
Rahelsa memberitahukan Aarav mengenai event yang akan diikutinya. Tapi, karena Aarav tidak pernah mengetahui permasalahan diantara ia dan Zack di masa lalu, mau tak mau Rahelsa akhirnya membuka cerita tentang hal itu.
Walau bagaimanapun, Rahelsa tidak mau ada yang ditutupi dari suaminya. Terlebih kali ini ia akan berangkat ke luar kota. Kendati demikian, apabila Aarav memang tak mengizinkannya, Rahelsa ikhlas mengubur impiannya mengikuti Event itu.
"Jadi, Zack pernah mengatakan hal seperti itu sama kamu? Dia ngerasa kalau aku gak akan bisa memuaskan kamu setelah kita menikah karena kondisi aku? Terus, dia nawarin diri untuk menggantikan peran aku sebagai suami kamu, mau memuaskan kamu, gitu?" Aarav tersenyum tipis diujung kalimatnya, sementara Rahelsa melotot mendengar pertanyaan Aarav yang terkesan frontal. Bukan, sangat frontal.
"Ehm... iy--ya, gitu." Rahelsa tak berani menatap ke dalam mata sang suami. Takut jika pertanyaan Aarav semacam sindiran yang sarkasme.
"Terus waktu itu kamu jawab apa?"
"Ya, aku langsung nolak, lah! Aku masih waras, Aarav!"
Aarav terkekeh pelan mendengarnya.
"Ya udah, jadi keputusan kamu apa? Tetap mau ikuti event itu meski ada Zack?" Aarav menjawab dengan balik bertanya pada Rahelsa, padahal Rahelsa sedang meminta persetujuan Aarav mengenai hal ini.
"Aku nunggu jawaban kamu, kenapa kamu malah nanya keputusan aku, Sayang." Rahelsa menghela nafas sepenuh dada.
Lagi-lagi Aarav tersenyum tipis. "Ya, aku rasa kamu memang mau ikut event itu tapi gak mau ketemu sama Zack, tapi pada kenyataannya kita berdua gak bisa menghalang-halangi adanya Zack di event itu, kan?"
Rahelsa mengangguk mengiyakan.
"Yaudah, kalau emang gitu kamu ikut aja. Aku rasa kamu harus profesional."
"Kamu--- gak akan marah?" tanya Rahelsa memastikan dengan ragu. Kalaupun Aarav tak mengizinkan, ia akan menerimanya.
Aarav tertawa pelan. "Kalau aku bilang gitu tandanya aku udah izinin, berarti aku gak akan marah, Sayang!" ujarnya dengan sangat lembut.
"Serius? Aku bakal ninggalin kamu loh nanti, event nya kan di Luar Kota."
"Serius, tapi aku gak mau ditinggal."
"Loh?"
"Aku ikut, boleh, kan?" Aarav mengedipkan sebelah matanya dihadapan sang istri.
Bibir Rahelsa menyunggingkan senyuman cerah, kemudian dia beringsut mendekat ke tubuh suaminya lalu langsung berjinjit dan melingkarkan lengan di leher Aarav. "Boleh banget, aku justru seneng banget kamu mau ikut event ini. Nanti aku minta undangan khusus sama panitianya biar kamu bisa masuk dan duduk di kursi tamu."
"Awalnya aku juga mau ngajakin kamu, tapi takut kamu enggak tertarik dan berujung bosan sama acara itu nantinya," imbuh Rahelsa panjang lebar.
"Iya, aku ikut buat mantau kamu. Buat jadi penjaga kamu selama disana."
Masalah pun selesai. Sebenarnya membicarakan masalah dengan kepala dingin tanpa adanya emosi akan memudahkan dan melancarkan segalanya. Rahelsa hanya berusaha terbuka dan Aarav menerima pengakuan istrinya dengan hati yang lapang.
Kecemburuan dan kemarahan pasti ada, apalagi setelah Aarav tahu ujaran Zack pada Rahelsa tempo lalu merupakan sebuah pelecehan kata dan terkesan meremehkan Aarav, tapi pemuda itu tidak mau hanya larut dalam kemarahan karena ego, ia lebih memilih memikirkan perasaan istrinya dan mencari jalan keluar sebagai tujuan pemecahan masalah tanpa ada yang akan tersakiti dan terkorbankan.
