
Aarav terus saja memperhatikan Bu Siska yang duduk dibelakang-- dari kaca spion tengah mobil.
Airish tentu melihat sang Kakak yang berperilaku akward itu. Rasanya ia ingin tertawa terbahak - bahak sekarang karena menyadari Aarav yang bucin dengan Bu Siska.
"Rumah ibu dimana?" tanya Aarav memulai obrolan karena sejak tadi Bu Siska hanya diam dan sialnya Airish pun tak mengajak Bu Siska bicara meski sekedar berbasa - basi saja.
"Di Jalan Kenanga, daerah Pasar Baru."
"Tahu jalan itu kan, Mang?" Aarav beralih pada Mang Deden yang menjadi sopir mereka.
"Tahu kok, Den!" jawab Mang Deden sekenanya.
"Udah lama tinggal disana, Bu?" tanya Aarav lagi.
"Dari kecil, itu rumah orangtua saya. Saya masih menumpang disana!" Bu Siska menjawab apa - adanya.
"Oh, sama dong, Bu. Aku juga masih menumpang dirumah Orangtua," jawab Aarav nyengir.
Airish mengulumm senyum, bagaimana tidak, setahunya kakaknya tidak pernah melakukan pendekatan seperti ini pada gadis manapun. Lah sekarang malah mau langsung mendekati wanita yang lebih tua dan statusnya adalah guru mereka pula. Kan kurang berpengalaman jatuhnya jadi garing! ck!
"Bu..." Kini Airish yang buka suara, membuat wanita cantik disebelah menoleh kepadanya.
"Ya? Airish?" Tampaknya Bu Siska cukup bisa membedakan antara Airish dan Abrine yang identik, mungkin dari penampilan mereka atau tingkah masing -masing yang memang berbeda.
"Apa ibu sudah menikah?" tanya Airish.
"Ya belum lah!" Aarav yang menyahuti pertanyaan Airish membuat Airish memutar bola mata jengah.
Bu Siska tersenyum melihat interaksi Aarav dan Airish itu.
"Saya belum menikah..." jawab Bu Siska jujur.
"Tuh kan bener!" Lagi - lagi Aarav menimpali ucapan sang guru.
"Sudah bertunangan, mungkin...?" tanya Airish pelan, ia ingin mematahkan hati Aarav sebelum kakaknya itu berharap lebih kepada sang guru.
"Belum," Bu Siska tersenyum kecil.
"Oh belum... tapi maaf ya, bu... mungkin pertanyaan saya ini agak pribadi. Apa Ibu sudah punya pacar, barangkali..." kata Airish lagi dan kali ini Aarav memasang telinganya baik - baik, ini hal yang ingin Aarav ketahui juga.
"Kalau itu, ada sih!" Bu Siska tersenyum kembali sambil menatap Airish.
Airish menyengir sementara Aarav yang duduk didepan-- mengumpat kesal didalam hatinya saat tahu Bu Siska sudah punya pacar.
__ADS_1
"Wah, udah ada ya, Bu! Ibu memang cantik sih, jadi ya wajar saja kalau sudah punya pacar. Yang mau pedekate lebih baik mundur teratur deh, ya kan, Bu?" Airish bersorak senang dalam hati-- karena kata-katanya pasti cukup membuat Aarav panas dan ia merasa puas bisa membalas sikap Aarav dengan hal ini.
"Kamu bisa aja, Rish!" Bu Siska menunduk kan kepalanya sejenak, mungkin malu karena pujian yang Airish utarakan.
"Kalau masih pacaran masih bisa ditikung loh, Bu!" timpal Aarav yang sepertinya tak terima dengan kenyataan ini.
"Kamu ada - ada saja, Aarav! Tolong jangan bahas hal ini, ya." ucap Bu Siska pelan sembari menoleh ke samping demi menatap kondisi jalanan yang ada diluar jendela mobil.
Pembicaraan mengenai status Bu siska yang telah memiliki pacar pun harus terhenti sampai disana. Sepanjang perjalanan tinggallah celotehan kecil dari Airish dan terkadang perdebatan dengan Aarav pun tak terhindari.
Sampai mobil yang membawa mereka tiba disebuah pekarangan rumah yang cukup sederhana.
"Ini rumah orangtua saya, terima kasih kalian sudah mau mengantar saya sampai kesini."
"Iya, Bu!" jawab Aarav dan Airish kompak.
"Pak, terima kasih ya, sudah merepotkan mengantar sampai kesini." Bu Siska beralih pada Mang Deden.
"Eh, iya Bu Guru... gak masalah, Bu!" sahut Mang Deden tersenyum.
"Saya turun ya, sekali lagi terima kasih," ucao Bu Siska sebelum benar - benar pergi.
Aarav menatapi Bu Siska yang memasuki pekarangan rumah, sampai bayangan Guru cantik itu tak nampak lagi dipelupuk matanya, barulah Aarav menyuruh Mang Deden untuk kembali mengemudikan mobil.
