
Sesuai dengan ucapan Zio waktu berkunjung ke Apartmen, ternyata pemuda itu benar-benar tidak menunjukkan diri lagi didepan Airish. Meski begitu, Zio rutin mengabari Airish dengan melakukan panggilan video atau sekedar berbalas pesan singkat melalui aplikasi hijau.
[Kamu sudah pulang kuliah? Sore ini saya akan melewati kampus kamu, kita bertemu sebentar, boleh?]
Sebuah pesan dari Zio membuat Airish yang membacanya menjadi senyum-senyum sendiri. Mana mungkin ia melewatkan kesempatan ini begitu saja. Dua hari sudah ia tak bertemu langsung dengan pemuda tampannya.
Dengan sigap ia membalas langsung pesan itu.
[Aku pulang sore, aku tunggu kamu datang ke kampus]
Langsung saja Airish menekan tombol 'send' secepat kilat.
Bianca yang duduk disisi gadis itu, hanya geleng-geleng kepala sebab dia sudah tahu jika sahabatnya sedang dilanda kebucinan yang hakiki.
"Rish, apa kau yakin tidak mau ikut denganku hari ini? Siapa tahu ada komposer yang mau melabeli dan mengajakmu berduet nanti...." tawar Bianca yang hendak pergi ke agensinya sepulang dari kuliah mereka sore ini.
"No!" jawab Airish singkat.
"Ayolah! Zio juga sedang sibuk dan tidak bisa mengunjungimu, kan? Lebih baik kita pergi sekalian hangout nanti," desak Bianca.
"Dia memang sibuk tapi sore ini kami akan bertemu."
Bianca berdecak sebal, dia tahu sekarang perhatian Airish padanya sudah terbagi juga untuk Zio.
"Awas kau! Nanti saat dia pulang ke Indonesia, kau pasti merengek ingin ikut denganku karena kesepian!" ancam Bianca berlagak marah, padahal dia hanya berkelakar.
Airish terkekeh pelan. "Benarkah? Makanya cari pacar!"
"Heh, pacar!" Bianca mendengkus. Belum ada kandidat yang membuatnya tertarik. Ada satu orang yang sempat membuatnya tertarik, tapi ternyata pemuda itu malah berstatus tunangan Airish. Meski sebal, tapi Bianca ikut bahagia untuk sahabatnya itu. Dia bertekad akan mencari yang seperti Zio juga nantinya. Apakah bisa Zio di kloningkan saja?-batinnya. Namun, meski tertarik pada Zio, bukan berarti ia tertarik juga untuk merebut Zio dari Airish. Tak pernah ada dalam kamusnya menusuk sahabat dari belakang. Dia bukan duri dalam daging.
"Kau tidak mau mencari pacar? Ada satu kandidat untukmu!" kata Airish dengan senyuman usil.
"Siapa?" tanya Bianca.
"Sir Jordan," kekeh Airish. Sir Jordan adalah dosen mereka yang sangat disiplin dan menyebalkan.
"Hah? Dia tidak masuk dalam daftar tipeku, ya walaupun dia lumayan tampan. Tapi hidupnya pasti penuh aturan. Kau tahu sendiri aku tidak suka dikekang."
__ADS_1
Airish hanya tersenyum tipis mendengar gerutuan Bianca.
_____
Sore harinya, Airish menunggu didekat halte bis yang terdekat dari kampusnya. Sampai sebuah mobil putih mulai melambat dan berhenti tepat didepannya. Airish melambaikan tangan dari posisinya saat kaca jendela mobil itu terbuka.
Kemudian, dengan langkah pelan menghampiri sisi mobil itu.
"Masuklah," kata Zio tersenyum. Airish segera masuk dan duduk dikabin sebelah Zio.
Jangan tanyakan perasaannya saat ini, ia amat merindukan Zio. Jika boleh, ia ingin mencubit gemas kedua pipi tirus pemuda itu. Namun, ia masih berpikir jernih untuk melakukan tindakan konyol itu didepan Zio.
"Kita mau kemana?" tanya Airish saat Zio mulai mengemudikan lagi mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita belum pernah berpacaran, bukan? Mari kita berpacaran hari ini."
Ucapan Zio membuat sudut bibir Airish melengkung sempurna. Ia tersenyum malu sambil sesekali menundukkan pandangan.
"Kenapa?" Zio mengulumm senyum melihat tingkah gadis disampingnya. Ingin rasanya ia menangkup kedua pipi Airish lalu memandangi wajah cantik itu sepuasnya. Namun, ia masih menahan hal ini sebab merasa takut kebablasan. Bagaimanapun, ia menghargai Airish dan menjaga perasaannya agar tetap berada dalam jalur aman sebelum benar-benar memiliki Airish secara sah dan halal.
Zio menjunjung tinggi harga diri perempuan. Itu karena Bundanya selalu mengajarkannya kebaikan. Begitu pula dengan Papinya. Orangtuanya adalah alasan kenapa Zio bisa menjaga perasaannya hanya pada satu perempuan saja. Sebab, Bunda hanya pernah menjalin hubungan dengan Papi. Sementara Papi, meski sempat menjadi berandalan dan banyak kekasih tapi dalam hidupnya hanya mencintai Bunda saja selama bertahun-tahun lamanya.
Airish dan Zio tiba disebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Mereka memasuki gedung yang menjulang, dimana terdapat semua kebutuhan apapun yang diinginkan.
Zio mengajak Airish berbelanja. Awalnya Airish tak tertarik karena merasa tak memerlukan apapun untuk dibeli. Namun, Zio malah meminta gadis itu memilihkan baju untuk Zio kenakan.
