PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Sepenggal tentang Zio


__ADS_3

"Kok, baru pulang, Rish?" Suara Raya membuat Airish terkejut. Ia mengadahkan wajah yang sejak tadi tertunduk didepan pintu, tidak tahu harus berbuat apa, sampai lupa password untuk membuka pintu Apartmen dihadapannya.


"Udah pulang juga bukannya masuk, malah melamun didepan pintu... Airish... Airish..." Raya geleng-geleng kepala sembari merangkul puterinya agar segera memasuki ruangan.


Melihat Airish tidak menyahuti satupun perkataannya, Raya mendadak keheranan sekaligus cemas. "Rish, kamu gak apa-apa?" tanyanya.


"Eh, oh... gak apa-apa, Ma." Airish mengusap tengkuknya sambil nyengir dihadapan sang Mama.


"Jadi, kenapa tadi pulang tapi gak langsung masuk? Malah bengong didepan pintu? Enggak tekan bel juga!" omel Raya. Ia tak sengaja melihat tampilan monitor pintu saat melewatinya, ternyata ada Airish yang terdiam disana sehingga ia gegas membukakan pintu saat itu juga.


"Maaf, Ma. Airish cuma kecapekan, tadi pulang kuliah langsung temenin Bianca meeting di agensi."


Raya memicing kearah Airish, mencoba membaca situasi yang terjadi, apakah puterinya tengah berkata jujur atau justru malah berbohong?


"Yakin cuma karena itu? Bukan karena yang lain?" selidik Raya.


"Yang lain? Yang lain apa, Ma?" kilah Airish.


"Ya mana Mama tahu, siapa tahu karena kamu abis ketemu cowok ganteng, kepincut, terus terhipnotis gitu...." goda Raya membuat Airish menganga dengan mata membola. Kenapa Mamanya bisa menebak tepat sasaran begitu? Apa isi kepalanya bisa terbaca dengan mudah?


"Kok bengong? Jangan-jangan bener, nih!" Raya menyenggol lengan Airish, membuat gadis itu kembali menyengir kuda.


"Heehee .... Aku masuk kamar ya, Ma. Capek, ngantuk," ujarnya menghindar.


Tanpa menunggu jawaban sang Mama, Airish memilih ngacir.


"Wah bener-bener nih anak," gerutu Raya sambil terkekeh sendiri.


______


Zio tidak pernah menyangka jika ia akan bertemu Airish secara tak sengaja dirumah relasi bisnisnya, Nyonya Diana.

__ADS_1


Padahal, ia sempat ingin menolak jamuan makan malam dari wanita paruh baya itu, karena ia baru saja tiba di Jerman menjelang sore tadi.


Ternyata, tidak sia-sia ia menyambangi kediaman Nyonya Diana, selain mempererat jalinan bisnis berlian peninggalan Almarhum Omanya, ia juga jadi bertemu dengan gadis masa lalunya. Ya, tentu saja juga akan jadi wanita masa depannya.


Sebenarnya, selain mengurus bisnis berlian itu, tentu tujuan utamanya datang ke Jerman adalah sekalian mengunjungi calon istrinya, serta sekaligus menyapa calon mertuanya.


Istilah sambil menyelam minum air, itulah yang ingin dianutnya.


Sudah cukup lama, bukan? Membiarkan hubungannya dengan Airish mengambang tanpa kejelasan. Meski ia sudah melamar gadis itu pada orangtuanya dan lamaran itu diterima, tapi tetap saja ia ingin melakukannya langsung dihadapan Airish dan mendengar Airish yang menjawab lamarannya secara langsung.


Bulan lalu, ia tak bisa menghadiri acara pernikahan Aarav dan Rahelsa, dikarenakan pada saat yang sama--ia memiliki jadwal yang sangat padat. Tidak dipungkiri jika ia adalah pemuda tersibuk meski usianya masih relatif muda. Ia bekerja sekaligus menyelesaikan kuliah.


Ia sengaja mengambil kelas akselerasi, agar melompati jenjang pelajaran dan menuntaskan program studi secepat mungkin.


Jika semua orang mengatakan ia beruntung terlahir dari keluarga kaya raya, itu memang benar. Tapi, tentu itu ia jalani dengan tidak mudah.


Sudah banyak tuntutan yang menunggunya ketika ia berhasil meraih gelar kelulusan. Dan mau tak mau, itu harus dijalaninya dengan sebaik-baiknya sebab ia tak mau di cap hanya menikmati bisnis peninggalan, tanpa bisa mengelolanya dan tak ahli di bidang tersebut.


