
"Jadi kau mau memulai rencanamu dari mana?" tanya Jimmy serius pada Nev.
"Jujur saja, sebenarnya aku ingin membuat kegaduhan di acara pernikahan itu," kata Nev sembari mengacak rambutnya sendiri.
Jimmy tergelak, "Hei, kau itu pengusaha muda sukses, image mu akan hancur kalau kau membuat hal konyol di pernikahan mantan pengasuhmu" cibir Jimmy membuat Nev mendengkus keras.
"Lalu bagaimana? Apa aku culik saja dia?"
Jimmy terbengong mendengar ide gila Nev itu, kemudian Nev sendiri yang justru terkekeh melihat reaksi wajah Jimmy yang sangat berlebihan.
"Tampangmu itu!" kata Nev sembari menjentikkan jari didepan wajah cengo Jimmy.
Jimmy akhirnya tersadar, ia langsung mengetuk meja dengan pelan lalu berlanjut mengetuk kepalanya sendiri dan mengulangi hal itu beberapa kali.
"Kenapa kau?" tanya Nev heran melihat tingkah Jimmy itu.
"Biar gak ketularan sama kegilaanmu," kata Jimmy terkekeh nyengir.
"Memangnya ada hubungannya dengan ketuk meja lalu ketuk kepala?" Nev semakin terheran-heran aneh.
"Entahlah," kata Jimmy mengangkat bahu.
Nev hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah absurd sahabatnya itu.
Beberapa saat terdiam, Jimmy mulai mengemukakan pendapatnya.
"Menurutku, kau tidak perlu melakukan hal konyol dan bodoh untuk menggagalkan pernikahan Raya," usul Jimmy tersenyum simpul, karena dikepalanya sudah ada ide brilian.
"Lalu? Apa yang harus ku lakukan?" tanya Nev bimbang.
"Main cantik, Bro. Kita tinggal cari tahu siapa calon suaminya Raya..."
"Kalau itu aku tahu," celetuk Nev cepat.
"Nah, bagus, kita cari tahu latar belakangnya. Dia pasti punya kekurangan yang membuat Raya ilfeel sehingga Raya akan membatalkan pernikahan itu," terang Jimmy.
Nev mengangguk-anggukkan kepalanya, ucapan Jimmy ada benarnya, tidak mungkin Reka sesempurna penampilannya, kan? Pasti pria itu memiliki kekurangan yang barangkali bisa membuat Raya dan keluarganya berpikir ulang soal pernikahan ini.
"Bisa saja dia seorang playboy... nah, keluarga Raya pasti tidak mau menikahkan anaknya dengan cassanova..." kata Jimmy dan Nev tergelak mendengar Jimmy yang sok bijak. Pasalnya, ungkapan Cassanova itu lebih cocok disematkan pada diri Jimmy sendiri.
"Playboy ya? Itu berarti sama seperti kau," cibir Nev dan Jimmy jadi ikut terkekeh karena dia tak menyangkal hal itu.
"Beri tahu aku nama dan profesi calon suami Raya," kata Jimmy serius, dia mulai membuka ponselnya, ingin mencari tahu jati diri lelaki yang akan meminang Raya itu.
"Hemm... Nama calon suami Raya, ya? Kalau calon suami Raya itu... namanya Nevan, Bro..." sahut Nev percaya diri.
"Pekerjaannya--" Nev tak melanjutkan kalimatnya karena terlanjur melihat Jimmy yang sudah memelototinya dengan tatapan tajam.
Jimmy sedikit kesal, karena dia sudah mulai memegangi ponselnya saat ini-- demi mencari tahu latar belakang Reka, tapi Nev justru bercanda, saat dia sudah mengajukan pertanyaan yang serius.
Nev tersenyum kecil. "Aku serius, kan aku yang akan jadi suaminya nanti," timpal Nev lagi-- membuat Jimmy mendengkus dan meletakkan ponselnya ke meja kerja dengan keras.
"Kau mau ku bantu atau tidak?" senggak Jimmy marah.
"Hahaha...." Nev tertawa nyaring, dia senang akhirnya Jimmy bisa kesal padanya. Biasanya dia yang selalu dibuat kesal oleh sahabat tengilnya itu.
"Breng sek!" umpat Jimmy tak seserius kedengarannya. "Cepat beri tahu aku nama lelaki itu!" dengus Jimmy.
"Iya, iya... namanya Reka. Aku tidak tahu nama lengkapnya, yang jelas dia seorang pengacara," kata Nev.
Jimmy mengelus dagunya sendiri, memikirkan nama Reka ada atau tidak dalam lingkup permainannya selama ini. Maklumlah, Jimmy yang masih lajang sering menghabiskan malam di Club, Bar atau tempat semacam itu. Jadi, dia pun memikirkan apa mungkin ada pria bernama Reka yang masuk dalam ring zone nya.
