
"Citra, kamu ngapain disitu?"
Wanita itu tersenyum kecil saat Raya menyapanya diluar pekarangan tempat pemakaman umum.
"Gak ikut kedalam?" tanya Raya lagi dan Citra menggeleng samar, ia tidak mau mengganggu prosesi pemakaman Ayah Reka, ia akan menyaksikan dari luar saja.
Ya, itu lebih baik bukan? Daripada Reka akan menganggapnya sebagai pengganggu.
Raya menghampirinya, dan ia menjadi canggung seketika.
Bagaimanapun, ia tahu bahwa Raya adalah wanita yang dulu akan menjadi istri Reka, dan ia merasa cukup minder dengan Raya.
Lagipula, walaupun ia pernah melihat Raya bersama suaminya, tapi mungkin saja ada rasa marah yang terbersit dihati Raya kepadanya karena ia adalah penyebab gagalnya pernikahan Raya dengan Reka. Entahlah...
"Kita duduk disana saja, yuk." ajak Raya.
Ia pun melihat arah yang dimaksud Raya, ada sebuah kursi kayu di luar gerbang pemakaman.
Lagi-lagi ia hanya menjawab Raya dengan gelengan samar.
Raya tersenyum kecil, entah kenapa senyuman itu seperti meyakinkannya dan perlahan-lahan ia mulai mengikuti Raya untuk duduk di kursi yang dimaksudkan tadi.
Raya berjalan didepan tubuhnya dengan pelan, meninggalkan serombongan orang-orang yang mengikuti prosesi pemakaman Almarhum Om Damar di dalam pemakaman sana.
"Ayo duduk, Citra..." kata Raya menepuk bagian kursi yang ada disebelah. Ia pun duduk disebelah wanita itu karena ia juga cukup lelah berdiri sedari tadi.
"Kapan kamu melahirkan?" tanya Raya dengan nada santai yang ramah.
"Dalam beberapa hari ini," jawabnya.
"Hah?" Ada nada keterkejutan diintonasi Raya kali ini, ia paham kenapa Raya terkejut, tapi ia diam saja karena tak tahu harus memulai percakapan darimana. Toh, Raya yang mengajaknya duduk disini kan? Biarlah wanita ini saja yang memulai percakapan, ia memilih diam karena banyak bicara pun percuma.
Berada sedekat ini dengan Raya, membuatnya membanding-bandingkan antara dirinya dengan Raya.
Ia dan Raya bagai kupu-kupu dan belalang, sama-sama serangga namun tetaplah berbeda spesies.
Ia paham kenapa keluarga Reka memilih wanita ini untuk mendampingi mantan kekasihnya itu. Rasa insecure tiba-tiba melanda jiwanya.
"Kamu gak seharusnya kesini, Citra. Pantas saja Reka marah..." celetuk Raya tiba-tiba.
"Aku hanya ingin melayat, tidak ada maksud apa-apa." Ia menatap lurus kedepan.
"Bukan maksudku menuduh kamu mau melakukan apa-apa, Citra. Tapi HPL kamu... tinggal beberapa hari lagi 'kan? Harusnya kamu memang dirumah saja." Raya menoleh menatapnya, namun ia enggan melihat wajah wanita itu, kepercayaan-diri-nya menurun drastis berhadapan dengan wanita disampingnya ini.
__ADS_1
"Kamu sama siapa tadi kesini?" tanya Raya lagi. Bahkan suara Raya sangatlah lembut, berbeda dengannya yang selalu berdebat dengan Reka dengan ujaran kasar, pantas saja Reka begitu berharap menikah dengan Raya. Ia dan Raya jauh dari kata 'mirip'.
"Sendiri."
Raya tak menyahuti ucapannya itu, namun ia mendengar helaan nafas berat yang diusung wanita itu.
"Yang menginginkan anak ini lahir... cuma aku..." Entah kenapa ia bisa mengutarakan hal itu pada wanita disebelahnya.
"Lalu?" tanya Raya.
"Reka tidak pernah menginginkan anak ini. Aku memutuskan untuk pergi darinya. Mungkin hari ini adalah terakhir kalinya kami bertemu," ujarnya.
Hening, tidak ada sahutan dari Raya untuk menanggapi ucapannya. Ia pun tak tahu harus berkata apa lagi karena ucapannya tadi terasa sudah melampaui batas, tidak seharusnya ia berbagi cerita seperti itu pada wanita yang hampir menikah dengan Reka.
Tampaknya ia salah memilih lawan bicara.
"Kamu tahu nggak, ada banyak orang yang menginginkan berada diposisi kamu," kata Raya.
Ia menoleh pada Raya yang baru saja mengucapkan kalimat tersebut. Tatapannya penuh tanya dan ingin Raya menjelaskan lebih lanjut tentang ucapannya tadi.
"Kamu ingat, sebelum pertemuan kita ini... kita sempat bertemu di Dokter kandungan? Itu adalah kali terakhir aku memeriksakan kandunganku." kata Raya.
Apa maksudnya? Ia belum mengerti kemana arah pembicaraan Raya ini.
"...tak lama dari itu, aku mengalami keguguran," imbuh Raya yang membuatnya terhenyak dan sadar bahwa memang seharusnya perut Raya tidak se-rata saat ini.
