PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
70 - Trekking


__ADS_3

"Ih, belagu banget punya suami..." gumam Raya, kemudian dia mulai berbisik di telinga Nev, seolah menirukan gaya Nev yang biasa membisikkannya dengan hal me sum.


"Jangan gitu lah, Yang!" protes Nev tak terima dengan ancaman sang istri, yang baru saja dibisikkan Raya ditelinganya.


"Ya makanya jangan ngerjain aku.." kata Raya kembali pongah.


Nev menyugar rambutnya dengan kasar,


"Baiklah, sekarang aku gak akan ngerjain kamu..." jawab Nev terpaksa.


Raya tersenyum puas mendengarnya.


Takut juga kena ancaman gak boleh masuk ke kamar..hahaha- Batin Raya tertawa menang.


Tapi, sepersekian detik kemudian, Nev berceletuk lagi.


"Sekarang memang gak ngerjain, tapi gak tahu kalau besok-besok, ya..." sambung Nev sambil mengulumm senyum.


"Kamu, ih..." Raya mencubit Nev yang duduk disampingnya dan Nev berlagak kesakitan setengah mati.


"Lebay, kamu!" dengkus Raya, kemudian mereka tertawa serentak.


Menjelang sore, Nev dan Raya melakukan kegiatan yang lebih menguji adrenalin disana, yakni melakukan trekking di sekitar area persawahaan.


Setelah siap dan memastikan aman, Nev dan Raya berboncengan menggunakan kendaraan segala medan atau ATV, yakni sepeda motor yang mempunyai empat roda, didesain sedikit besar dan tinggi, biasanya digunakan untuk pertanian atau rekreasi.



Untungnya keduanya memiliki persamaan dalam jiwa petualang, sehingga Nev tak merasa bersalah saat membawa Raya menggunakan ATV, karena ternyata istrinya itupun ikut menikmati dan senang dengan sesuatu hal yang menguji adrenalin seperti ini.


"Aku tidak menyangka kamu seberani ini," pekik Nev disela-sela perjalanan mereka melalui jalur trek yang berlumpur dan licin.


"Ini seru, aku suka..." jawab Raya tertawa kencang.


"Kamu menikmati momen ini?" tanya Nev sembari tetap fokus mengemudikan ATV-nya.


"Ya, ini benar-benar menguji adrenalin," jawab Raya dibelakang tubuh Nev.


Nev terkekeh lagi, perjalanannya kali ini benar-benar terasa lengkap bersama Raya. Setidaknya, saat dulu pernah beberapa kali ke Bali, dia tak pernah menghabiskan waktu seseru ini. Sekarang Nev benar-benar merasa kehadiran Raya membuat hidupnya lebih berwarna dan komplit.


"You complete me, (Kamu melengkapiku,)" gumam Nev pelan.


"Kamu bilang apa, aku tidak mendengarnya?" tanya Raya, karena suara mesin ATV yang cukup berisik menyertai perjalanan seru mereka kali ini.


"Aku beruntung memiliki kamu, kamu melengkapi hidupku," pekik Nev dengan kuat.


Mendengar itu, Raya terkekeh dengan wajah kepiting rebusnya. Beberapa orang yang ikut trek dibelakang mereka pun-- mungkin ikut mendengar ucapan kuat suaminya itu, membuat Raya mendadak malu pada tatapan orang lain.


"Nev, malu..." kata Raya menundukkan wajah di pundak Nev.


Nev cuek, dan dia kembali memekik. "Terima kasih istriku, aku sangat mencintaimu, Raya!!!" kata Nev lagi saat ATV mereka meluncur ke jalanan yang menurun. Rasa terkejut, malu dan bahagia bercampur menjadi satu dihati Raya melihat sikap Nev itu.


Sesampainya mereka di area peristirahatan, keduanya menjadi perhatian para pengunjung lain. Pasti mereka yang menatapi adalah orang-orang yang ikut satu trekking dengan Nev dan Raya tadi.


