
"Abrine... Airish, Papa mau bicara," ucap Nev pada kedua putrinya. ini adalah hari ketiga mereka berada di Rumah Sakit. Selama itu pula, Abrine dan Airish tidak sekolah karena masih menunggui Aarav, terutama karena mereka juga masih kehilangan semangat.
"Ada apa, Pa?" Abrine lebih dulu angkat suara menanyai sang Ayah.
"Papa berencana membawa Kakak kalian berobat ke Luar Negeri, pengobatan itu mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Keputusan Papa, kita semua pindah kesana."
Abrine melongo, sementara Airish terdiam dengan sejuta pikiran tentang keputusan yang sudah ditetapkan Papanya itu.
"Sekolah kami bagaimana, Pa?"
"Pindah, kalian bisa sekolah disana atau home schooling nantinya," kata Raya menimpali. Ternyata Raya juga sudah menyetujui keputusan sang suami.
"Tapi, Pa...." Airish ingin protes dan angkat bicara, namun ia sadar saat ini tengah berbicara pada papanya yang titahnya tidak bisa ia bantah.
"Kenapa? Kalian tidak setuju? Atau kalian mau tetap tinggal disini selama Mama dan Papa di Luar Negeri untuk pengobatan Aarav? Begitu?"
Abrine menggeleng. Meski sebenarnya ia ingin tetap berada di Indonesia, namun lagi - lagi ia tidak bisa menolak keputusan yang sudah diberikan sang Papa, begitupula dengan Airish yang tidak rela meninggalkan sekolahnya, padahal sebelumnya ia sangat ingin pindah sekolah, tapi sekarang kenapa rasanya enggan?
"Abrine!" seru seseorang dan Abrine menoleh pada orang yang memanggil namanya itu. Dia melihat Wildan berdiri diujung koridor ruang ICU--dimana Aarav masih dirawat didalamnya.
Abrine menatap sang Ayah, bertanya lewat sorot mata, apakah boleh ia menemui Wildan? Nev mengangguk singkat, entah apa hubungan putrinya dengan cowok itu, namun ia merasa mereka perlu bicara apalagi terkait dengan keputusannya untuk berpindah ke Luar Negara.
Abrine berjalan pelan, menuju ke arah Wildan. kemudian mereka berbicara dikursi tunggu yang berada disisi koridor lainnya.
"Ada apa?" tanya Abrine pada Wildan. ia terduduk dengan kepala menunduk menatap sendal jepit yang tengah ia kenakan.
"Maaf, aku baru mendengar tentang insiden yang menimpa kakak kamu, makanya aku baru berkunjung sekarang."
Abrine menoleh pada Wildan, sejak kapan cowok ini bicara dengan bahasa seperti ini padanya? Terdengar aneh.
"Ya, gak apa-apa."
"Gimana keadaannya?"
"Gak baik, yang jelas Papa berniat memberi pengobatan yang terbaik untuk Kak Aarav. Kami semua akan pindah ke Jerman," terang Abrine.
Wildan terkesiap. "Ke Jerman?" tanyanya memastikan.
Abrine mengangguk.
"Gimana dengan perjanjian kita, Brine?" tanya Wildan pelan.
"Sorry, gue gak bisa bantu lo lagi untuk jadi pacar pura-pura, gue bakal ninggalin Indonesia," kata Abrine lirih.
Wildan terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dia bicara kembali.
__ADS_1
"Kita masih bisa komunikasi lewat ponsel dan sosmed kan, Brine?"
"Mungkin."
"Aku ... aku bakal nunggu kamu balik untuk menepati janji itu, Brine!" kata Wildan lirih.
"Lo cari cewek lain aja yang bisa bantu lo, gue yakin banyak yang mau, kok! Jangankan jadi pacar pura-pura, jadi pacar beneran juga pasti pada mau!"
"Emang siapa yang mau jadi pacar beneran?" tanya Wildan.
"Ya banyak! Lo pilih aja salah satu pasti pada mau kok!"
"Kalo aku pilih kamu, gimana? Apa kamu juga pasti mau?"
Jantung Abrine berdebar mendengar ucapan Wildan, entah Wildan serius atau tidak mengucapkannya yang jelas sekarang Abrine merasa deg-degan karena pernyataan cowok itu.
"Lo kok aneh!" Abrine memaksakan tertawa.
"Aneh apanya?" tanya Wildan.
"Ya, kemarin kan perjanjian kita pacaran pura-pura, sekarang kenapa nawarin pacaran beneran!" Abrine nyengir, menyembunyikan kegugupannya.
