PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
108 - Edisi jalan-jalan


__ADS_3

Tak terasa sudah seminggu Raya dan Nev berada di London. Di hari-hari terakhir berada di Ibukota Inggris itu, mereka menghabiskan waktu dengan berbelanja di pusat perbelanjaan dan berwisata kuliner dengan berbagai panganan halal.


Beberapa hari berselang, Nev dan Raya juga mengunjungi kota lainnya yang ada di Inggris, yakni Bristol dan York.


Mereka menghabiskan beberapa hari dimasing-masing kota itu dan memanfaatkan waktu liburan mereka sebaik-baiknya.


Setelah puas mengeksplor dan traveling sampai ke pelosok kota itu, beberapa hari selanjutnya mereka memutuskan untuk langsung bertolak ke persinggahan selanjutnya yakni Manchester.


Tiba di Manchester, Raya semakin antusias. Tidak ada tanda-tanda kelelahan di wajah wanita itu padahal mereka sudah kesana-kemari setiap hari.


Apalagi saat Raya menunjukkan pada Nev gedung tempatnya menuntut ilmu serta sebuah gedung Apartemen yang dulu ditempati Raya saat masih tinggal di kota itu.


"Pasti istriku dulu adalah bintang kampus" kelakar Nev sambil mencubit gemas pipi sang istri.


Raya tertawa kecil. "Tidak, aku termasuk mahasiswi yang tidak famous," jawabnya.


"Itu tidak mungkin, buktinya saat kita honeymoon ke Bali... ada pria yang mengenali kamu."


"Jadi kamu masih mengingat hal itu?" kekeh Raya tak habis pikir dengan ujaran yang Nev sampaikan tadi. Bagaimana bisa Nev masih mengingat pria yang sempat bertemu dengan mereka sepintas.


"Aku selalu mengingatnya, Sayang. Apalagi tatapan tak biasanya itu!" Nev menekankan kata-katanya yang membuat Raya menggeleng samar.


"Mungkinkah disini kita bisa bertemu pria itu lagi?" tanya Nev.


"I dont know, Nev! Jangan membahas hal tak penting." Raya mengendikkan bahu cuek.


Nev tertawa, ia hanya ingin menggoda istrinya saja.


"Siapa tahu kita bisa bertemu lagi dengan penggemar kamu itu. Siapa namanya? Ah, ya... David." Nev terus menggoda Raya membuat Raya memutar bola mata jengah.


"Aku tak punya penggemar Nev, kamu yang memiliki banyak fans fanatik," jawab Raya akhirnya, tak mau kalah.


Nev tersenyum miring dan semakin mengeratkan genggamannya ditangan sang istri.


"Yah, siapa tahu saja kita bisa bertemu David disini, dia bisa menjadi pemandu perjalanan kita," kelakar Nev sambil tergelak.


"Sudahlah Nev, jangan memulai..."


"Bukan memulai, siapa tahu dia mau menemani perjalanan kita, aku ingin melihatnya gigit jari dan iri akan kebersamaan kita," kata Nev jumawa.


"Lagipula Dave tidak mungkin disini, setelah lulus, dia pasti sudah pulang ke Negaranya juga."


"Memangnya dia warga negara mana?"


"Setahuku dia orang Kanada."

__ADS_1


"Waw kamu tahu banyak tentangnya," goda Nev lagi, sengaja.


"Astaga suamiku ini... kita makan siang disana saja," kata Raya akhirnya memilih mengalihkan topik pembicaraan yang tak tahu kapan selesainya itu.


Kali ini Raya yang bertindak sebagai pemimpin dan pemandu, karena kawasan yang mereka kunjungi masih seputaran tempat nongkrongnya semasa kuliah dulu.


"Apa makanannya enak?" tanya Nev.


"Lumayan dan juga murah," bisik Raya terkikik.


Nev ikut tertawa walau ucapan Raya itu terkesan seperti dia tengah membatasi Raya soal keuangan. Namun, pola pikir istrinya kadang memang sulit ditebak.


Mereka tiba di Manchester menjelang sore, jadi mereka memesan dan mulai menikmati makan siang mereka yang tertunda.


"Makanlah yang banyak, aku tak mau kamu kelaparan," kata Nev mengusap pipi Raya lembut.