Sebenarnya bisa saja Aarav melarang Rahelsa karena adanya Zack dan terkait ucapan pemuda itu yang telah meremehkannya di masa lalu. Tapi, apakah tindakan itu akan membuat Rahelsa senang? Terlebih Aarav tahu jika Event ini salah satu impian istrinya. Jadi, daripada mematahkan harapan Rahelsa-- lebih baik Aarav mencari solusi tanpa mengusik keinginan yang pasti Rahelsa harapkan yaitu mengikuti event tersebut.
Dan jawaban atas pilihan yang Aarav tentukan jatuh pada rencana ikutnya dia bersama sang istri. Rahelsa akan aman dan perasaan cemburu Aarav pada Zack juga akan terkendali dengan keikutsertaannya.
"Eh, tapi sayang...." Aarav melepas sejenak tautan tubuh mereka berdua.
"Ya?" Rahelsa menatap Aarav bingung, ternyata masih ada yang ingin suaminya sampaikan.
__ADS_1
"Setelah kita menikah, ucapan Zack enggak terbukti, kan?"
"Hah? Maksudnya?"
"Ehm, kamu--- ternyata puas kan?"
"Ih, apaan sih!" sungut Rahelsa sambil mencubit pinggang Aarav.
"Serius, sayang! Gak apa-apa juga sekali-kali kita bahas hal seperti ini, jadi kalau ada kesalahan di aku, bisa aku perbaiki." Aarav membingkai wajah istrinya dan menatapnya dengan seringaian kecil.
"Ya--gimana ya," Rahelsa nampak berpikir. Tepatnya, pura-pura berpikir membuat Aarav menunggu ujaran selanjutnya dengan harap-harap cemas.
"Mau jawaban jujur atau bohong, nih?"
"Yang jujur, lah!" sahut Aarav ligat.
"Kalau jujurnya sih, aku gak pernah ngerasa puas!" kata Rahelsa menahan tawa yang hampir meledak karena Aarav menyorotnya dengan tajam. Buru-buru Rahelsa menyambung kalimatnya. "Maksudnya, gak pernah puas itu.... karena maunya lagi dan lagi terus," imbuhnya kemudian sambil terbahak.
"Oh, jadi kamu nggak puas-puas karena mau terus?" Aarav menaikkan sebelah alisnya.
Wajah Rahelsa merona dan belum sempat menjawab, Aarav sudah menggendong Rahelsa dengan kedua tangannya, membuat sang istri memekik karena terkejut dengan aksi pemuda itu.
"Aarav!!" Rahelsa hendak protes tetapi Aarav segera menyahut.
"Aku mau lihat kamu minta lagi dan lagi, terus dan terus!" ujar Aarav dengan wajah yang disertai seringaian tipis.
######
Kebahagiaan Airish semakin bertambah karena suaminya selain tampan juga berwawasan luas. Membantunya menyelesaikan skripsi akhir padahal jurusan kuliahnya sangat bertolak belakang dengan pendidikan terakhir Zio.
Tapi, berhubung suaminya multitalenta, Airish tidak bisa menyia-nyiakan itu. Airish juga baru tahu jika Zio pandai memainkan beberapa alat musik seperti gitar, drum dan piano. Terkadang mereka menghabiskan waktu bersama dengan menyaksikan penampilan satu sama lain.
Meski juga memiliki kemampuan dibidang alat musik, melihat kemampuan suaminya cukup membuat Airish minder dan insecure, tapi kepercayaan diri yang dimiliki Zio lambat laun seakan ditularkan kepada Airish dan mendukung Airish untuk lebih percaya diri lagi.
"Saya punya sesuatu buat kamu," kata Zio menatap Airish dalam.
"Apa?"
"Saya baru ingat, belum ngasi kamu hadiah pernikahan."
"Kamu udah jadi hadiah tersempurna buat aku," gombal Airish yang membuat Zio mengulumm senyum.
"Tapi ini beda, Sayang."
"Memangnya apa?"
Zio segera mengambil sesuatu dari laci yang tak jauh dari letak duduknya. Kemudian menyerahkan benda itu pada Airish.
Airish menerimanya dan melihat itu adalah sebuah flashdisk.
Airish kembali mendongak menatap pada suaminya, seolah bertanya apa maksudnya dengan benda ini?
"Kamu buka file didalamnya. Nanti saya kasi tahu yang mana..."
