PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
51 - Persiapan


__ADS_3

Yang nyalahin Nenek, acungkan jari yaa... wkwkwk 🤣 Neneknya Nev pasti batuk2 ini karena diceritain🤔


..._________...


Raya tiba dirumah, dia keluar dari Taxi. Kemudian melangkah dengan pelan sembari membuka pagar rumah. Dia melihat sebuah mobil terparkir disana tapi dia mengabaikan itu.


Baru satu langkah dia menginjakkan kaki di pekarangan rumah, tapi dia harus menarik nafas dalam sebelum melanjutkan langkahnya, karena disana, di teras rumah-- sudah ada kedua orangtuanya dan ... Reka.


"Raya, kamu kemana, Nak? Tadi Reka menjemput kamu di cafe, tapi kata teman-teman kamu sudah pulang," itu adalah suara Sahara yang menyapa kepulangan Raya.


Sebenarnya Raya sangat malas menjawab pertanyaan itu, dia masih menata hatinya yang carut-marut setelah pertemuannya dengan Nev beberapa saat lalu.


Kenapa kepulangannya harus disambut dengan banyak pertanyaan seperti ini, padahal rasa pening sudah menjalari kepalanya saat ini.


Tapi, berhubung yang bertanya adalah sang Mama, mau tak mau Raya harus menjawabnya karena tak mungkin dia mengabaikan wanita yang dihormatinya begitu saja.


"Raya tadi ada keperluan, Ma..." jawab Raya random, dia tidak mempunyai alasan yang lengkap mengenai kepergiannya dari cafe.


"Keperluan apa, Raya?" kini suara Adrian yang menanyai Raya, membuat Raya memejamkan mata sejenak demi menghalau sakit kepala yang menderanya tiba-tiba.


"Raya lelah sekali, Ma, Pa, Raya mau istirahat," jawab Raya sekenanya.


Adrian dan Sahara saling melempar pandangan satu sama lain, seolah saling bertanya ada apa dengan anak gadis mereka.


"Tapi Reka sudah menunggu kamu disini hampir dua jam," kata Adrian. "Ponsel kamu juga tidak bisa dihubungi," sambung sang Papa.


Raya tertunduk, ponselnya memang selalu dinonaktifkannya jika sedang manggung, tetapi biasanya dia akan langsung mengaktifkan kembali seturunnya dari panggung, hanya saja pertemuannya dengan Nev tadi membuatnya lupa segalanya.


"Maaf," hanya itu yang keluar dari bibir Raya.


Reka menatap kedua orangtua Raya, seolah memberi isyarat bahwa dia ingin bicara pada Raya dan maksud itu ditangkap oleh Adrian yang langsung mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan Raya dan Reka di teras.


"Kita duduk dulu, ya." kata Reka pelan dan Raya menurut.


Mereka duduk bersisian dengan sebuah meja kecil berbentuk bundar-- yang menjadi pemisah antara kursi mereka masing-masing.


"Apa kamu ada masalah?" Tanya Reka dengan lembut sembari fokus menatap Raya yang mulai memijat pangkal hidungnya.


"Aku hanya sedikit pusing. Maaf, tapi bisakah kita bicara besok saja?" kata Raya pelan, namun terdengar sangat dingin dan tak acuh diindera pendengaran Reka.


Reka terdiam, dia bisa membaca situasinya bahwa Raya sedang tidak baik-baik saja.


"Oke, aku memang akan pulang, ini juga sudah mulai larut. Kamu istirahat ya," kata Reka tersenyum kecil.


Raya mengangguk dan mengucap syukur dalam hati karena Reka mengerti kondisinya saat ini.

__ADS_1


Reka beranjak dari duduk dan mulai meninggalkan area teras.


Sepersekian detik berikutnya, Reka berbalik untuk melihat Raya yang juga sudah berdiri.


"Kita akan memulai kehidupan baru bersama-sama, aku harap kamu bisa lebih terbuka padaku. Setidaknya, ceritakan apa masalahmu, mungkin aku bisa membantu ..." ujar Reka sembari menatap Raya dengan lekat.


