PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Aku sudah bertunangan


__ADS_3

Rahelsa kuliah seperti biasanya, dia bersikap profesional dalam menghadapi Zack sebagai model untuk memeragakan desain rancangannya.


"Apa ada bagian yang kurang nyaman?" Rahelsa mendongak menatap pada wajah Zack yang lebih tinggi darinya. Dia menanyakan tentang baju yang sudah dikenakan oleh pemuda itu.


Zack membalas menatap Rahelsa, ia pun menggeleng dengan senyuman menlengkung.


"Kau bisa mengatakan bagian mana yang tidak nyaman, aku akan memperbaikinya." Rahelsa berucap serius namun lagi-lagi Zack hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Ya sudah, ku anggap senyummu itu sebagai jawaban bahwa bajunya sudah nyaman." Rahelsa siap berbalik dan ingin keluar dari ruang kostum namun Zack segera menarik lengan gadis itu.


Rahelsa melotot dan langsung menepis tangan Zack.


"Don't touch me!" ucap Rahelsa tegas. Zack justru semakin menyunggingkan senyum melihat penolakan gadis itu kepadanya.


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa dibagian ini bajunya terasa agak ketat." Zack menunjuk bagian lengan atasnya. Rahelsa pun berdecak keras, namun segera memperhatikan bagian yang Zack maksudkan.


"Tadi aku sudah menanyakan mana bagian yang tidak nyaman namun dia hanya senyum senyum saja seperti orang gila," batin Rahelsa mengutuk sikap Zack itu.


"Maaf," kata Rahelsa saat menyentuh lengan Zack yang berotot demi memperbaiki ukuran baju itu.


"Tidak apa, aku senang kau menyentuhku," ucap Zack dengan seringaiannya. Rahelsa berdecih pelan karena hal itu, sebenarnya dia tidak begitu menyukai sikap Zack yang senang mengodanya. Dia hanya menghargai Zack sebagai rekan project nya, ditambah lagi karena pemuda itu adalah sepupu dari Alice, salah satu teman dekatnya dikelas.


Dua Minggu lagi mereka akan melakukan gladiresik untuk persiapan fashion week yang akan dilakukan diakhir bulan nanti, jadi semua pakaian yang akan dipamerkan dalam acara itu sudah harus dirancang dengan ukuran tubuh dari masing-masing model. Sehingga mau tak mau Rahelsa harus berinteraksi dengan Zack.


____


Rahelsa ingin keluar dari area kampus. Sudah duduk dibalik kemudi mobil bahkan sudah menyalakan mesin mobilnya, namun ketika mobil itu baru bergerak beberapa meter, ban mobilnya terasa kempes. Gadis itu segera menepikan mobil dan keluar saat itu juga.


Rahelsa melihat keadaan ban mobilnya yang kempes dan saat itu juga ia mengeluh panjang. Masalahnya bukan cuma disitu, karena perkiraannya yang akan pulang sore sudah melewati batas sebab sekarang sudah gelap. Area kampus bahkan tak seramai saat siang hari. Ia terlalu sibuk merancang dan mengukur desain sehingga melupakan waktu.


"Haisss...." Rahelsa menggerutu pelan. Sekarang ia hanya punya beberapa pilihan. Pertama memesan taksi online, atau yang kedua ia harus menelepon sang papa untuk menjemputnya di area kampus.


Rahelsa melakukan metode pertama, namun dia justru mendapatkan ponselnya dalam keadaan low battery, alhasil dia juga tak bisa melakukan metode kedua.


Dengan rasa kesal bercampur lelah sebab sudah hampir seharian penuh berada di kampus, akhirnya Rahelsa memilih untuk berjalan kedepan gerbang meninggalkan mobilnya yang tidak mungkin ia kendarai. Barangkali didepan kampus ia akan menjumpai taksi non online yang bisa iya naiki untuk mengantarnya pulang.


Tin tin tin ....


Rahelsa menoleh pada pemilik mobil yang mengklaksonnya. Dia mendapati mobil sport berwarna putih disana. Sesaat kemudian kaca mobil itu diturunkan dan Rahelsa melihat pada pengemudi mobil.


"Mau ku antar?"


CK! Dia lagi. Rahelsa membatin kala menatap pada sosok Zack yang ada dibalik kemudi mobil itu.


Rahelsa menggeleng tanpa menolak.


"Come on! Aku akan mengantarmu, sudah malam."


"Aku tidak percaya padamu!" kata Rahelsa terus-terang.


Mendengar itu, Zack terkekeh dari posisinya. "Kau benar! Aku memang tidak boleh dipercaya," jawabnya dengan senyum tengil.


Rahelsa menggerutu, namun dia tidak punya pilihan lagi saat melihat sekeliling yang sudah senyap.

__ADS_1


"Jangan terlalu lama berpikir, Nona!" sarkas Zack.


Akhirnya Rahelsa membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil milik Zack. Zack menghela nafas seolah penuh kelegaan.


"Pilihan yang tepa! Jika kau telat berpikir maka aku akan meninggalkanmu tadi," ucap Zack dengan senyuman miring sembari mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Rahelsa hanya membuang pandangan kearah luar jendela, tak ingin menanggapi ucapan Zack.


Hening.


"Kau ingin aku mengantarmu kemana?" tanya Zack memastikan.


"Aparion Apartment," jawab Rahel merujuk pada tempat tinggal Aarav, sebab ia sudah izin pada kedua orangtuanya untuk tinggal disana beberapa waktu sampai Aarav mendapat keputusan.


