
Nev duduk di kursi kebesarannya, hari ini dia sedikit mengantuk karena malam tadi menunggui Raya di Rumah Sakit. Walau kamar inap yang ditempati istrinya adalah ruangan VVIP, tapi itu tak bisa menyenyakkan tidurnya. Dia merasa tak nyaman tidur ditempat asing, apalagi tidurnya tidak bisa sambil memeluk sang istri.
Bian memasuki ruangan Nev seperti biasa, lalu menatap Nev dengan tampang datar.
"Apa?" tanya Nev pada Bian. Walau Bian selalu datar, tapi Nev tahu jika sang asisten ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Soal pria asing yang mencegat Nyonya beberapa hari lalu--"
Nev terperanjat dari duduknya, membuat Bian menghentikan kata.
"Ya, apa sudah ada petunjuk tentang itu?" Nev menatap Bian serius.
"Dia orang suruhan. Dia tak mengenali Nyonya ataupun sebaliknya," papar Bian.
"Siapa yang menyuruhnya? Apa Luisa?"
Sebenarnya Nev tidak yakin jika yang melakukan hal semacam ini adalah Luisa, karena Luisa memiliki nama baik sebagai seorang Arsitek, dia tidak mungkin melakukan tindakan bodoh lalu mencoreng nama baiknya sendiri. Satu-satunya cara yang akan dilakukan Luisa untuk mengganggu Raya, paling hanya mengecohkan perasaan Raya dengan kalimat karangannya yang dibuat-buat.
Luisa lebih senang mengendalikan perasaan, ketimbang berbuat hal yang sudah masuk ranah kriminal seperti ini. Satu-satunya orang yang bisa melakukan hal semacam ini adalah ...
"Bukan, Nona Luisa sudah saya tangani lebih dulu sesuai permintaan Anda waktu itu. Saya mengintimidasinya, Tuan. Dia tidak akan berani mengganggu Nyonya lagi, dia tidak mau karirnya tamat dengan image buruk," terang Bian.
Bian selalu menyelidiki track record seseorang, begitupun pada Luisa, itu mempermudahnya untuk mengintimidasi wanita itu.
Nev menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Apa kau memikirkan orang yang sama dengan yang sekarang ku pikirkan?" tanyanya.
Bian mengangguk, intuisinya yang tinggi bisa menebak apa yang dimaksudkan oleh sang Tuan.
-
Menjelang makan siang, Sahara ingin mengunjungi Raya di Rumah Sakit. Kejadian yang menimpa Puterinya sedikit banyak menyisakan penyesalan dihatinya karena sempat melewatkan panggilan telepon dari sang anak.
Andai saja waktu itu dia menerima panggilan telepon Raya dan menemani Raya mendaftar kelas kehamilan, pastilah anak semata wayangnya itu tidak pergi sendirian dan tidak berada dalam bahaya.
Paling tidak, mungkin dengan dampingannya Raya tidak akan didekati oleh pria asing yang berniat jahat.
Tapi, keadaanlah yang membuat Sahara tak bisa menerima panggilan Raya. Penyakit jantungnya mendadak kumat, dia sakit, namun belum sempat mengabari sang anak. Sahara pergi bersama Adrian untuk memeriksakan kesehatan.
Malam harinya, Sahara ingin mengabari Raya, jika dia di opname lagi di Rumah Sakit yang sama dengan Rumah Sakit yang dulu pernah merawatnya-- saat Adrian masih di sel.
Namun sayang, ternyata Raya juga tengah ditangani di Rumah Sakit lain dan itu cukup mengejutkannya.
__ADS_1
Setelah empat hari dirawat dan merasa lebih baik, Sahara memaksakan diri untuk menjenguk Raya, dia semakin bersalah pula karena tak bisa merawat puterinya di Rumah Sakit. Untungnya Nev memiliki Asisten Rumah Tangga yang bisa menjaga Raya.
Sahara didampingi Adrian, memasuki ruangan dimana anaknya sedang dirawat intensif dikarenakan harus bedrest.
Tapi disana dia tak menemukan Raya, yang ada hanya seorang Asisten Rumah Tangga yang bernama Yana, terlihat kebingungan sendiri.
Dalam kekalutannya dan dalam keadaan jantungnya yang masih lemah, Sahara harus berusaha menguatkan diri sendiri karena tidak mendapati sang anak yang seharusnya masih dirawat.
Adrian dengan sigap mengurus istrinya ke poli jantung. Keadaan yang tidak pernah disangkanya ini, membuat Sahara kembali collaps.
-
Nev bergegas ke Rumah Sakit saat dikepalanya telah mencurigai sesuatu, ditambah lagi Adrian baru saja mengabari tentang apa yang terjadi di Rumah Sakit.
Nev semakin kalut dan mengemudikan mobilnya secara serampangan. Untungnya dia tiba di Rumah Sakit dengan selamat, namun tujuannya saat ini adalah satu, ruangan Raya dirawat.
Kini dihadapannya hanya ada Yana yang tertunduk dengan wajah pias.
"Cepat ceritakan padaku apa yang terjadi!" kata Nev dengan amarah yang bergemuruh.
Yana menatap Nev takut-takut, dia tidak berani menjawab pertanyaan Nev atau lebih tepatnya dia tak tahu harus mengatakan apa sekarang.
"Jawab aku!" senggak Nev.
