PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
43 - Gagal dan ditolak


__ADS_3

Raya


Lagi dan lagi lamaran kerjanya di tolak. Padahal seharusnya, dengan bermodalkan ijazah yang ia miliki serta beberapa sertifikat keahlian, semua pekerjaan yang diincarnya akan sangat mudah ia dapatkan.


Wawancaranya, selalu berakhir dengan tatapan sinis ataupun sindiran kecil yang mengait-ngaitkan dirinya tentang kasus korupsi sang Ayah.


Mama memang selalu menguatkannya, meski ia juga tahu kalau Mama pun menyimpan kesedihan akibat kegagalannya yang berulang kali dan itu diakibatkan oleh hal yang sama.


Apa tidak ada satupun perusahaan atau kantor yang hanya melihat pada kemampuannya saja? Tidak mengusik latar belakangnya?


Sepertinya itu sulit, karena semua orang ingin membuat image perusahaan yang baik dan tidak tercemar hanya karena satu orang seperti dirinya.


Padahal, bisa saja perusahaan mereka pun melakukan tindak KKN seperti yang dituduhkan pada Ayahnya. Hanya saja, oknum yang melakukannya belum nampak kepermukaan.


Hari ini, ia merasa enggan untuk kembali melamar pekerjaan, bukan karena rasa malas yang menyerang, tapi karena ia sudah pesimis sebelum memulai.


Maka untuk mengisi kekosongan hari, ia memilih membersihkan rumah, menyikat kamar mandi, serta mencabut rumput ditaman rumah yang tak terlalu besar.


"Raya, kenapa kamu melakukan semua pekerjaan itu, Nak?" Mamanya sampai heran melihat sikapnya yang terlalu bersemangat.


"Raya gak tahu mau apa, Ma. Daripada melamun..." jawabnya random.


Mama membiarkannya menyapu, mengelap jendela dan mengepel, tapi saat ia ingin menyikat kamar mandi, Mama meraih bahunya dan menggelengkan kepala menunjukkan isyarat tidak setuju.


"Besok saja, ya, jangan dilakukan semua hari ini," bujuk Mama.


Entah kenapa matanya jadi berkaca-kaca, meskipun ia hidup mandiri selama bertahun-tahun, memang ia tak pernah melakukan hal semacam ini.


Rasanya ia ingin menangis, bukan karena meratapi nasibnya, tapi karena sepenggal perasaan yang sebenarnya ingin ia lupakan melalui kegiatannya yang sibuk hari ini.


Kenapa rasanya begitu sesak?


"Raya, are you okey?" Mama menangkup wajahnya dan menatap matanya dalam-dalam.


Sebenarnya ia ingin menyembunyikan kesedihannya dari Mama walau tahu itu sulit, tapi air matanya saat ini tidak bisa diajak untuk berkompromi karena tiba-tiba menetes begitu saja dihadapan Mama.


"Sabar, ya, Nak. Kehidupan kita sedang diuji," ucap Mama memeluknya. Mama tidak tahu sebenarnya bukan karena nasib hidup yang membuatnya serapuh ini, tapi karena perasaannya yang mendadak merindukan seseorang.


Ia tersengguk di bahu sang Mama. Ia sudah ikhlas dengan masalah yang mendera keluarganya, ia yakin dan percaya semua ini akan berlalu. Tapi hatinya yang merindu? Ia tidak yakin ini akan cepat pulih.


Ia tak tahu bagaimana mengendalikan perasaannya yang menyesakkan. Ia tak tahu bagaimana cara mengobati hatinya yang carut-marut karena memaksa perasaan itu agar hilang seketika. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi, karena sekarang ia sadar, perasaannya yang baru ingin tumbuh, harus dipaksa layu sebelum berkembang.


Bagaimana kabarnya? Apa sejak kepeegianku rumah tangga mereka kembali baik-baik saja?


Ia menyadari bahwa sekarang ia harus berjuang sendirian, memulihkan luka dihatinya yang mendadak terkoyak begitu saja.

__ADS_1


Ini salahnya, kenapa sejak awal harus menaruh hati pada ... pria itu. Ia bahkan tak kuasa menyebut nama pria itu karena itu akan semakin menyesakkannya.


Ia tahu dan ia pernah mendengar pria itu mengatakan tentang perasaan, bahwa pria itu mengaku menyukainya. Tapi, menyukai itu ada banyak versi. Dan ucapan menyukai yang pernah ia dengar dari mulut pria itu, ia tak tahu ada di versi yang mana?


Menyukai dalam arti tertarik.


Menyukai dalam arti senang.


Atau menyukai hanya karena kebersamaan yang sesaat.


Entahlah, ada begitu banyak definisi tentang hal menyukai dan ia tak tahu pria itu menempatkannya di artian yang mana.


"Sidang Papa akan dilanjutkan besok, bagaimana kalau kita hadir di pengadilan?" usul Mama yang masih mengira ia menangisi keadaan Papa saat ini.


Ia menyeka airmata kemudian mengangguk lesu.


"Sudah, sudah... mudah-mudahan ini semua cepat selesai. Papa aja kuat, kita juga harus kuat dan doakan Papa terus." kata Mama mengusap pundaknya yang masih bergetar karena tangisan.


"Iya, Ma." jawabnya singkat.


Kemudian ia kembali masuk kedalam kamar mandi.


