PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
96 - Menjadi lebih baik


__ADS_3

Raya terkesima saat mendengar penuturan Nev. Dalam hati, ia berdoa semoga segala kejadian yang menimpa keluarganya ini memang akan menimbulkan hikmah untuk pernikahannya dengan sang suami.


Sambil menunggu Nev keluar dari kamar mandi, ia pun bangkit, menuju walk in closet dan mencari satu stel baju bersih lengkap dengan sebuah sarung untuk dikenakan oleh suaminya.


Entah kenapa perasaannya menghangat begitu mendengar ucapan Nev tadi.


"Sayang, kamu tunggu aku, ya. kita berjamaah saja..."


Ia tidak tahu kenapa hati Nev bisa terketuk hari ini. Padahal dari dulu ia sering mengingatkan suaminya itu dan akan senang saat melihat Nev membentangkan sajadah.


Semoga saja Nev akan terus seperti ini, bisik hatinya senang.


Ia meletakkan baju Nev diatas meja dan kembali kedalam ruang kamar, duduk menunggu diatas sajadahnya yang sekarang berada tepat dibelakang sajadah suaminya yang sudah ia bentangkan.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Keluar dari kamar mandi, Nev mendapati Raya yang sudah terduduk di pojok kamar lalu menatapnya dengan senyuman.


"Kayaknya aku bakal cepat sembuh, nih..." kata Raya pelan.


"Kenapa?" tanyanya sekilas.


"Karena dapat imam ganteng," celetuk Raya membuatnya terkekeh kecil. Ia memasuki ruang ganti dan memakai pakaian yang ternyata sudah disiapkan istrinya.


Begitu ia keluar dari sana dan memasuki ruang kamar, ocehan Raya kembali terdengar.


"Tuh kan, imamnya makin ganteng kalau pakai sarung."


Ia hanya terkekeh malu mendengar kelakar istrinya itu.


"Suamiku selalu ganteng ih, gak mesti pakai jas. Pakai sarung juga tetap kasep ieuh ..." kata Raya terkikik di balik tubuhnya yang sudah berdiri beralaskan sajadah.


"Ini gombalnya sampai kapan?" tanyanya menoleh kebelakang sekilas.


Raya mengulumm senyum sembari mengangguk-anggukkan kepala pertanda siap melaksanakan ibadahnya.


Ia pun mulai mencoba fokus, beristighfar lebih dulu, barulah mengumandangkan iqomat sejenak, lalu berlanjut melakukan sholat subuh berjamaah dengan sang istri.


Baru kali ini, ia tertegun dengan perasaan yang sulit dijabarkan, saat Raya mencium punggung tangannya selepas ibadah berjamaah.


Inikah yang dinamakan ketenangan? Ketenangan yang tidak ia dapatkan selama ini?


Perasaannya langsung menghangat seketika, sebab akhirnya ia bisa mengimami Raya dengan cukup baik. Rasanya berkali-kali lipat dari sekedar kelegaan yang sempat ia cari-cari.


Ia menatap Raya yang mulai menanggalkan mukena.


"Gimana keadaan kamu? Ada perubahan enggak?" tanyanya mendekat dan memegang dahi istrinya sekilas.


"Alhamdulillah, udah gak panas," katanya tersenyum.


Raya mengangguk. "Kan udah dibilang, bakal cepat sembuh karena sholatnya berjamaah bareng imam ganteng," kelakar Raya.


"Kamu udah pintar gombal ya, sekarang ..." cibirnya terkekeh.

__ADS_1


"Belajar dari siapa dulu dong ..." sahut Raya pongah.


"Dari siapa?" tanyanya.


"Dari kamu dong...." jawab Raya bangga.


Ia tertawa dan mengacak-acak rambut sang istri dengan gemas.


"Hari ini kamu ke kantor?" tanya Raya.


Ia menggeleng, belum ada semangat untuk beraktifitas seperti sedia kala.


"Aku mau jagain istriku saja dirumah."


"Aku udah sehat, kok. Beneran." kata Raya mengacungkan jari membentuk huruf V.


"Ya, tapi aku belum mau kerja, Sayang..."


"Oke..." sahut Raya.


Mereka berdua naik ke ranjang dan duduk berdampingan dengan menyandarkan tubuh ke headboard.


"Apa yang kamu rasakan?" tanyanya, ia ingin memulai menelisik perasaan Raya setelah kejadian ini, ingin melakukan saran yang sempat Dokter Kania berikan padanya.


Raya mengernyit menatapnya. "Maksudnya?" tanya wanita itu.


"Setelah kejadian ini, apa yang kamu rasakan? Selain sedih tentunya..."


Raya terdiam kemudian menundukkan kepala.


"Begini?"


"Iya, begini. Habis subuhan, kita saling cerita tentang apa yang kira-kira menjadi beban pikiran kita, apa yang menyakiti kita dan apa yang membuat kita tidak bersemangat. Aku ingat, waktu kita masih bulan madu, kamu selalu mengingatkan jika kita harus saling terbuka satu sama lain dan aku sudah setujui itu. Bisakan kita mulai semuanya lagi dari awal? Jangan ada hal yang kamu simpan dan menjadi beban untuk kamu sendiri..."


