PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
46 - Tidak bisa menolak


__ADS_3

Sementara Nev sibuk mengurus proses perceraiannya, Raya juga mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri.


Ayahnya, Adrian, telah dinyatakan tidak bersalah dalam kasus yang sempat mempidanakannya. Namun, aset-aset mereka yang sempat disita, belum bisa dipulihkan begitu saja, butuh waktu dan proses yang lumayan panjang untuk mengurusnya dan itu masih harus melibatkan Reka sebagai pengacara sang Ayah-- untuk mengurus segala tahap-tahap pemulihan aset tersebut.


Adrian pun diproses untuk tahap akhir masa pembebasannya.


Sementara menunggu aset dipulihkan, Reka menyarankan agar Adrian bersama anak dan istrinya tetap menempati rumah yang sudah terlanjur ditempati Raya sebagai rumah kontrakan.


Dan akhirnya mereka sudah kembali berkumpul dirumah secara lengkap sekarang, walaupun rumah yang sekarang mereka tempati bukanlah rumah mereka yang dulu.


Untuk meminimalisir pengeluaran, akhirnya Raya menerima tawaran dari Niken yakni mengisi acra event disetiap akhir pekan sebagai penyanyi di Cafe.


Awalnya, Raya fikir Cafe Niken adalah cafe biasa yang Aestetic dan intagramable khas anak muda zaman sekarang.


Nyatanya Cafe itu sangat besar. Bukan hanya Aestetic, tapi melebihi itu. Raya sendiri sempat terkagum-kagum dalam menilai konsep dan desain interior cafe yang memiliki perpaduan warna, perabot serta tata letak yang pas.


Melihat desain cafe itu pertama kalinya, membuat semangat Raya yang sempat padam kembali menyala. Dia menjadi antusias kembali untuk meraih mimpi yang sempat dia kubur dalam-dalam.


Raya sempat mempunyai impian membangun sebuah kantor dengan desainnya sendiri, lalu memulai usahanya dibidang Arsitektur desain rumah -- dia ingin memulai karir-- dia ingin bereksperimen dan mewujudkan semua konsep yang ada dikepalanya.


Berbekal semua ilmu dan keterampilan yang dia dapatkan semasa kuliah, dia yakin bisa menjadi sukses dari upayanya sendiri. Dia hanya butuh modal alias uang untuk memulai segalanya. Dia akan menunggu keadaan kembali pulih, barulah dia bisa mewujudkan mimpi itu-- tentu saja tidak lepas dari bantuan dana yang dimiliki sang Ayah.


Sejak Adrian kembali berkumpul, Raya sudah dua kali mengisi event dicafe, yaitu pada hari Sabtu dan Minggu yang lalu.


Adrian dan Sahara tidak mempermasalahkan, selagi Raya senang dan pekerjaan itu halal, mereka mengizinkan, toh Raya belum memiliki pekerjaan tetap sekarang.


Raya mulai menikmati pekerjaan itu dan itu benar-benar tidak menyita waktunya.


Raya tidak pandai bernyanyi ala penyanyi profesional, tapi dia cukup bisa untuk menghibur para pengunjung cafe dengan suaranya yang cukup khas. Raya juga bisa memetik senar gitar, bahkan memainkan piano.


Sabtu besok, Raya kembali akan mengisi acara di Cafe sesuai pemintaan Niken. Niken mengatakan banyak pengunjung yang antusias setelah melihat aksi panggung Raya.


Tapi, Jumat siang Mama dan Papa mengajaknya pergi keluar rumah secara mendadak.


"Kita harus menemui Om Damar, Beliau sudah pulang dari Penang dan mengundang kita sekeluarga untuk makan siang," kata Papa yang baru selesai melaksakan sholat Jum'at di salah satu Mesjid dekat rumah.


Mama mengangguki ucapan Papa. "Kita harus berterima kasih pada Om Damar dan juga Reka," timpal Mama.


Karena Raya merasa ucapan orangtuanya ada benarnya, dia pun gegas berganti pakaian untuk ikut bersama kedua orangtuanya itu.


Sepanjang perjalanan yang menggunakan Taxi itu, Raya tidak memikirkan hal lain, pikirannya selalu tertuju pada satu sosok yang membuatnya rindu. Dia merindukan momen-momen kebersamaannya dengan Nev.


Sikap jahil Nev yang dulu membuatnya dongkol, sekarang justru itulah hal yang paling dia rindukan.

__ADS_1


Apalagi perjalanannya kali ini melewati Night Market yang dulu sempat dia kunjungi bersama Nev. Tempat itu tampak sepi, karena jam operasional yang masih lama.


Ternyata kisah percintaannya dengan Nev harus terhenti sampai disini saja. Ah, haruskah dia mengatakan itu sebagai Kisah percintaan? Sepertinya tidak, karena nyatanya memang tak pernah ada pernyataan atau kisah cinta diantara dia dan Nev.


Ya, Raya mengakui bahwa dia menaruh rasa cinta itu untuk seorang Nevan. Tapi, selama ini, Raya juga merasa bahwa perasaannya itu hanyalah sebelah pihak. Perasaan itu hanya ada pada dirinya, sementara Nev? Tidak mungkin Nev mencintainya ... karena Nev telah memiliki Feli yang diikatnya dalam status pernikahan yang sah.


"Kau harus sadar diri Raya, ternyata keputusan Nenek untuk mendepakmu dari rumah, itu sudah benar! Kau nyaris merebut suami orang lain." Begitulah isi batin Raya mengutuk pada dirinya sendiri yang tanpa sadar telah mencintai Nev.


Ya, lagi-lagi dia tidak menampik tentang perasaannya itu, awalnya mungkin dia ragu karena perasaannya terhadap Nev adalah rasa aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya pada orang lain, tapi belakangan hari... perasaan itu begitu menggebu-gebu dan kepalanya terasa penuh oleh pemikiran tentang Nev.


