PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Menjenguk


__ADS_3

Beberapa perwakilan guru pembina dari sekolah, beserta beberapa kawan sekelas Aarav datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk kondisi Aarav, namun tidak satupun dari mereka yang bisa melihat ataupun mengetahui kondisi cowok itu dikarenakan keluarga Aarav memang merahasiakannya.


Kedatangan Siska berserta kepala sekolah untuk meminta maaf juga disambut dingin oleh Nev.


"Saya mewakili pihak sekolah, ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Aarav, kami juga sangat menyesal serta menyayangkan kejadian ini. Insiden yang telah menimpa Aarav, kita semua tahu bahwa tak ada yang menginginkan kejadian seperti ini, Pak. Kami semua tulus mendoakan agar Aarav bisa segera pulih." Bapak Kepala Sekolah menjabat tangan Nev, namun Nev hanya bisa diam dan tampak tidak bersemangat.


Sampai pada giliran Siska yang mengucapkan kata maaf, Nev juga melakukan hal yang sama.


"Pak, Saya Siska... saya tahu, ini semua bermula karena masalah pribadi saya, saya... saya sudah mengingatkan Aarav untuk tidak ikut campur, tapi... saya tahu ini memang tak lepas dari kesalahan saya," ujar Siska dengan deraian air mata penuh penyesalan. Beberapa kali wanita itu tercekat dalam merangkai ucapannya.


Nev menatap Siska datar, entahlah, rasanya dia tidak tahu harus melakukan atau mengatakan hal apa pada semua orang yang meminta maaf padanya hari ini. Ingin memaafkan tapi sulit, karena kondisi Aarav memanglah sangat memprihatinkan. Dilain sisi, Nev juga tahu ini semua tak lepas dari kesalahan puteranya juga.


Kemudian Siska beralih menyalami Raya, jika Raya masih bisa menyambut Kepala Sekolah dan teman - teman Aarav dengan sikap hangat, berbeda saat ia menatap Siska. Nalurinya sebagai seorang Ibu untuk Aarav, tidak bisa beramah-tamah dengan wanita itu, entah kenapa.


Dimata Raya, sosok guru bernama Siska, yang ia tahu sempat dikagumi oleh Aarav-- memang cantik, namun entah kenapa Raya tidak bisa menangkap ketulusan dari setiap permintaan maaf wanita itu.


Setelah Kepala Sekolah beserta beberapa teman Aarav permisi untuk undur diri, beberapa petugas kepolisian tampak datang menghampiri posisi Nev dan Raya yang menunggu didepan ruang ICU karena kini Aarav berada didalam sana.


"Permisi, Pak...." ucap seorang petugas kepolisian yang mengusut kasus yang menimpa Aarav di bumi perkemahan.


Sebenarnya Nev tidak ingin membawa hal ini ke jalur hukum, ia lebih memilih mengikuti saran Jimmy dengan mengandalkan orang-orang mereka dan meleyapkan para pemukul Aarav dengan cara senyap. Namun ternyata, pihak sekolah telah lebih dulu melaporkan tindakan itu pada kepolisian karena menurut siswa yang tak sengaja menyaksikan kejadian itu, pemukulan Aarav bukan hanya dilakukan oleh satu atau dua orang, melainkan lebih dari 6 orang.


Nev berdiri dari duduknya, kemudian menghampiri petugas berseragam itu.


"Ada apa, Pak?" tanya Nev pelan.


"Saya ingin membicarakan tentang olah TKP, Pak!" kata salah seorang petugas kepolisian itu.


Mereka pun menjaga jarak dari orang - orang yang masih berada didepan ruang ICU itu, termasuk kedua putri Nev, Nimas, Rahelsa dan Siska yang masih berada disana.


"Pak, kami mengidentifikasi, bahwa pemukulan serta pengeroyokan yang menimpa putera Bapak terdapat unsur perampokan juga," terang Polisi itu.


Nev tentu terkejut mengetahui hal ini, dia terlalu fokus pada kondisi Aarav dan tidak memikirkan hal seperti ini.

__ADS_1


"Kami menemukan dompet kosong milik putera Bapak disekitar tkp."


Nev masih diam mendengarkan.


"Apa sebelumnya putera Bapak memakai accesories atau memiliki barang berharga lainnya? Handphone atau jam tangan misalnya?"


Nev mengangguk, Aarav memang menggunakan smartphone yang terbilang mahal, jam tangan keluaran terbaru yang juga dibelikan Raya untuk putera mereka itu.


"Itu tidak ditemukan pada saat Putera Bapak dibawa kesini."


Nev mendengkus keras.


"Dompetnya juga kosong. Apa Bapak memfasilitasi Aarav dengan debit atau creditcard?"


"Ya... apa itu tidak ditemukan juga didompetnya?"


"Tidak ada, Pak. Dompet itu kosong. Saya harap Bapak bisa memblok semua akses kartu itu."