Raya jadi merasa malu setengah mati, sementara Nev yang mengucapkan beberapa kalimat nyeleneh, justru bersikap cuek dan biasa saja-- saat ditatapi oleh orang-orang yang mengulumm senyum saat melihat mereka berdua.


"Gara-gara kamu, nih..." kata Raya menyerahkan helm yang sempat dipakainya kepada Nev.

__ADS_1


Nev terkekeh menyadari keluhan Raya itu. Dia jadi ingin terus mengerjai sang istri.


"Biarin aja, sih... paling mereka menilai kita pasangan serasi," jawab Nev sembari mengangkat bahu dengan cueknya.


Raya memberengut dan memanyunkan bibirnya beberapa centi.


"Abis ini kemana lagi?" tanya Nev menyeimbangkan langkah dengan Raya yang lebih dulu berjalan didepannya.


"Makan, laper..." kata Raya masih berlagak merajuk mode on.


Nev mengacak rambut istrinya itu dengan gemas. "Oke, kamu mau makan apa Tuan putri?" Nev menaik-naikkan alisnya menggoda Raya, agar Raya tak merajuk lagi.


"Apa aja deh, abis nge-trek laper banget nih..." jawab wanita itu sembari memegangi perut ratanya.


"Okay," Nev segera menggandeng tangan istrinya menuju rest room.


Setelah membersihkan diri dari sisa lumpur, lalu mengganti pakaian mereka, akhirnya meraka pun menuju sebuah Restoran makanan untuk mengisi perut yang kelaparan.


Raya memesan seafood tanpa berpikir panjang, kelaparannya membuatnya kalap dan memesan begitu saja tanpa memikirkan imbasnya.


"Kamu memesan kepiting?" tanya Nev keheranan. Bukan apa-apa, masalahnya Raya mengatakan sangat lapar, kenapa memesan makanan yang merepotkan seperti kepiting?


Raya mengangguk dengan antusias, kemudian mengambil sebuah kepiting berukuran besar dan meletakkan itu ke piring makannya sendiri.


Nev terkekeh melihat itu, "Kamu bisa?" tanya Nev memastikan.


"Bisa apa?" tanya Raya balik.


"Makan kepiting? Bisa membuka cangkangnya?"


Raya nyengir kuda, sebenarnya dia bisa tapi itu membutuhkan waktu yang lama, kan?


"Buka mulutmu," kata Nev pelan dan menyuapi Raya dengan tangannya langsung.


Raya menerima suapan dari Nev dengan senang hati. Kegiatan itu terus berlanjut, Nev membuka cangkang kepiting dengan sabarnya.


Raya memandangi aktifitas suaminya itu dengan lekat.


Nev tak menatap Raya, tapi dia tahu jika saat ini istrinya tengah memperhatikannya.


"Aku memang tampan, Sayang..." kata Nev tiba-tiba, namun dia tetap fokus pada cangkang kepiting yang tengah dibukanya.


Raya terkekeh pelan. "Iya, tampan sekali," sahut Raya tak memprotes.


Nev melirik Raya, "Sayang, kamu menggodaku, ya?" tanyanya sembari mengerlingkan mata pada sang istri.


"Haissss ... mulai deh," jawab Raya mengulumm senyuman.


Nev hanya tersenyum kecil, kemudian menyuapi Raya lagi dengan daging kepiting yang rasanya lezat itu.


Raya baru tersadar jika Nev belum memakan makanannya karena fokus dengan kepitingnya.


"Ayo, sekarang buka mulutmu, kamu belum makan sesuap pun, jangan jadikan aku istri durhaka..." Raya berkata sembari menyodorkan sendok berisi makanan didepan mulut Nev.


Nev menyeringai sesaat, kemudian melahap suapan dari istrinya.


"Sayang, kejadian ini membuatku mengingat seseorang," kata Nev.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Raya.


"Seorang wanita," timpal Nev tersenyum menawan.


