
Akhirnya Sheza sampai juga di kamarnya. Sebuah presidential suite room yang mempunyai dua kamar, ruang tamu, dapur, kolam renang khusus dan masih banyak fasilitas lainnya. Karen juga menempati salah satu kamar di area yang sama.
Sheza merasa tubuhnya sangat gerah dan lengket karena seharian tadi banyak menghabiskan waktu untuk beraktivitas di luar. Ia beranjak ke kamar mandi untuk berendam, melemaskan semua otot-ototnya yang terasa kaku. Sensasi berendam dan aroma terapi yang dihirupnya benar-benar membuatnya sangat nyaman dam rileks. Sudah tiga puluh menit ia di dalam kamar mandi, belum ada tanda-tanda ia akan keluar. Sepertinya Sheza masih menikmati moment berendamnya.
Sheza memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba wajah pria yang menabraknya tadi melintas begitu saja dalam otaknya. Sesosok pria dewasa, tampan, dengan raut wajah tegas yang memancarkan aura dingin, ditambah pula sorot matanya yang setajam mata elang, sungguh perpaduan yang sempurna, sayangnya dia sangat sangat menyebalkan, batin Sheza kesal.
Tapi sebenarnya ketika melihat wajah itu, Sheza merasa seolah tidak asing baginya. Ia merasa sangat familiar dengan wajah itu, tapi dimana ia pernah bertemu pria itu, Sheza berusaha mengingat-ingatnya.
'Aih... kenapa aku jadi kepikiran pria menyebalkan tadi', pikir Sheza kesal. Tapi otak dan perasaannya seolah sepakat untuk mengkhianatinya, wajah pria itu malah dengan bebas menguasai otak dan pikirannya, padahal Sheza sudah berusaha membuang jauh-jauh wajah pria itu. Sheza benar-benar lelah hingga ia malah terlelap di dalam bathup.
Sheza baru tersadar dan membuka kedua matanya ketika pintu kamar mandi di ketok berkali-kali dengan keras dari luar. Suara Karen juga terdengar nyaring memanggil namanya.
"Nona.... nona, apa nona baik-baik saja? ", teriaknya cemas.
"Iya Karen, aku tidak apa-apa, aku cuma ketiduran", jawab Sheza berusaha menenangkan Karen yang terdengar sangat cemas.
"Syukurlah....nona sungguh membuat ku cemas. Nona tau aku panik sekali tadi ketika nona sama sekali tidak menjawab panggilanku dari dalam" ujar Karen dengan suara bergetar.
"Baiklah Karen, aku akan segera keluar dan berpakaian. Kau tunggu saja aku di meja makan", ujar Sheza sambil keluar dari bathup dan bergegas mengambil bathdrobenya.
"Baik Nona", ujar Karen dengan patuh.
Setelah suara Karen tidak lagi terdengar, Sheza bergegas keluar. Ia mengambil kopernya yang tergeletak di pojok kamar. Kemudian Sheza mengeluarkan satu stel pakaian santai. Sheza mengambil sebuah celana jeans berwarna biru muda dipadu dengan baju model crop top berwarna hitam rambutnya dibiarkannya tergerai begitu saja.
Malam ini Sheza tidak akan kemana-mana. Ia hanya akan beristirahat di hotel saja. Ia sangat lelah. Lelah karena perjalanan dalam pesawat, dan lelah karena berperang dengan otak dan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Sheza ingat ia menyuruh Karen untuk menunggunya di meja makan. Bergegas Sheza keluar kamar menuju ruang makan. Di meja makan telah tertata berbagai makanan yang sangat menggugah selera. Mereka berdua makan dalam diam.
"Nona aku mohon lain kali jangan seperti tadi ya. Aku benar-benar cemas terjadi sesuatu pada nona, karena kalau terjadi sesuatu pada nona nyawaku jadi taruhannya", ujar Karen dengan nada cemas.
"Iya Karen maafkan aku yang telah membuatmu cemas", ucap Sheza tulus dengan wajah menyesal. Ia bisa memahami kecemasan Karen.
"Jangan minta maaf kepadaku nona, Itu semua sudah tugasku", ujar Karen lagi dengan lega
Selesai makan malam. Mereka berdua memutuskan istirahat di kamar masing-masing.
