
Tak terasa, Nev dan Raya sudah menghabiskan banyak hari di Manchester.
Mereka mengunjungi kampus Raya untuk sekedar mengenang masa lalu.
Tak lupa, mereka juga masuk ke Manchester Art Gallery (Galeri Seni Manchester). Itu adalah sebuah museum seni di jalan Mosley di pusat kota Manchester, yang mempunyai luas area 75.000 m2. Sangat luas bukan?
Galeri seni ini berisi lebih dari 2000 oil painting, 3000 lukisan warna air, 250 patung, 90 miniatur, dan masih banyak lagi.
Sebagai ibukota komersial dan budaya Lancashire, Manchester merupakan pusat seni, media, dan pendidikan tinggi yang terkenal. Sehingga, jalan-jalan kali ini tak hanya membawa kesenangan, tetapi mereka juga mendapatkan ilmu pengetahuan baru.
Nev dan Raya juga mengunjungi Trafford Centre. Trafford Centre adalah pusat belanja indoor yang besar, serta pusat hiburan dan berada di Trafford, Greater Manchester, Inggris.
Mereka berbelanja disana karena disana adalah tempat menjual kebutuhan yang sangat lengkap.
Disana mereka bisa menemukan Apple Store, H&M, departement store, dan masih banyak lagi.
Selain itu, disana mereka juga menyempatkan untuk menonton sinema film, bermain bowling, serta bermain di miniatur golf.
Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan jalan-jalan kali ini sampai pada hari terakhir di Manchester.
"Apa kamu bahagia?" tanya Nev memeluk pinggang Raya.
"Hmm, thanks ... i love you," jawab Raya tersenyum.
Nev mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. "I love you too, My wife..."
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Akhir-akhir ini, Raya kembali menyibukkan diri dengan aktifitas lamanya yaitu membuat kue kering.
Nev sudah kembali bekerja setelah mereka pulang ke Indonesia empat hari yang lalu.
Sehingga saat ini, Raya hanya bertiga di dalam rumahnya. Ada Yana dan Bi Asih yang menemaninya.
Hari ini rencananya Raya akan membawakan bekal makan siang untuk Nev ke kantor. Sekalian dia juga ingin Nev mencicipi kue kering yang baru dibuatnya.
Saat Raya ingin bersiap, ia dikejutkan sengan suara Yana yang memanggilnya dari arah depan.
"Ada tamu, Ray..." kata Yana.
Raya mengangguk, dia membuka apronnya dan menuju ke pintu utama.
"Tante El..." Raya terkejut dengan kedatangan wanita baya itu. Elyani tersenyum lembut.
"Silahkan duduk, Tant... mau minum Apa?" tanya Raya mempersilahkan wanita itu.
Elyani duduk di sofa dan menatap Raya dengan tetap tersenyum, kemudian menggeleng. "Gak usah minum, Tante mau cerita sedikit, Raya."
__ADS_1
"Memangnya ada apa, Tant?"
"Apa Tante mengganggu waktu kamu?"
Raya menggeleng.
"Maaf ya, jika Tante merepotkan. Kedatangan Tante kesini ingin menanyakan soal Citra."
"Citra? Kenapa dengan Citra?" Raya bertanya dengan dahi yang mengernyit.
"Begini, Apa Citra pernah bilang sama kamu tentang tujuan dia?"
Pertanyaan yang sangat aneh dari Elyani, bagaimana mungkin Citra bicara pada Raya tentang hal itu? Karena Raya tak sedekat itu dengan Citra.
"Enggak, kenapa dengan Citra, Tant?" tanya Raya akhirnya.
"Dua hari setelah Papa Reka meninggal, Tante mendengar Citra melahirkan bayi laki-laki. Tante dan Reka ingin mengunjunginya, tapi Citra pergi entah kemana," kata Elyani dengan raut wajah penuh sesal.
"Apa?" Raya cukup syok dengan pernyataan itu.
"Tante bertanya sama kamu karena tanpa sengaja Tante sempat melihat kalian bercakap-cakap saat di pemakaman waktu itu, siapa tahu Citra ada cerita kemana tujuan dia. Sebelumnya Tante sudah kesini untuk bertanya, tapi kamu gak ada. Makanya sekarang tante kesini lagi setelah mendengar kamu sudah pulang dari LN." Elyani berbicara dengan suara bergetar menahan tangis.
Raya pun langsung mengingat saat dimana Citra mengatakan akan meninggalkan Reka setelah bayinya lahir, tapi mana Raya tahu kemana tujuan Citra?
"Dia sempat bilang mau pergi tapi gak bilang kemana...." sahut Raya akhirnya.
Elyani menghela nafas panjang.
"Tante udah bilang sama Reka, kalau dia memang pernah melakukan kesalahan sama Citra, ya udah, dia tetap tante minta tanggung jawab! Gak peduli anak yang dikandung Citra anak Reka atau bukan...tetep Tante suruh Reka tanggung jawabi perbuatannya," isak Elyani.
