My Little Gwen

My Little Gwen
Kegundahan Zaki


__ADS_3

Sepeninggal Sheza, Zaki dan Ganial masih berada di ruang private resto tersebut. Wajah Zaki nampak gundah karena masih memikirkan permohonan Sheza tadi. Di satu sisi Zaki tidak tega untuk menolak permohonan Sheza. Zaki lebih memilih jika permohonan Sheza sama seperti yang diinginkan wanita-wanita lainnya, pakaian, tas, emas, permata, bahkan sebuah mansion mewah sekalipun, pasti akan langsung Zaki kabulkan tanpa perlu berfikir dulu. Namun di sisi lain, melepas Sheza ke kota J, itu sungguh sesuatu yang sulit untuk dikabulkan karena kekhawatiran Zaki jika terjadi sesuatu pada Sheza. Sementara dirinya juga tidak mungkin menemani Sheza ke kota J karena kesibukan serta jadwal bisnisnya yang sangat padat. Hal tersebut tidak lepas karena Sheza sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Rasa khawatir itu begitu menyiksanya.


Hhhh... ", Zaki menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Tiba-tiba Zaki mengingat sesuatu, "Darimana Sheza mendapatkan informasi tentang kakaknya, Gani", tanya Zaki dengan wajah yang berubah dingin. Suaranya berat tidak selembut ketika dia berbicara dengan Sheza. Benar-benar berubah 180 derajat. Ganial merinding. Dalam hati ia berdoa untuk Carlos.


"Apa itu dari Carlos, Gani", Zaki menjawab sendiri pertanyaannya tadi. Wajahnya benar-benar masam.


"Tuan jangan khawatir, serahkan pada saya, biar saya yang urus Carlos tuan. Saya pastikan ia menerima hukuman akibat perbuatannya", ujar Gani berusaha menenangkan Zaki.


"Hmm... ", Zaki cuma mengangguk dengan wajah dinginnya. Pikirannya masih belum tenang. Berkali-kali ia menghela nafas berat.


Ganial memahami kegundahan tuannya. Ia geleng-geleng kepala melihat tingkah tuannya ini. Dulu saja ketika tuan muda Zafier ke luar negeri dalam usia yang masih muda, tuan Zaki tidak pernah merasa segundah ini. Sepertinya Sheza telah menempati posisi tuan muda di hati tuannya, pikir Ganial lagi. Ganial bertekad untuk memikirkan cara agar tuannya bisa tenang.


Tiba-tiba Zaki ingat sesuatu, "Gani, anak buahmu masih siaga mengawasi dan melindungi Zafier kan?",


tanya Zaki dingin.


"Siap tuan, aman", jawab Zaki pendek.


"Apa yang dilakukannya di sana, Gani? Kenapa anak itu begitu lama di sana? ", tanya Zaki lagi penasaran.


"Kalau malam ini, tuan muda Zafier sedang bersama salah seorang teman kuliahnya di Belanda, tuan Arsen. Sepertinya tuan muda Zafier memiliki banyak pertemuan bisnis tuan, ia nampak agak sibuk, mungkin ia ingin mengembangkan sayap bisnisnya di negara kelahirannya", jawab Gani lagi.

__ADS_1


"Aish anak ini, untuk apa ia susah-susaj mengembangkan sayap bisnisnya di negara ini, ia kan tinggal meneruskan bisnisku saja, cukup mengawasi apa yang sudah ada", keluh Zaki. "Apa kau tau kapan ia selesai di sana", tanya Zaki lagi.


"Sepertinya paling cepat satu minggu lagi tuan", jawab Gani.


" Hmmm...dan satu hal lagi, kau harus pastikan keamanannya di sana, aku tidak mau kalian lengah melindunginya, hingga terjadi sesuatu padanya", perintah Zaki tegas.


"Siap tuan, anak buah saya akan siap 24 jam melindungi tuan muda", ujar Ganial.


Zaki sedikit tenang karena sudah memastikan keamanan putranya di kota J. Tapi.... sepertinya ia nyaris melupakan masalahnya yang satu lagi.


"Oiya Gani, menurutmu apa yang harus kulakukan menghadapi permohonan Sheza ini", tanya Zaki dengan wajah nyaris putus asa. "Aku sudah pusing memikirkannya dari tadi, tapi rasanya aku belum menemukan solusi sama sekali. Aku tidak mau ia pergi tapi juga tidak mau.ia kecewa dengan menolak permintaannya", keluh Zaki lagi bingung.


