
Setelah makan siang bersama, mau tak mau Airish harus mengantarkan Zio ke Bandara.
Sebelumnya, Zio ingin mengajak Airish berpamitan pada kedua orangtua gadis itu, tapi Airish menolak keinginan Zio sebab ia tak mau orangtuanya tahu bahwa ia telah bolos kuliah hari ini.
"Harusnya sebelum pulang saya pamit ke Tante dan Om Nev dulu," kata Zio disebelah Airish.
"Gak usah, nanti aku sampein salam kamu aja ke Mama Papa. Lagian kalo sekarang kita ke Apartmen, bakalan ketahuan kalau aku bolos kuliah," kekeh Airish.
Zio hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi ulasan yang Airish berikan.
Kali ini Zio tidak lagi mengemudikan mobil yang disewanya selama di Jerman, melainkan mereka sudah menaiki taksi untuk mengantarkan langsung ke Bandara.
"Apa kamu beneran harus pulang?" Airish masih tidak rela jika Zio pulang secepat ini.
"Iya, saya dikejar deadline pekerjaan." Zio menatap Airish sendu.
"Bukan karena ada cewek yang nungguin disana, kan?" Airish malah menatap Zio penuh selidik, tapi pemuda itu hanya menanggapi dengan santai disertai kekehan kecil.
"Aku serius tau!" Airish mencebik sambil melipat tangan didadanya.
Zio mengacak rambut Airish. Ia masih punya sekompi stok kesabaran untuk menghadapi sikap manja gadisnya. "Enggak, sayang!" kata Zio melegakan batin Airish. Tapi, tunggu dulu .... Zio memanggilnya apa tadi?
Menyadari ucapan Zio membuat wajah Airish merona bahkan sangat merah. Ia menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangan yang sengaja menutupi. Zio tertawa pelan melihat sikapnya itu.
"Kita udah sampai," kata Zio melihat area sekitar Bandara lewat jendela taksi.
Disaat itulah Airish membuka bekapan wajahnya sendiri, kemudian menatap Zio yang juga sudah melihat kearahnya.
"Kalau udah disana, janji satu hal sama aku!" kata Airish dengan nada pelan.
"Kamu mau saya menjanjikan apa?" tanya Zio.
__ADS_1
"Jangan selingkuh!" pungkas Airish dengan cengiran kecil.
"Saya gak akan sempat melakukan hal itu. Saya terlalu sibuk bekerja dan terlalu sibuk memikirkan kamu," gombal Zio disertai kerlingan mata.
Airish tak sanggup menahan tawanya hingga akhirnya dia tertawa lepas mendengar gombalan pemuda itu.
Mereka turun dari taksi dan masuk ke area Bandara. Sebelumnya Zio meminta taksi tetap menunggu agar nanti Airish pulang dengan menaiki taksi yang sama.
Di Bandara Zio langsung menyapa asistennya yang ternyata sudah menunggu kedatangannya disana.
Airish menatap Zio yang berinteraksi dengan sang asisten, gelagat pemuda itu sangat mencerminkan bahwa Zio adalah seorang yang bersahaja dan penuh kharisma. Airish yakin jika Zio pemimpin yang juga bijaksana.
Ah, betapa baiknya semesta mempertemukannya lagi dengan pemuda itu. Terlebih, pemuda itu adalah pasangannya. Bukankah Tuhan sangat selektif dan murah hati memberikannya pendamping seperti Zio yang nyaris menyentuh kata 'sempurna'?
Airish bersyukur dalam hatinya, ia mengagumi sekaligus merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya pada sosok yang sama. Jatuh berkali-kali pada Zio dan tak merasa bersalah dengan hal itu. Jika rasa malunya juga tak ada, serta bisa melenyapkan rasa sungkan, mungkin saat ini Airish akan lebih dulu memeluk tubuh pemuda itu sebagai salam perpisahan. Sayangnya, ia masih merasa tabu untuk melakukan hal itu lebih dulu.
"Sebentar lagi saya harus masuk," kata Zio memegang kedua pundak Airish, ia menatap lamat-lamat pada gadis yang dicintainya sejak lama itu.
