PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Part Ending


__ADS_3

Akhirnya Event yang diikuti Rahelsa tiba, sejak kemarin ia dan Aarav sudah tiba di kota Dusseldorf. Kota ini merupakan kiblat kota mode yang ada di Jerman. Hal itu pula yang menjadikan Dusseldorf sebagai salah satu pusat perputaran uang terbesar di Negara tersebut.


Aarav dan Rahelsa memilih menginap secara pribadi di hotel yang mereka pilih. Rahelsa tidak mungkin mengikuti dimana teman-temannya menginap dikarenakan sang suami yang ikut serta dalam kegiatannya.


Sesuai janjinya, Rahelsa juga memberikan Aarav tiket VVIP sebagai kunci masuk ke dalam event fashion yang akan segera berlangsung.


Hari ini Rahelsa sudah menyiapkan beberapa rancangan terbaiknya untuk ikut bersaing di event yang memang diadakan menyeluruh untuk semua mahasiswa jurusan desain se-kota Jerman.


Acara itu berlangsung meriah dan lancar. Rahelsa bersyukur meskipun ia bertemu dengan Zack sebagai salah satu model peragaan busana, tapi pemuda itu tidak bersinggungan langsung dengannya karena model yang mengenakan desain rancangannya adalah seorang model wanita.


Aarav menonton dari kursi tamu bagaimana pagelaran busana yang berlangsung. Sebenarnya dia tidak begitu berminat, hanya saja perhatiannya teralihkan saat nama Rahelsa disebut sebagai salah satu perancang busana yang mengikuti event itu. Aarav hanya menyimak dibagian Rahelsa saja, mengagumi kemampuan sang istri, namun sisanya dia tak begitu memperhatikan siapa desainer lain yang mengikuti event kompetisi ini.


Beberapa rancangan Rahelsa yang dirancang khusus dengan desain elegan dan santai ternyata bisa masuk ke dalam nominasi. Rahelsa antusias sekali dan sempat tidak menyangka. Alice dan Deana mendukungnya dengan sorakan gembira, meskipun keduanya tidak masuk daftar nominasi desainer yang lolos.


Kini tibalah prosesi pembacaan pemenang. Lima orang teratas yang memiliki rancangan terbaik dan rancangan Rahelsa sudah jelas menjadi salah satu diantaranya.


"Dari Universitas Heidelberg, Queen Rahelsa Inara. Selamat."


Rahelsa menndesah tak percaya saat seorang pembawa acara membacakan namanya sebagai salah satu pemenang perancangan busana dalam event ini. Rahelsa menitikkan airmata haru. Ia mendapat predikat sebagai peraih kemenangan di posisi ketiga, mengalahkan banyak mahasiswa lain yang menjadi pesaingnya dalam kompetisi ini.


Rahelsa diminta untuk menerima hadiah dan penghargaan sebagai penyandang desainer muda berbakat dan dia benar-benar speechless.


"Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Tuhan dan orang-orang terdekat saya. Saya baik, tetapi saya tidak akan menjadi yang terbaik tanpa dukungan semuanya. Terima kasih tak terhingga, terutama kepada suami saya, yang mendukung saya sampai detik ini. Saya menyimpan dan mencurahkan banyak cinta untuknya sebagaimana dia memperlakukan saya dengan serupa. My husband-- Aarav Prawiraharja, Thanks." Rahelsa menutup kalimatnya sembari tersenyum hangat dan melambaikan tangan ke arah Aarav di kursi VVIP.


Ucapan itu pendapat sorakan gembira dari para penonton dan para panitia acara yang berlangsung. Mereka semua terkesima karena ternyata dibalik acara ini menciptakan sebuah momen romantis tersendiri dari kalimat yang diutarakan dari salah satu nominasi yaitu Rahelsa.


Rahelsa dan Aarav pulang ke Hotel dengan perasaan bahagia, bangga dan sukacita yang melingkupi.


"Proud of you, Wifey...." Aarav mendaratkan kecupan berkali-kali di bibir Rahelsa begitu mereka tiba di kamar hotel.