Nev mendengkus, wajahnya memerah, rahangnya mengeras dan giginya bergemelatuk. Amarah memuncak sampai diubun-ubunnya. Kemana dan bagaimana nasib istrinya sekarang? Rasanya ia ingin marah, ingin meluapkan kemarahannya dan penyesalan akan keterlambatannya.
Melihat Yana tetap diam, Nev akhirnya bangkit sebelum amarah yang menguasainya menuntunnya memukul seorang wanita dihadapannya ini.
"Breng sek! Sia lan!" maki Nev sembari menendang pintu keras, lalu keluar dari dalam ruangan yang bak ruang penyidangan itu.
Di depan pintu, Nev menatap Bian yang baru tiba dan tengah menunggunya.
"Kau urus dia! Cari tahu apa dia ada hubungannya dengan semua ini! Jika dia tidak mau menjawab atau tidak mengaku juga, usut ini lewat jalur kepolisian!"
Bian mengangguk paham, sementara Nev pergi entah kemana. Mungkin dia ingin membuktikan apa yang ada didalam kepalanya saat ini.
-
Raya terhenyak saat melihat seseorang yang ia kenali berada dihadapannya dengan senyum bengis. Ia ingin menjerit, memaki dan meneriaki nama orang ini. Namun ia baru sadar bahwa mulutnya dibekap oleh secarik lakban yang terasa lengket.
Ah, apa dia punya dua kepribadian? Atau dia hanya pandai berakting? Dan kesalahan Raya adalah mempercayainya. Seharusnya Raya tidak menuruti kemauannya! Seharusnya Raya mengatakan pada Nev tentang pertemuan mereka yang tak sengaja beberapa bulan lalu. Atau justru pertemuan itu sebenarnya disengaja? Entahlah.
__ADS_1
"Apa maumu Feli?" tanya Raya saat lakban dari mulutnya dilepas secara paksa oleh Feli, walau area mulutnya menjadi terasa sangat perih karena gerakan itu teramat kasar, tapi itu tak menyurutkan rasa amarahnya saat ini.
Feli terkekeh sembari mengitari tubuh Raya yang terikat dikursi.
"Kau gila!" dengkus Raya.
"Aku gak peduli," jawab Feli santai dengan tawa sumbangnya.
"Aku pikir kau tulus meminta maaf padaku waktu itu." kata Raya, ia mati-matian menahan airmatanya agar tidak menetes, karena pantang baginya menunjukkan kelemahan diri saat ini, terutama dihadapan Feli.
"Apa itu penting?" tanya Feli cuek.
Feli kemudian mengeluarkan silet dari tas kecil yang ia gunakan.
"Kau mau apa?" tanya Raya sedikit syok melihat ulah Feli.
Feli menggeleng. "Gak ada, hanya ingin memberimu kenang-kenangan kecil," katanya.
Raya terhenyak dan memejamkan matanya saat Feli mengarahkan silet ke wajah mulusnya.
"Wajah kamu akan lebih cantik nanti, jika aku beri ukiran ... hahaha," ucap Feli dengan tertawa riang.
"Kau benar-benar gila, Fel..." lirih Raya.
Feli mengangkat bahu. "Ya, ya, terserah apa katamu saja. Tapi yang jelas, aku belum puas jika kau belum menderita, Raya." ujarnya.
"Awalnya aku ingin kamu dan Nev celaka, tapi sayang usahaku sia-sia. Dan setelah aku pikir-pikir, menabrak mobil Nev lagi akan membahayakan nyawaku juga nantinya," imbuh Feli.
"Jadi, kecelakaan kami waktu itu..."
"Ya, itu ulahku.. gimana? Seru kan..." Feli terkekeh lagi, kali ini justru terpingkal-pingkal senang.
Ternyata kecurigaan Nev waktu itu bukan semata-mata karena rasa paranoid, tapi memang ada yang berniat mencelakakan mereka dan itu adalah Feli.
Feli mendengkus tiba-tiba. "Dan saat aku tahu kau hamil, hahaha... entah kenapa aku justru semakin senang. Itu berarti aku bisa membuat Nev semakin menderita lagi dan juga kau tentunya." Feli menendang kursi yang diduduki Raya secara tiba-tiba, membuat wanita itu terjerembab di lantai dan meringis menahan sakit yang mendadak menderu sekujur tubuhnya.
Feli membungkuk dihadapan Raya yang sudah tergeletak dilantai namun masih terikat dikursi itu.
"Aku sebenarnya ingin menyayat wajahmu Raya! Karena wajahmu inilah yang menyebabkan Nev jadi berpaling dariku! Tapi itu nanti, aku mau menyaksikan kesakitanmu lebih dulu! Sekarang nikmati dulu masa-masa pesakitanmu ini!" ujarnya bengis.
Raya mengaduh memegangi perutnya, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Sakit, amat sakit yang ia rasakan, terutama bagian perut dan pangkal pahanya. Semua terasa berputar-putar, membentuk sebuah poros yang terlihat di penglihatannya, perlahan-lahan ia seperti tertarik masuk kedalam lingkaran itu dan berkecimpung didalamnya. Sayup-sayup ia mendengar suara ocehan Feli, dan sekelilingnya menjadi kelabu, pudar lalu menggelap. Lambat laun senyap mulai merambat dan seketika sunyi mendera.
__ADS_1
...Bersambung ......
...Jangan lupa tekan Love, Like, Vote dan berikan hadiah. Ketik komentar yang berkesan ya🙏♥️♥️♥️♥️...