Senyum Nev, tawa Nev, kemarahan Nev dan segala hal tentang Nev-- bagaikan meresap kedalam pori-pori kulit wajahnya, lalu larut dalam aliran darahnya, kemudian dicerna oleh jantung, hingga ter-stimulus kedalam otaknya, sehingga tiap waktu yang berdetak, dia tidak bisa melupakan semua bayang-bayang pria itu dikepalanya.


Namun, seperti pemikirannya diawal tadi, bahwa percintaannya yang manis--yang bahkan belum dimulai, harus segera dihentikan, harus dia enyahkan dan harus dikubur dalam-dalam.


Perasaan itu, jangan sampai merangsek keluar dari permukaan, karena itu akan berdampak menyakiti dirinya sendiri.


"Kita sudah sampai, ayo turun," kata Adrian mengajak Raya dan Istrinya turun.


Raya dan Sahara pun ikut turun dari taxi.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Raya


Reka tidak kelihatan batang hidungnya, entah kemana pria itu, mungkin berada dalam rumah atau mungkin belum tiba.


Ia cukup tahu jika Reka tidak tinggal bersama kedua orangtuanya, Reka memiliki rumah sendiri sejak dia mandiri sebagai seorang junior lawyer.


"Kamu, pasti Raya... Saya Tante Elyani, Mamanya Reka. Kamu bisa panggil saya Tante El..." terdengar celetukan antusias dari bibir wanita yang ia ketahui sebagai Mama Reka itu tengah memperkenalkan diri padanya.


Ia tersenyum, lalu mengangguk takzim. Tak lupa ia juga menyalami tangan Ibunda Reka yang masih nampak raut kecantikannya diusia tua.


Ia juga menyalami Om Damar yang mulai nampak sehat walau masih harus duduk di kursi roda.


Ah, membuatnya ingat pada seseorang.


"Ayo masuk-masuk..." begitulah sapaan ramah yang mengiringi langkahnya dan kedua orangtuanya saat memasuki rumah besar milik orangtua Reka.


Mereka duduk dalam satu meja berbentuk Oval yang memanjang.


"Reka kemana sih, Pa?" tiba-tiba Mama Reka bertanya pada suaminya, seperti menggerutu karena keterlambatan Reka dalam acara makan siang ini.


"Sudah, mungkin Reka masih sibuk." kata Papa Adrian menengahi.

__ADS_1


"Ya sudah, kita makan saja dulu, ya. Sudah terlalu kesiangan ini. Tidak usah menunggu Reka," kata Om Damar.


Saat mereka ingin memulai sesi makan siang, ternyata Reka masuk kedalam rumah dengan langkah yang lebar.


"Maaf, maaf, saya terlambat..." kata Reka langsung menyalami keempat orangtua yang ada dimeja makan.


"Maaf Raya," bisik Reka padanya dan ia hanya tersenyum kecil untuk menanggapi.


Reka langsung ikut bergabung dimeja makan dan mereka makan bersama siang itu, mengobrol santai, membicarakan banyak hal, mulai dari kasus Papa Adrian, juga tentang proses pemulihan kesehatan Om Damar.


Selesai dengan acara makan, kedua orangtua Reka mengajak mereka semua berkumpul diruang keluarga yang cukup luas.


Ruang itu didominasi dengan warna kehijauan, sangat teduh dan tenang karena disana juga terdapat dinding kaca yang memberikan akses pemandangan pada kolam ikan yang luas.


Lagi-lagi kolam ikan itu mengingatkannya pada seseorang yang sering memberi makan ikan koi ditaman belakang rumah.


Ia masih limbung, memikirkan tentang pria itu dikepalanya, tapi ucapan Tante Elyani selanjutnya-- membuat kepalanya terasa berkunang-kunang.


"Bagaimana kalau pernikahannya dua bulan lagi," begitulah celotehan Tante Elyani yang didengarnya.


Sontak saja, otaknya yang tak sinkron dengan keadaan-- langsung merespon melalui ucapan yang tercetus dari bibirnya.


"Pernikahan? Siapa yang mau menikah?" tanyanya heran, sekaligus membuat semua orang dihadapannya terlihat tertawa nyaris serentak.


"Kamu lagi gak fokus, ya, Ray?" tanya Reka dengan senyuman khasnya yang menampakkan lesung di pipi.


Dan lagi-lagi ia hanya bisa mengangguk, karena daritadi ia memang fokus menatap kolam ikan dari kejauhan, seperti melarutkannya dalam situasi pada saat itu-- saat ia menemani Nev menaburkan pangan ikan disore hari.


"Raya, kami semua sepakat menjodohkan kamu dengan Reka. Papa belum memberitahunya karena hari ini kita akan membahasnya bersama-sama disini." kata Papanya dengan tenang.


Ia menelan ludah dengan susah payah, ucapan Papa seperti sambaran petir yang sangat kuat dikepalanya, ia langsung refleks menoleh pada Reka dan Reka juga melihatnya sambil tersenyum sembari menganggukkan kepala.


"Dijodohkan?" tanyanya tertegun.


Mereka semua mengangguk bersamaan.


"Lalu, kamu setuju dengan perjodohan ini?" ia bertanya sembari kembali menatap Reka dan Reka tersenyum kecil.


"Aku tidak ada alasan untuk menolaknya, Raya. Aku juga tertarik denganmu sejak pertemuan pertama kita," jawab Reka tenang didepan semua orang.


Ia kembali terdiam, bahkan sekarang menunduk tanpa berani menatap sesiapapun yang ada didepannya.


...Bersambung .......

__ADS_1


__ADS_2