__ADS_1
"Aku tidak mengenal dia didunia malam, Bro," celetuk Jimmy setelah mengingat-ingat dunia pergaulan bebasnya.
Nev mengangguk. Berarti Reka bukan pria yang suka ketempat semacam itu.
"Sepertinya dia pria baik-baik, akan sulit menemukan kekurangannya," kata Nev mulai pesimis.
"Dengar, Bro. Tidak semua playboy doyan main ketempat hiburan. Mereka kadang punya skil terpendam dan nyaris tidak diketahui banyak orang. Apalagi kau bilang dia seorang pengacara. Mungkin dia menutupi masalah pribadinya didepan publik. Dia juga menghindari tempat seperti itu untuk menjaga nama baiknya, tapi...."
"Tapi apa?" kata Nev tak sabar.
"Tapi bukan berarti dia tak punya kekurangan," kata Jimmy lagi sembari meraih ponselnya yang tadi sudah tergeletak di meja.
"Kau tahu fungsi smartphone ini selain untuk menelepon dan berkirim pesan?" tanya Jimmy serius.
"Ya tahu lah, untuk main medsos.." kata Nev datar.
Jimmy terkekeh, "Yup... dan untuk mencari tahu profil seseorang," kata Jimmy menjelaskan.
Nev tersenyum miring, "Aku tahu, tapi aku tidak pernah melakukannya. Untuk apa ada kau dan Bian. Kalian saja yang mengurus hal itu untukku," kata Nev.
"Terserahmu lah," jawab Jimmy malas dan mulai berkutat dengan ponselnya sendiri untuk mencari tahu jati diri Reka sebenarnya.
Cukup lama Jimmy fokus pada layar ponselnya, kadang ia mencebikkan bibir, kadang keningnya terlihat berkerut serius dan kadang pula dia terlihat mengulas senyuman kecil.
"Dia benar-benar menutup diri dari publik. Kehidupannya tertutup dan sulit dijangkau. Di internet, hanya ada ulasan tentang pencapaiannya dan tidak ada yang menerangkan tentang profil pribadi kehidupan serta keluarganya." kata Jimmy sambil tetap mengutak-atik ponselnya sendiri.
"Lalu bagaimana?" tanya Nev.
"Tenang, Bro. Kau cukup beruntung punya teman cerdik sepertiku. Berdoalah agar aku segera menemukan kekurangannya dalam waktu dekat," Jimmy pun tergelak dihadapan Nev.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Raya menurut, dia memang terbiasa untuk tidak protes pada keadaan yang sudah dia pilih sendiri.
Sepanjang perjalanan, Raya dan Reka banyak diam dengan pikiran masing-masing.
"Ray, boleh aku bertanya sama kamu?" tanya Reka pada Raya sembari tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Ya, tanyakan saja." kata Raya singkat.
"Apa kamu terpaksa menerima perjodohan ini?"
Raya terdiam, tapi kemudian dia berujar. "Apa kamu rasa aku bisa menolaknya?" tanyanya balik pada Reka.
Reka menggeleng. "Aku tahu, kamu pasti tidak bisa menolaknya dan ada rasa terpaksa dihati kamu." sahut Reka.
"Jujur saja, Ka. Aku tidak ingin hubungan keluarga kita menjadi renggang hanya karena penolakanku. Dan lagi, jika aku boleh jujur, aku memang sudah merasa dekat dengan kamu dan menganggap kamu layaknya saudara," terang Raya jujur.
Reka tersenyum kecut mendengar hal itu.
"Apa suatu saat kamu bisa membuka hati untukku, Ray?"
"Aku tidak tahu, karena sebenarnya hatiku sudah ku buka untuk orang lain," aku Raya terus terang.
Reka cukup terkejut dengan pernyataan Raya itu, dia menjadi tidak konsentrasi dalam menyetir, menyebabkannya menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Apa kamu telah memiliki pacar? Apa aku merusak hubungan kalian karena perjodohan ini?" tanya Reka kemudian.
Raya diam sejenak sebelum memutuskan menjawab, karena dia tahu bahwa dia dan Nev bukan berpacaran seperti dugaan Reka. Dia ingin berterus terang pada Reka tanpa ada yang dia tutupi, dia ingin melihat dan menilai bagaimana Reka menyikapi semua ini.
"Aku tidak berpacaran dengannya, hanya saja kami saling mencintai," jawab Raya hati-hati.
__ADS_1
Reka menatap Raya dengan lekat, tapi jawaban Raya sedikit membuatnya tenang karena Raya bukanlah kekasih orang.
"Itu berarti kamu sudah mencintai orang lain?" tanya Reka.
"Ya..."
"Apa suatu saat kamu bisa mencintai aku?"
Raya menggeleng pelan, "Aku tidak tahu, Reka."