Gani terdiam. Otaknya mulai bekerja mencari jalan keluar dari permasalahan satu ini. Tak lama berselang, senyum terbit di bibirnya, wajahnya menjadi cerah, sebuah ide telah terlintas begitu saja.


"Hmm... idemu bagus juga Gani. Tidak sia-sia kau jadi tangan kananku. Aku percayakan semuanya padamu. Pokoknya kau atur semua, tapi ingat...kau harus jamin keselamatan Sheza di sana, ingatkan Karen untuk selalu mendampinginya dimanapun dan kemanapun. Kalau terjadi sesuatu, nyawa kalian jadi taruhannya", ujar Zaki dengan nada dingin. Ganial merinding mendengarnya, apa sepenting itu arti Sheza bagi tuan, pikir Ganial lagi.


"Besok kau cari waktu yang tepat, kau sampaikan saja semua pada Sheza, pastinya anak itu sangat senang jika apa yang diinginkannya terpenuhi. Tapi menilik dari rencanamu tadi, sebaiknya kau informasikan secepat mungkin kepada Sheza, jangan menunda-nunda lagi", perintah Zaki, senyuman menghias wajahnya, mengingat ia dapat memenuhi keinginan Sheza.


...----------------...


Sementara itu Sheza yang telah lebih dahulu pergi meninggalkan resto hampir sampai di rumah. Wajahnya sangat masam, tidak ada senyuman lagi di sana seperti biasanya. Ia masih memikirkan permintaannya tadi. Cuma permintaan kecil itu kenapa daddy Zaki begitu berat mengabulkannya, pikir Sheza sedih.


'Aku sangat merindukan kak Seif, bagaimana kabar kakak sekarang, minta no ponselnya saja sangat sulit, Carlos benar-benar tidak bisa diajak kompromi", batin Sheza.

__ADS_1


Tak terasa, Sheza sudah memasuki mansion Zaki. Begitu turun dari kendaraan, ia disambut Karen, bodyguard sekaligus sahabatnya.


"Bagaimana nona? Apa tuan mengizinkan", cerca Karen penasaran.


Sheza diam saja, matanya menatap Karen sendu. Karen yang menyadari wajah lemas Sheza, dapat memahami apa yang terjadi.


"Apa tuan menolak permintaan nona? ", tanya Karen hati-hati.


"Hmmm... belum sih, daddy hanya bilang butuh waktu sebelum memutuskan menganulkan permintaanku atau tidak", ujar Sheza sedih. "Apa susahnya sih mengabulkan, toh aku gak minta emas permata atau barang lainnya", keluh Sheza lagi.


"Nona, kalau barang-barang seperti itu yang nona minta, saya yakin pasti langsung dipenuhi tuan tanpa perlu berfikir lagi", jawab Karen polos.


"Eh... iyakah? ", tanya Sheza datar.


"Iya nona, saya tau bagaimana tuan. Tuan hanya cemas melepas nona pergi. Tuan sangat menyayangi nona seperti anak perempuannya sendiri", ujar Karen lagi.


"Apa betul begitu Karen", Sheza cukup terhibur mendengar kata-kata Karen.


"Iya nona, satu hal lagi, nona harus tetap semangat, tuan kan belum menjawab iya atau tidak terkait permintaan nona, siapa tau setelah berfikir, ia akan memenuhi permintaan nona", lanjut Karen.


Sheza menatap Karen, ia membenarkan apa yang Karen katakan, Shezq cukup terhibur. Sekarang saatnya berdoa, semoga daddy Zaki tergerak hatinya untuk memenuhi permintaannya.


"Ucapanmu cukup menghiburku Karen", Sheza tertawa sumbang. "Tapi semoga saja ada harapan", doa Sheza.

__ADS_1


Karen lega, wajah masam Sheza sudah mulai nampak senyuman. Moodnya sudah mulai membaik. Karena kalau tidak, ia juga yang akan terkena imbasnya seharian ini. Bisa-bisa dirinya dijadikan samsak latihan oleh Sheza. Mengingat hal itu Karen merinding.


__ADS_2