Zack mengangguk, kembali fokus mengemudikan mobilnya.


"Aku tertarik padamu, Rahel." Tiba-tiba Zack bersuara setelah keheningan yang sempat tercipta diantara mereka.


"Lupakan hal itu!" kata Rahelsa tak acuh.


"Why?"


"Aku sudah bertunangan," jawab Rahelsa sembari memperlihatkan cincin di jemarinya pada Zack. Zack tertawa pelan.


"Apa kau pikir aku akan percaya?" tanya Zack dengan nada mencibir.


"Terserah, kau akan kecewa jika mengharapkan ku!"


Zack menggelengkan kepalanya mendengar penolakan tegas Rahelsa itu.


"Ya, aku akan menikah dalam waktu dekat!" ucap Rahelsa percaya diri.


"Wuhuu... sepertinya aku ketinggalan hotnews, apa kau yakin ingin menikah muda?"


Rahelsa mengangguk cepat. Ia sangat menyakini niatnya untuk segera menjadi istri Aarav walau sampai saat ini Aarav masih berpikir tentang kelanjutan pertunangan mereka namun Rahelsa yakin jika Aarav akan segera memberi keputusan yang tidak akan mengecewakannya. Terserahlah Aarav hanya menyayanginya sebagai adik atau apa, yang jelas Rahelsa tidak terpikir membina rumah tangga dengan sosok pria yang lainnya.


"Baiklah, tapi... apa kau tidak mau bermain-main dulu sebelum menikah?" tanya Zack.


"Apa maksudmu?"


"Kita bisa bersenang-senang sebelum kau mengakhiri masa lajangmu!" Zack terkekeh lagi diujung kalimatnya.


"You're crazy!" ucap Rahelsa pelan namun Zack masih bisa mendengarnya.


"Haha, aku bersedia menjadi rekanmu untuk bersenang-senang, Rahel."


"Jangan gila, Zack! Hal itu tidak ada dalam list kehidupanku!" Rahelsa tersenyum kecut.


Mobil yang dikendarai Zack akhirnya tiba di Apartmen yang dinaungi keluarga Aarav.


"Apa aku bisa mengantarmu sampai ke dalam?"


"Untuk apa?" tanya Rahelsa dengan kernyitan dalam.

__ADS_1


"Aku ingin kenal dengan keluargamu."


"No! Ini tempat tinggal calon suamiku."


"Wah, kalian tinggal bersama?" Zack merasa spechless dengan hal ini.


"Ya, apa masalah buatmu?" tanya Rahelsa menantang.


Zack hanya tertawa pelan.


"Baiklah, aku turun. Terima kasih atas tumpangannya." Rahelsa pun turun dari mobil Zack.


Rahelsa memasuki lobby Apartmen dan begitu terkejut mendapati Abrine dan Aarav sudah berada disana.


"Aarav?"


_____


Zack ingin mengemudikan mobilnya lagi setelah Rahelsa keluar, namun ia tak sengaja melihat ponsel Rahelsa yang tertinggal di jok mobilnya.


"Dasar ceroboh," gerutu Zack. Mau tak mau ia menepikan mobilnya dan keluar demi bisa mengejar Rahelsa dan mengembalikan ponsel gadis itu.


Zack berlari kecil sampai ia masuk ke lobby gedung Apartmen, namun langkahnya melambat kala melihat Rahelsa tengah berbicara pada seorang pria yang duduk di kursi roda dan seorang gadis lainnya disana.


Siapa mereka?


"Rahel..." Zack mencoba menyapa Rahelsa sembari menunjukkan ponsel milik wanita itu.


Rahelsa melihatnya. "Oh, tertinggal ya?"


Zack mengangguk sembari menyerahkan ponsel milik Rahelsa.


"Kau?" Pria di kursi roda menyapa Zack dan saat itu juga Zack menyadari jika ia pernah bertemu pemuda ini sebelumnya, beberapa saat lalu saat dikampus. Pria yang mengatakan bahwa dia adalah kerabat Rahelsa.


"Ya, tadi aku mengantar Rahel pulang, tapi ponselnya tertinggal di mobilku," jelas Zack.


Pemuda yang duduk di kursi roda itu segera menatap Rahelsa tajam, namun sepersekian detik berikutnya ia berlalu tanpa sepatah kata lagi, ia mendorong kursi rodanya secara mandiri menuju lift yang ada disisi kiri.


"Te-terima kasih, Zack." Rahelsa tampak gugup, kemudian mengejar pemuda tadi menuju lift.


Zack terbengong dalam pemikiran yang bingung.


"Kau Zack, kan?" Gadis lain yang juga berada disana lah yang kini menyapanya. Terdengar ramah namun senyumnya seakan tak menyukai keberadaan Zack disana.


"Ya... kau temannya Raymond, benar?"


Gadis itu mengangguk. "Benar, aku Abrine. Kau ada hubungan dengan Rahel?" tanyanya kemudian.


"Maunya begitu, tapi sepertinya Rahel tidak tertarik padaku." Zack tersenyum tipis.


"Baguslah, Rahel adalah tunangan kakakku."


"Kakakmu?"

__ADS_1


"Ya, lelaki yang tadi itu kakakku. Jangan mencoba mendekati Rahel lagi atau kau akan berurusan denganku!" ucap Abrine dengan tegas sambil berlalu dari hadapan Zack.


__ADS_2