PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Antara Ayah dan putrinya


__ADS_3

Menjelang hari pernikahan yang tinggal menghitung hari, Airish pun tak mau membuang waktu, ia langsung mengajukan libur kuliah untuk waktu beberapa hari kedepan.


Meski tak mendapat banyak jatah libur sebagai mahasiswa akhir, namun ternyata kampusnya memberi izin libur khusus untuk Airish selama dua hari-- setelah pernikahannya.


Ya, dua hari saja. Kendati demikian, Airish tetap merasa bersyukur sebab ia mendapatkan izin libur dadakan itu, tanpa mengganggu jadwal kuliahnya sama sekali. Untungnya kampus dan jurusan yang ia pilih memang sangat fleksibel.


Setelah menikah nanti, Airish dan Zio sudah sepakat akan tinggal di Jerman selama beberapa saat sampai Airish benar-benar wisuda. Barulah Airish akan ikut diboyong Zio untuk kembali ke tanah air.


Akan tetapi, menjelang pernikahan ini-- Airish dan Zio sengaja tidak dipertemukan oleh kedua belah pihak keluarga. Mereka hanya akan bertemu disaat hari H. Keduanya setuju karena itu sudah menjadi kesepakatan dari kedua keluarga mereka. Kendati demikian, mereka tetap melakukan panggilan video untuk melepas kerinduan sesaat.


______


Hari ini, Airish tetap kuliah seperti biasanya. Ia diantarkan oleh sang Papa.


Papa Nev sepertinya juga ingin menghabiskan waktu dengan Airish--disaat status sang anak masih utuh menjadi tanggung jawabnya, karena kelak, beberapa hari lagi, Airish akan segera melepas masa lajang--dan secara harfiah-- segala tanggung jawab sang papa juga akan berpindah ke pundak Zio sebagai suami dari Airish nantinya.


Sepulang kuliah, Papa Nev kembali menjemput Airish didepan kampus. Airish senang dengan hal ini, Papaya adalah sosok pria yang selalu membuatnya jatuh cinta.


Cinta pertama seorang anak perempuan sudah pasti adalah ayahnya. Kiblat mencari jodoh, pasti tak lepas dari bayang-bayang sang ayah. Baik ingin yang seperti ayah atau justru yang lebih baik daripada ayah. Ayah adalah patokan untuk sebuah pilihan bagi putrinya, kelak. Demikian pula untuk anak lelaki, ayah adalah contoh nyata yang akan ditirunya. Baik ingin menjadi sosok seperti ayah atau bahkan membuktikan bahwa ia bisa jauh lebih baik dari pada ayah.


Airish tidak pernah memilih siapa yang akan menjadi ayahnya, tidak juga bisa menentukan siapa sosok ayah dalam hidupnya, tapi beruntungnya ia mendapatkan sosok papa seperti Papa Nev. Kasih sayang Papa terhadapnya-- bisa ia rasakan dengan nyata--sejak dulu, meskipun Papa Nev sering menutupi sikap lembut dan penuh kasihnya itu-- dengan sikap tegas dan penuh kewibawaan.


Airish bukan tak bisa melihat binar bahagia sekaligus kesedihan dimata sang papa saat ini-- sejak tahu ia akan segera melepas masa lajang.


"Pa, makasih ya udah anter jemput Airish hari ini," kata Airish sembari memasang sabuk pengaman disebelah Papa Nev.


"Hmm..." Papa Nev mengangguk singkat, Airish melirik dari sudut matanya, entah kenapa ia melihat raut kesedihan itu lagi di wajah tampan sang papa.


"Papa, gak kenapa-kenapa, kan?"


"Gak, gak apa-apa."


"Papa gak lagi sakit, kan? Atau vertigonya kambuh lagi ya, pa?"


Belakangan hari memang Papa Nev sering mengalami vertigo yang membuat keluarga mereka cemas. Namun, Papa adalah papa. Papa selalu bersikap baik-baik saja didepan anak-anaknya.


"Enggak, Rish."


Mobil pun mulai berjalan dalam kecepatan sedang.


"Pa, Airish boleh nanya sesuatu, gak?"


"Ya tanya aja, sayang."

__ADS_1


"Papa sedih ya karena sebentar lagi Airish menikah terus bakal ninggalin Papa?"


Sontak saja pertanyaan Airish membuat Papa Nev menatapnya walau sejenak.


"Kalau soal itu, gak usah dibahas ya, nak."