Rahelsa hanya bisa membalas sikap Aarav dengan kekehan kecil. Tak lama kemudian dia mendapat sebuah ide cemerlang.


"Kenapa?" tanya Aarav yang bisa menebak jika istrinya ingin menyampaikan sesuatu.


"Dari event ini aku dapat hadiah uang yang lumayan. Walaupun mungkin ini cuma uang berjumlah kecil bagi kamu, tapi ini adalah penghasilan pertama aku dari kemampuan aku sendiri," kata Rahelsa dengan mata berbinar.


"Terus?" Aarav belum bisa menebak kemana arah pembicaraan ini meski ia yakin jika Rahelsa ingin menghabiskan uang dari hadiah itu untuk dinikmati bersama-sama dengannya.


"Gimana kalau uang ini aku buat untuk ajak kamu jalan-jalan."


Aarav terkekeh pelan. "Jalan-jalan kemana maksud kamu?" tanyanya.


"Bu--lan ma--du," jawab Rahelsa mengeja.


Aarav makin terbahak. "Kalau soal itu kenapa harus pakai uang kamu. Aku punya uang untuk kita berdua, Sayang," paparnya lembut.


"Ya, kan, tadi aku bilang, meskipun uang ini gak seberapa buat kamu tapi aku mau uang ini bermanfaat untuk kita."


"No!" jawab Aarav tegas. "Kamu simpan uang itu, aku yakin kemampuan kamu ini bisa semakin baik di kedepan hari. Mudah-mudahan uang itu juga bisa lebih bermanfaat. Misal, kamu mau memulai usaha desain atas nama kamu sendiri, aku lebih dukung uang itu untuk digunakan sebagai uang pembuka usaha kamu itu. Selain mewujudkan cita-cita kamu, kamu juga bisa membuka peluang kerja untuk orang lain."


"Kamu serius?"


Aarav mengangguk. "Iya, dan kalau soal bulan madu kita, biar itu jadi urusan aku."


________

__ADS_1


2 tahun kemudian .....


Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Zio dan Airish. Mereka merayakan pesta yang dikhususkan untuk keluarga inti saja. Raya, Nev, Ken, Hana, Jimmy, Nimas, Aarav, Rahelsa dan Abrine sudah berkumpul semua dengan Airish dan Zio disebuah meja makan besar yang terdapat di salah satu Restoran di Jerman. Mereka bersiap untuk makan malam bersama.


"Happy Anniversary buat kalian.... apa harapan kalian kedepannya, Nak?" tanya Raya menatap pada pasangan serasi itu.


"Airish berharap kedepannya rumah tangga kami baik-baik saja dan semakin diberkahi," papar Airish dengan senyum manisnya. Zio memandangi wajah istrinya dengan senyuman cerah yang sama.


"Aamiin...." Semua yang ada disana berucap serentak mengaminkan doa Airish.


"Kita juga mau sekalian kasi berita bahagia, Ma, Pa...." ujar Zio menatap kedua orangtua dan mertuanya.


"Apa itu, Zi?" tanya Ken penasaran.


"Airish sekarang sedang hamil, jalan 2 bulan," terang Zio dengan semringah.


"Alhamdulillah...." Lagi, serentak mereka semua mengucap syukur.


Mendengar itu, Aarav juga langsung spontan mengusap perut istrinya yang tengah hamil tua. Rahelsa tersenyum menatap ulah suaminya dan disaat bersamaan perut Rahelsa terasa bergerak seolah bayinya merespon perbuatan Aarav.


"Alhamdulillah, sebentar lagi cucu kami-- dari Aarav dan Rahel bakal launching, abis itu nyusul baby nya Airish dan Zio.... Mama seneng banget, Pa," ujar Raya kesenangan. Nev tertawa pelan melihat tingkah istrinya, dia merangkul bahu Raya dan menepuk-nepuknya pelan seolah ikut merasakan apa yang Raya rasakan.


"Abrine?"


Suara celetukan Jimmy membuat Abrine menoleh.


"Aku? Kenapa, Om?" tanya Abrine keheranan sebab namanya disebut-sebut.


