
Zio tersenyum simpul menatap sang istri yang terbaring disisinya. Tangannya terulur, mengusap dahi Airish yang tampak basah karena peluh. Kemudian, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua. Matanya tidak lepas menatapi wajah Airish yang masih merona karena ulahnya.
"Makasih ya, Sayang," ujar Zio sembari tangannya merapikan anak-anak rambut Airish yang berantakan.
Airish hanya mengangguk singkat, kemudian kembali bergelung dalam dekapan Zio dan menyurukkan wajahnya disana. Ia tidak menyangka ternyata semua yang baru saja ia lewati bersama suaminya-- mampu membuatnya merasa sakit sekaligus bahagia secara bersamaan. Kendati demikian, tetap saja sentuhan Zio pada tubuhnya sangat membuatnya melambung.
Bias-bias kebahagiaan terpancar jelas di wajah Zio sekarang, ia semakin mengeratkan pelukan pada tubuh Airish. Tidak sia-sia ia menunggu selama ini. Jangankan menunggu seminggu sampai Airish benar-benar siap untuk melewati malam per tama mereka, ia bahkan sudah menunggu Airish sejak masa remaja, bukan? Tapi, segala waktu yang selama ini ia habiskan benar-benar terbayar hari ini disaat Airish sudah menyerahkan dan memasrahkan diri hanya kepadanya.
"Kamu tahu gak, saya merasa jadi lelaki yang paling beruntung sekarang."
"Kenapa?" tanya Airish dengan suara terpendam sebab ia belum mau merubah posisinya saat ini--yang membekap wajah dalam dada bidang sang suami. Aroma tubuh suaminya sudah membuat candu tersendiri bagi dirinya.
"Ya, karena, selain bisa menikahi kamu dan memiliki kamu secara halal, ternyata saya juga menjadi lelaki pertama yang akhirnya bisa menyentuh kamu." Zio mengelus kepala Airish dengan lembut. "Sekali lagi, makasih karena udah jaga diri kamu selama ini, Sayang," lanjutnya kemudian.
Airish tak menyahut. Ia memikirkan ucapan Zio. Sejujurnya ia juga merasa jadi gadis paling beruntung di dunia karena Zio yang sudah melengkapinya meski tahu segala kekurangan serta keburukannya.
"Zi, kalau nanti aku buat kesalahan... kira-kira kamu gimana menyikapinya?" Airish beringsut dan mengadah pada wajah Zio.
"Kesalahan seperti apa?"
"Ya, misalnya seperti hari ini... aku belum tahu harus gimana memperlakukan kamu."
Sudut bibir Zio tertarik. "Ya, kalau soal hari ini wajar aja sih kamu belum tahu, kan baru pertama kali. Tapi, saya gak anggap itu sebagai kesalahan, kok. Kalau kamu salah saya bakal lihat dulu kesalahannya dimana, kalau beneran salah saya akan kasi tahu kamu, arahin kamu kalau perlu kasi kamu peringatan, tapi kalau bener-bener buat kesalahan yang fatal, mungin saya bakal kasi kamu hukuman." Zio terkekeh diakhir kalimatnya.
"Hukuman?" tanya Airish kaget.
"Iya, hukuman buat kamu."
Airish bergidik, tak mau membayangkan hukuman apa yang kiranya akan Zio berikan kepadanya.
"Aku pikir kamu gak bakal bisa hukum aku," lirih Airish.
"Kan saya bilang kalau itu memang bener-bener kesalahan fatal," terang Zio.
"Misalnya?"
"Ehm.... apa ya, semisal kamu berniat ninggalin saya," ujar Zio sambil menatap ke dalam mata sang istri.
"Mana mungkin, Zi." Airish memegang sisi wajah Zio dan membalas sorot mata Zio yang nampak menyatakan bahwa lelaki itu seakan benar-benar takut kehilangan.
"Janji? Apapun yang terjadi kamu gak akan ninggalin saya?"
"Aku gak punya alasan untuk hal itu, Zi."
Airish sadar bahwa tak ada satu hal pun yang bisa membuatnya melepaskan Zio. Betapa bodohnya dia jika melakukan itu, ia yakin diluaran sana akan banyak yang mengincar posisinya sekarang, justru ia yang sangat takut jika Zio meninggalkannya, terlebih ia sudah menyerahkan seluruh diri kepada lelaki dihadapannya ini.
"Kalau suatu saat ada hal yang buat kamu berpikiran untuk pergi dari hidup saya, berpikirlah ulang disaat hati dan pikiran kamu benar-benar sedang dingin." Zio menghela nafas sejenak.