"Aku tidak mau membahas hal apa yang menjadi penyebab keguguranku, karena itu terlalu menyakitkan. Yang ingin aku sampaikan sama kamu adalah kamu masih beruntung karena bisa menjalani masa-masa kehamilan sampai menuju HPL seperti saat ini..." Raya menarik nafas dalam.
"Ada banyak wanita yang tidak bisa merasakan momen seperti yang kamu rasakan sekarang..." Raya kembali menghela nafas berat.
"...salah satunya adalah aku," sambung Raya melirih.
Ia bisa melihat bulir airmata Raya yang mulai menetes. Ternyata hidup Raya pun tak sesempurna yang ia perkirakan.
"Maaf..." ujarnya, hanya itu yang bisa ia ucapkan karena pembahasan ini turut menyeret Raya dalam zona kesedihan.
Raya menggeleng. "Kamu gak pernah salah sama aku, Cit. Tau kenapa?" tanya Raya.
Kali ini ia yang menggeleng, karena setahunya ia cukup memiliki kesalahan fatal pada Raya. Menjadi penyebab batalnya pernikahan Raya dengan Reka.
"Karena aku gak pernah anggap kamu bersalah," sahut Raya lagi.
Ah, apa Raya terlalu naif? Atau justru hatinya memang sebaik itu?
__ADS_1
"Aku dan Reka tidak pernah saling mencintai. Kami dijodohkan dan waktu itu aku bersyukur pernikahan kami dibatalkan. Hingga akhirnya aku bisa menikah dengan suamiku sekarang. Pria yang aku harapkan dan kami saling mencintai."
"...tidak tahu apa jadinya jika aku bensr-benar menikah dengan Reka. Karena aku tak mencintainya, begitu pula dia. Reka tidak memiliki rasa itu terhadapku," kekeh Raya diantara airmatanya yang mengalir.
Ia ikut menangis, entah kenapa ada kelegaan tersendiri mendengar Raya tidak ikut menyalahkannya, selama ini ia berpikir telah menjadi pengacau atas segala rencana indah pernikahan Reka. Nyatanya, ia juga menjadi penyebab Raya dapat menikah dengan oranglain yang dicintai dan mencintai wanita itu.
"Justru, aku melihat cinta dimata Reka untuk kamu..." ujar Raya lagi yang membuatnya terperangah lalu terkekeh sumbang.
"Itu hal terkonyol yang kamu ucapkan sejak kita duduk disini hari ini," Akhirnya ia bisa menjawab ucapan Raya itu.
Raya tersenyum sendu. "Kamu lebih mengenal Reka daripada aku, Cit. Harusnya kamu menyadarinya. Reka gak pernah menatap aku seperti dia menatap kamu."
"Itu...gak mungkin."
"Wajar sih jika kamu merasa itu gak mungkin, dari sikap Reka ke kamu... yang kamu jabarkan adalah ketidaksukaan Reka sama kamu. Padahal yang aku lihat, sikap itu adalah bentuk kepedulian dia sama kamu. Seperti hari ini, kamu merasa dia marah dengan kedatanganmu karena apa?"
"Karena dia takut aku mempermalukannya."
Raya terkekeh pelan, menyeka sekilas sisa airmata di pipi. "Jelas kamu salah persepsi!"
"Salahnya?"
"Dari jawaban kamu tadi, itu berarti kamu mau melahirkan sebentar lagi dan Reka khawatir sama keadaan kamu. Benar, kamu gak seharusnya ada disini. Bukan karena Reka marah sebab kamu datang melayat, tapi dia memikirkan kamu dan anak yang kamu kandung. Bagaimana jadinya jika disaat seperti ini kamu tiba-tiba mau melahirkan?"
Ia menggeleng lemah.
"Jadi, semuanya hanya karena salah persepsi saja. Sudut pandang yang berbeda! Kamu salah mengartikan sikap Reka selama ini... kalau dari sudut pandangku, aku bisa lihat, dia peduli sama kamu dan dia juga menginginkan anak itu segera hadir."
"Dia gak mungkin... maksudku, dia gak pernah peduli kok, mau anak ini lahir atau enggak!" tegasnya.
"Darimana kamu dapat kesimpulan seperti itu?"
"Ya, karena dia menganggap anak yang ku kandung ini adalah sebuah kesalahan."
Raya menggeleng. "Harusnya kamu lebih mengenal dia daripada aku. Tapi wajar aja, mungkin kehamilan kamu membuat kamu sensitif dengan sikap arrogant yang Reka tunjukkan. Yang aku tangkap, dibalik sikap itu terdapat kepedulian besar didalamnya."
Ia menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya pada ulasan yang Raya sampaikan. Sebab, selama ini Reka sama sekali tak peduli dengannya. Ia sudah lelah.
"Aku yakin, jika kamu memutuskan benar-benar pergi nanti, Reka pasti akan menangis darah," kata Raya, kemudian bangkit dari kursi yang diduduki.
Ia tak menyahut lagi, hanya bisa menatapi punggung wanita itu yang berjalan dan perlahan menjauh dari posisinya.
Apa benar yang dikatakan Raya? Apa semua ini hanya masalah beda persepsi atau penilaian? Kenapa penilaian Raya seperti itu terhadap sikap Reka? Sedangkan persepsinya adalah Reka yang tidak peduli sama sekali terhadapnya juga terhadap bayi yang dikandungnya.
__ADS_1
...Bersambung ......
...Jangan lupa love, like, komen, vote dan hadiah♥️♥️♥️♥️♥️♥️...