PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Masih sama


__ADS_3

Usai berbenah dan berpamitan dengan Aunty Diana dan Bianca, Airish pun keluar dari rumah itu. Ia mendekati mobil yang telah dibukakan pintunya oleh seorang sopir. Sambil menarik nafas dalam, akhirnya ia memasuki kabin belakang mobil itu, mendudukkan diri disamping pemuda yang sudah lebih dulu mengisi sisi jok yang ada disebelahnya.


Hening ....


Mobil yang dikemudikan oleh sopir pun mulai berjalan perlahan, meninggalkan kediaman milik keluarga Bianca.


Dalam hati, ia merasa sangat gugup dan canggung, belum lagi pikirannya yang sudah melanglang buana. Keadaan hening yang tercipta membuatnya semakin bingung dan kikuk tak berdaya. Hendak membiarkan saja keheningan ini, atau justru memecah kesenyapan dengan sebuah obrolan yang nantinya akan terdengar seperti kekonyolan.


Sebenarnya, ia berharap Zio lah yang lebih dulu memulai untuk membuka kata diantara mereka.


Merasa tak punya pilihan, ia pun memilih tetap diam sambil menatap sisi jalanan malam yang sepertinya baru diguyur hujan.


"Usai kuliah, kenapa tidak langsung pulang ke rumah?"


Deg ....


Pertanyaan Zio berhasil membuatnya mengalihkan atensi, yang awalnya ia menatapi pemandangan dibalik kaca jendela mobil, kini ia jadi memutar kepala, demi menoleh pada pemuda yang tampak cuek itu.


Namun, bukankah pertanyaan Zio terdengar seperti pehatian lebih? Atau hanya dirinya yang merasa jika ucapan pemuda itu memang terkesan seperti tengah menaruh kepedulian padanya?


"Ta-tadi, a-aku hanya .... menemani Bianca," jawabnya terbata. Demi apapun, ia justru merutuk diri sendiri, karena suaranya bergetar demi menjawab pertanyaan pemuda itu.


Zio mengangguk singkat, kemudian memicing padanya yang saat ini masih mengenakan gaun milik Bianca--dengan model sabrina--sedang melipat tangan di dada. Tidak dipungkiri, suhu sekitar terasa sangat dingin, mungkin karena efek hujan yang baru saja reda mengguyur bumi.


"Dingin?" tanya Zio mulai bersuara lagi. Ia mengangguki pertanyaan pemuda itu.


Zio melepas jas yang dikenakan. Tanpa babibu, langsung membalutkan ke tubuhnya. Bersamaan dengan itu, ia tidak menampik bahwa kini merasa lebih hangat dari sebelumnya. Ia melirik sekilas pada netra sang pemuda, membuat tatapan mereka bertumbukan satu sama lain.


"Biasakanlah membawa Coat, saya tidak mau kamu sakit karena suhu di negara ini sulit ditebak." Zio berucap sembari masih menatapinya dengan dalam. Ia terintimidasi oleh ucapan dan tatapan itu, membuat bibirnya terkatup tidak bisa menjawab, membuat lidahnya kelu dan sulit berucap. Ia hanya bisa menjawab Zio dengan pandangan, seolah tatapan itu yang mewakili jawaban atas pernyataan Zio-- selayaknya ia akan mematuhi segala perintah Tuan Muda yang terhormat-- atau lebih tepatnya, saat ini ia seperti dalam pengaruh hipnotis. Nampaknya Zio memang punya keahlian itu, barangkali.


"Kapan kuliah kamu selesai?" tanya Zio lagi.

__ADS_1


"Ya?" Ia sampai tidak tahu apa pertanyaan Zio kali ini. Tidak jelas mendengarnya karena masih terfokus pada wajah tampan yang sama.


Zio terlihat menahan tawa. Padahal sejak tadi pemuda itu memasang wajah cool yang tampak sulit untuk ditaklukkan. Efek dari kulumann senyum, justru membuat Zio terlihat semakin tampan saja, di matanya. Entahlah jika di mata orang lain, itu bukan urusannya!


Ah, sepertinya ia nyaris gila! batinnya merutuk untuk kesekian kalinya sebab mengagumi ciptaan Tuhan yang mungkin dibuat dengan pahatan khusus sehingga menghasilkan manusia dengan fisik serupawan ini dan mampu menghipnotisnya berkali-kali dalam kurun waktu singkat dan beruntun, bahkan nyaris bersamaan.


"Tadi, saya tanya ke kamu .... kapan kuliah kamu selesai..." ulang Zio.


"Jam 3 sore," jawabnya random.