Raya menghela nafas panjang, "Aku tahu, aku akan berusaha untuk itu, beri aku waktu..." kata Raya.


Reka mengangguk, dia sangat tahu bahwa hubungannya dengan Raya baru saja dimulai dan ini membuat Raya kembali bersikap kaku padanya, tapi dia berharap Raya tidak menutup diri seperti ini, dia juga ingin tahu apa yang Raya lakukan dibelakangnya, dia ingin tahu keseharian Raya, dia ingin lebih dekat dengan wanita yang akan menjadi istrinya. Tidak salah, bukan?


Raya menunggu Reka benar-benar pergi meninggalkan kediamannya sambil melipat tangan di dada. Setelah mobil Reka tak nampak lagi, barulah dia memasuki rumah dengan perasaan yang makin berkecamuk.


Adrian dan Sahara telah masuk kedalam kamar mereka. Raya pun melakukan hal yang sama.


Raya membersihkan diri sejenak, lalu naik ke atas tempat tidurnya. Matanya mulai terpejam, tapi pikirannya entah kemana. Lebih tepatnya, pikirannya tertuju pada satu sosok pria yang baru saja dia kecewakan beberapa jam lalu. Dan parahnya, pria itu pula yang dia harapkan dikehidupannya. Astaga!


Semakin dia mencoba melupakan Nev, tapi pikirannya justru terus mengingat pria itu lekat-lekat. Hatinya tidak mau menepis bayangan pria itu.


Senyumnya, tawanya, kemarahannya dan yang terakhir dan baru kali ini dilihatnya adalah wajah sendu milik pria itu. Dia tidak bisa menepis segala hal mengenai pria itu dikepalanya sendiri.


Sementara dilain sisi, ada satu pria lagi yang hatinya juga harus dia jaga, Reka. Secara tak langsung dia juga telah menyakiti hati Reka walau sebenarnya dia tak berniat demikian. Dia menyadari sikapnya menjadi acuh pada Reka, padahal Reka tidak memiliki salah apapun padanya, justru Reka sangat baik.


Kenapa semuanya menjadi rumit? Kenapa semuanya harus rumit hanya karena sebuah perasaan?


Tidak, sebenarnya bukan perasaannya atau perasaan Nev yang membuat semuanya rumit. Mereka berdua saling mencintai, tidak ada yang salah dengan itu. Tapi, keadaan yang salah, membuat semuanya menjadi kacau balau.


Andai dia bisa mengatakan bahwa dia tidak mau adanya pernikahan ini.


Andai dia bisa mengakui pada semua orang bahwa dia telah memiliki seseorang dihatinya?


Sayangnya semua itu hanya bisa menjadi perandaian. Nyatanya dia memang tidak bisa menolak perjodohannya, bahkan tak bisa menghindar dari pernikahannya karena banyak hati yang harus dia jaga.


Haruskah dia egois? Demi menjaga perasaannya saja dan mengabaikan perasaan orang banyak?


Tidak mungkin, nyatanya dia yang harus mengabaikan perasaannya demi menjaga perasaan orang banyak yang diantaranya ada kedua orangtuanya.


Satu-satunya jalan adalah menjauh dari Nev, walau itu akan menyakitkan, mungkin seiring berjalannya waktu dia akan menemukan kebahagiaannya yang lain bersama lelaki yang lain, Reka?


Anggaplah dia dan Nev memang tak berjodoh, semoga kelak Nev juga akan melupakannya seiring berjalannya waktu, semoga Nev menemukan perempuan yang tepat dan lebih baik dalam hal mencintai pria itu.


Tapi, jika itu terjadi, bisakah dia ikhlas menerima?


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Minggu pagi, Elyani datang menjemput Raya, mengatakan ingin mengajak Raya mencari gaun pengantin.

__ADS_1


"Tante, apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Raya menghampiri Elyani sembari menyajikan minuman dan camilan di meja ruang tamu.


