
Disaat pernikahan Aarav dan Rahelsa tinggal menghitung hari. Nev yang sibuk di Indonesia pun akhirnya harus kembali ke Jerman.
"Maafkan Papa baru bisa kembali menjelang hari pernikahan kamu, Nak." Nev menepuk pelan pundak sang putera dengan sikap hangatnya.
"Nggak apa-apa, Pa. Aku tahu Briliant Grup sangat membutuhkan Papa. Apa kita semua kembali ke Indonesia saja setelah pernikahanku?" tanya Aarav.
Nev menggeleng. "Rahelsa masih berkuliah, bukan? Biarkan dia menyelesaikan kuliahnya dulu, setelah itu terserah kalian mau tinggal dimana setelah menikah," papar Nev.
Raya datang dan menyajikan kopi kesukaan suaminya dimeja ruang tamu.
"Wah, para cowok lagi bicarain hal apa ini? Apa lagi gosipin Mama, ya?" tebaknya.
Nev terkekeh pelan kemudian merangkul tubuh Raya yang sudah terduduk disisinya.
"Para cowok gak suka gosip, Ma," kekeh Aarav menjawab selorohan sang Mama.
"Terus, cerita apa, dong?" Raya menoleh kesamping demi menatap wajah suaminya. Nev mengangkat bahu, malas menjelaskan.
"Kita lagi bicarain soal tips setelah pernikahan, hitung-hitung ilmu untuk aku membina rumah tangga, Ma." sahut Aarav berdusta. Nev terkekeh, sementara Raya memajukan tubuh dengan rasa ingin tahu.
"Memangnya, tips apa yang mau kamu tahu? Sini biar Mama yang kasih tahu semuanya," ucap Raya jumawa.
Nev hanya menggeleng samar sambil tertawa, sementara Aarav jadi terkikik geli melihat kepercayaan diri sang Mama.
"Kenapa jadi pada ketawa, sih?" Raya memegang pipi Nev, berusaha menanyakan jawaban suaminya itu.
"Ketawa kan gak salah," jawab Nev mengelus tangan Raya yang berada dirahangnya.
"Aku cuma nanya ke Papa, gimana caranya supaya bisa tetap romantis sama Mama setiap hari," ujar Aarav beralasan, tapi ia memang ingin tahu juga kenapa Mama dan Papanya selalu tampak mesra meski tak muda lagi.
Sekarang giliran Raya yang tertawa. "Romantis apanya, papa kamu ini terlalu cuek lho, Rav!" jawabnya.
"Ah, aku lihat Papa sama Mama mesra terus!"
"Ya, itu karena Mama yang pandai membawa diri," jawab Raya pongah.
"Iya deh, terserah kamu aja, Sayang." Nev mengalah daripada memulai perdebatan yang tak penting. Raya jadi semakin terkekeh.
"Kamu lihat, kan? Ini... kunci untuk tetap harmonis itu kayak yang dilakukan Papa kamu ini, Rav. Papa kamu itu meski gak romantis dan lebih sering datar-datar aja, tapi dia selalu mengalah sama Mama. Terus...."
"Terus apa, Ma?" tanya Aarav semakin penasaran.
"Dibalik sikap cuek Papa sebenarnya Papa itu manja luar biasa, iyakan Tuan Manja?" Raya menaik-naikkan alisnya menggoda Nev.
__ADS_1
Nev hanya menjawab, "Hmmm..." Semata-mata agar istrinya senang, padahal dalam hatinya juga mengakui 'kemanjaannya' itu. Namun, selama ini Nev tak mau menunjukkan hal itu didepan anak-anaknya, sebab dia selalu menjaga sikap wibawanya.
Aarav tersenyum melihat kedua orangtuanya, dia berharap pernikahannya kelak bisa seharmonis Mama dan Papanya.
"Oh iya, dimana Airish?" tanya Nev. Bersamaan dengan itu, Abrine dan Airish pun datang dari arah kamar.
"Yang ditanyain cuma Airish aja, Pa? Aku enggak dicariin?" protes Abrine sambil mencebik.
Nev tertawa kecil. "Haha... si tomboy Papa ngambek... kamu kalau udah kayak gini persis Mama," kelakar Nev sambil memeluk Abrine, dia tentu merindukan anak gadisnya itu.
Airish yang juga melihat itu, mulai ikut melayangkan protes keras. "Kayaknya yang tadi ditanyain aku deh, kenapa yang dipeluk cuma Kak Abrine?"
Nev menatap puterinya yang sedang protes sambil tertawa. Kemudian dia ingat sesuatu yang hampir terlupa.
"Kalau untuk Airish beda..." kata Nev sembari melepas tautan tubuhnya pada Abrine.
”Beda?" Abrine, Airish bahkan Raya bertanya secara serentak karena tak mengerti maksud ucapan Nev kali ini.
