
Setelah makan malam usai, mereka pun berkumpul di ruang keluarga, padahal Airish sudah berkilah dengan alasan sakit kepala untuk menghindari Zio, namun Bianca yang tak tahu apapun mengenai hubungan dimasa lalu, malah memaksa gadis itu untuk menemaninya. Akhirnya, Airish hanya bisa terdiam memperhatikan Diana, Bianca dan Zio yang saling berinteraksi satu sama lain.
"Berapa umur Anda, Tuan Winarya?" tanya Diana.
"Saya.... 21 tahun, Nyonya!" jawab Zio tersenyum tipis.
"Sama seperti puteriku. Bianca tahun ini akan berusia 21 tahun juga," papar Diana menepuk punggung tangan Bianca yang duduk disisinya.
Zio hanya mengangguk samar, sesekali pandangan matanya mencuri pandang ke arah Airish yang banyak menundukkan kepala.
"Maaf, mungkin pembicaraanku keluar dari konteks bisnis kita...." Diana lagi-lagi memasang senyum sungkan.
"Tidak apa-apa Nyonya Diana, selagi pertanyaan itu masih bisa Saya jawab maka saya akan menjawabnya."
"Kalau aku yang bertanya padamu, apakah kau juga akan menjawab?" Kini pertanyaan itu terlontar dari bibir Bianca. Membuat Airish yang sejak tadi banyak tertunduk mulai mengadahkan kepala, dalam pikirannya bisa menebak jika Bianca memiliki ketertarikan pada Zio.
"Tentu saja," jawab Zio singkat.
"Apa kau tertarik dengan hubungan satu malam?" tanya Bianca to the point. Diana menyenggol lengan puterinya karena pertanyaan Bianca yang terkesan sangat berani dan blak-blakan, bahkan Airish sampai menatapnya dengan mata membola.
Zio terkekeh pelan. "One night stand?" tanyanya dengan nada sarkas.
"Yups, One night stand!" Bianca memperjelas.
Diana menatap Bianca tak percaya, ia memberi isyarat lewat sorot mata seolah tak menyukai pertanyaan puterinya itu.
Zio tidak menjawab, dia justru menatap Airish seolah mempertanyakan pada gadis itu apa yang harus ia jawab pada Bianca, namun Airish justru hanya menggeleng samar sebagai jawaban. Namun, dalam hatinya kini menyadari jika Zio masih mengenalinya, bahkan menganggapnya ada diantara percakapan mereka.
"Sorry, maksudku... begini, kau jangan tersinggung dengan pertanyaanku. Disini.... maksudku, di Negara kami hal semacam itu adalah hal wajar untuk dipertanyakan. Ya, begitu kira-kira. Ehm, bagaimana aku mengatakannya, ya kurasa kau memahami maksudku, ya kan?" Bianca tampak salah tingkah melihat sikap diam Zio yang tak memberinya jawaban.
"Saya memahami maksud Anda, Nona. Tapi saya tidak tertarik dengan hal itu."
"Benarkah?" tanya Bianca dengan senyum menggoda.
Zio mengangguk mantap.
"Bisa aku tahu alasannya? Bukankah semua lelaki akan tertarik dengan hal yang menjurus kesana?"
__ADS_1
Zio terkekeh pelan. "Mungkin benar, tapi saya salah satu pengecualian. Jika Anda ingin tahu alasannya mungkin karena kultur dan budaya kita berbeda. Memang, tidak semua lelaki yang ber-asal sama dengan saya akan berpendapat sama. Tapi itu tadi, saya merupakan satu pengecualian karena saya mempunyai komitmen untuk berhubungan dengan satu gadis saja dalam hidup saya."
"Wow, benarkah? Itu terdengar sangat naif.... apa kau tidak akan menyesalinya?" goda Bianca.
Zio menggeleng. "Lagipula, saya sudah bertunangan. Saya tidak mau mengecewakan gadis pilihan saya." Zio tersenyum kecil di akhir kalimatnya.
Jawaban itu membuat Bianca speechless sekaligus merasa jika Zio adalah lelaki penuh tantangan, ia semakin tertantang dengan pria semacam ini.
Sementara disisi lain, Airish membuang pandangan, ucapan Zio yang mengatakan bahwa lelaki itu telah bertunangan membuatnya terhenyak dan entah kenapa merasa ngilu hati.
Ayo Airish, apa urusannya denganmu? Mau dia sudah bertunangan atau belum, itu bukan urusanmu!
Bagaimana dengan janji Zio kepadanya? Sepertinya Airish harus melupakan itu mulai dari sekarang.
Walau ia sudah memutus kontak dengan Zio selama bertahun-tahun, tapi entah kenapa janji Zio kepadanya selalu terngiang-ngiang dalam pikiran. Airish pikir seiring berjalannya waktu serta tanpa adanya jalinan komunikasi antara ia dan Zio, itu membuatnya tidak berharap lebih dengan janji Zio. Nyatanya, jauh dalam lubuk hatinya, ia tetap mengharapkannya.
