sang daddy. Tapi kemudian Zafier berpikir, bisa jadi karena calon istri sang daddy datang lebih dahulu darinya.
Penanganan dokter terhadap Zaki masih berlangsung. Zafier masih berdiri di depan pintu itu dengan tangan terlipat di dada. Matanya tidak beralih dari ruangan Zaki, seolah matanya mampu menembus ke dalam. Hingga suatu pikiran terlintas dalam benaknya saat dia menyadari bahwa ia tiba-tiba saja memikirkan Shezan. Pikirannya melayang pada saat pertemuan mereka di kota J, sampai pada moment kebersamaan mereka yang sangat singkat. Yang sempat mengacaukan kenangannya tentang Gwen. Ketika Zafier telah berpikir melepaskan Shezan dan perlahan mulai berusaha melupakan kenangan singkat mereka, peristiwa tadi terjadi, mereka kembali bertemu. Zafier menghela nafas.
Shezan, gumamnya pelan. Tatapan mata tajam itu tiba-tiba meredup berganti dengan binar indah,
Setelah beberapa saat, Zafier kembali fokus pada kondisi sang daddy. Sudah lebih dari setengah jam Zafier harus menunggu sang daddy ditangani dokter. Ia masih mondar-mandir di depan pintu ruang rawatan sang daddy. Hatinya benar-benar tidak tenang. Rasanya ingin sekali ia mendobrak pintu itu sedari tadi, tapi ia menyadari bahwa hal itu hanya akan membuat penanganan terhadap daddy menjadi terganggu.
Ganial sendiri tak kalah gugupnya menunggu. Sementara itu Carlos dan James nampak berdiri tak jauh dari sana. Mereka tetap waspada dan mengawasi sekitarnya, meskipun cukup banyak pengawal Zaki yang lain telah berjaga di sana.
Kemudian pintu ruang perawatan Zaki terbuka l, dokter Eka dengan beberapa dokter lainnya keluar dari sana.
"Bagaimana keadaan daddy, paman Eka", tanya Zafier, tidak mampu menyembunyikan kecemasannya.
__ADS_1
"Syukurlah, kondisinya sudah kembali stabil Fier", jawab dokter Eka sambil tersenyum. Ia memegang bahu Zafier, mencoba menenangkan. Ia tahu betul kecemasan yang dirasakan Zafier.
Zafier menghela nafas lega, " Syukurlah paman".
"Ayo, mari ikut paman Fier, ada beberapa hal yang harus Paman diskusikan denganmu dan beberapa dokter yang ikut menangani daddymu", ujar dokter Eka.
Zafier yang awalnya ingin segera masuk dan melihat kondisi Zaki, langsung mengurungkan niatnya dan mengikuti dokter Eka menuju ruangannya. Beberapa dokter lain nampak mengikuti mereka. Carlos dan beberapa pengawal juga nampak ikut mengikuti Zafier.
Mereka berjalan beriringan menuju ruangan dokter Eka. Beberapa saar kemudian mereka sampai di depan sebuah ruangan bercat putih, di depan pintu terdapat sebuah plang bertuliskan "Direktur Rumah Sakit".
Ketika Zafier dan para dokter lain memasuki ruangan itu mengikuti dokter Eka, Carlos dan beberapa pengawal tersebut memilih menunggu Zafier di luar ruangan.
Mereka semua kemudian mengambil posisi masing-masing mengelilingi sebuah meja rapat besar yang terdapat di dalam ruangan itu.
"Kami cukup panik tadi menyadari kondisi daddymu", ujar dokter Eka membuka pembicaraan. "Tiba-tiba tekanan darahnya drop, terus menurun. Denyut nadinya juga semakin lemah dari biasanya. Kami tim dokter berusaha semaksimal mungkin, syukurlah daddymu kuat, ia mampu bertahan sampai kondisinya kembali stabil", ujar dokter Eka. Kelegaan terlihat jelas diwajahnya. Zafier ikut merasa tegang mendengat penjelasan dokter Eka.
"Oiya, tadi paman tidak melihatmu ketika kami akan mengambil tindakan, hanya ada seorang wanita yang terus bersikeras masuk dan mendampingi tuan Zaki", ujar dokter Eka. Keningnya berkerut seolah mempertanyakan posisi wanita yang memaksa masuk tadi.
Zafier terperangah, tidak menyangka akan pertanyaan dokter Eka. Ia hanya diam sambil melirik kanan dan kiri, pada dokter lain yang berada di ruangan itu. Para dokter tiba-tiba saja sadar diri, satu persatu meminta izin keluar karena ada urusan memdadak.
__ADS_1