Dengan antusias, Airish memilih beberapa pakaian untuk Zio. Mereka sama-sama merasa semakin dekat dengan aktivitas ini.
"Bagaimana kalau ini?" Airish menunjukkan beberapa kemeja kehadapan Zio dan pemuda itu hanya mengangguki semua pilihan Airish, menyatakan semuanya bagus.
Airish merasa lucu sendiri dengan hal ini. Ia lanjut sibuk mencarikan baju dan lainnya untuk Zio. Mulai dari dasi sampai ikat pinggang yang menurutnya cocok untuk Zio kenakan.
Saat Airish sedang asyik memilih baju untuk Zio, tiba-tiba Zio mencolek bahu gadis itu sekilas.
Airish menoleh dan Zio menunjukkan sebuah dress berwarna biru muda yang dipasang pada sebuah patung manekin. Dress itu tampak sangat bagus, dari jarak yang tak terlalu jauh, Airish sudah tahu jika bahan kain dress itu adalah sutera. Ia melihat brand yang terlampir didekat sang manekin. Itu adalah brand ternama. Ia menggeleng sebagai bentuk penolakan pada tawaran yang Zio berikan.
"Gak bagus?" tanya Zio ingin memastikan. Menurutnya dress itu bagus, apalagi jika Airish yang mengenakannya.
__ADS_1
"Bagus, tapi ...." Airish ragu melanjutkan kalimatnya, sebenarnya ia ingin mengatakan dress itu bagus tapi pasti sangat mahal karena itu bukan brand kW alias palsu, melainkan itu adalah brand original dan new arrival. Meski Airish terlahir dari keluarga berada juga, tapi belanja barang mahal di negara ini pastilah menguras uang sakunya.
"Kalau bagus, kenapa gak mau?" tanya Zio. Dengan langkah jenjangnya, pemuda itu bergerak mendekat ke arah patung manekin itu, mengucapkan sesuatu pada pramuniaga yang tampaknya berjarak paling dekat dengan display dress tersebut. Pramuniaga itu menunjukkan sisi lain yang tak jauh dari mereka. Airish hanya bisa melihat hal itu dari tempatnya.
Sesaat kemudian, Zio kembali ke sisi Airish, memegang jemarinya dan mengajaknya ke arah yang tadi ditunjukkan sang pramuniaga itu.
"Ini kamu coba bajunya, yang di manekin itu display. Kalau yang disini baru boleh kamu coba...." Zio menyerahkan dress yang sama seperti di manekin. Bedanya, yang ini tergantung menggunakan hanger.
"Tapi, Zi..." Airish ingin protes namun Zio menggeleng tanda tak mau mendengar alasan yang akan Airish sampaikan.
Mau tak mau Airish pun berlalu menuju tempat untuk mencoba baju barunya. Ia mengenakan dress itu dan bercermin disana.
Tak berapa lama, ia keluar dari bilik ganti dan mendapat dua acungan jempol dari pemuda yang tersenyum kearahnya dengan menampilkan lesung dikedua pipi pemuda itu. Sempurna.
"Sempurna!" seru Zio didepannya. Padahal ia lebih dulu memuji ketampanan sempurna milik pemuda itu. Entah telepati seperti apa yang mereka berdua miliki sehingga bisa berpendapat sama. Ia menyuarakan kesempurnaan Zio dalam hati dan Zio menyuarakan kesempurnaannya secara terus terang, membuatnya tersenyum malu sembari menyampirkan rambut sendiri kebelakang telinga.
"Langsung dipakai aja, ya!" kata Zio membuatnya tak bisa menolak lagi.
Selepas berbelanja, Zio mengajak Airish menonton bioskop. Tentunya Airish sudah mengenakan dress biru muda pilihan Zio.
Mereka benar-benar seperti berpacaran seperti yang Zio katakan. Pemuda itu terus menggenggam tangan Airish sampai mereka memasuki studio bioskop dengan nuansa yang remang-remang.
"Kenapa pilih film romantis?" tanyanya pada Zio. Ini memang genre film kesukaan Airish, namun ia tak menyangka Zio akan mau menonton film semacam ini, ia kira Zio akan memilih menonton horor atau action yang sama sekali bukan minat Airish.
"Memangnya gak boleh?" Zio malah balik bertanya.
"Boleh, tapi biasanya cowok kayak kamu sukanya film horor atau action. Kak Aarav sih gitu," kata Airish.
Zio tersenyum tipis. "Saya suka film action atau horor, tapi ini pengalaman nonton kita yang pertama, saya gak mau kamu trauma akibat melihat adegan tembak-tembakan atau darah yang berceceran," katanya tertawa pelan.
Airish bergidik membayangkan tentang ucapan Zio mengenai pilihan film yang ia pertanyakan. Ternyata Zio benar-benar memikirkan dirinya bahkan di saat seperti ini.
"Lain kali, mungkin kita boleh nonton yang semacam itu. Tapi untuk sekarang, saya mau kamu memiliki kesan agar tidak meninggalkan trauma nantinya. Sekalian kita bisa belajar...." Zio terkekeh lagi.
"Belajar?" tanya Airish polos dan Zio mengangguk sembari mengendikkan dagunya kearah layar besar didepan sana.
Entah kebetulan atau tidak, didepan sana sedang menampilkan adegan sepasang pria dan wanita yang tengah berciuman intens. Seketika itu juga mata Airish terbelalak namun buru-buru menundukkan pandangan.
__ADS_1
Apa maksud Zio tentang belajar? Apa belajar mengenai adegan itu? Kenapa ini membuat Airish merasa semakin malu saja.
*******