
Tidak butuh waktu lama, Jimmy yang bisa diandalkan sudah bisa memberitahu Nev tentang keberadaan Citra.
Bermodalkan nomor ponsel wanita itu yang didapat dari Elyani, Jimmy bisa melacak keberadaan Citra dengan sangat mudah.
Nev berdecak lidah saat Jimmy memberitahukan posisi Citra padanya melalui sambungan seluler.
"Kau memang menyebalkan," dengkus Nev. Ia mengingat saat Jimmy tak bisa membantunya dulu, tapi sekarang dengan mudahnya Jimmy mendapat informasi mengenai Citra.
"Jangan dendam padaku, Nev..." sahut Jimmy tergelak dari seberang sana. "Lagipula ini terlalu gampang, kalau mencari Raya dulu memang sulit karena dia tak membawa ponselnya," sambung Jimmy menyanggah.
"Banyak alasan!" kata Nev malas.
Jimmy terus saja terkekeh tak menghiraukan ucapan Nev yang menggerutu.
"Lagipula, ku rasa seharusnya Reka bisa mencari wanita itu sendiri. Dia juga punya koneksi, tapi kenapa dia tak bisa menemukannya, ini aneh Nev!" kata Jimmy mengutarakan rasa janggal dihatinya.
"Entahlah, kita tak tahu isi kepala Reka. Thanks, Bro..."
"Mana hadiahku?" tanya Jimmy tanpa rasa canggung sedikitpun.
"Hadiah apa?"
"Aku tahu kau menolong Reka karena permintaan Raya, kan? Dan kau pasti meminta hadiah pada istrimu sebagai balasan atas bala bantuan ini, kan?" kata Jimmy menebak, dia sudah tahu Nev luar dalam.
Nev terdiam, tak menyahuti ucapan Jimmy yang benar adanya itu.
"Nah, jadi karena aku ikut membantu, aku juga minta hadiah padamu!" tuntut Jimmy.
"Aku minta hadiah pada Raya itu urusanku, Jim! Kalau kau mau juga, kau minta saja pada istrimu!" tegas Nev lalu mematikan ponselnya sembari menghela nafas keras.
"Bisa-bisanya bocah ini tahu kalau aku minta sesuatu pada Raya. Huh!" kesal Nev sembari menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Malam harinya Nev dan Raya sepakat mengunjungi kediaman orangtua Reka. Sebab, Elyani mengatakan jika Reka sekarang tinggal bersamanya sejak Damar meninggal.
Nev sudah mendengar ulasan Raya dan dia setuju pada pendapat istrinya jika Reka sebenarnya mencintai wanita bernama Citra, jadi Nev tak merasa cemburu lagi pada Reka.
Mereka tiba dikediaman orangtua Reka sekitar pukul 8 malam.
"Raya..." Elyani memeluk Raya dengan sikap hangat, kemudian tersenyum menyapa Nev.
"Ah ya, Tant. Ini suamiku, Nev..." kata Raya pada Elyani, dia baru ingat jika keluarga Reka belum pernah berkenalan secara langsung dengan suaminya.
Elyani mengulurkan tangan pada Nev dan Nev menyambut itu.
Elyani cukup tahu siapa yang menggantikan Reka untuk menikahi Raya waktu itu, walau tak pernah mengenal secara pribadi tapi dia tahu jika Nev adalah salah satu pengusaha sukses di Indonesia.
__ADS_1
Elyani tak tahu apa yang sempat menimpa Raya dan Nev, karena waktu itu dia sibuk mengurusi suaminya yang sakit dan tak sempat melihat kabar media yang beredar. Dimata Elyani, dia meyakini hubungan Raya dan Nev selama ini baik-baik saja dan dia mengakui dalam hatinya jika Raya dan Nev memang sangat serasi.
Elyani meminta Nev dan Raya untuk masuk kedalam rumahnya lalu mempersilahkan sepasang suami istri itu untuk duduk dan meminta pelayan membuatkan minuman untuk keduanya.