Ibunda Reka itu menggeleng pelan sembari tersenyum, "Kamu merasa ini terlalu cepat karena perjodohan ini baru kamu setujui kemarin. Padahal ini sudah terlalu telat, Raya. Pernikahan kalian hanya kurang dari dua bulan lagi, jadi semuanya harus segera diurus," jelas Elyani yang diangguki oleh Sahara.


Raya ikut duduk kemudian. Raya hanya diam mendengarkan Elyani dan Sahara yang sangat antusias dalam membahas segala hal mengenai rencana pernikahannya dengan Reka.


Sebenarnya Raya tidak tertarik sama sekali dengan pembahasan ini, tapi tidak mungkin dia meninggalkan Elyani berdua saja dengan sang Mama, sementara yang dibahas mereka menyangkut tentang dirinya.


"Bagaimana menurutmu, Raya?" tiba-tiba Elyani melemparkan pertanyaan pada Raya yang tengah melamun sedari tadi.


Sejujurnya Raya tidak tahu pertanyaan Elyani mengarah kemana, tapi demi menghargai calon mertuanya itu, Raya memberi jawaban yang tidak mencurigakan.


"Raya ngikut sama Tante dan Mama saja, karena Raya belum mengerti mengenai hal ini," jawab Raya nyengir.


Elyani dan Sahara pun tersenyum kemudian melanjutkan sesi seru pembahasan mereka setelah mendengar jawaban Raya tadi.


Menjelang siang, Raya pun ikut pergi bersama Elyani. Mereka pergi ke sebuah Bridal ternama untuk memilih gaun pengantin.


Elyani menyarankan agar Raya memilih gaun yang super glamour, tapi Raya lebih memilih gaun yang sederhana namun tampak elegant-- sesuai dengan kepribadiannya.


Elyani menghargai pilihan Raya dan meminta salah seorang pelayan Bridal untuk mencatat pesanannya serta membuat gaun sesuai dengan ukuran tubuh Raya. Elyani juga memberikan deadline waktu--agar gaun itu selesai tepat pada waktunya, sebelum tanggal pernikahan tiba.


Setelah selesai dengan urusan gaun, Elyani mengajak Raya berkeliling Mall untuk membeli berbagai macam seserahan sesuai keinginan Raya. Karena lamaran resmi akan dilakukan minggu depan.


Wanita setengah baya itu merasa sangat cocok dengan calon menantunya ini, dia merasa Raya gadis yang pintar dan supel, hingga diapun membebaskan Raya untuk memilih yang ingin Raya beli sebagai bentuk seserahan nanti.


Sayangnya, Raya yang tidak memiliki antusias lebih mengenai pernikahan ini, hanya merespon kecil, sehingga akhirnya Elyani yang kembali memilihkan untuk keperluan Raya.


"Tant, kenapa Reka tidak ikut juga dalam membeli seserahan ini?" tanya Raya hati-hati pada Elyani.


"Reka banyak kesibukan, Raya..." Elyani tersenyum lembut.


"Hari minggu juga sibuk?" tanya Raya lagi.


"Begitulah, Reka terlalu workaholic, kadang dia sampai lupa waktu," jelas Elyani.


Raya tersenyum kecil menanggapi ulasan calon mertuanya itu, jika Reka terlalu sibuk dengan pekerjaannya seperti ini, apa nanti setelah mereka menikah Reka akan tetap begini?


Seakan bisa membaca kekhawatiran diwajah Raya, Elyani kemudian berkata.


"Kamu jangan khawatir, Raya. Reka akan mengurangi intensitas kerjanya setelah kalian menikah. Dia sudah berjanji akan pandai mengatur waktu karena tanggung jawabnya kedepan bukan hanya tentang pekerjaan saja, tetapi ada istri juga," kata Elyani menenangkannya.


"Iya, Tant..."


"Oh iya, soal cincin nanti kamu pergi sama Reka saja, ya. Kalian bisa pilih bersama..." kata Elyani lagi.

__ADS_1


Raya pun mengangguk tanpa bisa memprotes. Lagi-lagi dia terjebak dalam situasi ini, tidak bisa menolak dan tidak bisa membatalkan apapun. Sulit, benar-benar sulit untuknya sekarang.


...Bersambung ......


__ADS_2