PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
81 - Mengidam


__ADS_3

"Selamat untuk kalian," ucap Feli dengan susah payah.


"Hmm, apa kau benar tidak apa-apa?" tanya Raya merujuk pada kaki Feli.


"Y-yah, aku tak apa. Hanya sedikit tersandung tadi."


"Baiklah, kau tinggal dimana Feli? Kalau kau tidak keberatan, biar sekalian kami antar," tawar Raya tulus.


Feli menggeleng, "Tidak usah ... Aku bisa sendiri," jawabnya.


"Tapi kakimu..."


Feli menggeleng lagi, "Please, Raya... Tidak usah," jawabnya sembari mencoba untuk berdiri.


Raya membiarkan Feli sesuai permintaan wanita itu, Feli berjalan sedikit terseok-seok dan Raya tidak tega melihat itu. Raya menyusul dan menyamakan langkahnya dengan Feli.


"Aku minta maaf jika pernikahanku dengan Nev membuatmu sakit hati," kata Raya disamping Feli.


Feli terdiam, kemudian menoleh pada Raya. "Mungkin itu memang membuatku sakit hati, Raya. Tapi semua itu karena kesalahanku juga, aku sudah menyadarinya," pungkasnya.


"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, selama ini aku menyakiti kamu dengan sengaja. Maafkan aku," sambung Feli sembari mengulas sebuah senyum tipis yang tampak sendu.


Raya diam dan mencerna ucapan Feli, melihat keadaan Feli, dia merasa jika wanita itu benar-benar sudah berubah karena keadaan.


Melihat Raya diam saja, Feli kembali bersuara. "Apa kamu mau memaafkan aku, Raya?" tanyanya.


Raya tersenyum kecil. "Iya," jawabnya tulus.


Kemudian, tanpa Raya sadari Feli tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan akrab. Raya sendiri terkejut dengan sikap Feli ini.


"F-Fel..." lirih Raya masih dalam pelukan Feli.


"Terima kasih, kamu mau memaafkanku. Aku sadar, aku banyak salah sama kamu, Ray. Sekali lagi maafkan aku, Raya ..." kata Feli mulai terisak sambil memeluk tubuh Raya erat.


"Ya--yah, Fel..."


Feli mengurai pelukannya, lalu menyeka airmatanya sendiri. Sementara Raya cukup canggung dengan sikap Feli ini, namun dia memakluminya.


"Raya, bisakah aku minta tolong sesuatu padamu?"


"Mengenai?"


"Tolong, jangan bilang pada Nev tentang pertemuan kita hari ini, terutama tentang keadaanku sekarang."


Raya mengernyit heran. "Kenapa?" tanyanya.


"Nggak apa-apa, aku hanya merasa malu pada Nev jika dia mengetahui keadaanku yang sekarang. Ku mohon jangan katakan padanya..." Feli menyatukan kedua tangannya dan menatap penuh harap pada Raya.


"Baiklah," kata Raya.


Feli kemudian segera undur diri dari hadapan Raya, walau Raya menawarinya untuk diantar tapi wanita itu tidak mau menerima tawaran Raya dan lebih memilih pulang sendiri.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Raya menghabiskan tiga hari kedepan dengan menginap dirumah orangtuanya. Disana dia menghabiskan waktu dengan banyak belajar membuat kue kering dan dia menyimpan beberapa untuk dicicipi Nev saat suaminya pulang nanti.


Menjelang malam, entah kenapa mode ngidam Raya menjadi On. Raya sangat ingin makan sate madura dengan kuah kacang yang pedas.


"Mau kemana, Nak?" Adrian menanyai anak semata wayangnya yang tampak bersiap ingin keluar rumah.


"Mau beli sate, Pa."


"Biar Papa saja yang keluar," tawar Adrian.

__ADS_1


Raya menggeleng, keinginannya saat ini adalah makan sate sambil melihat penjualnya membakar sate dihadapannya.


"Gak usah, Pa. Raya mau makan ditempatnya," jawab Raya.


Adrian terkekeh pelan, kemudian melihat jam di dinding ruangan. "Ya sudah, biar Papa anter, ini sudah malam..." katanya.


Raya tersenyum dan mengangguk patuh. Setelah izin dengan Sang Mama, Raya dan Papanya pun keluar dari rumah. Cuaca malam ini cukup sejuk karena beberapa jam lalu baru diguyur hujan yang cukup deras, beruntung Raya mengenakan sweater yang cukup tebal.


Tak berapa lama, mereka pun sampai di sebuah warung sate pinggir jalan yang ditunjuk Raya.


Raya memesan tiga porsi, dua untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk Adrian.


"Kayaknya cucu Papa doyan makan, ya..." kelakar Adrian yang disambut tawa kecil Raya.


Raya begitu antusias menyantap satenya dan saat dia menyuap untuk yang kesekian kalinya, terdengar suara ponselnya yang berdering.


"Nev?" terka Adrian dan diangguki oleh Raya.


"Raya angkat telepon dari Nev dulu, ya, Pa..."


Adrian mengangguk dan melanjutkan sesi makannya.


Raya menerima panggilan dari suaminya dihadapan sang Papa. Panggilan itu adalah panggilan video.


"Ya, Nev?" sapa Raya memandang suaminya dari seberang panggilan.


"Wah, Sayangku lagi makan diluar, ya?" sambut Nev saat melihat keadaan disekeliling Raya melalui ponselnya.


Raya mengangguk. "Lagi makan sate sama Papa diluar..." sahutnya.


"Kok tumben?"


"Iya, anak kamu nih kepingin makan sate tiba-tiba, jadi ajakin Papa deh..." sahut Raya sembari tersenyum cerah.


