
Hari ini Nev kembali bekerja, sudah hampir dua minggu lamanya dia tak mengurusi urusan pekerjaan, sehingga sang istri memaksanya untuk kembali beraktifitas seperti semula.
Sebenarnya Nev belum bisa fokus, tapi mau tak mau dia harus menjalankan kewajibannya sebagai pencari nafkah, bukan?
Nev harus mengurus pekerjaan yang sempat terbengkalai. Rencananya juga, Bulan depan dia akan menepati janji untuk mengajak Raya liburan.
Tak tanggung-tanggung, kali ini mereka akan berlibur selama satu Bulan lamanya untuk melepas penat, sebab sebelum ke kota Manchester, Nev akan mengajak sang istri ke Ibukota Inggris terlebih dahulu yakni London. Dari sana, barulah mereka akan mengunjungi beberapa kota-kota lain yang terdapat di Negeri Ratu Elizabeth itu.
Maka dari itu, Nev harus segera merampungkan pekerjaannya, minimal pekerjaan untuk dua bulan kedepan sudah bisa ditanganinya mulai dari sekarang.
Diantar oleh sang istri, Nev berpamitan untuk berangkat ke kantor.
"Dah..." kata Nev melambaikan tangan dari dalam mobil yang disupiri oleh Bian.
"Dah..." Raya membalas, ikut melambaikan tangan pada sang suami.
Sampai mobil yang membawa Nev menjauh, barulah Raya kembali masuk ke dalam rumah.
"Ray, ada telepon..." kata Bi Asih. Jangan heran jika wanita paruh baya itu memanggil Raya dengan namanya saja, karena itu adalah permintaan Raya sendiri.
"Siapa, Bi?"
"Papa kamu, Ray."
"Papa? Kok nelpon ke telepon rumah gak ke handphone aku ya?" Raya menggaruk pelipisnya sekilas karena bingung.
Kemudian dia tetap menghampiri meja telepon terdekat yang menyambungkan interkom panggilan dari sang Papa.
"Assalamu'alaikum, Pa... Kenapa nelpon ke telepon rumah?" sapa Raya langsung.
"Wa'alaikumsalam, ponsel kamu gak aktif, Nak." sahut Adrian dari seberang sana.
Raya baru ingat, mungkin dia lupa mengisi daya baterai ponselnya. Ia pun meraih benda yang sempat ia masukkan sembarangan ke dalam saku celana tadi dan melihat benda itu benar-benar dalam keadaan kehabisan baterai alias mati total.
"Ah iya, low bat, Pa. Ada apa Pa?"
"Papa cuma mau ngabarin berita duka, Nak." kata Adrian.
"Hah? Berita duka apa, Pa?"
"Barusan Tante El telepon, mengabari jika Om Damar meninggal dunia."
"Innalillahi wa'innailaihi rojiun..." Raya cukup terkejut mendengar berita meninggalnya Ayah kandung Reka itu.
"Papa sama Mama mau melayat sebentar lagi, kamu mau ikut? Atau nanti kamu menyusul bersama Nev?" tanya Adrian.
__ADS_1
"Nev sudah kembali bekerja, Pa. Gak enak kalau disuruh pulang lagi. Kalau gak repot, boleh gak kita sama-sama kesana, Pa?"
"Boleh, Tentu aja boleh. Nanti kita berangkat bersama. Papa jemput ke rumah kamu ya. Assalamu'alaikum."
"Iya, Pa. Wa'alaikumsalam."
Sambungan telepon itu pun terputus, tapi Raya tetap menggunakannya untuk mengabari Nev tentang berita ini sekaligus meminta izin untuk melayat kerumah orangtua Reka.
"Sayang, kamu sudah sampai di kantor?" tanya Raya langsung saat panggilan itu tersambung.
"Baru aja, belum keluar dari mobil. Ada apa, Sayang?"
"Papa nya Reka meninggal."
"Innalillahi wa'innailaihi rojiun..."
"Aku kesana ya, bareng Mama dan Papa."
"Atau sama aku saja?" tawar Nev.
"Gak usah, kamu kan baru masuk kerja. Aku saja yang mewakili ucapan duka keluarga kita," kaya Raya.
"Kamu yakin?"
"Iya. Boleh nggak?"
"Iya sayang, Aku dijemput Papa sama Mama kok." kata Raya meyakinkan.
Setelah perbincangan tentang bujuk-membujuk itu berakhir. Raya segera bersiap-siap untuk kepergiannya hari ini.
