PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
60 - Ikrar talak


__ADS_3

Nev menghadiri sidang akhir persidangan perceraiannya dengan Feli. Bersama kuasa hukumnya dan juga Bian, dia memasuki ruang persidangan yang memang tertutup untuk umum.


Hari ini, Nev akan membacakan ikrar talak, semacam pengakuan dan sumpah untuk mengakhiri atau memutus hubungan/ikatan suami-istri atas kehendak suami dengan kata talak.


Sebagai pihak pemohon, Nev pun harus datang untuk memenuhi haknya sendiri.


Dia melihat Feli yang telah hadir disana, wanita yang pernah berstatus sebagai istrinya itu-- memandanganya dengan tertegun bercambur tatapan heran, mungkin karena dipersidangan kali ini, Feli melihat Nev yang telah berdiri kokoh diatas kedua kakinya sendiri tanpa bantuan kursi roda.


"Nev..." Lirih Feli dengan mulut menganga, mata wanita itu memindai kondisi tubuh Nev dari ujung rambut sampai ujung kaki-- wajah takjubnya tak bisa disembunyikan dan itu jelas nampak dipelupuk mata Nev yang memandang Feli dengan biasa saja.


Feli yang sudah duduk di kursi pun berdiri, dia benar-benar speechless dengan keadaan Nev yang telah sembuh.


Selama ini kau kemana saja, Feli? Kenapa kau harus melewatkan dan mengabaikan pria sesempurna Nev? Begitulah batin Feli galau, karena baru menyadari ketampanan Nev yang akan mengakhiri hubungan mereka tanpa sisa dalam hitungan beberapa menit kedepan.


Feli merasa selama ini matanya tertutup kabut, hingga bisa-bisanya menyia-nyiakan Nev yang telah memberinya segalanya.


"Nev...kau telah...sembuh?" Feli menyentuh lengan Nev dan menatapnya intens, sorot matanya mengiba dan mendamba?


Nev hanya tersenyum kecut. "Ya, beginilah aku," jawab Nev datar sembari menepis pelan tangan Feli dilengannya.


Mereka pun duduk di kursi masing-masing, mata Feli masih menatap Nev dari tempatnya duduk. Penyesalannya semakin bertambah lagi setelah melihat kondisi Nev sehat seperti sedia kala. Namun, semuanya tiada guna karena Nev sama sekali tak menggubris keharuannya akan hal itu.


Sidangpun dimulai setelah semuanya sudah hadir dengan lengkap, termasuk hakim, tergugat dan penggugat.


Semua berkas pendukung yang telah siap untuk melengkapi keabsahan perpisahan mereka pun mulai diteliti, serta berbagai pertanyaan pun diajukan kepada Nev dan Feli.


Terakhir, ikrar talak dibacakan dengan lantang oleh Nev dan jatuhlah putusan cerai resmi antara Nev dan Feli saat hakim telah mengetuk palu, bersamaan dengan itu Nev menghela nafas lega, sementara Feli menitikkan airmatanya.


Nev berdiri dari kursinya, menyalami hakim dan Feli tampak mendekatinya pula.


"Semoga kau mendapat kebahagiaanmu, Nev..." Kata Feli dengan pipi yang telah basah. Feli mengulurkan tangannya pada Nev dan Nev menyambut itu.


"Ya," jawab Nev singkat.


Nev berbalik badan untuk menuju satu-satunya pintu keluar yang ada diruang pengadilan itu, namun dia mengurungkan niat itu sejenak-- demi menatap Feli sekali lagi.


"Ada apa, Nev?" Kata Feli menyeka airmatanya sembari tersenyum melihat Nev yang kembali menatapnya.


"Terima kasih, kau sudah membuat perpisahan ini jadi lebih mudah," kata Nev pada Feli-- yang selama proses sidang cerai tak banyak menyangkal kesalahan dan lebih banyak diam.


Feli mengangguk, "Maafkan aku, Nev..." Kata Feli.


"Aku sudah memaafkanmu, tapi setelah ini kau harus siap dalam tuntutan hukum terkait perbuatanmu dimasa lalu," bisik Nev tepat ditelinga Feli.


Mendengar itu, tubuh Feli kaku dengan mata terbelalak. Dia tak menyangka Nev akan memidanakannya setelah hatinya carut marut akibat sebuah perceraian.

__ADS_1


"Nev..." Lirih Feli.


"Kau harus memanfaatkan sisa hidupmu untuk kebaikan, Fel. Walaupun itu akan kau habiskan didalam sel," kata Nev menekankan kata-katanya sembari menatap Feli dengan senyuman miring.


Feli tercekat dengan tenggorokan kering dan membuatnya sulit menghirup oksigen.


Nev segera berbalik badan kembali dan meninggalkan Feli begitu saja, yang terlihat membeku dengan tatapan kosong ditengah-tengah ruangan. Feli tersadar saat seorang pengacara yang selalu mendampinginya menyentuh pundaknya.


"Ibu Feli, anda baik-baik saja?" Tanya wanita yang bertugas sebagai pengacaranya itu.


Feli mengangguk sembari menatap nanar punggung lebar Nev yang sudah berjalan menjauh, tampak membelakanginya-- diujung sana.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Seminggu setelah sidang akhir, Nev mendapat kiriman akta cerai yang sah dari pengadilan.