"Hehehe, gak apa-apa, kamu.... kapan lagi?" ujar Jimmy disertai senyum usilnya yang tidak hilang sampai sekarang.


"Kapan apanya?" gumam Abrine pelan, padahal dia sudah tahu maksud terselubung Jimmy menanyakan hal itu.


"Eh, kok aku?" tanya Abrine.


"Kan, kamu sendiri yang masih jomblo!" celetuk Aarav ikut-ikutan.


"Nanti lah, tunggu ketemu cowok yang lebih tangguh dari aku," kelakar Abrine sambil menyengir.


"Nah, itu cocok, tuh!" kata Ken menyetujui.


"Papa kok lebih seneng yang biasa-biasa aja ya, kalau yang tangguh kayak kamu bisa-bisa nanti adu fisik terus setiap hari, babak belur pula anak gadis papa," kata Nev mengendikkan bahu.


"Hahaha, kok jadi bahas aku sih! Mending bahas kehamilan Airish atau masa kelahiran anaknya kak Aarav, tuh!" Abrine mencebik.


Semua tergelak mendengar gerutuan Abrine itu.


"Mama harap sih, yang bakal dampingin Abrine itu nantinya yang bisa memahami sikapnya, sangat sabar, kalau bisa yang bisa ngobatin semua luka-luka dia tuh, kalo abis berantem. Terus, yang mau tanggung jawab kalo Abrine buat masalah," kata Raya kemudian-- sambil terkekeh-kekeh.


"Ish, apaan, sih, ma!" Abrine memutar bola matanya malas. Ia tahu, ucapan Mamanya itu bukan tanpa sebab, melainkan semua kelakuannya selama ini memang haruslah didampingi oleh orang yang sedemikian rupa. Ya itu, orang yang seperti ucapan Mamanya. Masalahnya, apa ada cowok yang sempurna begitu mau sama dia sang gadis tangguh, pembuat keonaran dan berandalan?


"Aminkan aja, Kak!" kata Airish pula.


"Iya deh, iya. Aamiin....."


Semua kembali tergelak, pasalnya kali ini memang hanya Abrine yang sangat tepat menjadi bulan-bulanan mereka semua.

__ADS_1


"Kamu tenang aja, Brine. Jangan takut, pasti ada yang bisa nerima kamu apa adanya nanti. Kayak Om Ken sama Tante Hana ini.... Om ngeliat kamu itu kayak Om pas masih muda, bedanya kamu versi perempuan," kata Ken menimpali.


"Hahaha...." gelak semuanya,


terutama Zio yang membayangkan masa muda sang Papi memang mirip-mirip Abrine saat ini.


"Iya, buktinya Bunda mau nerima Papi ya, Pi. Dapat yang sempurna dan Sholeha lagi kayak bunda," sambung Zio sambil mengulumm senyum.


Setelah makan malam itu selesai. Mereka kembali membahas masalah kepulangan menuju Indonesia. Ya, semua memutuskan akan kembali ke Indonesia secara serentak setelah Rahelsa melahirkan nanti.


Airish juga ingin melahirkan di tanah kelahirannya saja, hal itu didukung penuh oleh Zio.


Nev, Jimmy dan Ken sudah merancang bisnis baru yang juga akan dibuka di Indonesia. Para calon kakek-kakek ganteng itu--- sepakat membuat bisnis keluarga yang nantinya untuk masa depan cucu dan generasi penerus mereka.


Rahelsa sendiri, dia sudah berencana membuat sebuah butik atas brand namanya dan juga sekolah desainer untuk di didirikan di Indonesia nantinya.


Sedangkan Aarav, dia memang sudah diangkat menjadi CEO di perusahaan Nev yang ada di Indonesia sejak empat bulan terakhir.


Usaha berlian milik Zio juga berpusat di Indonesia, memang sejak awal dia dan Airish akan kembali ke Indonesia selepas Airish lulus kuliah waktu itu, tapi berhubung mereka masih menikmati menjadi pasangan pengantin baru, mereka selalu menunda-nunda kepulangan. Hanya Ken dan Hana yang pulang pergi ke Jerman untuk mengunjungi anak dan menantunya.