Raya mengelus pelan punggung wanita itu yang tampak bergetar karena tangisnya.
"Tapi kan, Citra masih istri orang... begitu terus alasan yang Reka kasih," imbuh Elyani lagi.
"Lalu gimana dengan Reka sekarang? Apa dia mencari Citra juga?" tanya Raya.
Elyani mengangguk, "Dia cari Citra kemana-mana, tapi gak ketemu udah hampir sebulan... sekarang Reka banyak diam dirumah, melamun terus! Tante ngomong apa juga gak digubris. Kerja juga enggak," jawab Elyani semakin terisak.
"Ya ampun..." Raya sudah bisa menduga jika Reka pasti menyesali semua ini karena Raya yakin pria itu memang mencintai Citra.
"Suami Citra juga gak tahu dia kemana?" tanya Raya.
Elyani menggeleng. "Pria itu bilang, mereka sedang urus perceraian karena gugatan Citra udah dia terima sehari setelah Citra melahirkan. Dia kelihatan gak peduli dimanapun Citra sekarang."
Raya menghela nafas pelan. "Aku gak tahu Citra dimana Tant, kami gak sedekat itu untuk berbagi cerita tentang tujuan masing-masing, tapi aku akan bantu sebisa aku," jawabnya.
"Gimana cara kamu bantunya, Ray?"
"Aku bakal minta bantuan suamiku, Tant. Udah, Tante jangan pikirin ini. Tante fokus sama kesehatan Tante dan Reka aja, ya."
Elyani mengangguk. "Maaf merepotkan kamu ya, Ray. Tante gak tahu mau minta tolong siapa lagi karena selama ini Tante cuma ngandalin Almarhum Om ataupun Reka. Tapi kamu tahu sendiri, Om udah gak ada, sementara Reka seperti itu sekarang, Tante benar-benar bingung."
"Gak apa-apa, Tant. Aku bakal bantu sebisaku, tapi aku gak janji bisa nemuin Citra atau enggak."
__ADS_1
Elyani mengangguk, "Terima kasih Raya."
Raya pun meminta Bi Asih untuk membuatkan minuman untuk Elyani. Setelah memastikan Elyani dalam keadaan tenang, barulah Raya mengizinkan wanita baya itu untuk pulang.
Raya naik ke kamarnya dan bersiap-siap ke kantor Nev.
Sampai disana, kedatangannya disambut hangat oleh pria itu. Raya membantu menyajikan makanan yang dibawanya agar Nev bisa makan siang di sofa ruang kerjanya.
"Nev... apa aku boleh minta bantuan kamu?"
"Hmm...katakan..."
"Kamu masih ingat Citra, nggak?"
Nev tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk. "Kenapa dengan Citra?" tanyanya.
"Dia pergi, dia membawa bayinya dan sekarang Reka tengah terpuruk karena Citra pergi tanpa pamit dan tidak ada kabar. Tadi Tante El datang kerumah meminta bantuan," terangnya.
Nev menyuap makanannya sembari mendengarkan ucapan Raya itu. Kemudian dia berujar. "Kenapa gak lapor polisi saja biar aparat yang mencari keberadaan Citra?" tanyanya santai.
Raya menggeleng. "Aku gak tahu Nev, tapi bisakah kamu cari tahu keberadaan Citra?" pinta Raya dengan wajah memelas.
Nev tersenyum kecil, kemudian meminum seteguk air putihnya.
"Dengar sayang, dulu saja waktu kamu menghilang aku gak bisa nemuin kamu. Apalagi sekarang kamu suruh aku cari perempuan bernama Citra yang wajahnya pun aku sudah lupa," kata Nev terus terang.
Raya terdiam, ya benar yang dikatakan suaminya. Bahkan Nev hanya bertemu Citra sekali di dokter kandungan dan mungkin pernah melihat wajah Citra dari foto sekilas. Tak salah jika suaminya itu sudah lupa dengan wajah Citra.
"Tapi kan kamu punya koneksi... soal dulu kamu gak nemuin aku kan karena ada pengaruh dari Nenek yang menghalangi, kalau Citra kan lain cerita."
"Iya sih, tapi Reka aja gak bisa nemuin. Kenapa aku harus repot mencari dia?" Nev mengendikkan bahu cuek.
"Nev, jangan begitu! Citra itu pergi membawa bayinya yang masih merah, dalam artian dia gak punya pekerjaan dan hanya berdua sama bayinya.. kamu tega, Nev!" Raya berlagak merajuk dengan memanyunkan bibirnya.
Nev tertawa. "Baiklah, nanti aku minta Jimmy atau Bian mencarinya. Tapi tidak bisa janji akan cepat menemukannya ya..."
"Terima kasih sayang, kamu memang terbaik." Raya memeluk tubuh Nev dari samping.
"Kalau bisa nemuin Citra hadiahnya apa?" tanya Nev dengan wajah manjanya yang dibuat-buat.
...Bersambung ......
...Like...
...Love...
...Kopi...
...Bunga...
...Komen...
...Terima kasih🙏...
__ADS_1