Raya memelototi Nev dan sekilas melirik Papanya yang tampak biasa saja padahal pasti mendengar ucapan Nev itu.


Nev hanya tersenyum culas dari seberang sana, kemudian kembali bersuara. "Maaf sayang, gimana satenya? Enak enggak?" tanyanya.


"Enak... ini pesan dua porsi," jawab Raya.


Nev terkekeh pelan. "Kok dua, tiga dong harusnya..." ucapnya.


"Kenapa tiga?"


"Ya, Anggap aja pesanin punya aku juga. Tapi makannya diwakilkan sama kamu," seloroh Nev.


"Hmm, gak ah. Kalau mau juga ya buruan pulang," Raya berkata sembari mengambil satu tusuk sate dan memakannya didepan Nev, seolah memamerkan makanan itu pada suaminya.


Nev terkekeh lagi. "Iya, dua hari lagi aku bakal udah sampek disana, kok. Sabar ya..."


Raya mengangguk.


"Ya udah, lanjutin makannya... Nanti kalau sampek rumah kamu kabari aku ya."


"Siap, Bos.." sahut Raya sembari tetap mengunyah.


"Bye, Sayang. Miss you so much ..."


"Miss you too," jawab Raya tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya saja karena malu didengar sang Papa yang duduk dihadapannya.


Nev terkekeh melihat tingkah Raya itu, kemudian panggilan video itupun diakhiri Raya begitu saja.


Raya ingin memasukkan ponselnya kembali kedalam saku sweater yang ia kenakan tapi tiba-tiba ada pesan baru yang masuk, membuatnya kembali membuka ponsel untuk melihat pesan apa yang dia terima.

__ADS_1


^^^Tuan Manja.^^^


^^^[Sayang, ciumnya ketinggalan...Mmmuuahhh 😘😘😘😘lewat pesan aja deh, nanti didenger Papa takutnya kamu melotot lagi sama aku, 😁]^^^


Raya terkekeh membacanya, kemudian membalas pesan suaminya hanya dengan emoticon 😘 empat kali.


^^^Me^^^


^^^[😘😘😘😘]^^^


"Seneng deh, liat anak Papa bahagia," celetuk Adrian tiba-tiba yang melihat Raya senyum-senyum sendiri pada ponsel.


"Hehehe, Papa ..." Raya nyengir kuda.


"Berarti dulu Papa gak salah pilihin suami buat kamu, kan?" tanya Adrian.


"Papa yang terbaik," jawab Raya mengacungkan kedua jempol pada sang Papa.


Setelah siap dengan acara makan sate mendadak itu, mereka pun memutuskan untuk pulang. Tak lupa membungkuskan satu porsi sate lagi untuk Sahara yang menunggu dirumah.


"Untung deh, ngidam kamu cuma makan sate madura, gak kayak Mama kamu..." kata Adrian saat mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di emperan jalan.


"Memangnya Mama dulu ngidamnya apa, Pa?" tanya Raya menjadi penasaran.


Adrian terkekeh. "Mama kamu ngidamnya parah, maunya makan daging unta," jawab Papa dengan tampang tak bersalah.


Raya terbahak mendengar hal itu. "Serius, Pa?" tanya Raya lagi.


Adrian mengangguk, sembari menekan remote mobil dan mereka memasukinya kemudian.


"Terpaksa deh, Papa titip sama rekan bisnis yang lagi di UEA, mereka belikan semacam dendeng yang diawetkan gitu," jelas Adrian.


Raya masih terkekeh. "Berarti ngidam Mama kesampaian dong, Pa..." celetuknya.


"Iya, masih rezeki kan. Kalau enggak ya bingung juga Papa mau cari dimana kan agak sulit ya.." Papa ikut terkekeh kemudian.


"Kalau aku ngidam yang aneh, kira-kira Nev bakal nurutin gak ya?" gumam Raya bermonolog dengan dirinya sendiri, tiba-tiba ide jail tercetus dikepalanya.


Adrian menyadari jika puterinya sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu jangan ngerjain menantu Papa, ya..."


Raya mengernyit, kemudian terbahak menyadari ucapan sang Papa.


"iya deh, menantu pilihan.. menantu kesayangan.." cibirnya.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju pulang, Adrian selalu saja bisa menghidupkan suasana dengan memberikan lelucon konyol pada sang Anak.


Namun, ucapan Adrian selanjutnya cukup membuat Raya mengernyit.


"Setelah kamu menikah, apa Reka pernah menemui kamu lagi, Raya?" tanya Adrian beralih ke topik serius.


"Pernah, Pa. Sekali, dia datang untuk meminta maaf." jawab Raya jujur sembari menggigit bibirnya.


Adrian menghela nafas panjang. "Jangan berhubungan lagi dengannya, ya, Nak." ujarnya.


"Iya, Pa. Raya paham kok."


"Kalau ingin menjalin hubungan bisnis, secara profesional boleh-boleh saja. Atau ingin hanya sekedar berteman ya gak apa-apa. Tapi ingat, hanya sekedar saja." pungkas Adrian.


Raya mengangguk. Memang sejatinya tak ada yang patut disambung dan jalin lagi bersama Reka. Kalaupun urusan bisnis atau semacamnya mungkin Raya juga akan memikirkannya matang-matang.


"Reka itu banyak berjasa, terutama untuk Papa. Papa tahu dan Papa ingat akan hal itu, tapi Papa hanya takut dia mengganggu rumah tangga kamu dan Nev karena yang Papa tahu Reka orang yang berambisi..."

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2