"Eh, mau ngapain? Kan Mama bilang besok aja sikat kamar mandinya." kata Mama heran.


"Besok kan mau ke pengadilan." jawabnya masih dengan suara serak.


"Oke, tapi Raya mau siramin tanaman aja diluar rumah, ya, Ma." jawabnya dan Mama pun mengangguk.


Maka, diangkatnya air dalam wadah berbentuk tong setinggi lutut, kemudian diletakkan di taman kecil yang terdapat didepan rumah.


Ia pun mulai menyibukkan diri, menyirami tanaman yang sudah ada sejak kepindahannya kerumah itu. Berharap kegiatan itu bisa membuatnya lupa tentang aktifitas lamanya yang terlanjur menjadi pengasuh, pengasuh pria itu, yang entah sejak kapan menarik atensinya.


Ditaman kecil itu terdapat tanaman bonsai yang cukup besar ditengah-tengah, kemudian disisi kiri-kanannya ada tanaman lain yang banyak tumbuh mengelilingi sang bonsai. Ia menyirami itu dengan perlahan. Kemudian mulai beranjak ke sisi pagar pembatas yang banyak ditumbuhi oleh tanaman lain didalam pot-pot sedang hingga pot kecil.


Entahlah siapa yang menanami tanaman ini, tapi kegiatan ini cukup membuatnya senang.


Sampai satu suara berhasil membuatnya menghentikan kegiatan sejenak.


"Hai, kamu yang nempatin rumah ini, ya?" Suara seorang wanita yang terdengar ramah.


Ia menoleh demi melihat wajah pemilik suara. Mereka dipisahkan oleh tembok yang hanya setinggi dada orang dewasa, tembok itu adalah penyekat antara rumah satu dengan rumah lainnya.


Ia tersenyum pada wanita muda yang juga menyunggingkan senyum itu.


"Ya, aku baru seminggu disini." jawabnya ramah.

__ADS_1


"Oh," wanita itu manggut-manggut. Kemudian mendekat ke dinding pembatas , lalu mengulurkan tangan. "Aku, Niken." kata wanita itu memperkenalkan diri.


Ia menyambut uluran tangan wanita bernama Niken itu. "Raya," jawabnya.


"Maaf ya baru memperkenalkan diri, aku sibuk sekali. Baru pulang dari luar kota juga sih jadi gak tahu ada tetangga baru," kata Niken.


Ia mengangguk. "Aku dan Mama pikir rumah sebelah ini malah kosong," jawabnya.


Niken terkikik, kemudian mereka mengobrol ringan setelah ia memberi akses untuk Niken berkunjung ke teras rumahnya.


Niken cepat bersosialisasi, mereka pun akrab dan bercerita satu sama lain dikursi kayu teras rumah.


Ternyata Niken adalah pengusaha cafe yang beberapa cabangnya ada diluar kota, itulah yang menyebabkan wanita muda itu sibuk kesana-kemari.


"Kalau kamu sekarang sibuk apa, Ray?" tanya Niken yang sekarang balas bertanya padanya, karena sejak tadi Niken yang menjabarkan tentang kegiatan wanita itu.


"Aku lagi cari kerja, sih. Tapi belum dapet." jawabnya seadanya.


Niken mengangukkan kepalanya, wanita berkulit eksotis itu tersenyum dengan pikirannya sendiri.


"Kalau kamu mau, ada sih pekerjaan di cafe aku. Tapi kamu mana mungkin mau, ya." kata Niken terkekeh.


"Aku mau, asal itu bisa ku lakukan dan tentunya masih butuh bimbingan kamu." jawabnya cepat dan semringah.


Niken tersenyum simpul. "Jadi, di cafe aku itu ada semacam acara even disetiap hari Sabtu Minggu. Nanti disana kamu bisa ngisi acara," terang Niken.


"Acara?" matanya berkedip-kedip mendengar penjelasan Niken.


"Huum, kamu bisa nyanyi gak, Ray? Jadi kamu bisa isi acara dengan suara kamu. Gajinya sih lumayan. Ada fee nya juga lagi. Ini semacam kerja sampingan disetiap Sabtu-Minggu doang, sisanya kamu bisa merangkap kerja yang lain. jadi semacam freelance."


Ia menggaruk pelipisnya sendiri, sampai pada Mama yang datang dengan membawakan mereka minuman dan cemilan.


"Seru banget ceritanya sampai temen barunya gak dikasi minum," kata Mama menyela tiba-tiba, lalu menyajikan semua yang beliau bawa diatas meja.


"Makasih, Tant..." kata Niken yang ramah.


"Aku pikirin dulu ya tawaran kamu," jawabnya pada Niken dan Mama menatap wajahnya seolah minta penjelasan tentang ini.


"Niken nawarin Raya ngisi acara jadi penyanyi di cafe-nya, Ma." ucapnya terang-terangan didepan Mama dan Niken.


Mama tersenyum kecil. "Ya gak masalah, daripada melamun." kata Mama menyindir ucapannua yang lalu.


Niken tertawa, kemudian meraih gelas berisi jus jeruk dan meminum itu, ia jadi malu sendiri karena ucapan Mama.


Kehadiran Niken dirumahnya benar-benar membuat moodnya membaik, selain sudah lama tak memiliki teman yang akrab, Niken memang orang yang ramah dan apa-adanya. Ia pun bisa menilai sikap Niken dengan cepat.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2