
"Nev ..." Raya mengguncang keras tubuh Nev yang terlelap disebelahnya.
Nev hanya berdehem dan menggeliat santai.
"Nev ... to-tolong akuhh Nev..hhh!?" Raya yang sudah merasa kesakitan, tidak mempedulikan lagi bagaimana cara menyadarkan suaminya yang tengah tertidur nyenyak. Ia memukuli Nev dengan membabi buta menggunakan sisa-sisa tenaganya.
Nev terduduk, mengucek matanya sekilas lalu menyadari sesuatu kejanggalan.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Nev dengan intonasi panik.
"Sepertinya ... aku ... akan mela...hirkan." Raya berusaha menarik nafas perlahan-lahan demi menghalau rasa sakitnya.
Melihat itu, Nev yang panik bukan membantu Raya agar segera ke Rumah Sakit, justru Nev ikut kesakitan juga.
"Aku-aku rasa, aku juga kesakitan.. Oh.." Nev memegangi perutnya sendiri yang mendadak kram melihat Raya yang meringis.
Raya tahu jika sudah begini, suaminya yang pernah berkata akan menjadi suami siaga itu, ternyata tidak mungkin bisa diandalkan.
Raya mencari-cari keberadaan ponselnya dan menelepon supir mereka. Melihat Nev kesakitan, justru sakit yang ia rasakan sedikit berkurang. Berganti rasa ingin terkekeh.
"Pak, tolong siapkan mobil sekarang. Sepertinya saya akan melahirkan!" ucap Raya dengan susah payah.
"Bukankah perkiraan lahirnya masih minggu depan?" tanya Nev masih tetap memegangi perutnya sendiri.
"Entahlah, Nev. Ini sakit sekali. Jangan banyak bertanya!" pungkas Raya.
Nev yang mendengar itu semakin memegangi perutnya dan berulang kali pula pria itu melenguhh panjang.
Tak berapa lama, Yana sudah mengetuk pintu kamar, mungkin Pak Karno sang supir sudah memberitahunya perihal mobil yang telah siap.
"Ray... mobilnya sudah siap," pekik Yana dari balik pintu.
"Mbak... to-long.." Suara Raya yang melemah justru tak terdengar oleh Yana.
Nev yang balik menjerit. "Yana, buka pintunya... kami kesakitan!" katanya.
Yana yang mendengar itupun membuka pintu dengan tergesa, disusul oleh Pak Karno yang menyeruak masuk.
"Ayo, Nyonya... saya bantu membopong tubuh Nyonya ke dalam mobil," kata Pak Karno sopan.
__ADS_1
Nev mendelik, merasa tak terima jika tubuh istrinya disentuh laki-laki lain padahal itu hanya sang supir. Sepersekian detik berikutnya, dengan susah payah Nev bangkit juga dari posisinya yang tadi meringkuk kesakitan.
Tanpa meminta persetujuan siapapun, Nev menggendong tubuh Raya dan seketika itu juga Raya sudah berada dalam gendongan suaminya itu. Mereka menuju lift diujung lorong dengan diikuti oleh Yana dan Pak Karno dibelakang tubuh Nev yang menggendong sang istri dengan posesif.
"Nev, pelan... pelan..." Raya takut Nev yang ikut merasa kesakitan justru membuatnya terjatuh, itu mungkin saja bukan? Karena beberapa menit lalu Nev juga mengeluhkan rasa sakit yang seperti melebihi kesakitan yang diderita istrinya.
Sampai didepan rumah, mobil telah siap dan Nev mendudukkan Raya di jok belakang berikut dirinya sendiri.
Mobil mulai dikemudikan oleh sang supir menuju Rumah Sakit.
Seharusnya, Raya melakukan Operasi SC kemarin, tapi Raya justru menginginkan melahirkan secara normal dan HPL nya adalah seminggu kedepan. Tapi ternyata, hari ini Raya sudah merasakan sakitnya pembukaan melahirkan dan Nev juga tak mau ketinggalan karena ikut merasakan rasa itu juga.
Raya yang berharap bisa disemangati oleh Nev, justru mendadak down melihat suaminya yang juga kesakitan.
Sepertinya kali ini Nev benar-benar tak bisa diandalkan dan itu membuat Raya ingin menangis.
"Kita tunggu pembukaannya lengkap, ya, Bu..." ucap seorang perawat dengan lembut.