"Mana Reka, Tant?" Kali ini Nev yang bertanya dengan suara baritonnya yang khas.
"Reka ada di kamar, kalian ingin bertemu dengannya?" tanya Elyani dan dua orang didepannya mengangguk.
"Baiklah, sebentar Tante panggilkan Reka," katanya.
Tak berapa lama, pria yang ditunggu Raya dan Nev itupun keluar dari tempat persembunyiannya.
Reka terlihat lebih kurus dari terakhir kali Raya melihatnya di pemakaman Almarhum sang Ayah.
"Ada apa kalian kesini?" tanya Reka pelan sembari mendudukkan diri di sofa.
"Apa kabarmu?" tanya Nev berbasa-basi.
"Tidak begitu baik," sahut Reka jujur.
"Ku harap kau jangan salah sangka dengan maksud kedatangan kami kesini, kami datang kesini karena Tante El meminta bantuan Raya perihal pencarian Citra," terang Nev yang diangguki kedua wanita yang ada disana, Raya dan Elyani.
"Lalu?" sahut Reka.
"Pertama, aku ingin bertanya serius padamu, bisa?"
Reka mengangguk.
Reka mengernyit mendengar penuturan suami Raya itu, kemudian dia menghela nafas sejenak.
"Aku sudah mencarinya," kata Reka akhirnya.
"Benar-benar mencarinya?" tanya Nev lagi menekankan kata-katanya.
"Tidak terlalu, karena ku pikir dia akan kembali nanti."
Terdengar helaan nafas berat dari Elyani, lalu wajahnya memancarkan raut kecewa atas jawaban yang Reka berikan.
"Lalu sekarang, apa kau ingin dia kembali?" tanya Nev lagi.
"Aku tidak tahu."
"Coba kau tanya pada dirimu sendiri, Ka. Kau menginginkan dia kembali atau tidak?" Kali ini Raya yang bertanya dan buka suara.
Reka terdiam, ego dan nalurinya seperti berperang didalam dirinya sendiri. Egonya mengatakan jika dia tak membutuhkan Citra, tapi Citra lah yang membutuhkannya dan pasti wanita itu akan kembali dengan sendirinya nanti.
Tapi, nalurinya berkata sebaliknya, dia ingin Citra kembali, ingin mengetahui kabar wanita itu, lalu ingin melihat bayi kecil yang belum pernah ia temui sampai saat ini.
__ADS_1
"Aku yakin, kamu pasti ingin bertemu dengannya, Ka. Hilangkanlah egomu, Reka! Kamu harus ingat bahwa diluaran sana Citra hanya berdua dengan bayi kecilnya. Jika kamu mementingkan egomu sendiri dan begitu gengsi mengakui perasaanmu yang sebenarnya pada Citra, setidaknya kamu harus punya hati nurani!" papar Raya yang tak tahan melihat Reka dengan sikap gengsi dan ketidaktegasannya itu.
Reka mengadahkan kepalanya dan menatap Raya dengan serius. "Aku ingin bertemu mereka," lirihnya.
Raya dan Nev saling berpandangan satu sama lain.
"Aku menyesal, aku tidak mencarinya dengan sungguh-sungguh. Justru aku menunggu dia kembali dengan sendirinya. Apa aku keterlaluan?" Reka menatap Nev dan Raya bergantian.
Bukan Raya atau Nev yang menyahuti ucapan Reka itu, melainkan ibunya sendirilah yang buka suara.
"Jelas kamu keterlaluan, Reka! Kamu pikir pakai logika! Sekarang mereka hanya berdua! Bukankah itu sama saja kamu membiarkan anak itu hidup tanpa sosok ayah? Sekarang kamu sudah merasa bagaimana hidup tanpa Papa! Apa kamu mau membuat bayi itu bernasib sama seperti yang kamu alami sekarang?" senggak Elyani dengan marah.
