
Nev meletakkan sebuah kertas di atas meja dan itu tak luput dari pandangan Reka.
"Apa ini?" tanya Reka heran.
"Itu alamat Citra sekarang. Kau temui dia secepatnya! Jika tidak, dia akan ku beri pekerjaan di kota lain dan kau tidak akan bisa melihatnya lagi," kata Nev penuh ancaman yang membuat Reka terdiam.
Setelah menyerahkan alamat itu dan memiliki keyakinan jika Reka akan menemui Citra, Nev dan Raya pun undur dari dari kediaman orangtua Reka itu.
"Pastikan untuk menemuinya dan memberikan kejelasan padanya, Ka! Ingatlah diantara kalian sudah ada anak yang harusnya semakin mempererat hubungan kalian berdua," kata Raya memperingati diambang pintu.
"Ya, aku akan menemuinya."
"Itu harus, sebelum kau menyesal." Nev terrsenyum miring.
Raya dan Nev pun meninggalkan tempat itu dan memutuskan kembali ke rumah mereka.
"Ah lelahnya meyakinkan orang..." kata Raya terkekeh sembari memeluk tubuh suaminya di jok belakang.
Saat ini mereka memang disupiri oleh Pak Karno dan mobil yang membawa mereka itupun mulai berjalan dengan kecepatan sedang.
"Kalau lelah tidur saja, aku akan menjagamu." Nev tersenyum kecil sembari mengelus-elus kepala Raya yang sudah nyaman berada diperutnya.
Raya pun memejamkan matanya dan perlahan-lahan dia mulai mengantuk lalu tertidur.
Setengah jam kemudian, mereka telah sampai dirumah dan Nev yang menyadari jika sang istri sudah tertidur pulas tak mau membangunkan Raya. Nev memilih menggendong Raya lalu membawa tubuh istrinya itu untuk masuk kedalam kamar.
Nev meletakkan tubuh Raya ke atas ranjang dengan hati-hati, membuka sepatunya dan membuka baju yang Raya kenakan agar istrinya melanjutkan tidur dengan nyaman.
Setelah itu, Nev menyelimuti tubuh Raya dan dia sendiri beranjak untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Nev kembali ke kamar, membuka laptopnya dan mengecek pekerjaannya sebentar sebelum akhirnya bergabung untuk tidur bersama Raya didalam satu selimut yang sama.
Nev mengecup dahi dan bibir Raya sekilas, lalu diapun ikut menenggelamkan diri dalam dunia mimpi.
Keesokan harinya, mereka terbangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah seperti biasanya. Setelah itu, mereka melanjutkan kegiatan dengan berbicara dari hati ke hati satu sama lainnya.
Raya bersandar di kepala ranjang dan Nev tidur dipangkuan istrinya sembari menatap wajah sang istri dari bawah sana.
"Nev..." Raya memanggil sembari terus menyisir rambut Nev yang berada dipangkuannya.
"Hmm..."
"Nev, aku belum hamil lagi, Nev..."
"Terus, kenapa?" tanya Nev sembari merasakan gerakan halus tangan Raya di kepalanya.
"Kalau setelah ini aku gak kunjung hamil, gimana?"
Nev tertawa pelan, tangannya terulur keatas untuk menyentuh pipi Raya.
"Ya memangnya kenapa? Kita masih punya banyak waktu untuk membuatnya," ucap Nev lembut.
__ADS_1
"Kalau aku gak bisa kasi kamu keturu--"
"Stsss..." Nev tiba-tiba sudah meletakkan jarinya di bibir Raya, mengadah keatas menatapi wajah sang istri. "Kamu itu istriku, pendampingku, bukan mesin pencetak anak! Aku menikahi kamu karena aku mencintai kamu, bukan memaksa kamu untuk melahirkan keturunan untukku," ucapnya meyakinkan.
"Tapi, kalau ternyata aku...."
"Listen to me, Allah udah kasi kamu ke aku, dan aku bersyukur. Soal anak, anak itu ibaratnya hanya bonus, Sayang..."
"Jadi, apa kamu gak masalah dengan hal itu?"
Nev menggeleng. "Mungkin kita masih dikasi kesempatan untuk berdua dulu. Lagipula, apapun yang terjadi aku tetap bersyukur, toh kamu tetap ada disamping aku."
Raya menunduk dan mengecup bibir Nev sekilas, tapi bukan Nev namanya jika membiarkan Raya lolos begitu saja, dia menahan leher Raya agar tidak bergerak lalu dia pun memperdalam ciuman itu.
"Gimana kalau kita coba di pagi hari ini, siapa tahu bisa berhasil dan membuahi." Nev tertawa pelan dengan idenya sendiri.
"Kamu memang paling bisa mencari kesempatan..." kekeh Raya.
"Ayolah sayang, saat pagi hari benihnya paling premium," kelakar Nev tampak serius.
Raya hanya menggeleng samar. "Aku malas jika harus mandi lagi, Nev!" keluh Raya.
Nev tak mengindahkan ucapan Raya itu karena dia sudah bangkit dari posisinya yang semula.
"Nanti aku mandikan, oke?"
"Tapi aku bukan anak bayi yang harus dimandikan dan aku gak mau merepotkan kamu, Nev." protes Raya.
"Aku tidak masalah direpotkan sama kamu, selamanya aku ikhlas lahir batin dan aku akan melakukannya dengan sukacita..." Nev tak mau mendengar protes Raya lagi dan dia langsung membungkam bibir Raya dengan bibirnya.
