
Ken yang kehilangan Arsen, sang bos, akhirnya menemukan titik terang keberadaan bosnya, setelah ia menerima pesan dari Arsen. Tanpa perlu menunggu lama Arsen pun melangkah dengan tergesa-gesa menuju lift.
"Ting!"
Begitu pintu lift terbuka, Ken bergegas berlari menyusuri lantai dimana ruangan nona Sheza berada. Beruntung ia bertemu dengan Kalila sekretaris Sheza.
Ya...pagi itu Ken mendapat pesan dari sang bos kalau ia tengah berada di ruangan nona Sheza.
Ya ampun bos, kau benar-benar nekat, batin Ken. Ia menepuk jidatnya frustasi. Ken benar-benar khawatir sang bos akan melakukan sesuatu yang tidak pantas yang secara tidak langsung akan membahayakan hubungan dua perusahaan sekaligus mega proyek mereka. Mungkin jika proyek kerjasama itu gagal maka tidak akan berimbas apa-apa bagi Safaraz Corp. Situasi itu pastinya memiliki efek berbeda dengan perusahaan sang bos, jika proyek kerjasama. Ini gagal, Narendra Utama Corp bisa auto colaps.
Ken berhenti tepat di sebuah pintu besar bertuliskan Ruang Chief Financial Officer (CFO). Ken mengetuk pintu dengan pelan kemudian tangannya memegang handle pintu. Ia hendak membuka pintu tersebut, ketika kemudian ia terkejut saat seseorang memukul tangannya yang memegang handle pintu dengan cukup keras. Tangan Ken sontak terlepas dari handle karena terkejut.
Ken menatap wanita yang sedang berdiri di depannya dengan netra yang sangat tidak bersahabat. Ken merasa asing melihat wanita di depannya. Seorang wanita dengan dandanan persis seperti laki-laki, ia menggunakan setelan celana hitam beserta kemeja dan blazer senada, dandanannya persis seperti seorang bodyguard wanita.
Wanita itu melotot pada Ken. Sementara Ken terlihat acuh. Perdebatan mereka cukup sengit di depan pintu masuk ruangan Sheza. Wanita itu terkesan mengintimidasi Ken.
Namun Ken malah menganggap wajah galak wanita itu terlihat menggemaskan. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyuman, meski samar.
Wanita yang tidak lain adalah Karen itu sempat berpikir bahwa Ken adalah pengganti dirinya. Awalnya Ia merasa sedikit kecewa hingga termenung di depan Ken. Ken memanfaatkan kesempatan itu dengan segera menerobos masuk ke dalam ruangan nona Sheza.
Kemudian Karen tersentak. Ia sadar kembali, akibatnya Ken yang belum sempat berjalan ke dalam ruangan, ditabrak Karen dengan keras, saat ia menerobos masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Ken terkejut, tubuhnya nyaris terpental jika saja ia tidak segera menguasai diri.
Aish....wanita ini tenaganya kuat sekali, batin Ken takjub. Tapi ia hanya diam saja atas perlakuan Karen.
__ADS_1
Begitu sampai di dalam ruangan, Karen berbalik ke belakang, menatap Ken tajam. Tapi ketika matanya menatap ke arah sofa, Karen baru menyadari jika di ruangan itu sudah ada orang lain. Karen sedikit terkejut. Keningnya berkerut, netranya sedikit memicing, seakan sedang memindai pria tersebut.
Setelah mengamati pria itu dari dekat, Karen baru sadar kalau pria itu adalah tuan Arsen sahabat tuan muda Zafier.
Tapi untuk apa ia sepagi ini sudah bertandang ke ruangan nona Sheza? Apa ia sangat santai dan tidak punya pekerjaan yang lebih penting?, batin Karen penuh tanda tanya, diikuti dengan tatapan menyelidik
"Oh maaf nona, saya tidak tahu kalau nona sedang ada tamu", sesal Karen. Ia bermaksud kembali keluar ruangan, namun ia mendengar Sheza memanggilnya.
"Karen masuklah ini adalah tuan Arsen, ia adalah salah satu rekan kerja sama Savaraz Corp dalam proyek terbaru kita", ujar Sheza. Tatapannya seakan memohon pada Karen untuk tetap tinggal.
Karen membungkuk hormat pada Arsen, Arsen hanya menatap sekilas kemudian mengangguk malas pada Karen. Tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak menyukai keberadaan Karen di dalam ruangan itu.