".... jangan mengambil keputusan saat emosi dan saat amarah menguasai diri kamu. Menunda keputusan terkadang lebih baik dan bisa menyelamatkan kamu dari rasa sesal yang abadi," lanjutnya bijak.
__ADS_1
Airish tertegun kemudian memberanikan diri mengecup singkat pipi Zio. Zio terkejut karenanya tapi lelaki itu juga merasa bahagia karena Airish mulai bersikap demikian kepadanya.
"Suami aku, bijak banget nasehatnya. Gimana gak makin cinta coba... boro-boro mau ninggalin, ngelepasin kamu buat kerja aja rasanya enggak rela." Airish terkikik geli diikuti suara tawa Zio setelahnya.
Airish dapat memahami kata-kata Zio. Ia tahu, kehidupan rumah tangga mereka baru dimulai dan masih akan sangat panjang. Bukankah menikah adalah ibadah yang terlama? Semoga ia bisa kuat menjalaninya dan berharap perasaan Zio tak pernah berubah kepadanya sampai kapanpun juga. Apalagi masalah yang mungkin datang dan membuatnya terpikir tentang meninggalkan Zio.
Ya, mungkin saja itu bisa terjadi, mengingat siapa suaminya ini. Bukan tak mungkin akan banyak godaan dikedepan hari pada Zio maupun dirinya sendiri. Semoga mereka berdua tetap kuat menjalaninya dan menghalau segala cobaan itu bersama-sama tanpa berniat saling meninggalkan.
"Jadi saya gak boleh kerja, ni?" celetuk Zio menanggapi ulasan Airish sebelumnya.
Airish tertawa. "Boleh, tapi beberapa hari ke depan kita nikmatin waktu berdua dulu ya," jawab Airish.
"Hmm, boleh. Nanti pas kamu libur kuliah kita sekalian jalan-jalan."
"Maaf ya, kita harus tunda bulan madunya dulu karena aku dalam masa sibuk banget di akhir semester ini."
"Saya paham, kalau istri saya mahasiswi tingkat akhir yang sangat sibuk." Zio mengecupi jari-jemari Airish tanpa ada yang terlewat satu inci pun.
"Ya udah, musim semi nanti kita sekalian bulan madu, ya." Zio menatap Airish yang merona didepannya.
Airish mengangguk mengiyakan.
"Sekarang kamu tidur, kan capek abis pindahan dan abis bertempur sama saya." Zio menipiskan bibir dengan seringaian kecil sementara Airish terkekeh karena ucapannya itu.
"Iya," jawab Airish patuh dan lagi-lagi Zio mendaratkan satu kecupan hangat di bibir istrinya sebagai pengantar tidur.
######
Rahelsa sedikit galau untuk mengambil keputusan ini. Selain tak mau meninggalkan Aarav, ia juga malas jika harus bertemu Zack. Bagiamanapun hubungan mereka berakhir tak baik sejak di club' malam-- waktu itu. Memang sejak saat itu Rahelsa selalu menjaga jarak dengan Zack, ia tak pernah berinteraksi lagi dengan lelaki berstatus model kampus itu. Tapi, event ini bukan cuma menggaet dirinya sebagai desainer, Rahelsa juga mendengar jika Zack akan ikut dalam event nasional yang diadakan diluar kota itu.
"Rahel...."
"Ya, ada apa Deana?"
"Apa kau akan menolak tawaran event itu?"
"Entahlah," jawab Rahelsa bimbang.
"Apa karena Aarav? Apa dia membatasimu?"
"Tidak, Aarav selalu mendukung kemampuanku dan segala sesuatu yang kusukai," papar Rahelsa.
"Lalu? Kenapa kau kelihatan bingung?"
Rahelsa menggeleng.
"Inilah sebabnya kalau kita memutuskan menikah diusia muda dan saat status kita masih berkuliah." Alice menimpali percakapan Rahelsa dan Deana. Alice masih belum menerima jika Rahelsa menikah dengan Aarav dan menolak Zack yang berstatus sepupunya. Maka dari itu ucapan Alice kadang terdengar sarkas kepada Rahelsa akhir-akhir ini.
Rahelsa mengernyit mendengar penuturan Alice, apa Alice menyalahkan keputusannya yang telah menikah? Bukankah itu haknya sendiri tanpa perlu dicampuri oleh Alice?
