
Dua hari berselang, Raya dan Nev kembali menjenguk sang Mama yang baru saja keluar dari Rumah Sakit. Mereka menghabiskan waktu bersama sampai sore hari di Rumah orang tua Raya itu.
Setelah pulang dari sana, Raya mengajak Nev berbelanja kebutuhan pokok di sebuah Supermarket. Nev membantu membawakan troli belanjaan untuk Raya.
Biasanya tugas ini dilakukan oleh Roro atau Nimas, tapi karena mereka berdua sudah tidak bekerja lagi, mau tak mau Raya pun melakukannya.
Sembari memilah-milah barang yang ingin dibeli, Nev memperhatikan istrinya yang sudah mulai cekatan seperti dulu.
"Sayang, apa kita cari pembantu baru untuk di rumah?" tanya Nev serius pada Raya yang melihat-lihat produk yang berjajar di rak.
Raya menoleh ke arah Nev. "Tidak usah, sementara ini biar saja Bi Asih, Yana dan aku yang mengurus soal rumah," jawabnya.
"Aku takut kamu kelelahan jika ikut mengurusi rumah," kata Nev.
Raya menggeleng. "Aku gak keberatan, Nev. Aku juga butuh kesibukan untuk mengalihkan beban pikiranku," jawabnya.
Nev menarik nafas pelan. Jawaban Raya ada benarnya juga, istrinya memang perlu pengalihan, tapi Nev juga tak setuju jika Raya terlalu sibuk mengurusi rumah, dia memikirkan kondisi sang istri yang tidaklah terlalu sehat, baik fisik maupun psikis.
Ya, Nev masih sering memergoki Raya yang menangis sendirian.
"Tapi jangan berlebihan ya." Akhirnya hanya kata itu yang bisa Nev ucapkan dan Raya menganggukinya.
Sekarang mereka memasuki area yang mendisplay banyak buah-buahan, sayuran dan bahan-bahan masakan.
Raya membeli daging, beberapa sayuran dan kebutuhan bumbu sebagai pelengkapnya.
"Kamu mau makan apa nanti malam? Udah lama aku gak masakin kamu."
"Apa ya?" Nev berlagak berpikir, mengetuk-ngetuk jari di ujung bibirnya sendiri. "Makan kamu, boleh enggak?" tanyanya tersenyum.
Raya hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya yang absurd.
"Apa aja yang kamu masakin aku bakal makan, Sayang." kata Nev akhirnya.
Raya tersenyum dan semakin semangat memilih bahan-bahan masakannya.
"Nev! Raya!" seru seseorang dari belakang tubuh Nev.
Pasangan suami istri itupun menoleh pada orang yang menyapa mereka.
"Kau!" Nev berdecak samar.
"Luisa ..." gumam Raya tertahan.
Luisa tersenyum, kali ini senyumnya terlihat tulus tanpa kilatan licik seperti biasanya.
__ADS_1
"Kalian berbelanja? Aku juga ..." kata Luisa ramah sembari menunjukkan trolinya dengan pandangan mata.
Raya terdiam, karena dia merasa bahwa dia dan Luisa tidaklah seakrab perbincangan yang dimulai oleh wanita itu.
Sedangkan Nev, memutar bola matanya, menunjukkan sikap jengah yang kentara.
"Apa aku mengganggu kebersamaan kalian? Tapi sumpah, ini benar-benar pertemuan yang tak disengaja, aku tidak menguntit kalian, kok." Luisa mengacungkan jari membentuk V.
"Ya, kau memang mengganggu ..." kata Nev dengan nada malas tapi berterus-terang. Sementara Raya masih diam dan sesekali melirik interaksi antara Luisa dan suaminya.
"Raya, aku ... minta maaf jika pernah mengecohkan perasaanmu pada Nev. Jangan percaya perkataanku yang dulu," kata Luisa tampak serius.
"Ya, itu sudah berlalu, lagipula aku percaya pada suamiku." Raya menatap Luisa dengan tatapan serius pula.
Luisa merasa terintimidasi, dia mengerti sekarang, jika istri Nev ini bukanlah wanita sembarangan yang mudah dia provokasi. Buktinya, pernikahan mereka tetap bertahan walau Luisa sempat berniat mengacaukan dan Luisa juga tahu mengenai insiden yang menimpa Raya, namun Nev dan Raya tetap bersama-sama melewati itu.
"Kebetulan aku sudah selesai berbelanja. Jika kalian sudah selesai, bisakah kita mengobrol ringan?" tanya Luisa.
"Untuk apa?" sarkas Nev cepat.
"Untuk mengganti perkenalan yang diawali dengan momen tidak menyenangkan, siapa tau sekarang bisa lebih baik." Luisa tersenyum dengan binar penuh harap dimatanya.
Raya memaksakan untuk tersenyum, dia tidak tertarik sama sekali dengan tawaran Luisa itu.
"Tapi kami harus pulang," tegas Raya.