"Baiklah," kata Nev. Ia akan memblokir debitcard namun tidak akan memblokir kartu kredit milik Aarav, karena ia yakin akan menemukan salah seorang pemukul Aarav melalui jejak kartu kredit itu nantinya.


______


Zio datang bersama kedua orangtuanya untuk melihat keadaan Aarav di Rumah Sakit. Meskipun kakinya belum sembuh, namun ia memaksakan datang karena kabar mengenai pemukulan Aarav sangat heboh di grup chat kelas mereka.


"Pak Ken..." Nev menyalami Ayah Zio yang ternyata adalah rekan bisnisnya.


Nev juga mengenal Zio karena mereka sempat beberapa kali bertemu terkait kerja sama bisnis. Zio anak yang pintar seperti Ayahnya (Ken). Zio berintuisi tinggi dalam membaca pergerakan bisnis dan saham. Karena melihat Zio yang sudah menggeluti bisnis sang Ayah sejak SMA lah-- yang membuat Nev ingin melakukan hal yang sama pada Aarav, ia ingin mengenalkan Aarav pada dunia bisnis pada saat usia puteranya menginjak 17 tahun. Namun sayang, insiden yang menimpa Aarav ini-- membuat Nev harus mengubur impiannya dalam-dalam karena kondisi Aarav tidak memungkinkan untuk hal itu.


"Om..." Zio menyapa dan menyalami tangan Nev dengan takzim, hal itu membuat Airish cukup keheranan, karena cewek itu tidak tahu jika Ayahnya dan Ayah Zio saling mengenal. Airish heran kenapa Zio tidak canggung saat bertemu dengan Papanya.


Airish segera beranjak saat melihat Bunda Zio berjalan ke arahnya.


"Tante Hana..." Airish mencium tangan Bunda Zio dengan takzim. Kemudian mengenalkan perempuan bersahaja itu pada Raya dan juga Nimas. Para Ibu itupun mengobrol ringan mengenai kondisi Aarav.

__ADS_1


Abrine menyenggol lengan Airish. "Sejak kapan Zio kenal Papa?" tanyanya sembari melihat Nev, Zio dan Ayah Zio sedang mengobrol dan tampak akrab.


"Gak tahu lah, Kak!" jawab Airish polos.


"Kayaknya dia lebih dulu pendekatan sama Papa kamu daripada sama kamu!" timpal Rahelsa yang mulai bisa menebak situasi.


Abrine mengangguki ucapan Rahelsa, sementara Airish menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Jadi, Zio sudah mengenal Papanya, makanya Zio tahu jelas alamat rumahnya meski dia tak pernah mengatakan pada cowok itu sebelumnya?


"Bu Raya, saya permisi pulang, ya." Tiba-tiba suara seseorang yang sejak tadi masih berada disana terdengar, membuat Raya, Nimas, dan semua yang ada disana melihat pada pemilik suara itu.


"Ya," jawab Raya singkat pada Siska yang entah mengapa masih berada didekat mereka sejak tadi, padahal tidak ada yang mengajaknya mengobrol. Bahkan Raya pun tidak sadar jika wanita itu masih berada disekitarnya.


Setelah Siska permisi pada semua yang ada disana, diapun beranjak pergi tanpa ada yang mencegah.


Rahelsa menatap kepergian wanita itu, dia sudah tahu jika wanita itu adalah guru yang Aarav kagumi, guru yang sempat Aarav ceritakan padanya. Rahelsa masih larut dalam kesedihannya, bukan cuma karena mengingat kondisi Aarav didalam ruang ICU tetapi karena sudah melihat jika wanita yang disukai Aarav memang benar-benar cantik. Dia menjadi rendah diri.


"Guru kamu memang cantik, Rav! Berbeda denganku yang selalu kamu anggap gadis gembul. Kamu sampai bela-belain babak belur untuk melindungi Bu Siska, apa kamu sepeduli itu dengannya?" batin Rahelsa merasa sangat terpukul, dia mendoakan kesembuhan Aarav dalam hatinya.


"Gue kok ngerasa aneh ya sama Bu Siska!" celetuk Abrine tiba-tiba, membuat Airish dan Rahelsa menoleh pada gadis itu.


"Aneh kenapa?" tanya Airish.


"Dia kesini buat jenguk Kak Aarav, gak dibolehin masuk ICU... mau minta maaf sama kedua orangtua kita, terus... harusnya udah, kan? Kenapa dia masih duduk disana sampe segitu lama? Nungguin apaan coba? Gue aja sampe lupa kalo dia masih ada didekat kita!" kata Abrine.


Rahelsa hanya menggeleng samar, sementara Airish tampak berpikir.


"Mungkin dia lagi cari info tentang Kak Aarav!" sahut Airish akhirnya.


"Info buat?" Abrine menoleh pada Airish.


"Ya buat tahu kondisinya, gimanapun Kak Aarav begini karena dia."

__ADS_1


Namun, Abrine yang memiliki insting kuat tetap merasa ada kejanggalan.


******


__ADS_2