
Zio benar-benar senang mendapat jawaban 'iya' dari Airish. Tak menunggu lama, ia segera kembali menghubungi bundanya melalui sambungan seluler saat itu juga.
"Assalamu'alaikum, bunda," sapanya pada Bunda Hana.
"Wa'alaikumsalam, ada apa, nih, tumben anak bunda telepon bunda jam segini?" sahut Bunda Hana lembut dari seberang sana.
"Bund, Zio cuma mau bilang, Airish udah setuju kalo pernikahan kami dipercepat."
"A-apa? Jadi Airish mau? Ehm, maksudnya gak jadi nunggu enam bulan lagi, Nak?" Suara Bunda Hana terdengar terkejut namun juga antusias.
"Iya, Bund. Kira-kira bunda sama Papi kapan ada waktu senggang? Biar kita kesana temuin Om Nev sama Tante Raya. Sekalian juga biar Zio atur schedule yang cocok."
"Bunda sih kapan aja bisa, Zi. Papi juga pasti hayuk aja. Tergantung jadwal kamu aja deh."
"Oke bunda, nanti kalau udah nemu waktu yang pas, Zio langsung pesan tiket untuk kita bertiga ya, bund."
"Iya, nak. Ehh... udah makan siang belum?"
"Ini mau makan kok, bund."
"Ya udah, makan dulu, gih. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, bunda."
Selesai memutuskan panggilan dengan Bunda Hana, Zio segera menyantap makanannya. Ia terus menyunggingkan senyuman bahkan sampai ia melakukan pertemuan dengan rekan barunya yang bernama Cantika dari FEA Grup,
"Selamat siang, Pak Zio." Cantika mengulurkan jari jemarinya yang lentik dihadapan Zio. Zio menyalaminya secara singkat. Disusul dengan Jordy yang melakukan hal serupa.
"Selamat siang... Bu." Zio dan Jordy berkata hal sama pada wanita didepannya.
"Bisa kita mulai langsung?"
"Bisa."
Zio mulai menjelaskan materi pertemuan mereka hari ini dengan rekan barunya itu. Sepanjang penjelasan yang dilakukan oleh Zio, Cantika terus memperhatikan pemuda yang ada dihadapannya ini. Dalam hatinya, bukan cuma memuji ketampanan Zio saja, tetapi juga kepintaran Zio dalam meringkas semua materi, terlebih ia sangat senang dengan senyum milik pemuda itu yang tampak manis dengan rahang kokoh, bibir yang merah alami, serta lesung dipipi.
Awalnya Cantika memang memperhatikan dan mencerna semua materi yang dijelaskan Zio, tapi lambat laun dia seakan tidak fokus lagi karena lebih cenderung mengagumi sosok pemuda didepannya yang agaknya sangat jenius dan sukses diusia muda.
__ADS_1
"Bagaimana Bu Cantika?" tanya Jordy setelah Zio selesai dengan materi yang dibahas.
"Eh... iya, sa--saya setuju saja!" ulas Cantika gugup, ia menyelipkan anak-anak rambut ke telinganya sendiri dengan sikap sungkan dan senyum malu-malu.
Zio menatap Jordy, seolah menanyakan 'kenapa dia?', sementara Jordy mengendikkan bahu tak paham.
"Baiklah, kalau begitu pertemuan hari ini sampai disini dulu ya, Bu. Jika ada yang kurang jelas bisa hubungi Asisten saya saja," pungkas Zio.
"Iya, Pak Zio."
Mereka kembali berjabat tangan satu sama lain. Namun pesona Zio benar-benar membuat Cantika terpikat. Ia bahkan sampai tak fokus berjalan hingga tersandung kakinya sendiri.
Brak...
Cantika terjatuh sesaat Zio berada dibelakang tubuh wanita itu. Zio ingin menolongnya, namun ia selalu menjaga kontak fisik dengan lawan jenis. Ia melirik Jordy dan memberi isyarat lewat sorot mata, seketika itu juga Jordy membantu Cantika untuk berdiri.
"Anda tidak apa-apa, Bu?" tanya Jordy. Cantika menggeleng, ia curi-curi pandang ke arah Zio untuk melihat bagaimana ekspresi Zio saat melihatnya seperti ini tapi Zio hanya memasang wajah datar.
"Lain kali hati-hati, Bu Cantika." Zio hanya berucap basa-basi agar tidak dianggap sombong oleh rekan barunya itu. Namun, di hati Cantika langsung merasa tersanjung dan menganggap itu adalah bentuk perhatian Zio terhadapnya.