"Sudahlah, Lui. Kami tidak tertarik dengan tawaranmu," kata Nev menimpali.
"Aku sempat mendengar kabar dari televisi mengenai kejadian yang menimpa kalian," ujar Luisa.
"Aku hanya tidak mau dianggap musuh dalam selimut juga, aku tidak mau suatu saat kalian mencurigai aku. Aku ingin hidup tenang dan jauh dari prasangka," terang Luisa.
Nev tertawa pelan. "Justru sikapmu yang seperti ini menyebabkan kami semakin berprasangka padamu, Lui."
Luisa menggeleng cepat.
"Ya, aku sulit percaya pada siapapun lagi. Aku sudah pernah memaafkan orang yang salah. Hingga akhirnya orang itu menusukku dari belakang karena kenaifanku." Raya berucap dengan mata berkaca-kaca.
Raya memang sudah menutup hatinya untuk permintaan maaf dari orang lain, apalagi orang itu pernah menyakiti atau berniat menghancurkannya. Sejak ia menerima perlakuan jahat dari Feli, rasanya begitu sulit untuk percaya lagi dan memaafkan begitu saja. Ia tidak mau terkecoh lagi dengan hal sama dari tindakan yang Luisa lakukan ini.
"Aku tidak mau tertipu lagi," imbuh Raya menekankan kata-katanya.
"Tapi aku tidak menipumu, Raya. Aku serius... aku ingin minta maaf padamu, aku ingin menjalin hubungan yang lebih baik." kata Luisa.
"Dan kau menginginkan kami percaya?" celetuk Nev dengan kekehan kecilnya.
__ADS_1
"Aku tahu itu akan sulit, aku paham. Tapi, akupun ingin berubah, Nev. Aku tidak mau begini terus." Luisa tampak ikut berkaca-kaca.
Nev menggeleng. "Raya sulit percaya orang lain lagi, mengerti kan? Kami harus pergi, Lui. Jika kau memang ingin berubah, itu bagus. Semoga kau memegang prinsip itu seterusnya." Nev mendorong trolinya dengan satu tangan dan tangan lainnya menggandeng tangan Raya agar segera beranjak dari hadapan Luisa.
"Tidak semua orang berpura-pura dalam permintaan maafnya! Ada juga yang tulus meminta maaf. Coba pikirkan lagi ucapanku, Raya! Aku bukanlah orang yang mudah mengucapkan kata maaf, aku tidak mungkin menurunkan harga diriku dengan hal semacam ini jika aku tak bersungguh-sungguh! Tapi tak apa, Aku mengerti... mungkin penghianatan yang pernah kau terima membuatmu sulit memaafkan orang lain. jika suatu saat kita bertemu lagi secara tak sengaja, ku harap disaat itu kau sudah memaafkanku..." kata Luisa pelan sebelum Raya dan Nev benar-benar meninggalkan area itu.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Menjelang tidur, Raya masih terpikir dengan ucapan terakhir yang Luisa lontarkan sore tadi.
Nev memperhatikan istrinya yang tampak melamun, ia mengira jika Raya masih meratapi soal kejadian nahas itu.
"Sayang, kenapa tidak tidur?" tanya Nev membelai wajah Raya.
"Aku masih kepikiran ucapan Luisa tadi." kata Raya jujur.
"Jangan memikirkannya, itu akan menambah beban pikiranmu, hmm.."
"Apa menurutmu dia tulus soal permintaan maafnya?"
"Maybe..." Nev mengendikkan bahu.
Raya berpikir dengan tatapannya yang menerawang. "Tapi jika dipikir-pikir lagi, Luisa tidak punya salah padaku, Nev. Memang sih, dia sempat menguntitku waktu itu dan mencoba memprovokasi hubungan kita tapi kan aku gak terpengaruh," celetuknya.
"Sudahlah, jangan dipikirkan."
"Justru aku yang punya salah padanya, Nev."
"Kenapa begitu?"
"Karena sempat berpikir bahwa dia yang berniat mencelakaiku waktu itu. Ingat tidak, waktu itu aku menduga dia yang ada dibalik peristiwa pencegatan itu..." lirih Raya.
Nev mengelus kepala Raya, mengecup dahinya berkali-kali.
"Kamu memang terlalu naif... yah, just naif..." kata Nev terkekeh kemudian.
Raya memberengut dan Nev semakin tertawa.
"Sayang... bisa-bisanya kamu menyalahkan dirimu sendiri." Batin Nev masih saja lucu dengan kepolosan istrinya itu.
"Sudahlah, tidur saja..." kata Raya memeluk gulingnya seketika.
Nev masih terkekeh pelan. "Jangan terlalu dipikirkan, semoga saja Luisa benar-benar serius dengan ucapannya. Tapi kamu juga harus tetap berhati-hati."
"Iya, Nev... aku gak mau bodooh untuk kedua kali." kata Raya sembari memejamkan matanya.
__ADS_1
...Bersambung ......
...Jangan lupa love, like, komen, vote dan hadiah♥️...