
Airish memasuki kamarnya, bersamaan dengan itu ponselnya terdengar berdering menandakan adanya sebuah panggilan disana. Zio kembali menghubunginya. Syukurnya panggilan ini adalah panggilan suara biasa. Airish berdehem sejenak demi menetralkan rasa hatinya yang tak karuan akibat menerima paket tak jelas beberapa menit lalu.
"Zi...." Suara gadis itu tentu masih terdengar bergetar saat menerima panggilan.
"Rish? Kamu kenapa?" Sontak menimbulkan kecemasan pada Zio. Tentu saja.
Zio.... kenapa harus langsung menanyakan hal seperti itu, seolah pemuda itu tahu bahwa Airish sedang tak baik-baik saja sekarang.
"Huh? A-aku? Aku gak apa-apa," dusta Airish.
"Serius? Suara kamu kayak beda."
"Gak kok, mungkin karena abis nangis," jawab Airish random.
"Nangis? Kamu nangis? Kenapa?"
"E-eh itu karena aku ... a-aku abis nonton Drakor, jadi gitu, deh." Lagi Airish berdusta diselingi kekehan palsu diujung kalimatnya.
"Yang bener?" selidik Zio dari seberang panggilan.
"Huum.... kamu kenapa nelpon?" Airish mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Emang gak boleh?"
"Boleh kok. Cuma tumben, biasanya jam segini kamu lagi sibuk-sibuknya."
"Iya, tadi perasaan saya mendadak kurang enak aja. Ingat kamu. Kamu beneran gak kenapa-napa, kan?"
Airish terdiam barang sejenak, ia menimbang-nimbang apa akan mengatakan hal ini pada Zio atau tidak.
"Aku sebenarnya lagi sendirian di apart."
Zio terdiam, mencoba mendengarkan cerita Airish meski ia jadi langsung gelisah saat mendengar intonasi suara berbeda dari gadis itu, apalagi saat mengetahui jika sekarang Airish hanya sendirian dirumah.
"Beberapa saat lalu aku nerima paket gak jelas dari orang yang gak jelas juga."
"Paket gak jelas?"
"Iya. Isinya itu.... gaun malam yang ehm-- kurang bahan."
"Siapa yang ngirim itu sama kamu?" Nada suara Zio berubah, seperti tengah meredam kemarahan.
"Enggak tahu, enggak ada nama pengirimnya."
Helaan nafas panjang terdengar dari seberang--menandakan bahwa Zio tengah menghela sepenuh dada.
__ADS_1
"Kamu punya feeling gak, kira-kira siapa yang mengirimkan itu?"
"Rr... aku, gak ada. Tapi, aku curiga sama seseorang."
"Siapa?"
Airish menggigit bibir, ia tak tahu apa akan benar-benar menceritakan hal yang sebenarnya pada Zio atau tidak. Ia takut salah mengambil keputusan dengan bercerita lebih lanjut, ia takut Zio justru akan ilfeel dengannya atau apalah-- yang membuat pemuda itu menjauhinya hingga berubah pikiran dengan pernikahan mereka. Airish juga terlalu malu menceritakan pada Zio tentang kejadian menjijikkan waktu itu. Belum apa-apa juga, Airish sudah ragu menceritakan yang sebenarnya. Belum lagi kemungkinan lain seperti kemarahan Zio misalnya.
"Rish? Kamu masih disana, kan?".
"Y-ya?"
"Bilang sama saya siapa yang kamu curigai?"
"Tapi, Zi..."
"Rish, coba terbuka sama saya apa yang terjadi sama kamu disana, saya mau kamu bisa anggap saya bukan orang lain. Kamu percaya kan sama saya? Saya gak mungkin nyakitin kamu."
Untuk beberapa saat Airish terdiam, namun detik berikutnya ia mulai menyuarakan kegusarannya.
"Mr. Rolland."
Mau tak mau, Airish mengatakan dan menceritakan pada Zio yang sebenarnya terjadi tanpa melebihkan dan mengurangi kejadiannya. Airish sebenarnya masih cemas, tapi entah kenapa setelah jujur dan terbuka pada Zio ia merasa lega. Pada akhirnya ia mengutarakan semua hal yang sejak kemarin ia coba tutupi dari calon suaminya itu.
"Rish, kenapa kamu gak cerita sama saya langsung setelah kejadian itu terjadi?" Terdengar nada kecewa dari jawaban Zio.
"Aku cuma gak mau kamu kepikiran dan lagi aku malu nyeritainnya sama kamu. Aku takut kamu jadi memandang aku murahan."
Zio mendengkus dan itu terdengar cukup jelas ditelinga Airish.
"Gimana bisa kamu anggap kayak gitu, Rish? Saya mana mungkin berpikir gitu!"
"Maaf," sahut Airish. Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan sekarang.
_______
Dengan gusar, Zio akhirnya mencari tahu siapa Mr. Rolland yang dimaksudkan Airish. Ternyata pria itu adalah seorang komposer yang cukup terkenal. Zio memang berpengaruh di Negaranya, tapi di Negara yang kini ditinggali oleh Airish-- ia tak bisa berbuat banyak kecuali melindungi Airish sendiri.