"Aku akan makan banyak dan tidak peduli dengan bentuk tubuhku. Apa tidak apa-apa?"


Nev tertawa. "Ya, lakukan saja. Ku rasa jika kamu semakin gemuk maka kamu semakin sek-si," bisik Nev ditelinga Raya yang membuat wajah perempuan itu memerah seketika.


Raya mencubit Nev dan membuat Nev meringis kesakitan.


"Ahh...ini sakit, Sayang..." kata Nev mengaduh.


Raya mengendikkan bahunya, cuek dengan pengaduan Nev itu.


"Coba saja kalau berani," tantang Raya setengah mengejek.


"Oh... sudah berani menantang rupanya." Nev tertawa sembari mengelus pelan lengan Raya yang ada disampingnya.


Dan Raya terkekeh mengetahui isi kepala suaminya saat ini.


"Habiskan makananmu, Tuan.." kata Raya.


Nev tersenyum pada Raya namun senyuman itu penuh maksud terselubung dan Raya tahu arti dibalik senyuman itu.


...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...


Selama di Manchester, Nev dan Raya menginap di salah satu hotel ternama yang kebetulan dekat dengan stadion sepak bola Manchester.


"Apa kita akan menonton pertandingan sepak bola?" tanya Raya saat mrmasuki kamar hotelnya sembari membuka sneakers yang ia kenakan.


"Boleh saja, tapi ku rasa akan sulit mendapat tiketnya apalagi secara mendadak seperti ini," sahut Nevm


"Ya, itu memang benar. Kalau kamu ingin menonton pertandingan itu minimal kamu sudah membooking tiketnya jauh-jauh hari."

__ADS_1


"Aku tahu," sahut Nev sembari membuka kancing kemeja yang ia kenakan.


"Aku juga tidak begitu berminat," aku Raya jujur. "Tapi kalau kamu mau menonton pertandingan itu aku akan menemaninya," sambungnya tersenyum pada Nev yang sudah berdiri dihadapannya.


Nev diam, tidak menyahuti ucapan sang istri. Kemudian tanpa aba-aba dia membawa Raya dalam gendongan ala bridal style-nya.


"Eh..." kata Raya terkejut dengan aksi suaminya itu.


"Aku tidak berminat menonton bola, jika aku ingin pasti aku sudah membooking tiketnya melalui pemesanan online jauh-jauh hari," kata Nev pelan. "Niat utamaku kesini bukan hal itu," sambungnya sembari membuka pintu kamar mandi hotel.


"Jadi niat utamamu apa?" tanya Raya yang masih berada dalam gendongan Nev.


"Tentu saja untuk membuat kamu bahagia, Sayang." Nev meletakkan tubuh Raya dengan hati-hati ke dalam bathup yang belum terisi air.


Raya diam saja, karena jika sudah begini diapun sudah tahu apa tujuan Nev selanjutnya.


"Baiklah, kali ini aku akan pasrah," gumam Raya saat Nev sudah melucuti pakaian yang dikenakan istrinya itu.


Nev terkekeh pelan sebab mendengar apa yang digumamkan oleh sang istri.


Kemudian Nev beringsut menjauh, menuju kran air dan menyetelnya ke suhu standar agar mengeluarkan air yang hangat kedalam bathub yang sudah diduduki oleh istrinya.


Setelah itu, Nev kembali beranjak, mengambil lilin aromatherapi didalam laci dan menyalakannya, kemudian mematikan saklar lampu kamar mandi dan ... tadaaa! suasana menjadi temaram karena hanya diterangi oleh bias cahaya lilin saja.


Nev menyusul Raya kedalam bathub setelah menanggalkan semua pakaiannya.


Dia memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menyandarkan punggung Raya ke dada bidangnya.


"Apa sudah rileks?" tanyanya dengan suara rendah.


Raya terkekeh pelan, kemudian mengangguki pertanyaan sang suami.


Nev pun mulai melancarkan salah satu tujuan utamanya membawa Raya ke Luar Negeri.


Mereka pun menghabiskan waktu bersama sampai sama-sama merasa cukup dengan aktifitas yang belakangan hari sering mereka lakukan sejak terbang ke Inggris.


...Bersambung ......


...Like...


...Love...


...Kopi...


...Bunga...

__ADS_1


...Komen...


...Terima kasih🙏...


__ADS_2