
Sepanjang perjalanan pulang Airish hanya diam disamping Zio yang mengemudikan mobil.
Sesampainya di rumah, Airish ingin mengucapkan terima kasih pada Zio dan mau tak mau dia harus menatap wajah Zio yang juga hanya diam sejak tadi.
"Makasih, ya, Zi ..." ucap Airish tulus, ia tidak tahu kenapa Zio bisa tahu detail alamat rumahnya padahal sebelumnya Zio tak pernah ke rumahnya. Airish ingin bertanya tentang hal itu namun ia sungkan.
"Hmmm," gumam Zio pelan.
Airish ingin membuka tuas pintu mobil namun Zio memanggil namanya.
"Rish ..."
"Ya?" Airish kembali menoleh pada Zio.
"Aku ..." Zio tampak ragu mengutarakan kata.
"Kenapa, Zi?"
"Enggak, gak apa-apa, hati - hati turunnya," kata Zio akhirnya. Airish hanya tersenyum kikuk, kemudian benar - benar keluar dari mobil Zio.
Zio memperhatikan gadis itu yang masuk ke dalam gerbang sambil berlari kecil karena keadaan diluar masih gerimis.
######
Beberapa hari berselang, Aarav, Abrine dan Airish kembali pada kegiatan sekolah mereka. Weekend ini sekolah mengadakan acara pecinta alam yaitu berkemah di hutan pramuka yang letaknya cukup jauh dari pusat kota.
Kegiatan ini tentu membuat Abrine antusias, apalagi Aarav, karena para guru juga diikutsertakan dalam kegiatan ini untuk menjalin keakraban dan jiwa sosial bagi antar tenaga pendidik dengan para siswanya.
Secara tak langsung, Aarav mengikuti hal ini karena Bu Siska juga pasti akan ada diantara para guru yang hadir.
Sementara Airish, dia sendiri yang terlihat tidak begitu tertarik dengan hal semacam ini. Namun, mau tak mau harus mengikuti juga karena kegiatan ini diwajibkan bagi seluruh siswa kelas 11 dan 12.
"Kak, bawa lotion anti nyamuk yang banyak! Aku gak ngebayangin disana nanti kita bakal donor darah buat para nyamuk-nyamuk hutan," gerutu Airish pada Abrine yang sedang menyusun perlengkapan di ranselnya.
Abrine hanya geleng-geleng kepala mendengar gerutuan Airish. Yang dipikirkan Abrine adalah camp ini pasti akan seru dan sangat menantang, sementara Airish hanya memikirkan sebatas lotion anti nyamuk, aneh bukan?
"Dek, yang harus kamu pikirkan itu bukan lotion anti nyamuk, tapi kamu harus pikirkan strategi supaya disana gak ketemu sama makhluk gaib penunggu pohon!" kata Aarav menimpali.
Abrine terkikik karena dia tahu Aarav ingin menakuti Airish, sementara Airish sendiri mencebik mendengar Aarav yang sudah mulai menakutinya padahal camping mereka belum resmi dimulai.
"Kak, nanti kita satu tenda ya..." Airish memegang lengan Abrine, mencoba membujuknya karena sedikit banyak ucapan Aarav mempengaruhi jiwanya yang penakut.
__ADS_1
"Iya, iya..." jawab Abrine seadanya.
Nev dan Raya tahu mengenai aktivitas ini dan mereka mendukung ketiga anak mereka untuk mengikuti hal semacam ini agar jiwa ketiganya semakin mandiri. Nev dan Raya juga membekali mereka dengan banyak petuah, nasehat dan tentunya kebutuhan yang harus mereka bawa.
"Jangan lupa bawa kotak P3K. Udah gitu, disana nanti hati-hati, ya," kata Raya sembari melihat ketiga anaknya yang mulai berkemas untuk kepergian esok pagi.
"Iya, Ma..." sahut ketiganya nyaris serentak.
"Ikuti aturan yang dibuat, jangan sesekali melanggar peraturan. Jangan mengasingkan diri dari yang lain atau nanti bisa tersesat dihutan!" timpal Nev sambil menukar chanel tv.
Airish langsung bergidik ngeri membayangkan ucapan sang Papa mengenai tersesat dihutan. Ia bertekad untuk terus menggandeng Abrine nantinya.
######
Bus yang membawa siswa dan para guru mulai berjalan untuk meninggalkan area sekolah. Mereka semua akan menuju hutan dimana tempat dilaksanakannya acara camp dan pecinta alam.
Kurang lebih dua jam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Masing-masing siswa dikelompokkan berdasarkan kelas mereka. Abrine dan Aarav yang sekelas harus merelakan Airish yang tak bisa selalu berada didekat mereka.
Niat Airish untuk selalu didekat Abrine akhirnya tak bisa terealisasikan. Airish merasa nasibnya kurang beruntung. Entah pada siapa ia harus bergantung sekarang meski kelompok mereka juga dijaga ketat oleh beberapa guru pengawas.
Dalam satu kelas dibagi lagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing kelompok diawasi oleh dua orang guru.
Meski Aarav suka menjahili Airish namun tetap saja ia merasa takut jika adiknya itu lepas dari pengawasannya karena Aarav cukup tahu jiwa Airish yang sangat membutuhkan bantuan apalagi didalam hutan seperti ini.