__ADS_1
"Sudah ku katakan jika ini tidak ada kaitannya dengan suami ataupun pernikahanku," tukas Rahelsa sembari menatap Alice tajam, ia tak suka sikap Alice yang demikian. Sudah berulangkali dan bukan sekali ini saja.
Alice mengendikkan bahu, harus ia akui memang pertemanannya dengan Rahelsa sedikit berjarak sejak acara di Club' waktu itu, Alice tidak tau apa yang terjadi antara Zack dan Rahelsa, yang Alice ketahui adalah setelah kejadian itu Rahelsa memutuskan menikah dengan Aarav dan itu berarti cinta Zack telah ditolak oleh Rahelsa. Itu membuat Alice sedikit tak terima karena Rahelsa lebih memilih Aarav yang kondisinya waktu itu adalah lelaki lumpuh. Zack harus kalah bersaing dengan Aarav yang demikian.
Rahelsa memang tak pernah menceritakan pada Deana dan Alice mengenai ucapan Zack di club' waktu itu-- yang seolah melecehkannya dengan tawarannya. Namun, ia tak berniat menjauhi Alice meskipun Alice bersepupu dengan Zack, ia menghargai pertemanannya. Tapi, justru Alice sendiri yang menjaga jarak dengan Rahelsa.
"Els...." Rahelsa menoleh dan melihat Aarav yang sudah menjemputnya. Rahelsa tersenyum dan undur diri dari hadapan kedua temannya.
Deana dan Alice saling berpandangan, karena mereka terkejut melihat Aarav yang sudah bisa berjalan dan menjemput Rahelsa hari ini.
Sejak Aarav sembuh, memang Aarav belum pernah menjemput Rahelsa ke kampus lagi sebab ia tengah disibukkan mempelajari bisnis Papa Nev yang akan segera diurusnya setelah kesembuhannya.
"Rahel?!" seru Alice, membuat langkah Rahelsa dan Aarav terhenti sebelum mencapai mobil mereka di parkiran. Rupanya Alice mengejar langkah mereka.
"Kenapa, Alice?" tanya Rahelsa yang berbalik menatap Alice.
"Aku ingin bicara sebentar, kita berdua!" kata Alice menatap Rahelsa.
Rahelsa meminta izin Aarav lewat sorot mata dan sang suami menganggukinya.
Rahelsa dan Alice berbicara agak jauh dari posisi Aarav, sementara Deana sudah tak nampak batang hidungnya.
"Rahel, aku minta maaf jika sikapku selama ini membuatmu kesal. Aku cuma tidak terima kau menolak Zack waktu itu."
"Ah, masih tentang dia rupanya," kata Rahelsa pelan.
"Ya, aku pikir kau salah memilih suami. Ternyata perkataanmu benar, kau bisa membantu kesembuhan Aarav dan itu terbukti sekarang. Perjuanganmu tidak sia-sia, aku mengerti kenapa kau menunggunya, ternyata kalian benar-benar nampak serasi. Sekali lagi maafkan hatiku yang sen sitif karena hal ini.... tidak seharusnya aku begitu," ucap Alice dengan wajah penuh sesal. Kesembuhan Aarav seperti menyadarkannya bahwa cinta Aarav dan Rahelsa benar-benar tulus sampai Rahelsa rela menunggu lelaki itu sembuh seperti saat ini.
"Tidak apa-apa, aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku tidak menerima Zack karena selain aku sudah mencintai Aarav sejak lama.... sejujurnya juga karena Zack mengucapkan kata tidak pantas padaku waktu itu."
"Benarkah? Aku tidak tahu hal itu.... kau tidak mengatakannya padaku dan Zack juga," jelas Alice.
"Tidak apa-apa, Alice."
"Maaf, sekali lagi maafkan aku, Rahel."
Rahelsa mengangguk.
"Tapi, bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?"
"Tentang?"
"Tentang event itu. Apa kau akan menolak ikut event karena kehadiran Zack nantinya?"
Rahelsa mengendikkan bahu sambil menggeleng lemah. "Aku tidak tahu," jawabnya.
"Jika memang Aarav tidak melarangmu, maka ikutilah event itu. Itu salah satu penunjang karirmu, kau berbakat, jangan sia-siakan kesempatan ini. Dan soal Zack, ku harap kau bisa memaafkannya... bersikaplah profesional, anggap dia tidak pernah ada disana. Apa kau bisa?"
Rahelsa hanya tersenyum menanggapi ucapan Alice. Ia tak menyahut kemudian ia beranjak undur diri dari hadapan temannya itu.
__ADS_1
******
Vote, like, hadiah, komentar 🙏🙏🙏🙏