Nev menjalani rutinitasnya dengan kesibukan kerja seperti sebelumnya.


Perihal Raya, sebenarnya Nev tetap tidak ikhlas melepas Raya begitu saja. Tapi Nev mencoba mengistirahatkan hati dan pikirannya. Biarlah pertemuan saat makan siang dirumah Raya tempo hari, menjadi pertemuannya yang terakhir dengan Raya.-Begitulah logikanya berkata.


Nev mencoba mengikuti logika dan alur, berusaha ikhlas walau sebenarnya sulit dan membuatnya hampir gila karena semangatnya selalu menghilang jika mengingat Raya yang akan menikah di penghujung bulan.


"Anda mendapat kiriman, Tuan..." Kata Nimas menyerahkan sebuah amplop kepadanya.


Nev menerima amplop itu dengan tidak bersemangat, dan semakin tak semangat lagi kala mengetahui bahwa isinya adalah surat undangan pernikahan Raya.


Mendapat surat undangan itu, logika yang selama ini membuatnya kuat justru lenyap karena perkara hati yang sulit mengabaikan begitu saja.


Haruskah dia gila hanya karena seorang wanita?


Bahkan saat dulu, dia tak pernah merasa seperti ini pada Feli. Perasaannya terhadap Raya benar-benar diluar kendalinya dan dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Raya sama sekali tak berniat mencegah pernikahan ini.


Dia marah terhadap Raya, tapi diapun tidak tahu perasaan Raya terhadapnya, jadi haruskah dia merasa kecewa dengan Raya?


Tidak, dia tak bisa kecewa pada Raya karena sejatinya dia dan Raya memanglah tak memiliki hubungan apa-apa, selain perasaannya yang tak terbalaskan oleh wanita itu.


Nev pun menelepon Jimmy.


"Ini yang kau katakan ingin membantuku?" Tanyanya melirih, belum pernah dia berbicara dengan nada ini pada Jimmy-- yang notabene-nya selalu mencibirnya.


"Maaf, Bro..." Hanya itu jawaban Jimmy yang membuatnya semakin ingin mengumpat pria diseberang teleponnya itu.


Beberapa hari kemudian, Nev bahkan kehilangan investor karena menjalankan meeting dengan melamun dan tidak fokus.


Harinya semakin berantakan, tak bersemangat, hingga akhirnya kegilaannya muncul begitu saja.

__ADS_1


Sehari sebelum pernikahan Raya berlangsung, Nev tak tahan lagi dengan perasaan tak ikhlas yang membelenggunya, sehingga dia bertekad menggagalkan pernikahan itu apapun caranya.


Nev berpapasan dengan Jimmy di lobby kantornya, tampaknya Jimmy ingin mengatakan sesuatu-- tapi Nev sudah tak tertarik membahas apapun saat ini dengan Jimmy. Karena tujuannya saat ini hanya satu yaitu menggagalkan pernikahan Raya dan Reka.


"Kau mau kemana?" Tanya Jimmy pada Nev.


Nev memandang Jimmy dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.


"Aku akan membawa Raya bersamaku," katanya sembari berlalu dari hadapan Jimmy.


Jimmy meneriaki namanya beberapa kali namun dia tidak menghentikan langkah, tujuannya sekarang adalah rumah Raya.


Saat dia tiba dirumah kontrakan itu, dia baru ingat bahwa Raya dan keluarganya telah pindah. Bahkan ketika kunjungan terakhirnya ke rumah itu beberapa bulan lalu, Mama Raya sempat mengatakan akan pindah, kenapa dia lupa?


Alamat barunya dimana? Ah, dia tidak tahu.


"Sial!" Umpatnya sembari memukul kemudi mobil, lalu dia mengambil ponsel dan menelepon Bian.


"Kau tahu rumah lama Raya?"


"......"


"Ya, rumah yang disita...mereka pasti kembali kesana setelah asetnya dipulihkan."


"......"


"Baik, kirimkan alamatnya segera," pungkasnya.


Detik demi detik Nev menunggu, akhirnya pesan dari Bian diterimanya dan dia pun segera memutar haluan menuju alamat yang dikirimkan Bian.


Sampailah dia pada rumah mewah keluarga Raya, rumah yang seharusnya memang menjadi tempat tinggal Raya.


Nev tertegun untuk sejenak, seorang gadis dari keluarga kaya pernah bekerja menjadi seorang pengasuh dirumahnya. Ck...!!!


Nev menanyakan keberadaan Raya pada Satpam rumah itu, namun Raya dan keluarganya tidak dirumah, mereka sekeluarga tengah berada dirumah Reka.


Mungkin membicarakan acara yang besok akan berlangsung! Damned!


Tapi, kenapa harus keluarga Raya yang menyambangi rumah calon besannya itu? Bukankah seharusnya keluarga Reka yang datang kerumah Raya?


Nev menggerutu didalam hati, dia bingung harus melakukan apa sekarang. Haruskah dia datang kerumah Reka juga?


Dengan perasaan kalut, akhirnya dia meminta Bian mengirimkan alamat Reka juga.


Yang justru dikirimkan Bian adalah alamat rumah Reka, bukan alamat rumah orangtuanya. Nev yang tidak tahu apa-apa mengenai ini, langsung menuju kesana tanpa bertanya lebih jelas.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2