Mendapati tatapan memohon dari sang nona, Karen urung melangkah keluar ruangan. Ia pun berjalan kembali mendekati Sheza. Ia kemudian berdiri di samping meja kerja sang nona, mengamati wajah tamu pria yang saat ini sedang duduk di sofa.
"Maaf nona Arshaka, atas kelancangan saya memasuki ruangan nona, saya mendapatkan panggilan dari tuan Arsen", pria itu kemudian berdiri tepat di samping sang bos. Ia menunduk hormat pada Sheza.
"Hm....ya Ken, tidak masalah", ujar Sheza pendek. Kan hanya menunduk ketika berbicara dengan Sheza.
Ia kemudian memberanikan diri mengangkat kepalanya. Tatapannya kemudian beralih ke samping kanan Sheza, tepat dimana Karen berdiri saat itu.
Ken menatap wanita yang bertemu dengannya di depan pintu tadi, wajah wanita itu nampak dingin dan datar, bahkan terkesan galak.
Sementara itu Karen terus saja memperhatikan tuan Arsen. Karen bisa melihat dengan sangat jelas kedua netra hitam sahabat tuan Zafier itu ada rona berbinar penuh puja.
__ADS_1
Arsen terlihat terus saja menatap nonanya itu secara terang-terangan tanpa ragu atau malu. Padahal saat itu jelas-jelas Karen sudah berada tepat di samping sang nona.
Sebenarnya hal itu sudah sangat disadari oleh Sheza. Dari pertama mereka beradu tatapan saat Arsen masuk Sheza dapat melihat tatapan itu dengan sangat jelas. Saat berbicara pun kedua netra Arsen terus saja menatap lekat tak berkedip pada Sheza.
Arsen masih saja terus tersenyum, tidak peduli dengan Sheza yang sudah terlihat tidak nyaman, salah tingkah dan serba Salah
Beberapa saat kemudian Sheza sudah merasa lebih tenang dan mampu menguasai diri, karena saat ini Karen telah mendampinginya. Sheza menarik nafasnya kemudian menghembuskannya dengan pelan, selanjutnya ia berdiri dan berjalan menuju sofa. Ia duduk tepat di depan Arsen.
Arsen yang mendapati Sheza duduk tepat di depannya. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. Netra hitamnya menatap Sheza dengan lekat, bahkan senyum di wajahnya tidak juga kunjung memudar.
Karen yang mengamati interaksi Arsen terhadap Sheza dibuat kebingungan. Dahinya berkerut, kenapa tuan Arsen tersenyum terus? apa pipinya tidak merasa pegal?, batin Karen lagi.
Tidak mau berlama-lama larut dengan segala tingkah aneh tuan Arsen, Karen pun bergegas membawa semua berkas-berkas yang ada di atas meja kerja Sheza. Bekas-bekas itu kemudian diserahkannya kepada Arsen.
Setelah Karen menyerahkan semua berkas pada Arsen, perlahan Sheza mengangkat wajahnya, netra hazelnya menatap Arsen datar.
"Tuan apakah perlu kita berbicara di ruang meeting saja, saya akan menjelaskan kepada tuan segala sesuatunya terkait dengan data-data keuangan proyek kerjasama", ini ujar Sheza.
Suara Sheza begitu mengalun lembut di telinga Arsen. Arsen bukannya segera menjawab pertanyaan Sheza, ia malah terbuai dengan ucapan Sheza. Matanya menatap Sheza makin dalam. Dadanya terasa bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat.
Ken hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah sang bos. Kedua tangan Ken meraup wajahnya dengan kasar. Ya tuhan.....bos kau sangat memalukan bos, batin Ken.
Netra Ken menatap Karen dari celah-celah jemarinya, ia bisa melihat tatapan Karen masih dalam mode galak. Karen mengarahkan telunjuknya ke arah Arsen, telunjuk itu kemudian diletakkan di keningnya dalam posisi miring.
__ADS_1
Ken melotot marah pada Karen, karena dia tahu kode dari telunjuk Karen itu, secara tidak langsung Karen mengatai bosnya gila. Meski kesal karena Karen mengatai bosnya, namun Ken juga tidak bisa bertindak apa-apa, karena apa yang dikatakan oleh Karen dalam bahasa isyarat itu adalah benar adanya.