"Tapi Nev..."


"Paling tidak, ceritakan apa yang kamu rasakan. Aku ingin ikut menanggung beban itu bersama-sama dengan kamu."


Raya menyandarkan kepala dibahunya, kemudian menatap kearah langit-langit kamar.


"Aku ... belum bisa ikhlas menerima semua ini, Nev..." lirih Raya.


Ia mengangguk, memahami apa yang Raya rasakan.


"Aku berharap semua ini hanya mimpi saja, aku ingin terbangun dari mimpi buruk ini. Tapi ternyata ini semua kenyataan, Nev..."


Ucapan Raya itu bagai menyanyat-nyayat hatinya. Ia pun menginginkan semua ini hanyalah mimpi buruk saja, tapi apalah daya, semua ini memang ujian untuk pernikahan mereka.


"Aku paham, tapi kamu harus ingat jika semua yang terjadi dan menimpa keluarga kita, itu adalah ujian semata-mata karena kamu sanggup melewatinya. Kita, pasti mampu melewatinya." Ia hanya bisa memotivasi Raya dengan kalimat seadanya yang ia miliki.


"...kamu gak boleh meratapi hal ini lagi, kamu harus optimis dan memandang kedepan. Karena hidup kita gak berhenti sampai disini, Sayang. Selama kita masih diberi umur, maka kita masih bisa mengubah semuanya dan memperbaiki diri. Mungkin belum saatnya untuk kita diberi amanat itu, kedepannya kita bisa memikirkan rencana lain yang jauh lebih indah untuk hidup kita. Anggap semua ini pelajaran besar untuk kita berdua," imbuhnya bijak.


Raya menoleh padanya dengan wajah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Makasih, kamu selalu ada buat aku." kata Raya memegang sisi wajahnya.


Ia hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kalau kondisi kamu sudah beneran membaik, gimana kalau kita jenguk Mama hari ini?" ucapnya memberi usul.


Raya mengangguk semangat.


"Dan setelah itu..." Ia ragu melanjutkan kata, ia ingin mengajak Raya ke polres untuk menjadi saksi, agar kasus ini segera selesai, karena ia sudah tak sabar ingin melihat Feli dan Roro dijatuhi hukuman telak saat di pengadilan.


"Kenapa? Setelah itu kamu mau ajak aku kemana lagi?" tanya Raya.


Mau bagaimanapun, ia harus segera menuntaskan hal ini dan tidak bisa selamanya menyembunyikan kenyataan.


"Aku mau ajak kamu ke Polres," akunya.


"Tapi katanya aku gak boleh temui Feli dan Roro..."


"Ya memang bukan untuk menemui mereka," jawabnya.


"Lalu?"


"Memberikan keterangan..."


"Keterangan?"


Ia mengangguk. "Polisi butuh keterangan kamu segera, agar kasus ini bisa cepat diusut dalam penyelidikan mereka. Jadi mereka akan menanyai kamu tentang apa yang terjadi dan apa yang kamu ketahui saat di TKP," paparnya susah payah.


Raya terdiam. Entah apa yang ada dipikiran wanita itu sekarang.


"Aku tahu kamu gak akan siap menceritakan detail kejadian itu sama Polisi, Sayang. Makanya dua hari ini aku tahan-tahan kamu, hingga belum bisa memenuhi undangan dari kepolisian," ujarnya terus terang.


"...aku memahami kondisi kamu, aku tahu kamu sedang down dan mengingat kejadian itu pasti buat perasaan kamu sakit, jadi aku baru mengatakannya sekarang sama kamu perihal undangan ini," imbuhnya.


Raya mendekapnya, kebiasaan yang selalu terjadi akhir-akhir ini. Dan ia mengelus lembut rambut Raya yang tergerai.


"Aku akan datang kesana dan menceritakan detailnya." kata Raya dalam dekapannya.


"Benarkah? Apa itu tidak akan menyakiti kamu nanti?"


Ia bisa merasakan jika Raya menggeleng di dadanya.


"Mungkin itu akan menyakitkan, Nev. Tapi lebih baik kan... jadi kasusnya cepat tuntas dan mereka bisa menjalani hukuman yang setimpal."


"Kamu yakin?"


"Aku yakin Nev, akan sakit memang, tapi aku juga gak mau ... gara-gara kurangnya kesaksian dariku membuat Feli dan Roro bebas begitu saja," kata Raya terdengar sangat menekankan kata-kata.


"Mana mungkin aku membiarkan mereka bebas, Sayang." jawabnya serius.


Kalaupun ada kejadian mustahil yang menyebabkan Feli dan Roro bebas atau melarikan diri, ia akan mengejar mereka sampai dapat dan terpaksa menghabisi dua wanita itu dengan caranya sendiri.


...Bersambung ......

__ADS_1


...Jangan lupa love, like, komen, vote dan hadiah♥️...


__ADS_2