
Sepulang dari acara lamaran Airish dan Zio, Rahelsa mengantar Aarav sampai ke kamar, kemudian wanita itu masuk ke dalam kamar mandi. Namun, begitu ia selesai membersihkan diri-- ia tak mendapati suaminya berada di sekitar kamar mereka.
"Aarav? Kamu dimana?"
Rahelsa khawatir, karena Aarav belum terlalu fasih berjalan. Ketika berkunjung ke Apartmen Mama dan Papa tadi juga masih ia bimbing dengan merangkul tubuh suaminya itu.
"Sayang? Ayo aku bantuin bersih-bersih. Abis itu kita tidur," kata Rahelsa sedikit memekik sambil berjalan keluar kamar demi mencari Aarav.
Rahelsa melihat keadaan ruang tv yang senyap, begitu pula dapur dan area ruang tamu, tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya itu. Rahelsa pun berinisiatif mencari Aarav di studio melukis namun ternyata Aarav juga tidak disana.
"Sayang.... kamu dimana?" batin Rahelsa mulai cemas. Tidak mungkin Aarav bisa pergi secepat ini karena jalannya pun masih tertatih.
Semua ruangan sudah dicarinya. Hanya ada satu tempat yang belum ia datangi yaitu rooftop. Tapi, apa mungkin Aarav bisa kesana? Rahelsa meragukan, sebab Aarav tak mungkin bisa menaiki tangga yang undakannya lumayan banyak untuk naik menuju ke atas.
Karena tak ada pilihan lain, akhirnya Rahelsa mulai menaiki anak tangga satu persatu meski ia tak yakin Aarav berada disana.
Setibanya di Rooftop, Rahelsa melongo melihat seorang lelaki yang berdiri tegap membelakangi posisinya. Lelaki itu tampak menatap bayangannya sendiri yang ada di kolam renang. Ya, dia adalah Aarav. Tampak santai dengan memasukkan satu tangan kedalam saku celana bahan yang masih dikenakan.
"Sa-yang?" Rahelsa memanggil dengan ragu, namun sosok lelaki itu menoleh padanya sembari menyunggingkan seutas senyum yang khas.
"Aarav? Ini--ini beneran ka-kamu?" Rahelsa tergagap, apa yang kini ada dihadapannya tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Aarav tidak merespon dengan suara melainkan dengan sebuah anggukan pelan.
"Kamu--- gimana bisa kamu nyampek ke Rooftop? Gimana caranya?" Rahelsa mendekat pada posisi Aarav kemudian membingkai wajah suaminya dengan jari jemarinya lalu menyelidik seluruh sisi wajah Aarav dengan sorot mata yang ingin tahu.
Aarav tertawa pelan. "Maaf ya," katanya singkat.
"Maaf? Kenapa minta maaf?".
"Udah buat kamu cemas. Kamu pasti cari-cari aku, ya?"
"Huum. Tapi, gimana kamu bisa disini? Kamu belum jawab pertanyaan aku, Sayang."
Aarav mendekap Rahelsa lalu membawa perempuan itu kedalam pelukannya.
"Aku sebenarnya udah bisa jalan dengan lancar" bisik Aarav ditelinga Rahelsa.
Sontak saja Rahelsa terkejut, ia beringsut agak melerai jarak agar bisa melihat raut wajah suaminya. "Kamu? Yang bener?" tanyanya seolah tak percaya.
"Iya, buktinya sekarang aku ada disini kan, ngejutin kamu."
Rahelsa diam beberapa saat, sampai ia mencerna semua yang benar-benar terjadi.
__ADS_1
"Aku.... gak lagi mimpi, kan?" Rahelsa mencubit lengannya sendiri, alhasil ia mengaduh kesakitan.
"Duhh! Aku gak mimpi?" Rahelsa melepas tautan tangan Aarav yang masih melingkari pinggangnya. "Aku gak mimpi, serius?"
Aarav hanya terkekeh pelan menanggapi istinya itu.
"Tapi, sejak kapan? Tadi di Apartemen mama aja kamu masih aku bantuin jalannya," kata Rahelsa heran dan mengernyit dalam.
"Sejak seminggu yang lalu sebenarnya aku udah bisa jalan dengan lancar, sayang." Aarav berkata dengan lembut namun ucapan itu seolah menyadarkan Rahelsa akan sesuatu.
"Jadi, kamu bohongin aku seminggu ini?"
"Gak gitu...."
"Lah, terus? Kamu aja aku bantuin jalannya, kan?"
"Ya karena kemarin-kemarin aku ragu dan masih belum biasa aja jalan sendiri."
"Gak! Kamu bohongin aku!" Rahelsa mencebik.