"Tak lama lagi, kita akan menikah. Aku harap kamu bisa melupakan pria itu," kata Reka cepat.
Reka mulai menstater mobil kembali dengan raut wajah yang tampak tegang, rahangnya tampak mengeras-- mengetahui bahwa Raya memiliki seseorang yang dicintai. Sementara, dia meyakini perjodohan ini akan membuatnya terlepas dari belenggu masa lalu.
Tapi, kenapa Raya justru mengaku memiliki pria lain yang dia cintai, apa pernikahan mereka akan berhasil jika begini? Sebenarnya Reka ragu tapi dia tidak akan mundur sebelum mencoba.
Dilain sisi, Raya cukup speechless dengan pernyataan Reka, dia pikir Reka akan mengatakan bahwa 'lebih baik pernikahan ini kita dibatalkan saja' karena kejujuran Raya tentang perasaannya.
Tapi, kenapa jawaban Reka justru terlihat sangat memaksakan keadaan? Memintanya melupakan pria yang dia cintai. Padahal Raya berharap Reka lah yang akan membatalkan pernikahan ini setelah kejujurannya tentang perasaanya. Lalu apa artinya kejujurannya jika tanggapan Reka seperti ini?
Mereka pun tiba ditoko perhiasan dengan pancaran wajah yang tak menunjukkan kebahagiaan sama sekali.
Raya bahkan selalu mengiyakan semua cincin yang Reka pilihkan. Jawabannya selalu bagus, bagus dan bagus, padahal dia tidak tertarik sama sekali.
Bukan karena bentuk cincin nya yang tak bagus, tapi karena memang Raya tak memiliki antusiasme yang tinggi mengenai pernikahan ini.
Diperjalanan pulang, Raya memberanikan diri untuk menyampaikan pendapatnya.
"Ka, apa gak sebaiknya pernikahan kita dibatalkan saja?"
Reka menoleh menatap Raya. "Kamu bercanda? Aku tanya sama kamu, memangnya kamu bisa menolak dan mengatakan pada orangtua kita tentang pembatalan itu?" tanya Reka dengan nada sedikit menantang.
Raya tertunduk. Tentu saja dia sulit mengatakan hal itu pada kedua belah pihak keluarga.
"Undangan pernikahan saja sedang dalam proses cetak, Ray. Cincin juga udah kita beli," Reka menunjuk bungkusan yang tergeletak di dashboard mobil dengan dagunya.
"Kenapa? Kamu ragu? Kamu takut gak bisa melupakan pria yang kamu cintai itu?"
Raya mengangguki Reka dan Reka justru tertawa hambar.
"Aku akan membuat kamu melupakannya, Ray. Sampai saat ini, tidak ada yang tak bisa ku raih jika aku bersungguh-sungguh." jawab Reka percaya diri dan Raya menyadari sikap ambisius di diri Reka itu.
"Percaya sama aku, cepat atau lambat kita akan bisa menerima semua ini. Aku juga akan berusaha membahagiakan kamu, kita belajar mencintai satu sama lain," kata Reka lagi.
"Tapi---"
"Ray, kamu pikir aku sudah mencintai kamu? Belum.... tapi aku mau belajar dan aku mau mencobanya. Jadi kamu juga harus seperti itu jika memang takdir sudah mengatakan bahwa kita berjodoh,"
Raya merasa tenggorokannya kering, ucapan Reka ada benarnya. Jika takdir mereka memang harus bersama, Raya bisa apa?
"Kita berusaha sama-sama, oke?" Reka meraih jemari tangan Raya dan menggenggamnya. Raya tidak merasakan efek apa-apa di dirinya atas perlakuan intens Reka itu, justru dia merasa risih dengan tindakan yang Reka lakukan.
Raya menepis pelan tangan Reka yang berada dijemarinya dan Reka mengangguk mengerti, Reka memberikan Raya waktu untuk menerima keadaan yang sudah didepan mata ini.
Sejujurnya, Reka memang sadar bahwa dia memaksakan pernikahan ini, semata-mata untuk melupakan masa lalunya. Dia juga menginginkan Raya bisa sepertinya, jadi mereka bisa sama-sama belajar melupakan orang lain yang kini masih ada dihati mereka masing-masing.
Sayangnya, Raya tidak berpikir demikian, dia bukan tak mau mencoba, tetapi dia tahu pernikahan bukanlah ajang coba-coba seperti permintaan sederhana Reka. Dia mengingkan pernikahan satu kali seumur hidupnya dan dia tak mau menyesalinya dikemudian hari jika ternyata telah salah memilih pasangan.
...Bersambung ......
Part ini terkhusus di update untuk readers yang sampe japri aku minta up sekali lagi dimalam ini. Makasih ya readers setiaku... dimanapun berada, yang masih dukung dan baca Novel ini. Semoga kita sehat selalu ya❤️❤️❤️❤️
__ADS_1