Mengetahui Zio sudah bertunangan, membuat hati Airish bagai tercambuk, aada perasaan menyesal karena telah membuat jarak hingga membuat Zio memilih gadis lain. Namun, sisi hatinya yang lain berusaha menguatkan diri. Jangan tanyakan mengenai perasaannya sekarang sebab hatinya sudah berantakan seperti tersayat sembilu lalu diberi perasan jeruk nipis, perih dan sangat menyedihkan.
"Kau pria yang berkomitmen, gadis yang kau pilih akan merasa sangat beruntung, Tuan Winarya..." timpal Diana akhirnya.
Zio mengangguk pelan, senyumnya mulai menghilang secara perlahan, sebab ia melihat ada kesenduan didalam pandangan Airish. Why?
Diana mengangguk, sepersekian detik berikutnya ia berdiri, disusul oleh Bianca kemudian Airish yang memaksa menopang tubuh dengan kakinya yang mendadak lunglai sejak mengetahui kenyataan tentang Zio yang sudah bertunangan. Ingin rasanya Airish menanyakan langsung pada pemuda itu, namun mulutnya sejak tadi selalu kelu dan tak bisa ikut menimpali pembicaraan yang ada.
"Oh ya, Tuan.... Airish temanku juga berasal dari Indonesia, kau tinggal di kota mana? Siapa tahu kalian berasal dari kota yang sama," kata Bianca saat mereka mengantar Zio menuju pintu keluar rumah.
"Aku dari kota M," jawab Zio jujur sambil melirik Airish.
"Wah, kalau tidak salah Airish juga berasal dari kota itu. Benar, kan?" Bianca menyikut lengan Airish dan gadis itu hanya mengangguk lesu.
"Benarkah?" tanya Zio seolah tak tahu mengenai hal ini.
"Iya!" sorak Bianca riang, kemudian dia beralih menatap sang sahabat. "Airish, apa kau tidak merasa ini sangat asyik? Kau bertemu orang lain yang berasal dari kotamu, saat kalian sama-sama berada di Negara orang?" sambungnya terkekeh.
Airish hanya tersenyum masam. "Entahlah," jawabnya tanpa minat.
"Kalau begitu, karena kami berasal dari kota yang sama, barangkali teman Anda mau menerima tawaran saya...." kata Zio mencari peruntungan.
__ADS_1
"Tawaran apa?" tanya Bianca dengan kernyitan dalam.
"Apakah teman Anda ini akan menginap disini? Jika dia ingin kembali ke rumahnya, aku bersedia memberinya tumpangan...." Zio berujar ramah sambil menatap Airish, sayangnya Airish tidak mau menatap wajah rupawan itu, dia memilih menghindari tatapan Zio.
"Oh, tentu saja dia mau, ya kan?" Bianca menjawab tanpa meminta persetujuan Airish membuat mereka saling berinteraksi lewat sorot mata. Airish mencoba protes dengan memelototi Bianca, sementara Bianca juga memelototi Airish agar sahabatnya mengiyakan ujarannya yang menyetujui penawaran Zio.
"Sebaiknya jangan menolak tawaran Tuan Winarya, Airish...." kata Diana memberi kode, ia sungkan jika Airish menolak tawaran relasi bisnisnya itu.
"Ehm, baiklah Aunty..." jawab Airish menurut sebab ia memahami dan cukup peka dengan kode yang diberikan Diana.
Kini, Airish memberanikan diri untuk menatap Zio. "Bisa tunggu sebentar sampai aku mengambil barang-barangku di kamar Bianca?" tanyanya sangat pelan.
"Hmm, saya akan menunggu di mobil," kata Zio sambil berbalik menuju dimana mobilnya terparkir.
Airish segera berlalu ke kamar Bianca.
"Ku pikir dia tertarik padamu, Airish.... CK! Semua pria terlihat sama. Aku pikir dia berbeda," kata Bianca yang juga mengikuti langkah Airish sampai pada kamarnya.
"Maksudmu?" tanya Airish sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Beberapa menit lalu, dia mengatakan bahwa dia lelaki berkomitmen, dia sudah bertunangan.... tapi, tatapan matanya tidak lepas menatapimu!" gerutu Bianca.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja!"
"Airish, sekali saja percaya padaku! Dia tertarik padamu!" Bianca berdecak lidah diujung kalimatnya.
"Setiap hari aku percaya padamu, Bianca...." kekeh Airish. "Lalu, jika ucapanmu benar, memangnya kenapa? Dia juga sudah bertunangan!" sambungnya malas.
"Airish! Aku tidak percaya dengan jawabanmu itu! Kau lihat kan jika dia sangat tampan, apa kau tidak tertarik? Apa kau mati rasa? Jika kau tertarik, rebut dia dari tunangannya! Itu baru namanya tantangan!" ujar Bianca dengan sangat antusias.
"Whatever! Aku tidak suka merebut milik orang lain," ujarnya.
"Belum, Airish! Masih bertunangan!"
"Sama saja!" Airish memutar bola matanya.
Bagi Airish yang telah mendengar Zio sudah bertunangan, itu mengartikan jika semua sudah tak sama lagi. Semua ya telah berubah. Benar ucapannya dimasa lalu, jika janji Zio kepadanya hanyalah ucapan dari seorang lelaki berstatus pelajar SMA yang masih sering labil dan tidak mungkin bisa menepati janji sebesar itu.
__ADS_1
*****