"Maaf, sayang. Gak maksud gitu...." Aarav mencoba membujuk Rahelsa dengan memeluknya kembali, seketika itu juga Rahelsa langsung luluh dan tersenyum senang. Yang terpenting baginya sekarang adalah Aarav sudah benar-benar sembuh seperti sedia kala.
"Oke deh, aku gak marah." Rahelsa membalas pelukan Aarav, ia bersandar di dada bidang lelaki itu.
Percayalah, tempat ternyaman bagi seorang istri adalah dalam pelukan suaminya. Merasa dilindungi sekaligus paling disayangi melebihi apapun di dunia ini.
"Huum, sekarang aku mau lihat kamu jalan. Coba mondar-mandir sekarang didepan aku!" Rahelsa mendongak menatap Aarav dan menyatakan permintaannya itu.
"Oke, boleh! Tapi nanti ada bayarannya, ya!"
"Dih, suami gantengnya aku perhitungan banget sih!"
Aarav terkekeh mendengar Rahelsa memuji sekaligus mencibirnya.
"Mujinya gak usah pake ngejek juga, sayang!" kata Aarav.
"Ya siapa suruh minta bayaran."
"Bayarannya kan beda." Aarav mengerling genit dan Rahelsa memutar bola matanya jengah, tapi sesaat kemudian mereka terbahak bersama-sama.
Rahelsa benar-benar menuntut permintaannya pada Aarav dan lelaki itupun menuruti. Aarav sudah seperti model yang berjalan diatas catwalk.
"Udah, belom?" Aarav menatap Rahelsa menunggu respon istrinya itu.
__ADS_1
"Belum, coba muter, yank...." katanya.
Aarav berputar-putar sesuai arahan Rahelsa. Tindakan mereka sudah seperti mentor yang sedang mengajari anak didiknya. Aarav sesekali menggaruk kepalanya yang tak gatal, tapi berikutnya tetap mengikuti permintaan yang diajukan Rahelsa. Mulai dari berjalan, melompat pelan sampai berputar dan bergaya dengan berbagai pose.
"Udah puas kan ngerjain suaminya?" Aarav menatap datar pada Rahelsa yang tampak terkikik bahagia.
"Udah, udah, cukup deh...." Rahelsa menutupi mulutnya dengan tangan sebab tak bisa menahan tawa yang keluar terus menerus, ia terbahak senang.
"Seneng banget kayaknya ngerjain aku!" cebik Aarav.
"Senengnya bukan karena itu. Yang paling buat aku senang itu adalah kamu udah bisa jalan normal lagi. Ini sebuah kejutan paling indah dalam hidup aku."
Aarav tersenyum tampan melihat istrinya yang mematut wajah riang.
"Sini dong istrinya aku, kan selama ini belum pernah aku peluk sambil berdiri gini..." Aarav membentangkan tangannya demi menyambut Rahelsa dalam pelukan kembali.
"Aku seneng banget, Rav!"
Aarav mengangguk.
"Makasih ya kamu udah nemenin aku sampai ke tahap ini. Istriku paling sabar, paling bijak dan paling menerima segala tentangku, baik dan buruknya aku...."
"Harus dong!" Rahelsa mengusel-ngusel dada Aarav dengan manja dalam pelukan lelaki itu.
"Yank, geli tau!" protes Aarav, tapi Rahelsa justru semakin melanjutkan. Kini Rahelsa malah mendongak dan mengecup leher Aarav.
Aarav terkekeh tak bisa menyembunyikan tawa karena gelenyar geli yang muncul akibat perbuatan istrinya itu.
"Udah ya, yank! Aku udah bisa gendong kamu ini, jangan mancing-mancing!"
Rahelsa tertawa kembali. "Iya-iya," katanya lalu melepaskan pelukan mereka berdua.
"Yaudah, sekarang kita tidur, yuk! Angin malamnya juga makin lama makin dingin."
Mereka berdua pun turun bersamaan menuju kamar utama. Tapi, mata Rahelsa tak lepas dengan memperhatikan gerak gerik Aarav yang sudah tampak biasa seperti sedia kala. Ia sangat bersyukur dengan hal ini. Akhirnya segala penantiannya untuk kesembuhan Aarav terbayar sudah.
"Alhamdulillah, aku senang banget... nanti pas pernikahan Airish kamu udah bisa jalan dengan lancar kayak begini."
"Iya, sayang. Aku juga gak pernah menduga semua ini udah terlewati."
"Berarti kamu udah lulus salah satu ujian hidup, sayang...." kata Rahelsa.
"Kamu juga udah lulus salah satu ujian selama menjadi istri aku, malah kamu dapat nilai cumlaude, sayang!" Aarav membingkai wajah cantik Rahelsa dan menyentuhkan hidungnya dihidung mancung milik Rahelsa.
__ADS_1
"Terima kasih, istriku." Aarav menutup malam dengan sebuah kecupan hangat yang mendarat di bibir istrinya.
******