
Sepanjang perjalanan di lorong rumah sakit menuju parkiran, Sheza lebih banyak diam. Kekecewaan tergambar jelas dari air mukanya. Kata-kata yang diteruskan oleh Ganial dari Zafier, terasa lebih seperti sebuah pengusiran secara halus. Sheza merasa kecewa, sedih dan cemas, semua bergabung menjadi satu.
Suasana hening itu terus terbawa sampai ke dalam kendaraan, yang membawa Sheza dan Karen. Sheza masih terdiam. Ia tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Walaupun Karen merasa sedikit penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan Sheza, karena perubahan perilaku Sheza yang nampak tidak biasa menurut Karen, namun ia sama sekali idak berani menanyakannya secara langsung.
Di sebuah kedai kopi yang buka 24 jam di kota P, terlihat dua orang wanita yang masih asyik berdebat meski waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul 12.00 malam.
Salah seorang wanita berpenampilan feminim. Ia masih menggunakan blazer kerjanya yang berwarna pastel dengan bawahan rok dibawah lutut, dandanan yang minim make up tidak melunturkan kecantikannya yang natural, rambut ikal panjangnya hanya diikat seadanya. Sementara wanita lainnya berwajah oriental, berpenampilan tomboy dengan rambut sebahu, menggunakan kemeja putih dengan blazer berwarna gelap yang dipadupadankan dengan celana dasar berwarna gelap.
Wanita berpenampilan feminim itu tidak lain adalah Sheza, wajahnya nampak kusut dan cemberut menatap tajam pada sosok berpenampilan tomboy di depannya yang tak lain adalah Karen.
"Bukan begitu maksudku nona. Aku bukannya tidak mau menolong nona. Aku hanya tidak ingin menyewakan apartemen itu pada nona. Aku ingin nona tinggal saja di situ tanpa perlu menyewanya. Apartemen itu memang tidak pernah aku tempati, karena paman Ganial mengharuskan semua pengawal tuan Zaki berada di lingkungan mansion. Kami memang disediakan sebuah tempat tinggal tidak jauh dari lingkungan mansion nona", jelas Karen panjang lebar, wajahnya tampak kuatir karena kemarahan Sheza.
Sheza menatap Karen tidak percaya.
"Aku merasa tidak nyaman kalau hanya menempati apartemenmu tanpa membayar sepeserpun, Karen", bimbang Sheza.
"Nona tidak perlu berpikir yang tidak-tidak. Bukan suatu masalah besar bagiku nona. Lagipula apartemen itu sebenarnya bukan aku yang beli. Tuan Zaki selalu memberikan reward jika kami berhasil menyelesaikan suatu misi dengan sangat baik. Apartemen itu adalah salah satu reward yang diberikan oleh tuan Zaki. Jadi buatku tidak masalah kalau nona menempatinya", ujar Karen dengan tulus. Mata polosnya menetap penuh harap pada Sheza.
Sheza tampak tengah berpikir. "Hmm...aku akan mempertimbangkannya Karen, menempati apartemenmu atau memilih menyewa apartemen yang tidak terlalu jauh dengan kantor kita", ujar Sheza lagi.
__ADS_1
Sheza kemudian meneguk sisa kopinya, kemudian ia bergegas berdiri. "Ayo Karen, mari kita pulang. Aku ingin berkemas". Wajah Sheza nampak lega, karena permasalahannya bisa teratasi.
Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya kendaraan yang membawa Sheza dan Karen sampai di depan pintu gerbang mansion Zaki yang sangat tinggi dan kokoh. Seorang petugas keamanan nampak keluar dari poskonya kemudian menunduk hormat ke arah kendaraan Sheza dan Karen. Tak berapa lama pintu gerbang pun terbuka secara otomatis. Karen kemudian melajukan kendaraannya ke arah mansion Zaki. Mereka memasuki halaman mansion Zaki yang sangat luas. Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan mansion Zaki. Sheza bergegas turun begitu kendaraan mencapai pintu masuk mansion. Ia disambut oleh salah seorang pelayan di sana. "Selamat datang nona", sapanya ramah sambil menundukkan badannya. Sheza hanya mengangguk. Si pelayan kemudian membukakan pintu agar Sheza dapat masuk ke dalam mansion. Sheza terus naik ke lantai 2 di mana kamarnya berada. Begitu memasuki kamar Sheza berhenti tepat di depan ranjang. Mata hazelnya mengedarkan pandangan ke semua arah, mengamati setiap sudut kamarnya. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ah rasanya lelah sekali", gumam Sheza, rencananya untuk berkemas pindah hanya tinggal rencana saja, karena begitu tubuhnya menyentuh ranjang, Sheza langsung tertidur lelap.