"Ya karena aku rasa itu lebih baik..."
"Lebih baik apanya?"
"Dih... apaan sih! Terus kenapa sekarang ngomongnya pake aku kamu gitu?"
"Lebih sopan aja didenger." Wildan ikut nyengir.
Abrine membuang pandangan ke arah lain. Ia tahu semua tawaran Wildan tidak mungkin bisa ia jawab.
"Jadi gimana? Kamu mau kan?"
"Apanya?" tanya Abrine berlagak bodoh.
"Jadi pacar beneran."
"Aku bakal pindah, gak tahu sampai kapan di Jerman. Kamu carilah orang lain, yang sesama mahasiswa seperti kamu misalnya, bukan cewek bocah kayak aku."
Wildan terdiam, ia mendengar Abrine berbicara dengan panggilan yang berbeda, ternyata jauh lebih baik daripada sebelumnya. Membuatnya justru semakin suka pada gadis ini.
"Aku bakalan nunggu kamu, Brine."
"Itu sih terserah kamu. Aku gak mau memaksa, kamu bebas dan aku gak mengikat kamu dengan hubungan apapun."
__ADS_1
Wildan hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Abrine.
______
Seminggu setelah insiden yang menimpa Aarav, semua keperluan untuk kepindahan keluaraga Nev pun siap-- akhirnya Nev dan keluarganya akan resmi pindah ke Jerman untuk melakukan pengobatan lebih lanjut terhadap Aarav.
Sebuah Rumah Sakit swasta yang direkomendasikan oleh Jimmy menjadi tujuan untuk Nev pergi kesana.
Urusan pekerjaan di Indonesia, diserahkan Nev sepenuhnya pada Bian, asisten pribadinya. Begitu pula dengan pekerjaan Raya, ia mempercayakan gallery arsiteknya pada tangan kanannya, Citra. Citra memang sudah bekerja pada Raya sejak 10 tahun belakangan, hubungan keduanya semakin erat layaknya saudara. Citra juga sudah memiliki dua orang anak dari Reka.
Nimas dan Rahelsa ikut bersama keluarga Nev untuk kembali ke Jerman dimana disana memanglah tempat tinggal mereka. Sementara Jimmy, masih harus menyelesaikan pekerjaannya di Indonesia dan akan menyusul juga nantinya.
Jimmy juga masih harus mengurusi tentang proses hukum pencarian tersangka pemukulan Aarav bersama kuasa hukum Nev-- karena Jimmy lah yang ditunjuk Nev sebagai wali pengganti sebab Nev akan sibuk mengurus tentang pengobatan Aarav di Luar Negeri.
Mereka sudah sampai di Bandara, menunggu pesawat yang akan membawa mereka terbang meninggalkan negara kelahiran, meninggalkan tempat yang memiliki banyak kenangan.
"Rish..."
"Hmmm..." jawab Airish lesu.
"Kamu yakin gak mau ngabarin Zio soal kepindahan ini?" tanya Rahelsa dan diangguki oleh Abrine.
"Buat apa? Kita gak punya hubungan kok!" jawab Airish.
"Tapi temenan, kan?" timpal Abrine.
"Iya sih, tapi ya udahlah gak usah dipikirin juga!"
Rahelsa dan Abrine menggelengkan kepalanya melihat Airish yang tertunduk lesu.
"Anak-anak, ayo!" kata Nimas kepada tiga gadis itu.
Sementara mereka bersiap memasuki area pesawat, Nev yang masih berada didalam Bandara mendapat telepon dari orang suruhannya.
"Ada apa?" tanya Nev.
"Kartu kredit milik Aarav terdeteksi telah dipakai di sebuah toko perhiasan XX, beberapa menit yang lalu."
"Cari orang itu!" titah Nev dengan geram.
Nev bertekad akan menemukan orang-orang yang sudah menghancurkan masa depan anaknya. Dia tidak akan mengampuni mereka meski mereka bersujud dikaki Nev atau Aarav sekalipun.
"Sayang, ayo!" Raya memanggil Nev dan pria itu mengangguk. Nev memilih tidak menceritakan perihal ini pada Raya karena ia ingin semua bukti lengkap dulu karena sejauh ini--menurut penyelidikan orang-orangnya diluar kepolisian, Nev jadi mencurigai seseorang yang terkait dengan hal ini dan dia ingin membuktikannya.
*****
__ADS_1
...Vote, like, hadiah dong...✌️😁...