Beberapa saat kemudian, Raya sudah siap dan bertepatan dengan datangnya mobil sang Papa yang menjemputnya kerumah.
Mereka pun beramgkat bersama menuju rumah duka.
Kediaman orangtua Reka itu tampak ramai dan begitu banyak jajaran papan bunga yang terhampar sepanjang pekarangannya.
Suasana haru seketika melingkupi saat Raya menuruni mobil sang Papa. Ia menggandeng lengan sang Mama dan berjalan perlahan menuju pintu utama rumah.
Namun, didepan sana Raya menjadi terfokus pada seorang pria yang meratap disamping jenazah sang Ayah yang terbujur kaku. Dia adalah Reka, Reka menangis dengan raungan yang mengharukan.
Suasana semakin pilu kala Elyani tiba-tiba pingsan dan sayup-sayup Raya mendengar ucapan orang-orang disekitar yang mengatakan jika itu adalah pingsan yang kesekian kalinya.
Tubuh Elyani segera diangkat oleh beberapa kerabat untuk masuk kedalam kamar. Sementara Raya masih terpaku melihat Reka diseberang sana, wajah penyesalan dan kesedihan terpancar jelas diwajah pria berlesung pipi itu dan baru kali ini Raya melihat Reka menangis seperti ini.
Tiba-tiba Reka mengangkat wajah dan menatap Raya yang juga masih melihatnya. Tatapan mereka bertumbukan dan seketika itu Reka tersadar lalu menyeka airmatanya sekilas.
__ADS_1
Pria itu bangkit dari duduknya, kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Raya.
Raya baru tersadar, jika sang Papa sudah membaur dengan yang lainnya dan sang Mama sudah pamit saat melihat Ibunda Reka pingsan tadi. Sekarang, ia harus menyapa Reka sendirian.
"Raya..." Ternyata Reka yang lebih dulu menyapa Raya.
Raya tersenyum kecut. "Aku turut berduka cita atas kepergian Papa kamu, Ka," ucapnya tulus.
Reka mengangguk samar. "Terima kasih, Ray ..." jawabnya dengan suara serak.
Raya mengangguk canggung.
"Aku tidak menyangka Papa pergi secepat ini, aku juga tidak bisa memenuh harapan terakhirnya," kata Reka.
"Sabar ya, Ka... mungkin ini yang terbaik. Om Damar gak akan ngerasain sakit lagi."
"Ya, mungkin dia juga sudah kecewa berat padaku. Aku tidak cukup membanggakan. Aku membuatnya kecewa dengan prilaku dan perbuatanku."
"Pasti Papa kamu sudah memaafkan kamu. Beliau juga sudah pasti bangga memiliki anak yang sukses seperti kamu.
Reka tersenyum kecut. "Sukses membuatnya malu..." katanya pelan.
"Kamu gak boleh begitu, yang terpenting sekarang kamu jaga Tante El dengan baik. Jangan kamu kecewakan karena tinggal Tante El yang bisa kamu bahagiakan."
Reka mengangguk. "Mama sangat terpukul," katanya.
"Kamu harus lebih kuat dari Mama kamu."
"Makasih Raya. Mana Nev?"
"Ah, iya. Nev baru mengurus pekerjaannya kembali. Dia menyampaikan turut berduka cita juga untukmu."
"Sampaikan terima kasihku juga padanya."
Raya mengangguk. "Ah, aku mau melihat Tante El dan memberinya semangat." katanya.
"Mama di kamar, masuk saja. Temuilah Mama, kamu adalah menantu idaman Mama, pasti Mama senang melihat kamu disini." kata Reka lirih.
Raya terdiam. Entah kenapa ucapan Reka cukup mengganggunya, karena semuanya telah lama berlalu bukan?
Melihat Raya terdiam dengan ucapannya, Reka kembali buka suara.
"Harapan terakhir yang Papa inginkan adalah pernikahan kita. Aku benar-benar menyesal mengecewakannya dulu, senyum terakhir yang aku lihat keluar dari bibir Papa adalah saat menyiapkan semua urusan pernikahan kita waktu itu," ucap Reka dengan suara tersendat dan nyaris terisak.
Lagi-lagi Raya terpaku, ucapan Reka memang menyalahkan diri sendiri, tapi kenapa Raya merasa ucapan itu seperti tengah menyindirnya juga-- yang ikut menjadi penyebab tak terwujudnya harapan terakhir almarhum Ayah Reka itu.
__ADS_1
...Bersambung ......
...Jangan lupa love, like, komen, vote dan hadiah♥️...