"Jaga hati kamu untuk saya. Saya akan kembali kesini 6 bulan lagi untuk perencanaan pernikahan kita."
Ucapan Zio semakin membuat Airish bersedih. Itu artinya ia akan bertemu Zio 6 bulan lagi. Kenapa rasanya itu akan sangat lama dilalui.
"Apa kamu gak bisa kesini sebelum 6 bulan itu?" tanya Airish dengan menahan suatu perasaan yang membuatnya sesak bagai terhimpit.
Zio tersenyum lembut. "Saya tidak bisa menjanjikan hal itu, kecuali kamu berniat mempercepat pernikahan kita barulah saya akan langsung kesini secepatnya."
"Kenapa?"
"Karena untuk saat ini lebih baik kita menjaga jarak dulu sebelum kita benar-benar menikah. Cukup hari ini saja saya hampir hilang kendali. Lain kali, saya pastikan itu akan terjadi setelah kita menikah."
Tuhan, kenapa pemuda ini terlalu menghargainya? Ia menjadi kecil hati sebab telah memancing kekhilafan Zio sebelumnya.
__ADS_1
"Maaf," gumam Airish tertunduk. Ia menyadari kesalahannya beberapa waktu lalu.
"Saya yang minta maaf sama kamu. Sekarang saya berangkat, ya! Maaf juga, gak bisa antar kamu pulang setelah dari sini." Tangan Zio terulur dan mengusap lembut kepala Airish.
Airish mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, Zio membawa Airish dalam dekapannya, memeluknya sejenak hingga mereka dapat merasakan getaran dan debar jantung masing-masing.
Untuk pertama kalinya Zio dan Airish berpelukan dan itu terjadi tak begitu lama.
"Saya sayang sama kamu." Zio mengecup puncak kepala Airish, seolah menyalurkan seluruh kasih sayangnya disana. Disaat bersamaan Airish juga merasakan ketulusan Zio kepadanya.
Secara perlahan, Zio berjalan mundur sambil melambaikan tangan pada Airish yang menyeka airmata, tapi Airish juga memaksakan untuk tetap tersenyum didepan Zio.
Sampai pada batas tertentu, barulah Zio berbalik arah dan benar-benar meninggalkan Airish untuk memasuki pesawatnya.
Sementara itu, Airish menatapi punggung sang pemuda yang perlahan menjauh dari pandangannya, sampai akhirnya sosok Zio benar-benar sudah tak nampak lagi dipelupuk matanya.
Disitulah Airish baru merasakan himpitan hati yang kembali membuatnya sesak. Belum lama Zio meninggalkannya, ia sudah merasa merindukan sosok itu.
Dengan gontai Airish berjalan menuju kaca besar yang ada disisi lain Bandara. Melihat pemandangan yang menampilkan pesawat yang membawa Zio tampak baru saja lepas landas diudara.
Airish membelai kaca bening itu, seolah bisa menggapai Zio diatas sana. Sampai ketika Airish tak bisa lagi melihat pesawat itu karena lambat laun sudah semakin terbang dan menjauh diatas langit, barulah ia memutuskan untuk kembali pulang.
Sepanjang perjalanan pulang menuju Apartmen airmata Airish tidak mau berhenti. Kenapa ia harus berlebihan sekali terhadap kepergian Zio?
"Tenang ya, Rish... 6 bulan itu gak akan lama," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Sementara di lain sisi, Zio yang sudah duduk di kabin pesawat melihat pada ponselnya yang sudah diaktifkan dengan mode pesawat. Ia belum bisa menghubungi Airish walau sebenarnya sangat ingin tapi ia harus sabar sampai pesawatnya mendarat. Ia hanya bisa memandangi wajah cantik Airish dari foto gadis itu yang dijadikan sebagai wallpaper ponselnya.
"Kenapa saya udah merindukan kamu?" Zio malah terkekeh, tapi jauh di lubuk hatinya ia memang mulai merasa terbiasa dengan kehadiran Airish hingga tak heran jika kini ia sudah merindukan sosok itu.
******
__ADS_1