
"Airish .... kau benar-benar menaklukkannya? Apa terjadi sesuatu dengan kalian semalam?" Bianca mencecar Airish begitu gadis itu tiba didalam kelas.
"Apanya?" tanya Airish tanpa minat menatap Bianca.
"Aku tahu kau polos, tapi kali ini jangan berlagak tak mengerti. Apa kalian menghabiskan malam bersama setelah pulang dari rumah ibuku?" Bianca menaik-naikkan alisnya, menggoda Airish.
"Apa-apaan, Bia! Dia hanya mengantarku, tidak lebih!"
"Dan hari ini dia juga mengantarmu ke kampus, lalu kau masih bisa mengatakan tak terjadi apapun diantara kalian?" Bianca tetap kekeuh pada pemikirannya bahwa telah terjadi sesuatu antara Airish dengan pemuda tampan yang semalam mendatangi jamuan makan malam dirumah Ibunya.
"Ya, dia memang mengantarku, tapi serius tidak terjadi apapun diantara kami."
"Mustahil!” jawab Bianca secepat kilat.
"Oke, baiklah, dia itu sebenarnya temanku saat di Indonesia, kau puas?" kata Airish untuk membungkam mulut Bianca.
Mendengar itu, Bianca terperanjat. Ia pun berdiri dari kursinya, kemudian beringsut pada jendela kelas demi bisa mengintip seorang pemuda yang duduk di kursi depan kelasnya. Pemuda itu tampak santai, namun cukup menarik minat banyak mahasiswi lainnya. Sudah jelas, pemuda itu pasti tengah menunggu seseorang disana. Dan yang ditunggunya adalah Airish.
Bianca berdecak sambil menggeleng samar.
"Sekarang, kau jelaskan padaku. Apa dia disana juga karena menunggu jam pelajaranmu berakhir?"
Airish mengangguk. "Hem, Zio bilang mau bicara empat mata denganku."
"Oh my God .... fix dia tertarik padamu," kata Bianca terkekeh. "Oh, tidak-tidak, dia menyukaimu," ralatnya secepat mungkin.
"Kau bercanda, Bia? Apa kau lupa tadi malam dia mengatakan bahwa dia telah bertunangan dan dia punya komitmen. Aku tidak mau dijadikan selingan."
"Kalau dia menjadikanmu satu-satunya?" Bianca terus saja menuntut jawaban Airish.
"Entahlah," jawab Airish lesu. Obrolan itu terpaksa berhenti kala seorang dosen sudah memasuki ruang kelas mereka.
Setelah mengikuti kelas mata kuliah hari ini, akhirnya Airish dan Bianca sama-sama keluar dari kelas mereka.
Zio menatap Airish yang sudah berdiri diambang pintu kelas bersama Bianca dan mulai menghampirinya.
"Sudah selesai? Apa sekarang kita bisa bicara?" tanya pemuda itu.
__ADS_1
Airish mengangguk pelan, sementara Bianca menatap keduanya dengan mata membola sebab tak menyangka karena Zio benar-benar menunggui Airish sampai jam pelajaran mereka selesai.
(Author said : Jangan terkejut gitu Bianca! Jangankan nunggu sampe jam kuliah selesai, nunggu Airish dari SMA juga udah Zio lakuin🤭🤭)
"Kalau dia memutuskan memilihmu, lalu kau menolaknya, akan ku pastikan kalau aku yang akan mengejarnya!" bisik Bianca sebelum akhirnya membiarkan Airish dan Zio berlalu.
"Makan siang dulu?" tawar Zio dan lagi-lagi seperti biasanya, Airish hanya bisa mengangguk.
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Airish sangat heran dengan Zio, apa pemuda ini tidak ada kerjaan lain sehingga rela menunggunya di kampus karena itu tidaklah sebentar.
Zio sendiri sebenarnya banyak pekerjaan yang menunggu selama berada di Jerman. Apalagi ia harus menyelesaikan semuanya hanya dalam kurun waktu seminggu saja. Tapi, ia merasa menunggu Airish serta menjelaskan segalanya jauh lebih penting karena ia tak mau Airish salah memahami ucapannya yang mengatakan tentang pertunangan itu.
Zio membukakan pintu mobil untuk Airish sebelum kemudian ia juga masuk kedalam mobil dan menyalakan Maps sebagai penunjuk jalan.
"Mau makan dimana?" tanya Zio menatap Airish lekat.
Airish menggeleng tak tahu. Zio memutuskan sendiri pilihannya dan mulai mengemudikan mobilnya.
Tak ingin membuang waktu, Zio memilih restoran yang letaknya cukup dekat dari kampus Airish.