......................
Pagi pun menjelang. Sinar matahari yang menyilaukan masuk melalui celah-celah jendela kamar hotel yang tidak tertutup oleh tirai. Kamar yang sekarang terlihat lebih terang dari pada malam hari, masih belum membuat Sheza terusik untuk segera bangun dari tidurnya. Sheza sepertinya sangat lelah.
Sampai akhirnya ponsel yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya, tepat di dekat telinganya berdering dengan cukup keras. Setelah beberapa saat nada dering ponsel itu mulai sangat mengganggu. Sheza mulai membuka matanya dengan kesal. Ia menyesal tidak mematikan ponsel itu atau paling tidak membuatnya dalam mode silent. Namun meski kesal setengah mati, mau tidak mau dengan mata setengah terpejam, Sheza menggapai ponsel tersebut, dan menaruhnya di telinga.
Suara serak khas bangun tidurnya terdengar, "Halooo... ", sapa Sheza
"Halo nona, ayo bangun, kita sarapan di lantai bawah saja, bergabung dengan yang lain, biar bisa sambil cuci mata. Rasanya bosan sekali kita hanya berdiam di kamar ini", terdengar suara yang sangat dikenal Sheza di seberang sana. Sheza makin kesal, tapi ia cukup tertarik dengan ajakan Karen itu.
"Aish...kau mengganggu tidurku saja Karen", runtuk Sheza. Tapi tak urung Sheza tetap bangun dari posisi tidurnya.
"Ayolah nona, mari kita menikmati suasana di kota ini. Masa jauh-jauh ke sini cuma untuk tidur", bujuk Karen.
__ADS_1
Sheza berpikir sejenak, betul juga apa yang diucapkan Karen.
"Hmm... baiklah kau menang, tunggu di ruang tamu, aku akan segera mandi dan berganti pakaian", ujar Sheza lagi sambil mematikan ponselnya. Kemudian meletakkannya kembali di atas nakas.
Sheza bergegas ke kamar mandi. Ia tidak berniat untuk berlama-lama karena Karen telah menunggunya sedari tadi.
Setelah mandi, Shea memilih setelan santai berupa celana jeans biru dan baju lengan panjang berwarna hijau, rambutnya di biarkan tergerai. Kemudian Sheza beranjak ke luar setelah memakai sepatu sportnya.
Karen telah menunggunya di ruang tamu. Sheza menatapnya heran. Pakaiannya selalu seperti itu saja, setelan hitam dilengkapi jaket warna senada.
"Kau tidak punya baju santai, sepagi ini sudah serapi ini", ujar Sheza.
"Apakah ada yang salah dengan pakaianku nona, aku merasa lebih percaya diri dengan berpakaian seperti ini", ujarnya polos.
"Hmm... sudahlah ayo kita turun sarapan", ajak Sheza lagi. Ia sedang malas berdebat pagi-pagi. Mereka berdua pun bersiap turun ke lantai bawah.
Betul saja, sarapan di lantai bawah lebih ramai, bertemu dan bergabung dengan banyak orang, sungguh menarik, pikir Sheza.
Sheza lebih memilih duduk di dalam ruangan saja di dekat jendela kaca, dimana ia bisa mengamati pemandangan bebas di luar. Ia sendiri malas duduk berpanas-panasan di luar sana.
Sementara itu Karen sendiri tidak berada di dekat Sheza, dia pamit ke kamar mandi pada Sheza. Namun ketika kembali, Karen malah memilih duduk di tempat lain, dimana ia tetap dapat mengawasi Sheza meski tidak berada di dekatnya.
Sheza asyik menikmati minumannya sendirian. Ia sendiri tidak terlalu peduli dimana keberadaan Karen.
__ADS_1
Sheza tidak menyadari kalau sedari tadi sepasang mata hitam dengan sorot tajam dan dingin tengah mengamati setiap aktivitasnya. Mata itu terus menikmati wajah cantiknya. Tak lepas sedetikpun mata itu menatap wajah Sheza. Seulas senyum tersungging di bibir tipisnya.
"Shezan Shaziya Arshaka", gumamnya pelan.