Jadi, sekarang memang saat yang tepat untuk kembali-- sebab momen ini juga akan menjadi kepulangan serentak dengan semua keluarga, kecuali Abrine.


"Pa! Aku mau pulang juga!" kata Abrine protes.


"Kamu boleh pulang sesekali, Sayang. Tapi dari awal kan kita udah sepakat kamu bakal lanjutin bisnis Papa yang di Jerman ini."


Abrine merengut, tapi memang sejak awal inilah yang mendorongnya kuliah di manajement bisnis. Waktu dia memilih jurusan itu sebenarnya karena tak ada pilihan lain, sebab saat itu Aarav yang harusnya menjadi ujung tanduk bisnis Nev di Jerman masih mengalami kelumpuhan dan harus berobat jalan-- sehingga mau tak mau Abrine yang harus ambil alih hingga membuatnya terjun ke dunia perkuliahan bisnis. Alhasil, sekarang memang dialah CEO di Perusahaan Nev yang berdiri di Jerman saat ini.


Abrine sadar, bagaimanapun orangtuanya pasti ingin menikmati masa tua mereka dengan hati yang damai, untuk itulah Abrine mengiyakan saja. Tapi melihat semua akan pulang ke Indonesia dan hanya dirinya saja yang tetap tinggal--ada sedikit rasa sedih di hati Abrine.


"Kamu udah dewasa, Brine. Nanti kamu bisa pulang pergi Indo-Jerman kapanpun kamu sempat. Jangan membuat masalah soal bisnis. Jangan mengecewakan Papa. Papa paling tahu, meski sikap kamu seperti ini selama ini, tapi kalau soal kuliah dan belajar bisnis kamu selalu bersungguh-sungguh. Papa bangga sama kamu." Nev merangkul Abrine yang memang duduk disisi kirinya dan Abrine menyandar manja pada sang Ayah.


"Iya, Pa. Aku gak akan kecewakan Papa. Aku berusaha buat Papa dan Mama bangga sama aku meski aku lebih sering buat onar." Abrine nyengir.


_


Pada Akhirnya, Abrine benar-benar melepas kepergian seluruh keluarganya untuk pulang ke Indonesia setelah Rahelsa melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Nadi Galaleo Prawiraharja.


Rasa sayang Abrine pada keponakannya itu tak terhingga, karena sejatinya Abrine memiliki hati yang sangat lembut dibalik sikap tangguhnya. Sayangnya, kesempatan untuk tetap bersama Gala harus terhenti dikarenakan mereka memang harus kembali ke Indonesia.


"See you soon, Baby boy...." Abrine menciumi wajah lucu Gala dengan gemas. Kalau memiliki waktu luang nanti, dia akan kembali ke Indonesia dan tidak boleh ada yang mencegahnya.


"Bye, Aunty.... jangan lupa carikan Gala Uncle yang tampan ya disini. Gala mau uncle bule yang matanya biru," kelakar Rahelsa menirukan suara bayi seolah itu adalah Gala yang berceloteh.


Mereka semua berpelukan satu persatu melepas kepergian.


"Kalau nanti aku melahirkan, kakak ke Indonesia ya, kak!" lirih Airish berkaca-kaca, ia dan Abrine berpelukan cukup lama.


"Mudah-mudahan aku bisa."


"Datangnya sama om bule, ya kak!" timpal Zio menggoda Abrine. Abrine hanya tersenyum kecil dan tidak menyahuti ucapan adik iparnya itu.


...-Tamat-...


Akhirnya cerita ini tamat juga, guyss....

__ADS_1


Makasih ya yang udah berikan dukungan baik like, vote, hadiah dan komentar.... Makasih banyakπŸ™. Semoga kita semua sehat terus ya. Sampai jumpa di cerita selanjutnya, tentang Abrine. Hehehe... Selalu tungguin pengumuman dari aku ya, kalau cerita Abrine udah rilis aku bakal kasi pengumuman disini.


Oh iya, ntar abis bab ini lulus... Hari ini juga aku kasih blurb sedikit tentang cerita Abrine. Tungguin ya...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2