__ADS_1
Airish mengangguk, meraih laptop diatas meja dan memasang flashdisk pemberian Zio disana. Setelah mendapat arahan dari Zio, Airish membuka file yang dimaksudkan.
Setelah membukanya, Airish begitu terkesima karena itu adalah file semacam video editan yang berisikan potongan foto-fotonya sejak SMA sampai ia berkuliah di Jerman. Foto itu dibuat menjadi videoklip dengan durasi yang cukup panjang. Tak lupa ada backsound yang juga mengiringi perubahan foto itu satu persatu. Adapula foto saat mereka melakukan kegiatan berkemah di masa lalu. Foto-foto itu diambil secara candid, jadi Airish memang tidak pernah menyadarinya.
Ajaibnya, semua foto dirinya disana tampak alami dan cantik. Airish terpana, sampai akhirnya semakin terkejut kala mendapati sebuah tulisan yang berada diatas kertas. Semacam surat yang kemudian difoto ulang dan disatukan dengan file video yang sama.
^^^"Awalnya aku mengira bahwa aku menyukaimu.... tapi nyatanya perasaanku lebih daripada itu.^^^
^^^Jika berdua lebih baik, kenapa kita memilih masing-masing?^^^
^^^Aku sempat mencintaimu, namun sekarang tidak lagi. Karena perasaan itu sudah berubah menjadi hal yang lebih besar. Jika ada kata yang lebih indah dari cinta, maka kata itulah yang aku berikan khusus kepadamu."^^^
Saat Airish membaca surat itu, Airish sesekali menatap pada Zio yang tersenyum disampingnya. Video itu berhenti, durasinya habis bersamaan dengan backsound romantis yang juga terdengar habis.
"Surat itu sempat mau saya kasih ke kamu pas di bumi perkemahan, tapi gak sempat..." terang Zio.
"Kenapa?"
"Karena insiden kaki saya yang terkilir waktu itu, dilanjutkan dengan kejadian yang menimpa Aarav keesokan harinya," imbuh Zio.
"Tapi, kita ketemu di Rumah Sakit?" kata Airish yang memang mengingat semuanya tanpa terkecuali.
"Iya, tapi... saya rasa momennya enggak pas. Keluarga kamu saat itu lagi dirundung duka karena vonis kelumpuhan Aarav."
"Oh, iya." Airish menjawab singkat.
"Tapi saya senang karena akhirnya surat itu bisa kamu baca sekarang, disaat status kita sudah menikah," lanjut Zio.
"Makasih ya, aku terharu banget dapat hadiah ini dari kamu. Ini membuktikan bahwa selama ini kamu memperhatikan aku meskipun sudah ada jarak diantara kita. Tapi, gimana bisa kamu dapat foto aku pas kuliah? Kan, dulu kamu belum disini?"
"Rahasia, dong!" sahut Zio terkekeh.
"Hmm, kamu punya mata-mata ya buat memantau aku disini?"
Zio mengendikkan bahu sejenak sebelum akhirnya tertawa pelan. "Suka gak sama hadiahnya?"
"Suka banget nih, tapi aku gak punya hadiah buat kamu. Gimana dong?"
"Oh, kalau hadiah buat saya itu gampang."
"Gampang apaan? Kamu itu udah punya semuanya, aku jadi bingung mau kasih kamu apa." Airish menggaruk dahinya sambil berpikir keras, kira-kira hadiah apa yang dibutuhkan oleh Zio, ya?
"Udah saya bilang, kalau kamu mau kasih saya hadiah, itu gampang...." tutur Zio sambil berjalan keluar dari studio musik yang sejak tadi mereka tempati.
Airish menyusul langkah Zio. Dahinya mengernyit dalam. "Gampangnya kayak gimana?" tanya Airish mencoba menyamakan langkah dengan sang suami.
"Tuh!" Zio membuka pintu kamar dan menunjuk ke arah ran jang. Untuk hal ini Airish langsung paham, ya hal apalagi yang diinginkan Zio yang sudah memiliki segalanya--- tentu Zio hanya menginginkan dirinya saja.
"Sekarang?" tanya Airish menggigit bibir bawahnya.
Zio tersenyum tipis, karena istri polosnya ini sudah bisa menangkap maksudnya hanya dengan menunjuk ran jang saja. "Iya, sekarang, sayang," bisiknya seduktif.
*******
__ADS_1