"Kamu .... mau bicara soal apa?" tanya Airish memberanikan diri untuk memulai, padahal ia sendiri tak tahu kenapa saat didekat Zio ia selalu bersikap memalukan serta berdebar-debar tidak karuan.
"Soal kita," jawab Zio tersenyum kecil.
"Kita?"
"Hemm, kita." Zio mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Memangnya ada apa dengan kita?" tanya Airish bingung.
Zio mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku Hoodie putih yang ia kenakan. Membuka itu dan menunjukkan isinya pada Airish. Itu adalah sepasang cincin yang tampak sepadan.
"Cincin?" tanya Airish terpana.
"Ini, cincin pertunangan kita," kata Zio tanpa basa-basi.
Tapi, Airish terkekeh pelan. "Kita? Bertunangan?"
__ADS_1
"Iya, jadi, yang saya maksud sebagai tunangan saya itu .... kamu."
Glek ...
Airish menelan salivanya beberapa kali dalam waktu sedetik.
"Sebelumnya, saya sudah melamar kamu melalui Papa kamu, kebetulan beliau menerima lamaran itu. Beliau juga mengatakan kalau kamu sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun jadi Papa kamu sudah merestui kita," papar Zio membuat Airish menganga seketika itu juga.
"Itu ...." Zio menunjuk liontin yang saat ini Airish kenakan, "Sebenarnya itu dari saya," ujarnya disertai senyuman kecil.
Airish segera memegang bandul liontinnya. "Jangan bilang kalau inisial A ini artinya adalah nama kamu," celetuknya tak menyangka. Selama ini ia mengira A for Airish, nyatanya A for ....
Zio mengangguki ucapan Airish sambil tersenyum tipis. "Saya yakin sih kalau kamu pasti mengira bandul itu berarti inisial nama kamu sendiri. Syukurnya inisial nama kita sama, jadi gak perlu bikin bandul dua huruf, kan?" ujarnya.
Airish memegangi dadanya sendiri. Sepertinya ia terkena serangan jantung mendadak sekarang. "Aku .... aku ...." Ia tak sanggup melanjutkan kata, karena sudah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Bersamaan dengan itu, pelayan datang menyajikan makanan mereka ke atas meja.
"Makan dulu, nanti bisa dipikirkan lagi ...." kata Zio membuat Airish kembali sadar pada kenyataan. Kenyataan yang sangat manis bahwa ia dan Zio telah bertunangan meski secara tak langsung. Dalam hal ini, ia juga tidak perlu membujuk Papanya sebab Zio sudah menangani sang Ayah jauh-jauh hari.
Tapi .... bagaimana Airish bisa makan sekarang? Bahkan tangannya sedang gemetar. Tidak kuasa memegang garpu dan pisau, apalagi memotong daging steak yang sudah tersaji dihadapannya bersamaan dengan penampakan sekotak cincin yang masih terpampang nyata di meja yang sama.
Zio menatap Airish yang terdiam. Kemudian ia sadar bahwa kini Airish tidak sedang baik-baik saja. Mungkin dilanda shock berlebihan, atau mungkin masih mencerna semua kejadian. Dengan cekatan ia meraih makanan Airish, memotongkan steak menjadi beberapa bagian. Sesekali terkekeh samar melihat Airish yang masih dalam posisi yang sama.
Zio menggeleng pelan, ia menusuk dengan garpu-- sepotong steak yang sudah ia potong kecil, pas untuk satu suapan. Lalu, menyodorkan itu didepan bibir Airish.
Airish menatap potongan steak didepannya, sambil bergantian menatap ke wajah teduh pemuda itu. Ia masih berada dalam mode kebingungan.
"Aaaaa ...." kata Zio mengisyaratkan agar Airish membuka mulutnya. Dengan patuh, gadis itupun menerima suapan yang diberikan oleh sang pemuda yang baru saja menyatakan status mereka sebenarnya.
Zio tersenyum puas setelah berhasil menyuapi Airish tanpa ada protes berarti dari bibir gadis itu.
Airish sendiri tak mengerti kenapa ia menerima begitu saja. Lagi, ia terhipnotis. Sepertinya. Bahkan, ia tidak bisa menolak suapan Zio, bagaimana bisa ia menolak lamaran pemuda ini. Pantas saja Zio sangat percaya diri melamarnya langsung pada sang Ayah. CK!
Apa ini artinya ia dan Zio sudah dalam komitmen yang serius? Bahkan ia tak bisa untuk menjawab hal itu karena otaknya mendadak buntu.
*******
__ADS_1