Sekarang, pemuda itu tidak lagi menahan tawa, tetapi terbahak-bahak didepannya. Menimbulkan gelak tawa yang khas, renyah dan keluar begitu saja seolah tak dapat lagi tertahan bahkan untik menjaga image cool nya. Tapi, tetap saja ia menyukainya, senyum itu dan tawa pemuda itu, menawan hatinya.


Apa ada yang lucu? Apa jawabannya tadi seperti lelucon yang sangat menggelitik? Sepertinya tidak, ia menjawab jujur dan apa adanya. Kenapa Zio tertawa lepas seperti itu?


Tanpa pernah ia sangka, tangan pemuda itu justru terulur dan mengacak rambutnya gemas.


"Kamu, masih sama saja...." kata Zio sembari mulai mencoba menghentikan tawa. Zio tampak berdehem sejenak, lalu memasang wajah cool seperti saat dirumah keluarga Bianca tadi dan seperti sebelumnya.


Zio menggeleng samar. Entah apa yang dipikirkan pemuda itu sekarang. Ingin rasanya ia bertanya, 'Apa kamu masih mengingat janjimu?'. Tapi, ia memilih mengurungkan niat itu meski pertanyaan itu terus mengerubungi sisi dirinya, baik pada jiwanya yang penasaran maupun pada batinnya yang butuh jawaban demi memuaskan keingintahuan.


Hah, sama saja! Intinya rasa ingin tahunya sangat menggebu-gebu untuk tahu mengenai hal itu.


"Sudah sampai," kata Zio menunjuk luar jendela dengan mengendikkan dagunya singkat.


Ia menoleh ke luar jendela, benar saja sudah tiba di gedung Apartmen keluarganya.


Kenapa rasanya cepat sekali. Belum juga puas berada disamping Zio. Ah... apa-apaan? Sepertinya ada yang korslet dalam jaringan otaknya sekarang.


"Ya, terima kasih...." Akhirnya kata-kata penutup itu terucap dari bibirnya, sekaligus sebagai arti salam perpisahan. Entah kapan ia bisa bertemu pemuda ini lagi. Yang jelas, kebetulan bertemu dengannya di Rumah Bianca hari ini merupakan suatu moodbooster tersendiri untuk jiwanya.


Walau bagaimanapun, harus ia akui, bahwa ia merindukan pemuda yang sudah tak dilihatnya selama bertahun-tahun. Pemuda yang dulunya cupu, tidak pernah ia lirik, namun selalu membuntutinya. Bahkan yang paling mencengangkan adalah perkara Zio yang pernah mengutarakan janji yang cukup besar padanya.

__ADS_1


Entah sejak kapan ia menaruh hati, namun janji Zio terus bercokol dalam pikirannya, seolah mengikat dirinya secara tak langsung, membuatnya menjaga jarak dengan pemuda lainnya. Meski sebenarnya, ia tak pernah menjanjikan dan menyetujui hal yang sama dengan janji Zio waktu itu.


Saat menarik tuas pintu dan ingin keluar dari dalam mobil. Zio memegang lengannya, seolah mencegahnya pergi.


"Zi...."


Ia hendak protes, namun Zio mengecup pipinya singkat, membuat matanya membola terkejut.


Mungkin sekarang wajahnya sudah memanas, menciptakan efek merah pada sekujur tubuh akibat dari perbuatan refleks yang Zio lakukan.


Please, jangan tanyakan detak jantungnya saat ini!


"Besok pagi, saya jemput disini..." bisik Zio, terdengar sangat lembut di indera pendengarannya.


Ia harus menekan dada sendiri, mencoba meredam gemuruh yang terasa bersorak gembira dengan penuturan pria itu. Namun, mendadak ia lemas karena mengingat status Zio.


Apa Zio berniat menjadikannya selingkuhan?


Apa ia harus memikirkan saran dari Bianca untuk merebut Zio dari tunangannya?


Tidak, ia tak mau dijadikan pelarian atau gadis cadangan untuk menemani Zio selama di Jerman.


"Zi, bukannya kamu---"


Telunjuk Zio sudah diletakkan didepan bibirnya, mengisyaratkan agar ia berhenti bicara.


"Masuklah," kata pemuda itu pelan dengan nada menghanyutkan.


Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, ia pun mengangguk patuh dan dengan pelan membuka pintu mobil. Ia keluar dari dalam mobil dengan perasaan tidak rela. Meski ia akan menolak tegas jika Zio berniat menjadikannya selingan, tapi tidak dipungkiri jika ia masih mau berlama-lama dengan pemuda itu.


Ah, sepertinya otaknya agak bergeser ke kanan dan tidak kembali ke porosnya. Ia mendadak blank dan merasa benar-benar gila apalagi memikirkan kecupan yang Zio daratkan di pipi kirinya beberapa detik lalu.

__ADS_1


*******


__ADS_2