Raya hanya bisa menahan sakitnya sendirian, karena jika ia semakin menunjukkan kesakitan justru itu merangsangg Nev untuk ikut kesakitan juga.
Hampir setengah harian menunggu, dan drama-drama melahirkan yang tak sesuai ekspektasinya, akhirnya Raya melahirkan juga.Tiga bayi kembarnya telah lahir kedunia. Raya bernafas lega, begitu pula dengan suaminya.
Raya menatap Nev yang ternyata sudah menangis haru disampingnya.
"Terima kasih, sudah melahirkan anak-anakku, Sayang..." Nev mengecup pucuk kepala Raya berkali-kali.
Raya mengangguk dengan rasa bahagia yang luar biasa.
Setelah mengadzani bayinya satu-persatu, bayi-bayi itupun dibersihkan lebih dulu oleh dua orang perawat.
Setelah bersih, satu bayi perempuan Raya digendong oleh Nev, satunya lagi disambut hangat oleh Adrian, sementara satu-satunya bayi tampan, diletakkan disisi Raya yang terbaring.
Semua bayi itu menangis serentak dan bersahut-sahutan. Tapi jika berada didekat Raya, bayinya mendadak terdiam.
"Sayangnya, Mama..." Raya mengecup pipi bayinya yang sangat mungil secara bergantian.
"Apa kalian sudah mempunyai nama untuk mereka?" tanya Nenek tersenyum sambil menimang bayi perempuan yang baru diserahkan Nev pada wanita baya itu.
__ADS_1
Nev mengangguk. "Kami sudah mempunyai nama untuk mereka, Nek." Nev berkata dengan senyum bahagianya.
"Siapa nama cucu-cucu oma ini?" timpal Sahara yang menciumi pipi bayi yang digendong Adrian disebelahnya.
"Yang perempuan namanya Airish dan Abrine. Yang laki-laki, kami memberinya nama Araav," terang Nev sembari mengelus rambut Raya.
"Itu bagus... Triple A," timpal Adrian riang.
"Selamat, anak Mama sudah resmi menyandang status sebagai seorang Mama," Sahara mengelus lengan Raya yang masih terbaring.
"Iya, Ma..." sahut Raya dengan mata berkaca-kaca.
"Permisi, sekarang sudah boleh belajar untuk menyu-sui, ya," kata perawat yang baru memasuki ruangan itu.
Raya mengangguk dan mulai belajar untuk menyu-sui bayinya secara bergantian.
Pemandangan itu ditatapi oleh Nev dengan pandangan haru. Ini adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang Ayah dan ini juga pemandangan paling indah yang pernah ia lihat. Nev sangat amat bahagia dan rasa itu tidak bisa ia utarakan dengan kata-kata.
"Nev, bisa membantuku menggendong Abrine?" tanya Raya dengan suara lembut.
Nev yang sempat termenung menatap sang istri. "Dengan senang hati, Sayang. Aku akan membantu kamu apapun! Apapun, Sayang." ucapnya.
Dan tidak ada yang lebih bahagia daripada kenyataan yang sekarang sudah diemban oleh Nev. Satu hari paling berharga dalam hidupnya sudah terjadi sekarang dan ia amat mensyukurinya. Sekarang tinggal bagaimana ia menjaga semua kebahagiaan ini agar tetap berada ditempatnya dan tidak akan ada yang merenggut dari genggamannya.
...Udah ya part bonusnya.. hehheeh๐๐...
...Jika berkenan, boleh mampir ke novel terbaru othor.. dengan judul "Cinta Terbalut Nista" Buka profil othor dan temukan disana....
...Mudah-mudahan ada hikmah dan pembelajarannya yah.....
...Ini othor kasi spoiler sedikit;...
...____...
Bagaimana mungkin semesta mempertemukan kami lagi? Setelah 10 tahun berpisah, kami dipertemukan kembali oleh takdir.
Aku masih pada perasaan yang sama, terbelenggu dalam asa. Sementara, dia akan membina rumah tangga. Haruskah aku menyelinap masuk kedalam kehidupan barunya? Mungkin kata pecundang akan layak disematkan padaku yang menggenggam hina. Ya, akulah si nista itu.
__ADS_1
Berikan hadiah dan like pertamamu disana ya... tinggalkan komentar juga๐๐