"Gue titip Airish, ya... tolong lo jagain dia!" Akhirnya Aarav mengucapkan kalimat itu pada Zio. Karena menurutnya, tak ada lagi yang bisa ia harapkan selain cowok itu. Zio adalah orang yang paling peduli pada Airish dan Aarav mengakui hal itu.
Zio menatap Aarav sambil tersenyum kecil. "Nggak perlu lo omongin gue pasti bakal jaga dia," kata Zio mantap.
Aarav dan Zio pun berpisah saat mereka diharuskan bergabung dengan tim masing - masing.
Mereka semua mulai mendirikan tenda camping untuk tempat bernaung mereka selama dua hari kedepan.
Setelah tenda siap didirikan, mereka pun duduk rapi didepan tenda masing-masing.
Satu tenda terdiri dari tiga orang yang berada dalam satu kelompok. Tentunya dipisahkan antara siswa lelaki dan perempuan. Begitupun dengan guru-guru yang hadir.
"Sekarang kita akan mulai main games ya," seorang pembina merangkap pemandu acara mulai memainkan aksinya setelah melihat keadaan yang sudah kondusif setelah tenda terpasang.
"Games ini gak akan sulit, kalian hanya perlu mendengar instruksi dari saya. Apapun yang saya ucapkan kalian lakukan. Tidak sulit bukan?"
"Tidak...." ucap semuanya serentak.
__ADS_1
"Oke, kita mulai, ya! Setiap tim berkumpul membentuk satu lingkaran! Tiga, dua, satu..m mulai!" kata pembina dengan sangat cepat.
Semua siswa pun mengikuti instruksi itu, mereka berlarian membentuk sebuah lingkaran di hamparan lapangan yang luas. Para guru menjadi pengawas setiap lingkaran siswa yang terbentuk.
Bagi tim yang kalah, dinyatakan tereliminasi dan jumlah kekalahannya akan dihitung pada saat games paling akhir. Ada beberapa tim yang gugur di round yang pertama, karena waktu yang diberikan untuk membuat lingkaran itu hanya tiga detik sementara mereka belum sepenuhnya bersiap.
"Oke, mudah kan? Sekarang kita mulai games berikutnya. Yang gugur lebih dari tiga kali, berarti dinilai kalah dan kita akan memberi hukuman bagi tim yang kalah," ucap panitia pembina.
Tim Aarav dan Abrine masih bisa bernafas lega karena mereka sudah membuat lingkaran dengan benar.
Sementara tim Airish kalah, karena mereka kurang kompak.
"Oke, games selanjutnya adalah membawa bendera dengan cara estafet. Setiap tim harus berhasil membawa bendera sampai ke garis finish...."
Games selanjutnya itupun berjalan dengan lancar dan semua siswa bersorak senang dengan kegiatan hari ini, tentu mereka semakin kompak dengan adanya games yang sengaja dibuat siang ini.
Selesai dua games pertama, mereka dipersilahkan untuk makan siang sejenak sebelum melanjutkan games selanjutnya.
Airish satu tim dengan Zio, itu sebenarnya bukan kebetulan karena tim dibentuk berdasarkan urutan nama di Absen kelas. Dan urutan nama mereka yang diawali huruf A memang berdekatan, sehingga mereka harus berada dalam satu tim lagi.
Zio merasa lega karena bisa menjaga Airish dari jarak dekat, sementara Airish sebenarnya masih risih dengan adanya Zio di tim-nya, namun tak bisa dipungkiri jika Airish juga merasa ini lebih baik daripada ia tak punya orang yang bisa diandalkan dalam tim-nya. Setidaknya, Zio pasti bisa Airish repotkan jika ia mengalami kesulitan didalam hutan seperti ini.
Sayangnya, tim Airish kalah lebih dari tiga kali dan harus bersedia menerima hukuman yang akan diberikan.
"Hukuman bagi tim yang kalah adalah mencari bendera yang sudah panitia letakkan di sudut-sudut tertentu. 10 orang dari kalian, akan dibagi lagi menjadi 5 tim, berarti masing-masing tim adalah dua orang... setiap dua orang akan kami berikan peta untuk menemukan bendera yang tersembunyi."
"... jumlah bendera yang harus dikumpulkan masing-masing tim ada 5 buah, kalian harus kembali ke sini sekitar pukul 4 sore! Tidak boleh terlalu lama ya. Jika tidak berhasil mengumpulkan 5 bendera itu, maka tetap harus kembali di pukul 4 dan kita lihat berapa jumlah bendera yang kalian dapatkan. Siap?"
"Siapp!!"
Ke sepuluh orang yang harus dihukum karena kekalahanpun bersiap untuk membentuk 5 tim, termasuk Zio dan Airish yang berada dalam tim yang kalah itu. Untungnya Zio langsung menarik tangan Airish, karena Airish begitu malu jika lebih dulu memulai mengajak Zio untuk menjadi satu tim.
Kelima tim itu pun mulai bergerak untuk mengikuti petunjuk yang ada di peta.
"Zi, aku takut ..." ucap Airish jujur saat mereka mulai memasuki area hutan sesuai dengan peta yang mereka bawa.
"Udah gak usah takut. Yang penting kamu tetap disamping aku. Jangan coba - coba kemanapun, aku gak mau kamu tersesat soalnya petanya cuma satu," papar Zio memahami ketakutan Airish.
Airish mengangguk, baru kali ini ia ingin mengikuti kemanapun Zio bergerak karena ketakutannya yang sangat besar.
*****
__ADS_1