Ia tak bisa meninggalkan tanggung jawab. Beban dipundaknya sangat banyak dan tak bisa ia abaikan begitu saja. Jangan mengira hidupnya gampang dan lurus-lurus saja, hmm?


Ia anak tunggal. Almarhum Opa, mewarisi kekayaan padanya bahkan sejak ia masih bayi. Perusahaan Opa bergerak di bidang New aplikasi. Sedangkan mendiang Omanya, memiliki usaha kerajinan berlian.


Papinya tidak mengurusi satupun perusahaan Opa maupun Oma, karena Papi lebih suka bermain saham serta lebih memilih membuka banyak cabang dunia perbengkelan mobil dan otomotif.


Alhasil, ia lah yang menjadi ujung tombak dan mau tak mau harus mengurusi semua bisnis peninggalan Opa dan Omanya. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya menjadi seorang seperti dirinya?


Pertemuannya dengan Airish hari ini, seperti sebuah kejutan yang telah disiapkan khusus dari Sang Pencipta, semacam penyemangat hingga melenyapkan keletihan di sekujur tubuhnya.


"Airish...." ia bermonolog, mengucapkan nama gadis itu berulang kali, seperti kebiasannya selama ini. Setiap hari.


Tapi, yang sekali ini berbeda, sebab tak seperti biasanya. Jika hari kemarin ia menyebut nama gadis itu karena efek merindukan. Sekarang, ia menyebut nama Airish karena membayangkan pertemuan mereka beberapa saat lalu.

__ADS_1


Ia memandang langit-langit kamar hotel yang ditempatinya untuk seminggu kedepan selama berada di Jerman.


Entah kenapa dilangit-langit kamar seperti ada bayangan wajah Airish yang sedang melambaikan tangan kepadanya. Rasanya, ia ingin menangkap bayangan itu, membawa ke sisinya, lalu memeluknya sampai pagi.


Plak! Apap-apaan.


Ia menepuk jidatnya sendiri.


"Kenapa pikiranku jadi kotor begini. Kalau bunda tahu aku memikirkan hal apa saat ini, bisa diomelin aku sampai pagi," gumamnya sambil terkekeh.


Mendadak, ia jadi teringat momen pada saat ia yang sempat-sempatnya mengecup singkat pipi Airish, tepatnya mencuri kecupan itu karena ia sadar jika sang gadis tidak pernah menyangka akan perbuatannya, tadi.


Lagi, ia tersenyum memikirkan hal itu. Ia sendiri tidak mengira bisa senekat itu. Sanking merindukan sosok itu, membuatnya hampir gila dan lepas kendali.


Jangan tanyakan kenapa selama ini ia juga tak mencoba menghubungi Airish, itu karena ia menghargai keputusan gadis itu yang ingin menjaga jarak darinya. Sekaligus, ia juga ingin membuat Airish sadar dengan perasaan terhadap dirinya.


Menguji, apakah jika ia menghindar, lantas Airish akan dekat dengan pemuda lain? Nyatanya, tidak. Dan untuk hal ini, ia mengacungkan jempol untuk dirinya sendiri, sebab ia yakin bahwa secara tak langsung, hati Airish telah terikat pada janji yang sudah ia utarakan dimasa lalu kepada gadis itu.


Ia juga mengingat jika Airish sudah mengenakan liontin pemberiannya. Liontin itu memang dibuat khusus untuk Airish.


Lewat bantuan pengrajin berlian yang bekerja ditempatnya, akhirnya liontin itu berhasil dibuat sedemikian rupa. Ia bisa menilai jika liontin itu sangat pas dikenakan oleh gadisnya. Meski terkesan sederhana dengan bandul huruf A, namun dapat ia pastikan jika hanya Airish lah yang memiliki liontin seperti itu, sebab desain itu dirancang khusus dan tidak diperjual belikan.


"Tunggu saya besok, Rish ..." gumamnya seolah tengah berbicara pada sang gadis pujaan.


Ia tak sabar melihat reaksi Airish besok-- disaat ia memutuskan menjemput gadis itu. Wajah Airish selalu berhasil membuatnya terkekeh senang. Gadis itu, lucu dan polos.


Ia bahkan berani bertaruh, jika Airish tidak mengetahui siapa gadis yang ia maksudkan sebagai tunangannya didepan Nyonya Diana dan Bianca.


Bagaimana reaksi Airish jika tahu yang ia maksud sebagai tunangan adalah gadis itu sendiri?


*******

__ADS_1


__ADS_2