Beberapa bulan berlalu, Raya semakin merasakan jika Nev sangat mencintainya. Hampir setiap hari Nev mencurahinya dengan kasih sayang, perhatian dan ribuan kata cinta.
Tapi, beberapa hari selanjutnya Raya melihat sedikit perubahan dalam diri Nev. Suaminya itu tampak murung. Semua berawal dari kedatangan Jimmy dan Nimas kerumah mereka.
Nimas membawa kabar bahagia bahwa sekarang tengah berbadan dua.
"Apa Nev iri melihat Jimmy yang sedang menunggu kelahiran bayi mereka?" Begitulah isi pikiran Raya belakangan hari ini.
Sudah tiga hari ini pula, Nev selalu pulang larut, Raya jadi merasa bahwa hubungan mereka semakin berjarak dan Raya sangat tak suka Nev yang sekarang sering terlihat menerima telepon secara diam-diam.
Raya ingin menanyakan ada apa pada Nev, tapi suaminya itu seolah tak memberikan jawaban pasti.
Seperti saat ini, Raya menyambut kepulangan Nev yang hampir memasuki jam tengah malam.
"Sayang, kamu akhir-akhir ini kenapa pulangnya terlalu larut?" sapa Raya mencoba mengutarakan rasa dihatinya.
Nev menatap Raya datar. "Aku lelah, Sayang. Boleh aku mandi lalu istirahat?" kata Nev kemudian menghilang disebalik pintu kamar mandi.
Meskipun ucapan Nev itu lembut, tapi kenapa perasaan Raya terasa sakit? Apa suaminya berubah karena dia belum bisa memberikan Nev keturunan?
Nev, bukankah kamu mengatakan jika tak masalah dengan hal itu? Anak adalah bonus dari sebuah pernikahan! Lalu kenapa sikap kamu sekarang terasa dingin?
__ADS_1
Bukankah kamu juga berjanji tidak menyakiti aku? Kamu bahkan berjanji untuk membahagiakan aku? Kamu bersedih melihat aku bersedih? Kenapa sekarang kamu yang membuatku merasakan perasaan itu?
Apa keadaaan ini membuat kamu muak? Atau kamu memiliki seseorang yang jauh lebih menarik daripada aku? Rasa-rasanya tak salah jika aku bisa berpikiran begini, jika sikapmu terus seperti ini Nev!
Begitulah batin Raya seakan ingin menjerit.
Keesokan harinya, Raya berniat ke kantor Nev sebagai bentuk perhatiannya pada sang suami. Raya tak mau mengabaikan Nev dan membalas perlakuan suaminya dengan hal yang sama, jadi dia berusaha bersikap sewajarnya.
Sampai di kantor Nev, Raya harus menunggu Nev, karena Nev sedang meeting bersama Bryan yang ternyata datang ke Indonesia dan akan melakukan proyek kerjasama dengan Nev dalam bidang periklanan produk yang sedang dibuat oleh perusahaan milik Nev.
Raya menunggu Nev didalam ruangan sang suami hampir setengah jam lamanya.
Kemudian tak lama Raya mendengar suara orang yang mendekati ruangan Nev, mungkin salah satunya adalah Nev sendiri.
Pintu ruangan itu terbuka, tampak wajah Nev yang sangat semringah dipandangan mata Raya.
Nev masuk kedalam ruangan bersama Bryan, Bian dan seorang wanita muda yang terlihat cantik dan fashionable.
"Sayang, kamu disini..." kata Nev yang baru menyadari kehadiran Raya dan senyumnya langsung hilang seketika.
Raya mengangguk, matanya mengarah pada wanita muda itu.
"Ah, ini Bryan. Kamu masih mengingatnya kan?" ucap Nev.
"Hai Bryan," sapa Raya.
"Hai, Raya... apa kabar?" tanya Bryan kemudian.
"Baik," jawab Raya singkat, kemudian kembali melihat ke wanita muda.
Wanita itu ikut tersenyum pada Raya, wajahnya cantik dengan kulit hitam manis yang eksotis.
"Hai, kamu pasti istri Nev, Aku Viona." kata wanita itu memperkenalkan diri, mungkin dia menyadari jika Raya memandanginya sedari tadi.
Mulut Raya sudah terbuka untuk bertanya lebih lanjut pada wanita bernama Viona itu, tapi Nev segera memanggilnya.
"Sayang, aku akan mengurus proyek baru bersama Bryan lagi nanti. Sepertinya aku akan pulang larut lagi," kata Nev tenang.
"Ya." Hanya itulah kata yang keluar dari mulut Raya.
"Nanti aku akan minta Pak Karno mengantarkan kamu pulang, oke?"
Raya mengangguk. Seharusnya Nev menanyakan apa tujuannya kesini bukan? Kenapa Nev justru sudah membahas tentang kepulangannya? Apa kedatangannya kesini mengganggu Nev?
"Aku pulang sekarang," kata Raya akhirnya dengan menahan sesak di dada.
"Oke, aku telepon Pak Karno biar dia menunggu kamu didepan lobby."
"Gak usah," kata Raya segera beranjak pergi tanpa menyapa semua orang yang ada disana lagi. Langkahnya lurus dengan wajah kesal yang tak bisa ditutupi, dia pikir Nev akan menyadari itu dan mengejarnya, nyatanya harapan itu hanyalah kesia-siaan.
...Bersambung ......
__ADS_1
...Tolong like, love, vote dan berikan hadiah... tinggalkan komentar juga ya....
...Novel ini akan tamat kok sebentar lagi, jadi jangan berpikir negatif ya 😁😁🙏🙏🙏...