Airish mencebik, keyakinannya mengatakan bahwa saat ini sang Papa benar-benar tidak baik-baik saja. Dari pagi Papa memang tampak berbeda. Biasanya Papa akan mau mengantar Airish berbarengan dengan Abrine, tapi hari ini Papa seolah hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Airish. Mengantar kuliah, bahkan kembali menjemput seusai pulang kuliah. Biasanya, jika Papa sudah mengantar, pulangnya Airish akan menaiki taksi atau kendaraan umum. Begitupun sebaliknya. Tak pernah antar-jemput seperti ini. Paling mentok, jika diantar-jemput pun sama sopir.


"Papa... ada yang mau diomongin sama Airish, ya? Kalau iya, nggak apa-apa, papa ngomong aja. Airish bakal dengerin, kok."


Terlalu kaku. Itulah Papanya. Terkadang Airish bisa memaklumi sikap Papa yang sulit berterus terang tentang apa yang dirasakan. Terkecuali dengan Mama-- barulah Papa bisa bersikap terbuka. Itulah yang membuat Airish mencoba memahami apa yang ingin sang papa bicarakan padanya saat ini. Ia bukan menuntut, melainkan mencoba mencari jalan agar papa mau terbuka padanya.


"Kamu .... memangnya mau jalan bareng papa hari ini?" Pertanyaan Papa Nev terdengar ragu-ragu dan tak yakin.


"Ya, mau lah, Pa. Ayo! Kita ngedate berdua hari ini." Airish terkikik diujung kalimatnya. Ia senang karena Papanya sudah mulai mau mengutarakan keinginan.


_______


"Kamu ....memangnya mau jalan bareng Papa hari ini?"


Pertanyaan singkat yang selalu sulit ia utarakan pada sang Anak. Nev hanya tidak mau mengecewakan diri sendiri. Anak-anak sudah dewasa, sudah memiliki waktu berharga yang mungkin jika ia mengutarakan keinginannya maka anak akan menolak demi menunaikan hal lain yang lebih penting daripada menemaninya. Nev jarang mengutarakan hal itu karena ia tak mau berujung kecewa dengan penolakan sang anak. Begitupun sebaliknya, ia tak mau anaknya jadi terpaksa hanya untuk menemani dirinya.


Tapi saat ini, setelah kalimat itu tercetus dari bibirnya, ia benar-benar ingin melihat bagaimana reaksi Airish--putri bungsunya-- yang sebentar lagi akan menikah. Ia ingin menghabiskan waktu sejenak bersama Airish. Sudah lama sekali ia dan Airish tidak bercerita bersama. Bahkan untuk mendengarkan keluh kesah masing-masing pun terasa sulit akhir-akhir ini. Bukan, tepatnya sejak mereka pindah dan menetap di Jerman. Mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, termasuk dirinya yang sering bertolak ke Indonesia dan tak punya waktu luang.


Mendengar jawaban dari Airish membuat kedua sudut bibir Nev melengkung. Entah kapan terakhir kali ia mendengar nada akrab putrinya. Sudah sangat lama.


Waktu terasa cepat berjalan, sekarang anak-anaknya bahkan akan membina rumah tangga masing-masing. Ia yang terlalu sibuk atau ia yang sudah banyak meletakan momen-momen berharga bersama anak-anak?!


"Kita mau kemana, pa?"


"Kita makan dulu aja, ya "


"Oke, Pa."


Ia mengusak pelan rambut panjang putrinya. Airish dan Abrine memang tampak seperti dirinya, namun dilahirkan dalam versi perempuan.


Ia menghela nafas sejenak. Selama ini ia sibuk mencari nafkah untuk anak dan istri, ia bahkan sering mengabaikan anak-anak. Bahkan tak jarang ia lalai menjaga anak-anaknya. Hal itu terbukti sejak insiden yang menimpa Aarav beberapa tahun silam hingga menyebabkan putranya mengalami kelumpuhan. Nev sebenarnya juga menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu. Tak jarang ia merasa bahwa ia adalah ayah yang gagal.


Sejak pindah ke Jerman, ia memprotect anak-anaknya, tapi ia lupa bahwa seharusnya ia yang turun langsung menjaga dan mengawasi tumbuh kembang ketiga anaknya.


Mobil yang dikendarai Nev tiba disebuah pusat perbelanjaan besar di Jerman. Ia dan Airish turun berbarengan dari dalam mobil. Tak mempedulikan tanggapan orang-orang yang mungkin menyangka ia sedang kencan dengan gadis muda. Atau malah Airish yang malu jalan dengannya karena takut dianggap sedang menggaet om-om tua.


*Terserahlah, Airish adalah putrinya-batinnya*.