Reka terdiam, sedikit banyak hal itu juga yang dia pikirkan selama berhari-hari tapi kenapa dia tak bisa meruntuhkan ego? Bahkan, untuk mengakui bahwa dia masih mencintai Citra saja, dia tak bisa! Terlalu sulit! Apa karena dia tak pernah mau mengakui sebuah kekalahan? Kekalahan tentang perasaannya yang tidak pernah bisa melupakan Citra dari dulu hingga sekarang? Ya, itu benar.
Kenapa? Karena kenyataan pahit yang dulu Citra berikan padanyalah yang membuatnya berlaku demikian. Citra meninggalkannya dan menikah dengan pria lain. Itu adalah kekalahan terbesarnya, yang membuatnya masih tetap bersikukuh dengan egonya yang setinggi langit dan akhirnya gengsi mengakui perasaannya pada Citra.
"Aku sebagai pria salut melihat harga dirimu yang begitu tinggi." Nev tersenyum miring, dari nada suaranya ada cibiran tersendiri yang tertuju pada Reka.
"Apa maksudmu? Bicara dengan jelas!" sahut Reka dengan nada tak senang.
"Ku beri kau opsi, kau ingin begini saja atau ingin menemui Citra?" tanya Nev.
Reka terdiam.
"Kenapa tak menjawab? Baiklah.. dari sikapmu, aku mengambil sebuah kesimpulan. Aku melihat harga dirimu begitu tinggi, Reka! Jadi anggaplah, jika kau mau keadaannya tetap begini. Kau tidak ingin menemui Citra dan membiarkannya tetap hidup berdua bersama anaknya."
"Aku tidak bilang begitu..." kata Reka tak senang dengan kesimpulan yang dikatakan oleh Nev.
"Tapi aku merasa demikian, jadi... aku dengan harga diriku yang tidak setinggi harga dirimu itu, berniat ... untuk membiayai hidup bayi yang Citra lahirkan." kata Nev yang diangguki pula oleh Raya.
"Apa?" Reka menatap Nev tajam.
"Ku pikir anak itu butuh banyak biaya dan Citra tidak memiliki penghasilan, jadi biar anak itu kami biayai. Soal hidup Citra, setelah dia pulih, dia akan ku pekerjaan di kantorku untuk menambah penghasilannya. Mudah-mudahan Citra mendapat hidup yang lebih baik dan bisa menemukan kebahagiaannya nanti," imbuh Nev membuat Reka tercengang.
"Iya, aku setuju, Sayang. Mudah-mudahan setelah Citra bangkit, dia juga mendapat jodoh yang bisa menerima segala kekurangannya. Dia masih muda dan cantik. Dia pasti dengan mudahnya mendapat pasangan yang baik," kata Raya menambahi, sengaja memanas-manasi Reka.
"Apa aku tidak salah dengar dengan niat kalian itu? Apa-apaan kalian ini! Anak itu tidak butuh biaya dari kalian! Dia anakku! Aku yang akan membiayai hidupnya! Dan soal Citra, dia itu urusanku! Kenapa kalian yang harus sibuk mendoakan dia untuk mendapatkan pasangan?" kata Reka emosi.
"Kena kau! Mengakui apa yang kau rasakan saja sulitnya minta ampun!" dalam hati Nev bersorak senang.
Sementara Raya dan Elyani pun saling memandang penuh arti, karena akhirnya Reka terkena pancingan mereka semua.
"Jadi kau mau bertemu Citra atau tidak?" tanya Nev dengan intonasi setenang mungkin, tak mau menyulut kemarahan juga saat melihat Reka yang benar-benar menyebalkan.
"Memangnya kau tahu dimana dia?" tantang Reka.
"Tentu saja, kalau dicari secara sungguh-sungguh sebenarnya tidak sulit..." kata Nev menyindir.
__ADS_1
Reka berdecak lidah menyadari ucapan Nev yang jelas menyindirnya itu.
...Bersambung ......