PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Sikap yang berbeda


__ADS_3

"Kamu kenapa, Hel?" Airish terheran-heran melihat Rahelsa yang masuk ke kamar dengan wajah memerah.


"Gak, gak apa-apa, kok!" sanggah Rahelsa, ia tak mau mengatakan pada Airish mengenai kejahilan Aarav padanya.


"Ya udah, yuk tidur!" Airish memeluk guling dan berusaha memejamkan mata, sementara Rahelsa mulai berbaring disebelah gadis itu.


"Rish..."


"Hmm," sahut Airish dengan mata yang sudah terpejam.


"Aarav mau memutuskan pertunangan kami."


Seketika itu juga Airish langsung terduduk. "Kenapa?" tanyanya menatap Rahelsa.


Rahelsa ikut duduk kemudian bersandar di headboard tempat tidur. "Kayaknya dia cuma sayang sama aku sebagai adik."


"Mana mungkin!" jawab Airish cepat.


"Itu kenyataannya. Dia bilang sayang sama aku dan aku rasa, Aarav anggap aku sama ... kayak anggap kamu dan Abrine. Selain itu, dia bilang mau yang terbaik untuk aku. Dia gak bisa kasi aku apa-apa, dia gak sempurna buat aku, jadi dia mau batalin pernikahan kami."


Airish diam mencerna ucapan Rahelsa. Ia mengetuk-ngetuk jari didepan dagunya sendiri sembari berpikir. Ia mengenal Aarav sedari kecil bahkan mereka tumbuh di rahim yang sama. Alasan Aarav ini cukup membuat Airish bingung, bukankah Rahelsa gadis yang sempurna? Apa kakaknya insecure dengan kesempurnaan Rahelsa?


"Aku pikir, dia sayang sama kamu melebihi seorang adik, Hel." Airish tiba pada sebuah pemikiran. "Kak Aarav benar-benar mencintai kamu, dia mau yang terbaik untuk kamu. Dia cuma insecure sama keadaan dirinya sendiri."


"Kalo gitu harusnya dia bertahan, dong!"


"Dia gak bisa mengimbangi kesempurnaan kamu."


"Aku gak paham sama pemikiran Aarav. Yang aku tahu harusnya dia tetap mempertahankan semua ini. Makanya, aku jadi gak yakin kalau dia cinta sama aku."


"Susah sih kalau dia gak mau ngakuin perasaannya sama kamu. Tapi...." Airish tiba-tiba memiliki ide untuk membuat Aarav mengakui tentang hal itu.


"Tapi apa?"


"Aku punya ide biar dia ngaku, cuma... aku gak yakin sih apa dia tetap mau pertahanin hubungan kalian atau enggak."


"Caranya?"


"Buat dia cemburu!"


"Ah, emang dia bisa cemburu? Aku gak yakin." Rahelsa lesu.


"Maka dari itu kamu buat hal yang mungkin bisa membuat Kak Aarav cemburu, dari situ kamu bisa menilai perasaannya."


"Boleh deh..." jawab Rahelsa tak begitu berminat karena takut kecewa sebelum memulai.


"Satu lagi..." Airish menggantung kalimat.


"Apa?"


"Aku pikir, selama ini kamu terlalu baik dan peduli sama kak Aarav. Coba deh kamu coba untuk bersikap seolah gak peduliin dia, aku yakin tuh dia bakal ngerasa kehilangan kamu."


"Mana bisa aku bersikap gitu ke Aarav, Rish!"

__ADS_1


"Kali aja cara ini bisa buat dia mikir seberapa berartinya kamu buat dia. Kalau perlu kamu agak jaga jarak deh sama dia, biar dia tau rasa!" Airish tersenyum tipis memikirkan bagaimana reaksi Aarav jika Rahelsa benar-benar menghindar dari lelaki itu. Ia tebak, pasti kakaknya itu akan kalang-kabut.


Rahelsa terdiam, cukup lama dia memikirkan saran dari Airish.


"Gimana? Mau coba enggak?" tanya Airish memastikan.


Rahelsa akhirnya mengangguk pelan.


_____


Pagi-pagi sekali, Rahelsa terbangun dan langsung mandi. Ia bahkan meninggalkan Airish yang masih bergelung dengan selimut.


Rahelsa menuju kamar Aarav, mengetuknya sekilas demi mendengar sahutan pemilik kamar untuk memastikan apakah Aarav sudah bangun atau belum.


Tidak mendapat sahutan, Rahelsa membuka kenop pintu dan masuk kedalamnya. Ia melihat Aarav masih tertidur pulas.


Dalam diam, Rahelsa memperhatikan wajah teduh milik Aarav. Mata lelaki itu masih terpejam, alis matanya yang tebal menunjukkan ketegasan pemiliknya, hidung yang mancung, serta bibir yang penuh dan terkadang berucap dingin. Tanpa disadari, Rahelsa tersenyum melihat keberadaan Aarav didepannya.


Rasanya, Rahelsa selalu ingin melihat wajah ini dipagi hari dalam hidupnya. Ia sadar bahwa ia sangat mencintai Aarav. Matanya telah buta dan tidak bisa melihat sosok yang lain lagi, yang mungkin lebih bersinar dari lelaki bernama Aarav. Baginya, Aarav adalah cahaya yang paling berkilau dan tidak bisa diganti oleh siapapun.


Namun, Rahelsa ingat bahwa ia mempunyai misi untuk mengungkap perasaan Aarav. Mulai hari ini ia akan bersikap tak acuh pada lelaki ini. Ia akan berusaha tak memedulikan Aarav seperti biasanya, agar Aarav menyadari kepeduliannya selama ini.


Dengan ujung jari telunjuknya, Rahelsa memberanikan diri untuk menyentuh bahu Aarav, mencoba membangunkan lelaki itu.