Tapi, mengingat yang telah terjadi-- bahkan pria itu nekat mengirimi Airish paket dan pesan yang kurang sopan seperti itu, lagi-lagi membuat darah Zio mendidih. Ia tak mau bergerak lambat dan akhirnya berakhir kekecewaan dan adanya penyesalan karena tak bisa menjaga Airish.
Zio memutuskan mendiskusikan ini pada satu orang yang tepat, Nev--ayah Airish sendiri. Ia langsung menghubungi pria itu untuk membicarakan hal ini karena baginya, selain dia--msaih ada Ayah Airish yang kini paling berhak tahu apa yang sudah terjadi pada gadis itu. Bukan bermaksud mengadu, tapi Zio merasa keselamatan Airish lebih utama sekarang dan juga penjagaan Nev harus lebih ketat sementara Zio belum bisa terbang ke Jerman.
Sementara Zio menjelaskan semua pada Nev, ternyata Jordy juga masuk ke dalam ruangannya. Beberapa saat lalu Jordy sudah Zio tugaskan untuk mengatur jadwal pekerjaannya. Dalam Minggu ini Zio harus punya jadwal kosong untuk sebulan ke depan. Ia akan mempercepat kepergiannya bersama Papi dan Bunda untuk melaksanakan pernikahan bersama Airish di Jerman. Mungkin anak nikah agama dulu, setelah sah barulah ia akan membawa Airish kembali ke Indonesia.--itu lebih baik mengingat apa yang sudah terjadi pada calon istrinya itu.
Zio sudah mendiskusikan ini dengan Nev, hampir satu jam lamanya ia menelepon calon mertuanya itu dan Nev sudah setuju agar Airish kembali ke Indonesia setelah menikah.
__ADS_1
"Gimana?" Zio menatap Jordy yang telah menungguinya untuk memberi laporan jadwal kegiatan.
"Udah beres, Pak."
Zio tersenyum tipis, ia akan segera terbang ke Jerman besok.
______
Airish berjalan di koridor ruang kampusnya. Koridor itu adalah jalan untuk menuju ruang kesenian.
Bianca sudah pergi ke Agensi, teman karibnya itu tak memaksakan Airish lagi untuk ikut sebab Bianca tahu permasalahan Airish yang tak mau bertemu Mr. Rolland.
Dalam senyap, Airish mulai melangkah perlahan menyusuri koridor. Entah kenapa sepanjang lorong terasa amat sunyi. Membuatnya yang memang punya nyali secuil mendadak merinding.
Tapi, lebih dari takut pada hantu atau makhluk gaib lainnya, sesungguhnya saat ini Airish lebih takut apabila bertemu dengan Mr. Rolland.
Tapi, tidak mungkin pria itu ke kampusnya, bukan?
Airish terus berjalan dan semakin merasa kampusnya dalam keadaan sunyi senyap. Ah, ia menyesal kenapa tak meminta satu orang teman untuk ikut dengannya menuju ruang kesenian bersama-sama. Kalau saja tidak memikirkan sedang meminta dukungan dosen pembimbingnya yang sulit ditemui, Airish mungkin akan mengurungkan niat ini. Jika tidak sekarang, ia tak punya waktu lagi untuk menemui dosen sebab ia juga mengejar deadline tugasnya.
"Akhirnya sampai juga..." Airish mendesah lega karena tiba didepan ruang kesenian. Dapat ia dengar dari posisinya yang masih diluar ruangan itu--jika sekarang sedang ada latihan piano didalam sana.
Dengan menarik nafas panjang, Airish menekan kenop pintu agar bisa menemui dosennya yang ada didalam ruang kesenian itu.
Sayangnya, yang ia temui dalam ruangan itu bukanlah dosennya seorang diri. Melainkan ada sosok lain yang ikut tersenyum saat menatapnya yang berdiri diambang pintu.
"Airish...." Dosen Airish menyapa karena gadis itu tampak membeku didepan pintu dengan wajah pias.
"Ya-ya, Pak?"
"Masuk! Kenapa diam saja disana?"
"I-iya, Pak." Airish gugup sebab disebelah dosennya ada sosok Mr. Rolland.
"Oh, kamu tahu beliau kan? Mr. Rolland, beliau menyempatkan diri untuk melihat bagian kesenian di kampus kita dan mencari mahasiswa berbakat untuk dibimbing di agensinya," terang sang dosen.
Astaga apa lagi ini? batin Airish nelangsa.
_______
Maaf ya untuk Readers aku... novel Abrine gak jadi aku up di bulan ini, untuk nenangin pikiran sedikit.... Aku bakal fokus namatin novel ini dulu untuk kedepannya. Setelah ini selesai, baru aku lanjut novel Abrine.
Makasih banyak yang masih mau baca novel ini sampai bab ini. π dukung aku, kasih komentar dan penyemangat buat aku. maakasiiiiih bangetππ
Aku bakal tamatin setiap novel yang aku tulis, kok. meski kadang up nya rada-rada ngacok.
__ADS_1
Dan sedikit cerita ya, aku sedikit down di bulan ini karena novel ini turun level. Bukan mengeluh ya, bukan! Hanya sekedar sharing sama readers aja. Agak kecewa sama sistem perlevelan ini. Cuma mau gimana lagi ya? hehehe....
Kedepannya aku bakal up di novel ini setiap harinya. Tungguin aja yaππππ