"I-iya, Pak." Lagi-lagi Cantika salah tingkah, ia gugup mendapat ucapan yang dianggapnya spesial dari bibir tipis Zio. Demi apapun ia sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama pada pemuda ini.
______
Dilain tempat di negara yang berbeda, saat ini sudah beranjak malam. Airish baru saja selesai menyantap makan malamnya saat tiba-tiba bel Apartmennya berbunyi.
Sekarang Airish memang tengah sendirian dirumah. Sebab, Mama Raya dan Papa Nev pergi dalam urusan bisnis ke salah satu kota yang masih berada di Jerman juga. Sedangkan Abrine, sejak pulang kuliah tadi, kakaknya itu pergi mengikuti kegiatan sosial di beberapa panti asuhan.
"Siapa, ya? Apa kak Abrine pulang?" batin Airish bermonolog.
Gadis itu beringsut menuju pintu dan menekan layar yang tersambung pada kamera CCTV depan pintu Apartmen untuk melihat tamu yang datang. Namun sayangnya, disana ia tak melihat seorangpun datang, tapi ia pandangannya tertumbuk pada sebuah kotak yang terletak didepan pintu.
"Oh, mungkin tadi kurir pengantar paket. Tapi paket untuk siapa?" Lagi, Airish membatin.
Untuk mengurangi rasa penasarannya, akhirnya Airish membuka pintu, berjongkok dan mengambil kotak yang terletak disana. Kotak itu terbungkus kertas berkilat berwarna pink cerah. Airish tidak yakin ini milik Abrine.
Airish menutup pintu kembali setelah mengambil kotak paket.
__ADS_1
"Buka enggak, ya?" Airish bingung. Ia menilik kearah kotak berukuran sedang itu dan mendapati namanya disana.
-Airish-
Namun tidak ada nama pengirim. Kendati demikian, Airish sudah tahu jika paket itu benar untuknya.
Airish membukanya dan mendapati sebuah gaun disana. Gaun itu cantik dengan warna maroon yang cukup gelap.
"For someone special." Airish kembali mendapatkan note diatas lipatan gaunnya. Ia mengernyit, menerka siapa yang mengirim ini padanya. Apa Zio?
Airish mengamati bentuk gaun itu yang ternyata cukup terbuka dengan tali spaghetti. Tidak masuk akal jika Zio mengiriminya baju begini. Terlebih, bagian depan gaun juga terlalu rendah, begitulah batin Airish.
Namun, belum berapa menit Airish memikirkan siapa kiranya yang mengirimi gaun se ksi itu untuknya, ponselnya mendadak bergetar dan tampaklah nomor tidak dikenal mengiriminya pesan disana.
^^^+634126XXXXX^^^
^^^(I want to see you wear it. You must be looking really.... Rrrr!)^^^
^^^(Aku ingin melihatmu mengenakannya, kamu pasti terlihat sangat.... Rrrr!)^^^
Pesan itu terlihat ambigu, namun Airish tahu maknanya bahwa itu adalah sebuah pesan nakal, yang sontak saja membuatnya berpikir lalu menghubungkan bahwa pesan ini ada sangkut pautnya dengan gaun yang saat ini masih berada dalam pegangannya.
Dengan refleks, Airish mencampakkan gaun itu begitu saja. Firasatnya mengatakan ini adalah sesuatu yang tak baik. Salam kepalanya, ia langsung terpikir dengan seseorang yang mungkin mengiriminya gaun seperti ini. Mengingat orang itu, membuat Airish menggeleng pelan hingga meneguk saliva dengan berat.
Seringaian nakal serta senyum culas pria itu terbayang-bayang dibenak Airish sekarang.
Drrtt...derttt...
Ponsel Airish kembali ber-vibrasi. ia mendapat pesan baru dari nomor yang sama.
^^^+634126XXXXX^^^
^^^(Kau sudah tahu siapa aku? Aku tahu sekarang kau pasti sedang membayangkan wajahku. Aku sangat menantikan mu datang kepadaku, baby girl...)^^^
Disaat itu pula Airish kembali menangis, perasaannya terlalu rapuh diantara dua saudaranya yang lain. Ia tidak menyangka dengan hal semacam ini. Ia tidak tahu kenapa hal ini harus menimpa dirinya. Ia tersadar kini hidupnya tak akan tenang lagi setelah pernah mendapat tawaran tak senonoh dari Mr. Rolland. Pria itu sudah tahu alamat Apartemen keluarganya, begitu pula nomor ponselnya.
Tanpa pikir panjang, Airish segera memblokir nomor itu kemudian disertai Isak tangisnya sendiri. Sungguh, sekarang ia merasa semakin takut saja.
__ADS_1
*****