__ADS_1


"Papa!"


Suara Airish mengagetkannya, ia tersadar dari lamunan sesaat dan ternyata Airish memintanya untuk memesan menu makanan karena kini mereka sudah duduk berhadapan didalam sebuah foodcourt. Ia menyamakan pesanannya dengan Airish dan mereka terdiam menunggu makanan mereka datang.


"Papa sebenarnya mau ngomong apa? Apa yang papa pikirin?"


Sebenarnya, ia ingin mengutarakan pada Airish bahwa pemikiran orangtua akan selalu mencakup segala hal. Baik dari kesehatan diri sendiri dan anak-anak. Sandang, pangan serta segala kebutuhan keluarga. Belum lagi tentang keselamatan, kenyamanan dan kebahagiaan mereka semua. Namun, tak mungkin ia perjelas semua itu secara gamblang didepan putrinya. Bisa-bisa Airish mengaduh pening kepala saat mendengarnya.


"Papa beneran sedih ya karena bentar lagi Airish menikah?" Tangan Airish terulur menepuk-nepuk punggung tangannya.


Ia mencoba menyunggingkan senyum tipis. "Papa lebih ke senang daripada sedih karena kamu mau menikah," jawabnya berusaha sedatar mungkin.


"Terus? Kenapa wajahnya sedih gitu?"


"Karena bentar lagi tanggung jawab papa untuk menjaga kamu bakal pindah ke Zio."


"Papa ragu kalau Zio bisa jagain Airish?"


"Enggak, Papa gak ragu sama Zio. Kalau Papa ragu, Papa gak akan izinin kamu menikah dengannya."


"Terus? Kenapa? Airish lihat papa kayak mendem sesuatu gitu, sedih...." lirih Airish.


Seorang pelayan datang dan menyajikan makanan didepan mereka membuat percakapan itu terhenti mendadak.


"Pa, kalau papa gak bilang, Airish gak akan tahu. Papa coba terbuka sama kita, siapa tahu kita bisa tenangin apa yang jadi beban pikirannya papa." Airish berujar sembari mengaduk jusnya dengan se dotan plastik


Cukup lama terdiam, akhirnya ia menjawab pertanyaan Airish.


"Papa cuma gak nyangka, anak-anak papa udah tumbuh dewasa. Aarav sudah menikah lebih dulu dan sekarang kamu juga mau menikah. Papa menyadari waktu berjalan sangat cepat. Atau mungkin papa yang udah menyia-nyiakan waktu sampai lupa membaginya dengan kalian. Semua terasa begitu cepat. Papa menyesal tidak memanfaatkan waktu yang ada dengan bersama kalian sepanjang waktu itu ada." Ia berujar dengan wajah yang mungkin tak bisa lagi menutupi kesedihannya.


"Pa, semua juga tahu. Gak mungkin papa ngabisin seluruh waktu untuk kami-- anak-anaknya papa. Papa yang sekarang ada didepan Airish adalah papa yang terbaik. Papa membuat waktu berharga dengan setiap detiknya. Buktinya, setiap nafas papa, papa abdikan untuk memenuhi semua kebutuhan kami. Papa memberi kami contoh menjadi seorang yang pekerja keras itu seperti apa. Disaat kesibukan papa itu, papa juga masih sempat berkumpul sama kami semua. Kalau papa menganggap telah menyia-nyiakan waktu, papa salah. Karena bagi Airish, bagi kami semua, papa gak pernah gagal. Papa sukses buat kita semua bangga memiliki papa seperti papa."


Entah kenapa ujaran Airish membuat matanya berkaca-kaca. Benarkah anak-anaknya bangga memiliki dia?


"Pa, kalaupun nanti kami semua, anak-anak papa udah berkeluarga, kami gak mungkin lupain jasa papa. Papa yang ngasih kami kehidupan layak, gak kekurangan apapun. Papa utamain keselamatan kami sampai papa rela pulang pergi Indo-Jerman terus menerus selama belakangan tahun ini. Papa...." Ucapan Airish terputus, sang putri mengusap air matanya sendiri. "Kalaupun ada lelaki paling baik buat Airish didunia ini, urutan pertamanya tetap papa, barulah yang kedua suami Airish nanti, mungkin." Airish bicara dengan suara tercekat.


"Terima kasih ya, nak."


Airish menggeleng. "Salah, pa! Harusnya Airish yang ngomong terima kasih sama Papa, sama Mama."


Pada akhirnya, ia pun ikut menitikkan airmata yang sejak tadi sudah ia coba untuk membendungnya.


******

__ADS_1


__ADS_2