Karen yang selesai memarkirkan kendaraannya, kemudian bergegas masuk ke mansion Zaki. Ia bergegas ke lantai 2 untuk melihat kondisi Sheza. Karen mengetuk pintu kamar Sheza, namun tidak ada jawaban dari dalam. Karen kemudian membuka sedikit pintu kamar Sheza. Dari tempatnya berdiri, ia bisa menyaksikan saat itu Sheza sedang tertidur lelap. Karen hanya tersenyum.
Ia kemudian kembali menutup pintu kamar Sheza secara perlahan. Lalu ia berjalan ke lantai dasar untuk segera mencapai pintu keluar dan kembali ke kamarnya sendiri.
......................
Sheza terbangun tiba-tiba ketika jam weker yang berada di samping ranjangnya berdering begitu keras.
Perlahan Sheza menggosok kedua matanya. Kemudian ia mengambil jam weker itu untuk melihat jam saat ini. Tiba-tiba Sheza ingat jika hari ini adalah hari libur, tidak perlu bergegas bangun untuk pergi bekerja. Sheza duduk di tepi ranjang untuk mengumpulkan segenap kesadarannya kembali. Hari ini hari libur, jadi ia bisa sedikit bersantai, pikirnya.
Bersantai.....? Seketika Sheza ingat semua rencana yang telah disusunnya kemarin. Sheza ingat bahwa hari ini ia berencana berkemas, karena ia ingin segera pindah ke apartemen Karen.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Ketukan di pintu kembali menyadarkan Sheza.
"Maaf nona, apakah nona sudah bangun", terdengar pelan suara pelayan dari mansion Zaki, berbicara di balik pintu.
"Sudah bi", masuklah jawab Sheza.
Perlahan pintu kamar Sheza terbuka, seorang wanita setengah baya nampak berdiri di pintu itu. Ia tidak berani melangkah masuk lebih jauh.
"Maaf nona apakah, apakah nona ingin sarapan di meja makan atau bibi bawakan ke sini saja sarapannya? ", tanya si pelayan dengan sopan.
"Aku sarapan di bawah saja bi, tapi sebelumnya aku akan membersihkan diri dulu", jawab Sheza sambil tersenyum.
"Baiklah nona, saya permisi dulu", jawab pelayan itu seraya membungkukkan badan, kemudian ia menutup pintu kembali dengan pelan sebelum berlalu pergi.
Setelah memastikan pintu tertutup kembali, Sheza berdiri dari ranjangnya dan bersiap ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri sehingga berjalan menuju Wakin closet yang ada di kamarnya. Ia memilih celana jeans biru muda yang dipadukan dengan Sweater Crop Top Knit Rajut berwarna putih dan biru muda.
Kemudian Sheza berjalan keluar dari kamarnya menuju meja makan yang terletak di lantai dasar. Ketika kakinya melangkah memasuki sebuah ruang makan luas dengan furniture mewah, di sana ia melihat Karen yang tengah duduk manis di salah satu sudut. Ia nampak tersenyum pada Sheza.
__ADS_1
"Pagi nona", sapanya ramah seraya tersenyum sumringah.
"Pagi Karen", jawab Sheza membalas sapaan Karen seraya berjalan mendekati Karen. Sekilas matanya menatap kursi di bagian tengah tempat di mana biasanya daddy Zaki duduk saat sarapan pagi, tersirat tatapan mata penuh kesedihan di mata Hazel itu.