Raya mendengkus keras, bisa-bisanya Nev memikirkan seorang wanita saat Nev berada bersamanya.


"Loh, kenapa?" Nev mengernyit saat melihat Raya cemberut.


"Gak apa-apa, memangnya siapa wanita itu?" tanya Raya, dia tak melanjutkan menyuapi Nev, sekarang dia justru bersedekap dada--siap menyerang Nev jika suaminya itu sampai menyebut nama wanita lain saat ini.


"Iya waktu itu aku juga disuapi wanita itu, Sayang ... makanya aku jadi teringat padanya."


"Iya, siapa dia?" tanya Raya malas, dia tak mau membahas wanita lain, tapi hatinya penasaran siapa wanita yang dimaksud suaminya itu.


"Pengasuhku," kata Nev terkekeh.


Raya berdecak, kemudian dia menatap Nev dengan sorot mata tajam.


Nev tertawa kencang, menyadari sikap Raya yang aneh, dia langsung tahu jika Raya sekarang tengah berpikir yang bukan-bukan.


Jadi, Nev langsung memberi klarifikasinya. "Wanita itu pengasuhku, namanya Raya Syakila, tapi sekarang dia telah menjadi istriku," kata Nev semringah.


Raya memutar bola matanya, padahal dalam hatinya merasa lega bahwa wanita yang diingat Nev saat ini, tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri.


"Kenapa?" tanya Nev melihat Raya tetap diam.


"Aku juga jadi ingat seseorang," kata Raya akhirnya.


"Siapa? Kamu pasti ingat aku ya?" ucap Nev percaya diri.


"Ge-er banget..." kata Raya tak acuh.


"Lalu, jika bukan aku. Siapa?" tanya Nev mulai tak suka arah pembicaraan Raya yang seperti membicarakan lelaki lain saat ini.


"Si Tuan Manja..." sahut Raya dengan entengnya.


Mendengar itu, Nev tertawa kencang.


"Dasar kamu, Miss Donald Duck!" kata Nev menjulurkan lidah, mengejek Raya.


"Huh, tapi...sekarang Si Tuan Manja sudah ganti nama lho," timpal Raya lagi.


"Siapa namanya sekarang, hmm?"


"Tuan posesif," jawab Raya cepat dan merekapun tertawa bersamaan.


Nev benar-benar tak habis pikir jika Raya sekarang sudah punya julukan baru untuknya. Apapun itu, asal Raya merasa senang, Nev akan menerimanya dengan lapang dada. Yang penting Raya masih menghargainya sebagai suami.


Mereka pun melanjutkan sesi makan malam itu dengan sukacita.


Tapi, tiba-tiba Nev teringat sesuatu. Besok mereka akan pergi untuk melanjutkan bulan madu yang disiapkan oleh Nenek. Nev tentu senang dengan hal itu. Tapi, Nev juga tak lupa, sepulangnya dari momen honeymoon kali ini, masih banyak hal yang pasti akan menanti mereka dirumah.


Bukan hanya tentang pekerjaan, melainkan salah satunya adalah tentang Feli dan Reka, mungkin.


Entah kenapa, Nev merasa tak tenang perihal Feli yang belum bisa dia jebloskan ke penjara. Belum lagi soal Reka, Nev merasa yakin, jika saat ini Reka tengah menunggu kepulangannya dan Raya.


Meskipun Nev belum tahu jelas apa yang diperbuat Reka sehingga menyebabkan pernikahan itu batal, tapi yang Nev yakini adalah semua kesalahan itu berawal dari Reka. Jadi, masih ada kemungkinan jika Reka tak menerima kenyataan jika Raya akhirnya tetap menikah dengan lelaki lain, dan akhirnya Reka akan menemui Raya lagi nantinya.

__ADS_1


Tapi, apapun yang terjadi kedepan, Nev akan selalu siap menghadapi semua itu, karena Raya memang sudah menjadi istrinya.


...Bersambung ......


__ADS_2