Dilain tempat, Abrine sangat kesal karena ada satu siswa baru yang memasuki kelas ekskul karate.
Abrine tidak kesal karena mendapat kawan baru, tapi sikap anak baru itu terlihat songong dimata Abrine. Bahkan para teman - teman wanita menatap anak itu dengan tak berkedip, membuat Abrine merasa jengah. Abrine tak suka dengan orang yang mencari perhatian seperti lelaki ini. Airish adiknya saja-- yang sering mencari perhatian akan ia lawan, apalagi hanya cowok ini.
Abrine tidak merasa bahwa disekolah mereka ada murid baru, tapi kenapa lelaki bertubuh jangkung ini bisa masuk ke ekskul di sekolahnya? Bahkan juga mengalahkannya beberapa kali dan sempat menghadiahinya dengan senyuman mengejek.
Abrine tentu melihat sabuk yang dikenakan lelaki itu, sabuk hitam, yang artinya lelaki itu pasti memiliki kemampuan karate yang lebih baik ketimbang Abrine sendiri.
Apa hal itu yang membuatnya songong?
"Kenapa Sensei Joseph belum datang, sih?" tanya Abrine pada temannya, Indri.
"Telat, ada urusan kali," bisik Indri disamping Abrine.
Abrine pun memutuskan untuk fokus pada gerakan karate yang dipandu oleh seorang kakak kelas mereka yang berusaha menggantikan Pak Joseph yang belum tiba.
Sampai akhirnya Sensei Joseph tiba dan meminta maaf atas keterlambatannya.
"Maaf ya, tadi ada urusan sedikit," kata Sensei Joseph tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Sensei Joseph melihat ke arah lelaki jangkung yang membuat Abrine kesal itu.
"Ah, Wildan... kamu sudah tiba rupanya."
Abrine langsung mengernyit saat Sensei Joseph mengenali anak itu.
"Perkenalkan, ini adalah keponakan saya. Namanya Wildan. Kalian bisa berteman dengannya, ya. Dia ingin melihat kelas karate kita disini karena dia akan segera mengajar juga di sekolah lain," kata Sensei Joseph memperkenalkan cowok bernama Wildan yang ternyata adalah keponakan beliau.
Abrine langsung menelan saliva dengan berat, ternyata yang tadi sempat menjadi lawannya adalah calon guru karate, pantas saja ia selalu kalah telak. Baru kali ini ada yang bisa mengalahkannya berulang kali. Biasanya ia hanya kalah-- tak lebih dari dua kali, itupun jika ia sedang tak fokus.
"Lain kali, jika saya tidak bisa mengajari kalian mungkin Wildan yang akan menggantikan saya disini!" ucap Sensei Joseph menambahkan lagi.
Abrine tertunduk saat Wildan menyeringai ke arahnya.
"Lagi - lagi dia mengejekku!" batin Abrine sembari mengepalkan tangan.
Abrine ingin membalas kelakuan Wildan yang selalu menatapnya dengan seringaian tengil, tapi ia tidak bisa karena meyadari kemampuannya berada dibawah cowok itu.
******
Hai, readers... semoga kita dalam keadaan sehat ya?🙏
Buat yang udah baca, mohon tinggalkan jejak ya, Guys...
FYI nih, dari berbagai komentar dan grup yang aku ikuti dalam dunia literasi/kepenulisan, hampir 80% dari penulis-- meninggalkan tulisan yang sedang mereka garap karena tidak adanya apresiasi dari para pembacanya. Khususnya di Apk gratis seperti noveltoon ini... para pembaca bahkan bisa membaca karya penulis secara gratis sampai tamat. Tapi... hanya meninggalkan jejak Like saja terkadang pembaca ogah - ogahan.
Jadi, jika kalian sudah membaca suatu karya, apresiasilah itu, paling tidak hanya dengan memberikan like. Meskipun cerita itu tidak terlalu menarik, namun kalian tetap sudah membacanya. Semoga dengan begitu, penulis akan semangat untuk melanjutkan naskah novelnya.
Jika lebih berkenan lagi, tinggalkan juga komentar yang membangun bukan menjatuhkan. Karena jika pembaca mengatakan begini.
"Kami baca gak gratis, kami juga pake kuota!"
Maka penulis juga bisa menjawab hal yang sama, bahkan bukan hanya tentang kuota, melainkan harus mengorbankan waktu dan pikiran yang terus memikirkan alur cerita.
Be a smart readers ya, guys!! Hargailah apapun bentuk tulisan seseorang karena meski cerita itu tak menarik, barangkali penulis sudah berniat menghibur para pembaca🙏🙏🙏🙏
Tapi aku yakin, pembacaku semuanya selalu menghargai kepenulisanku yang masih amburadul gak jelas ini.
Jika berkenan, sambil menunggu up novel ini boleh mampir ke novel terbaru ku.
klik profilku, dan temukan cerita ini ..
__ADS_1