Nev mengambil tas kerjanya yang sempat ia letakkan diatas meja ruang tamu. Kemudian pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
Sebuah kotak beludru berwarna navi.
Istri dan ketiga anaknya menatap Nev dengan keheranan.
Airish menerima kotak itu sambil terheran-heran.
"Buat aku mana, Pa?" tanya Abrine ingin menuntut jatahnya juga.
Nev menggeleng. "Gak ada," jawab Nev santai.
Abrine mencebik, kenapa Papanya bersikap tidak adil begini? Bukannya anak gadis Papa ada dua orang? Tidak biasanya papa membeli barang hanya untuk Airish saja dan dia tak diberi juga. Aneh.
Airish segera membuka kotak beludru itu, dia melihat sebuah liontin berlian disana. Seketika itu juga dia tercengang sekaligus terkejut mendadak.
"Pa, ini bagus banget..." kata Airish speechless.
Abrine melirik ke arah kotak yang dipegang Airish. Dia mulai memikirkan sesuatu. Dia menatap Nev dan Nev mengedipkan sebelah mata pada Abrine. Seketika itu juga Abrine memahami keanehan ini, ia tidak jadi iri pada apa yang didapat oleh Airish.
"Kamu suka?" tanya Nev pada Airish.
"Suka banget, Pa!" Airish mengeluarkan liontin bermata berlian dengan inisial huruf A itu, mengangkatnya setinggi pandangannya.
"Kalau suka dipakai, ya! Jangan sampai hilang!" kata Nev.
__ADS_1
Airish mengangguk, kemudian dia melirik pada Abrine. "Tapi, Pa... kenapa Kak Abrine enggak dibelikan juga?" tanyanya heran.
Raya juga menyikut perut Nev seolah meminta penjelasan suaminya itu, namun Nev memberi isyarat bahwa nanti dia akan menjelaskan hal ini pada sang istri.
"Abrine akan dapat juga, mungkin..." ucap Nev disertai kekehannya yang menunjukkan rasa tak yakin.
Aarav yang memperhatikan itu juga mulai menarik sebuah kesimpulan. Memang Sang Papa punya banyak uang dan tak sulit untuk memberikan Airish hadiah yang mahal seperti itu, tapi yang ia tahu Papanya tak pernah berlaku demikian. Apapun yang dia beli untuk salah satu anaknya, pasti ketiganya akan mendapatkan. Begitulah sejak dulu yang Aarav tahu tentang sikap sang Papa. Tapi sekarang?
"Aku gak mau pakai kalau kak Abrine gak punya juga!" kata Airish kemudian.
Nev dan Abrine saling bertatapan. Abrine pun segera buka suara.
"Pake aja dek, aku juga gak suka yang begituan. Ntar, kalau aku motoran bisa jatuh atau hilang, gimana? Pasti itu harganya sangat mahal," jawab Abrine apa adanya.
"Iya, dek. Kamu pake aja! Daripada jadi penghias lemari," timpal Aarav.
"Ya sudah, ya. Papa lelah sekali. Papa mau mandi dan langsung tidur. Jangan bertengkar, ya!" kata Nev sembari menarik Raya menuju kamar mereka.
Sampai dikamar Raya segera mewawancarai Nev.
"Sayang, kamu kenapa belikan Airish berlian? Apa itu gak berlebihan?" tanya Raya to the point. Kalaupun Nev ingin membelikan Airish atau anak-anaknya sesuatu, pasti suaminya itu akan lebih dulu berdiskusi dengannya.
Nev hanya diam sembari membuka baju yang ia kenakan.
"Aku tahu kamu punya banyak uang, tapi Airish itu masih mahasiswi, lain hal kalau dia sudah menjadi wanita dewasa yang biasa menggunakan perhiasan."
Nev menangkap tubuh Raya, menatapnya dalam. "Kamu... mau juga?" tanyanya mengulumm senyum.
"Enggak, apa kamu pikir aku iri dengan Airish, anakku sendiri? Aku cuma heran sama pemberian kamu kali ini," kata Raya.
Nev mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau gitu, apa yang kamu mau?" tanyanya menggoda.
Raya menggeleng. membaca niat suaminya saat ini.
"Jangan alihkan pertanyaanku dengan hal lainnya!" protes Raya. "Pikiran kamu itu udah ketebak!" lanjutnya.
Nev terkekeh-kekeh. "Sudahlah, jangan pikirkan masalah berlian Airish lagi. Itu hanya titipan untuk anak kita. Apa aku salah jika memberikan titipan itu padanya? Itu kan amanah yang harus ku sampaikan."
"Titipan?" Raya mengernyit heran.
"Iya..." jawab Nev sembari membuka kancing piyama istrinya satu persatu.
"No! Kamu harus mandi dulu!" Raya mendorong pelan tubuh sang suami untuk memasuki kamar mandi. Nev menggerutu, namun akhirnya ia menuruti permintaan istrinya itu.
__ADS_1
*****