"Aarav..."


Lelaki yang pulas itu tidak bergeming.


"Aarav... ayo bangun!" kata Rahelsa sembari mengetuk-ngetuk bahu Aarav dengan ujung jarinya.


"Els..." Aarav tersenyum mendapati Rahelsa membangunkannya pagi ini. Ia pun mengucek matanya sendiri sembari melihat Rahelsa yang sudah berpenampilan cantik seperti biasanya, dalam hati Aarav bersenandung riang melihat gadisnya yang sangat mempesona.


"Ayo bangun, aku bantu kamu sebentar, setelah itu aku harus ke kampus." Rahelsa berucap datar, sengaja, untuk menjalankan niatnya.


Rahelsa segera berbalik, ingin menuju lemari untuk mencarikan Aarav baju, namun Aarav justru mencegat kepergian Rahelsa dengan memegang lengan gadis itu.


"Els... tunggu!" Aarav menatap Rahelsa dalam posisinya yang masih berbaring.


Aarav merasa intonasi suara Rahelsa berubah, terasa berbeda. Entah karena faktor ia yang baru bangun tidur atau karena gadis ini sedang marah kepadanya.


Ditatap dengan pemilik mata cokelat tegas itu, membuat Rahelsa gelagapan. Belum lagi setelah ia menyadari jika tangan Aarav menggenggam pergelangan tangannya. Jantungnya harus bekerja keras menahan gejolak dentuman dipagi hari seperti saat ini.


"Ke-kenapa?" Rahelsa merutuki dirinya sendiri karena menjawab Aarav dengan terbata. Sebegitukah ia terintimidasi oleh sorot mata yang menghujamnya itu?


"Kamu kenapa? Marah sama aku karena kejadian semalam?" tanya Aarav dengan heran.


"Ng-nggak..." sanggah Rahelsa cepat.


"Nada suara kamu beda."


Rahelsa cukup takjub karena Aarav bisa menyadari hal ini dengan cepat, padahal Rahelsa baru saja ingin melakukan niatnya untuk tidak memedulikan Aarav, belum sepenuhnya ia lakukan dengan sungguh-sungguh, alias masih tahap uji coba.


"Gak, itu mungkin perasaan kamu aja!" kilah Rahelsa.

__ADS_1


Aarav ingin bangun dan duduk, Rahelsa pun dengan sigap membantu lelaki itu.


"Aku mau mandi, Els. Apa kamu mau membantuku dalam hal ini juga?" goda Aarav sembari tersenyum tipis, berharap Rahelsa tidak berubah padanya.


"Aku panggilkan Tante Raya saja, ya."


Aarav mengangguk, namun lagi-lagi ia menangkap nada lain dari suara Rahelsa yang biasanya penuh kelembutan kepadanya.


Pagi ini, Rahelsa terasa dingin.


______


"Aku pergi kuliah ya, Tant ..." Rahelsa menyalami tangan Raya dengan takzim. Nev kebetulan sedang pulang ke Indonesia jadi dia tidak ada di Apartemen. Abrine dan Airish tidak ada jam kuliah hari ini jadi Rahelsa akan berangkat ke kampus sendirian.


"Iya, Sayang. Hati-hati nyetirnya." Raya mengelus rambut Rahelsa sekilas dan tersenyum hangat pada gadis itu.


Aarav melihat Rahelsa yang akan pergi, ia mendekat pada gadis yang sudah berada diambang pintu itu.


"Els..."


"Ya?" Rahelsa menoleh pada lelaki itu.


"Kamu gak bilang mau pergi sama aku?" tanya Aarav dengan senyuman tipis.


Sebenarnya Rahelsa ingin izin pergi pada Aarav, namun niat itu ia urungkan karena ia berniat mengabaikan Aaravdemi melancarkan aksinya.


"Ah, ya... aku pergi kuliah dulu. Sore akan kembali kesini lagi." Rahelsa menjawab datar dengan senyum yang dipaksakan.


Lagi-lagi Aarav menangkap raut wajah Rahelsa yang berbeda. Terlihat tulus namun juga terlihat memaksakan keadaan.


"Sore?" tanya Aarav memastikan apaq yang didengarnya.


"Ya, sore aku baru pulang. Kebetulan hari ini aku harus menyelesaikan project perancangan busana. Aku harus menyesuaikan ukuran pakaian dengan tubuh Zack, agar dia nyaman menggunakannya," terang Rahelsa jujur. Hari ini ia memang akan melakukan fitting dengan Zack yang akan menjadi model fashion week seperti kesepakatan awalnya bersama Alice sang rekan.


"Zack?" Aarav menatap Rahelsa dengan kernyitan tajam, menunjukkan ekspresi tak senang. Tentu ia tahu sosok Zack yang sempat bertemu dengannya di kampus Rahelsa waktu itu.


"Ya, dia akan menjadi model fashion week. Dalam arti lain dia yang akan mencoba rancangan baru kami."


Aarav pun mengangguk samar.


"Ya sudah, aku pergi dulu, Rav!" kata Rahelsa tak acuh.


Aarav kembali memanggil Rahelsa.


"Els...."


"Ya?"


"Hati-hati," kata Aarav tersenyum kecil.


Rahelsa membalas dengan senyuman yang sama kemudian dia berlalu dari ruang Apartemen milik keluarga Aarav.


Aarav merasa ada yang berbeda pada diri Rahelsa, namun ia berusaha mengabaikan itu. Dalam pemikirannya mungkin gadis itu sedang sangat sibuk dan tergesa-gesa untuk segera menangani project kuliahnya. Tapi, disisi pikiran Aarav yang lain, ia ingin memastikan sikap Rahelsa ini nantinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2